Saturday, May 28, 2016

Kesundulan, apa yang harus saya lakukan?

Mengingat perjuangan menanti kehadiran si kakak hampir 5 tahun membuat kami memutuskan untuk tidak menggunakan KB setelah kakak lahir

Tepatnya saat usia si kakak 10 bulan, ternyata tespek menunjukkan hasil positif. Takjub, amazing, bahagia itu yang terlintas dalam benak kami

Tapi ternyata respon lingkungan sekitar justru berbanding terbalik dari dugaan kami. Meskipun ada beberapa kerabat yang turut senang dan bersyukur atas kehamilan saya yang ke 2. Tapi ada juga yang merespon dengan kalimat "apa tidak malu anak masih kecil sudah hamil lagi" astaghfirullah entah seperti berbuat dosa apa sampai2 hamil ke 2 ini seakan-akan hal yang memalukan


Belum lagi sindiran dari teman yang sedang menanti buah hati, seakan-akan menyalahkan kami tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk hamil duluan, malah kami "nyelonong" hamil anak ke 2, dengan memberikan komentar "emangnya kurang ya punya kakak saja, mbok ya kasih kami kesempatan dulu buat hamil" sekali lagi kami cuman bisa istighfar sedih, bukan nggak mau kasih kesempatan, tapi mengingat perjuangan mendapatkan si kakak kami pun tidak mau menyia-nyiakan rejeki memiliki anak ke2, ke3 dan seterusnya

Iya kami pun pernah di posisi menanti buah hati, jutru karena itu suami dan saya sepakat tidak mau menunda-nunda kehamilan jika diberi kesempatan hamil ke 2 dan selanjutnya. Karena kami tidak ingin dibilang menolak rejeki. Ibarat kata dulu kami minta hamil sampe nungsep-nungsep doanya, masak giliran sekarang dikasih mau nolak.

Perjuangan menghadapi cemohan lingkungan sekitar tentang hamil dengan jarak berdekatan alias kalo orang bilang "kesundulan" tidak cukup sampai disitu

Di TM 1 dengan keadaan mual muntah parah, dengan masih harus menghendel si kakak yang sedang aktif-aktif dan semangatnya belajar jalan sungguh suatu hal yang luar biasa

Suatu hari, ketika suami dinas luar kota saya memutuskan main kerumah ibu saja. Bukannya menemukan solusi, eh yang ada muncul masalah dengan ibu. Gara-gara saat itu saya benar-benar tidak tahan dengan rasa mual jadi saya ijin ibu untuk istirahat sebentar. Dan karna "sebentar" belum menghilangkan mual, saya menambah durasi istirahat saya. Nggak taunya ibu malah marah-marah. Lalu muncul kalimat "kan itu udah resikomu hamil"

Lagi-lagi saya cuman bisa mewek ngenes. Sejak itu saya berjanji meskipun hamil mual muntah saya tidak boleh manja.

Saat kontrol ke dokter kandungan akhirnya saya memutuskan untuk minta diresepkan obat anti mual muntah. Saat saya ceritakan kondisi kehamilan saya yang saya rasa lebih berat dari kehamilan sebelumnya dokter hanya tersenyum dan berkata itu lumrah, karna kata beliau saat hamil anak pertama kalo ibu lelah ibu bisa langsung istirahat, sedang sekarang ibu lelah ibu masih harus ngejar si kakak, itu nanti sama halnya dengan saat ibu hamil lagi anak ke 3 dan seterusnya pasti kondisinya akan terasa lebih berat lagi *disini mungkin dengan catatan terutama khusus untuk ibu2 kesundulan yang tanpa menggunakan jasa art atau baby sitter*

Dari cerita si dokter tadi saya dan suami cuman bisa manggut2 senyum.
Sejak mendapat nasehat dari dokter, akhirnya saya menekatkan bulat saya untuk bisa kuat. Ditambah support dari suami yang selalu berkata "ayo ini sudah resiko kita berdua. Kalopun ada yang nyinyir cuekin aja, toh ini buah cinta kita yang halal" ah sepertinya saya menjadi lebih kuat dalam menjalani hari-hari saya dalam menghandle si kakak sekaligus menggembol si adek dalam perut, ya meskipun sesekali saya suka "modus" manja ke suami kalo dia pulang kerja :D

Bersyukur mempunyai suami yang pengertian dan support akan kebutuhan istri yang kesundulan ini
Awalnya saya disuruh mencari art, tapi karna suatu hal si art dengan terpaksa kami berhentikan. Ternyata banyak yang mengkhawatirkan kondisi saya tanpa art. Tapi suami tetap menghargai keputusan saya memberhentikan si art.

Sekali lagi suami menunjukkan supportnya, tanpa memaksa saya mencari art baru. Dana gaji art bisa diakomodasikan untuk melengkapi fasilitas dirumah yang mungkin bagi orang lain terlihat sepele tapi sangat membantu untuk ibu2 kesundulan macam saya

Dengan beranya ke beberapa teman yang bernasib sama "kesundulan dan tanpa art". Iseng-iseng saya mendiskusikan dengan suami, eh nggak taunya malah dibelikan beneran...mulai dari bangku untuk memandikan si kakak *karna si kakak sudah bisa berdiri jadi berat untuk saya kalo harus memandikan sambil berjongkok-jongkok ria. Satu-satunya jalan saat itu si kakak mandinya sambil berdiri diatas bangku*

Untuk urusan mandi si kakak sebenarnya suami sudah membantu meluangkan ikut andil memandikan si kakak dipagi hari, tapi kalo mandi sore kebanyakan suami pulang kantor setelah maghrib bahkan kadang jam 9 dan pernah bahkan jam 12 malam lebih baru pulang kantor, jadi mau ngga mau ya saya harus cari akal agar si kakak tetep bisa mandi sore. Kan ga mungkin juga masih balita udah dibiasakan mandi sehari sekali >,<

Tidak hanya bangku yang sepele, suami ikut support beliin pel-pelan yang bisa diperes cuma hanya dengan ditekan gagang pelnya, lalu meja setrikaan *kalo ini mikirnya simpel biar kalo pas sesi setrika misal si kakak teriak-teriak tinggal cabut saja setrikaan, trus di pause bentar acara setrikanya. Nggak perlu heboh angkut-angkut setrikaan yang belum kelar keleleran di lantai.

Ah tapi faktanya sejauh ini meja setrika hanya 2x kepake, buat nyetrika baju persiapan untuk si adik yang bakal lahir. Sisanya setrikaan baju kami (termasuk baju si kakak) ya masuk jasa laundry semua :D

Selain itu suami juga rela belikan si kakak high chair untuk sesi makan *lo dulu kemana aja baru beli sekarang?* lah dulu kirain ga perlu. Karna rumah imut sesi makan kami sukanya ya lesehan dilantai. Tapi sejak hamil sesi nyuapin si kakak lesehan dilantai benar-benar terasa sangat berat. Karna ketika si kakak penasaran dengan sesuatu dia akan berdiri dan susah untuk dipanggil lagi, jadinya saya musti duduk berdiri sambil lap keringat.

Setelah ada high chair si kakak benar-benar anteng duduk saat sesi makan

Ah jadi ingat nasehat teman-teman yang selalu bilang, pikir 2x sebelum memutuskan kesundulan *dulu saya tidak paham ada makna apa dibalik nasehat itu, tapi setelah saya menjalaninya saya cuma bisa ketawa sambil meringis :D

Tapi bukan berarti saya menyesali keputusan saya untuk kesundulan. Justru kami mensyukuri karunia Allah SWT telah memberi kepercayaan kepada kami untuk bisa kesundulan, mengingat perjuangan kami mendapatkan buah hati sebelumnya yang lumayan tidak sebentar.

Sebenarnya masih banyak cerita-cerita serunya menjadi ibu kesundulan, terutama soal asi si kakak. Sampai sekarang tepatnya saat usia si kakak 18 bulan, sambil menanti dan menghitung hari kelahiran si adek, kami memutuskan untuk tetap komitmen memberi hak asi si kakak (InsyaAllah hingga usia si kakak 2 tahun). Walaupun banyak yang menentang tapi berbekal banyak informasi asalkan secara medis tidak ada keluhan atau kendala ditambah secara agama juga tidak dilarang, maka kami bertekad bulat untuk tetap membela hak ASI kakak.

Dan jika ada yang bertanya apakah berat menjadi ibu kesundulan? Jawaban kami adalah asalkan semua sudah dipersiapkan secara matang dan ada kerja sama serta support terutama dari suami dan teman-teman sesama ibu-ibu kesundulan, maka semua terasa indah dan seru serta menyenangkan :D

Bahkan ada teman kami yang tidak kapok untuk kesekian kalinya
*ah mungkin nantinya saya juga ga kapok >,<

High Chair andalan

Noted.
Tulisan ini pernah dikirimkan untuk diikut sertakan dalam blog The Sundulers (tapi karena kendala keterbatasan waktu dari blogger The Sundulers sehingga tulisan ini belum sempat nangkring dijajaran cerita emak-emak kesundulan blog tersebut)

Tulisan ini ditulis saat menjelang lahiran, jadi mohon maklum jika ada bagian-bagian tulisan yang terkesan lebay, karena saat menulis hormon baper bawaan ibu hamil ikut berperan :)

2 comments:

  1. Namanya orang nyinyir pasti aja ada. Nikmati aja mbak. Semoga selalu sehat sampai lahiran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak...
      Alhamdulillah sekarang si adik sudah usia 13 bulan

      Delete