Monday, May 23, 2016

Termometer Digital vs Termometer Air Raksa

Saat pertama kali kakak lahir, saya ingat pesan tetangga "kalo punya anak (bayi) dirumah, termometer termasuk barang yang wajib ada dirumah"

Sebagai ibu baru, awalnya saya masih bingung sebaiknya pilih termometer digital atau termometer air raksa?
Seiring waktu, lama-lama saya mulai bisa menentukan termometer mana yang sebaiknya saya gunakan.

Disini saya ingin sedikit sharing pengalaman saya dengan dua jenis termometer tersebut.
Termometer Digital vs Termometer Air Raksa

Oh ya termometer digital yang saya maksud disini adalah yang model biasa ya. Bukan yang model tembak dahi, atau yang dimasukkan telinga, maupun yang model empeng.

Berikut pengalaman saya dari beberapa segi, saat menggunakan jenis termometer digital maupun termometer air raksa :
  • Harga
Untuk termometer air raksa, harga lebih terjangkau dan murah daripada termometer digital.
Harga termometer air raksa berkisar antara Rp. 10.000,- s/d kurang lebih Rp. 20.000,-
Kalo kata suami saya, yang jelas kalo bawa duit Rp. 50.000,- masih ada kembalian lah ya :D
Sedangkan untuk termometer digital model biasa harganya bervariasi, ada yang termurah pernah saya beli sekitar Rp 25.000,- sedangkan yang termahal yang pernah saya beli sekitar Rp. 60.000,- untuk merk omron. Ada juga merk onemed yang mengclaim hasil akurat dan akan terbaca tidak lebih dari satu menit sekitar Rp. 40.000,- (Harga tersebut saya dapat ketika saya membeli termometer sekitar tahun 2013-2016).
  • Keamanan saat memakai
Menurut saya termometer digital lebih aman digunakan untuk mengukur suhu bayi, karena termometer air raksa terbuat dari kaca jadi rawan pecah jika terlepas dari ketiak atau terlalu keras menjepit diketiak. Dan itu tentu bisa membahayakan bayi kita.
  • Akurasi
Menurut saya termometer air raksa lebih akurat daripada termometer digital. Sebenarnya saya sendiri masih belum mengerti penyebabnya, tapi saya menebak hal tersebut mungkin dipengaruhi oleh kinerja baterai termometer. Sesuai pengalaman saya saat mengukur suhu badan, untuk termometer digital jika pengukuran diulang beberapa kali terkadang bisa menunjukkan hasil yang berbeda.
Awalnya saya kira, oh mungkin termometer saya yang kurang keren kali ya. Tapi suatu ketika pernah saat si kakak badannya panas, saya ukur dari rumah suhunya mencapai 39,9°C. Saya pun memutuskan segera membawanya ke rumah sakit. Ternyata saat diukur suhu oleh perawat waktu antri praktek dokter anak (dengan termometer digital model tembak didahi yang menurut saya sudah keren habis model dan harganya tentunya), suhu anak saya menunjukkan 38,5°C. Sehingga saya memutuskan belum perlu membawa ke ugd. Begitu juga ketika diperiksa oleh dokter anak (menggunakan termometer yang sama seperti digunakan si perawat tadi) suhu juga menunjukkan angka 38,5°C.

Tapi namanya feeling seorang ibu terkadang bisa lebih peka dari termometer mahal sekalipun. Melihat kondisi anak saya yang benar-benar lemas tidak seperti biasanya, membuat saya memutuskan membeli termometer air raksa saat antri obat di farmasi. Benar saja saat saya ukur, suhu anak saya menunjukkan suhu 39,9°C. Saya pun buru-buru konsultasi ulang ke ruang dokter anak untuk menanyakan kondisi suhu anak saya tersebut.

Ternyata dokter anak saya sependapat dengan saya, untuk ukuran suhu kata beliau jika ada hasil yang berbeda antara termometer digital dan termometer air raksa, beliau lebih pilih hasil yang ditunjukkan oleh termometer air raksa.
  • Efisiensi waktu
Termometer digital sebenarnya bisa menguntungkan dari segi efisiensi waktu, karna saat hasil keluar, termometer digital akan mengeluarkan alarm tanda pengukuran suhu sudah selesai. Berbeda dengan termometer manual air raksa dimana kita harus sedikit bersabar selama 5 menit untuk mengetahui hasilnya, karna termometer manual tidak mengeluarkan alarm. Sayangnya hal ini terkadang bisa membuat anak kita galau dan tidak sabar (bahkan kadang bisa sampai tantrum) jika harus berdiam sambil menjepit termometer manual ini di ketiak.
  • Ke-awetan
Mungkin agak susah jika membandingkan dari segi ke-awetan. Untuk termometer digital seiring waktu baterainya akan berkurang dan lama-lama habis, sehingga termometer akan mati dan tidak bisa digunakan. Kalo menurut beberapa petunjuk, sebenarnya jika habis baterai termometer digital habis bisa diganti dengan baterai yang baru, tetapi saya pribadi belum pernah sampai dalam tahap mengganti baterai, termometer sudah hilang entah kemana karna dibuat mainan duo bocils :D
Sedangkan termometer air raksa sebenarnya memiliki kelebihan kita tidak perlu mengganti baterainya, tetapi disisi lain jika kurang hati-hati menyimpannya termometer air raksa ini rawan pecah.
  • Kemudahan memakai
Bisa dibilang termometer digital lebih gampang cara pakainya. Kita tinggal tekan tombol "on" dan alarm akan berbunyi saat ukuran suhu tubuh tercapai.
Berbeda dengan termometer air raksa yang harus dikibas-kibaskan terlebih dahulu sebelum digunakan, sehingga air raksa berada pada posisi dibawah angka 35°C. Sayangnya mungkin tidak semua orang bisa dengan mudah mengibas-ngibaskan termometer air raksa untuk bisa mencapai posisi dibawah angka 35°C, seperti halnya suami saya yang sering ngedumel karena sudah ngibasin termometer dengan sekuat tenaga, nggak taunya air raksa nya tetep nongkrong cantik nggak mau turun sama sekali :D

Dari beberapa pengalaman tersebut, menurut saya jika memang kita memiliki batita, memilih termometer digital lebih disarankan, mengingat pertimbangan dari segi keamanan, efisiensi waktu, dan kemudahan pemakaian.

Tetapi jika memang tetap menginginkan termometer air raksa atas dasar ke akuratan dan efisiensi harga, sebenarnya juga tidak masalah asalkan kita bisa menjamin keamanan batita selama pemakaian termometer air raksa tersebut.

Saya pribadi, di rumah sebenarnya memiliki beberapa termometer digital sekaligus air raksa. Untuk kondisi dimana menurut feeling saya masih belum perlu menggunakan termometer air raksa biasanya saya memakai termometer digital terlebih dahulu. kecuali jika kondisi tertentu, misalnya saat feeling saya mengatakan antara suhu badan dan suhu termometer digital tidak sesuai, baru saya ulang lagi ukur suhu badan menggunakan termometer air raksa.

Oh iya, sebagai tambahan pengalaman saya, untuk termometer air raksa ini, sepertinya juga tidak bisa disimpan pada suhu ruangan yang terlalu tinggi. Karena saya pernah menemukan termometer air raksa dimana kondisi air raksanya sudah terpisah-pisah, sehingga tidak bisa digunakan lagi. Kebetulan lingkungan rumah saya termasuk yang suhu ruangnya tinggi (terutama jika pintu ruangan tertutup rapat, menyebabkan suhu ruangan menjadi panas dan pengap).



Posisi Air Raksa Sebelum Termometer Siap Digunakan

No comments:

Post a Comment