Tuesday, June 28, 2016

Vaksin Palsu???

Baru-baru ini sedang heboh berita vaksin palsu yang beredar di masyarakat luas. Saya pribadi sebagai mamam dua balita aktif yang selalu mengusahakan imunisasi lengkap untuk duo al, sebenarnya juga sempat terbersit rasa was-was, namun hal tersebut nggak saya biarkan berlarut-larut ada dipikiran saya.


Ilustrasi, Sumber : slideshare.net/pjj_kemenkes

Sepanjang yang saya ketahui selama ini, pengadaan vaksin di sebuah rumah sakit nggak bisa seenaknya seperti halnya kita kalo pengen kulakan makanan dimana saja. Saya yakin pasti ada prosedur disetiap pengadaan obat-obatan, alat kesehatan maupun vaksin di rumah sakit. Seperti yang baru-baru ini saya konfirm ke rekan sejawat saya yang bekerja di instalasi farmasi sebuah rumah sakit *ah sudah bukan rekan sejawat lagi kali ya namanya, secara saya sudah lama nggak berkecimpung didunia kefarmasian...hehehe...

Menurut teman saya tersebut, untuk pengadaan vaksin prosedurnya sama seperti pengadaan obat lainnya, yaitu harus melalui farmasi. Disini tugas farmasislah menjamin keamanan obat-obatan yang akan sampai kepada pasien. Lalu bagaimana seorang farmasis tersebut bisa menjamin bahwa obat-obatan maupun vaksin tersebut aman sampai ke tangan pasien? Salah satunya adalah dengan menjamin ke aslian dari obat-obat-an maupun vaksin tersebut. Lalu bagaimana seorang farmasis bisa menjamin bahwa obat tersebut asli? Salah satunya yaitu dengan pengadaan atau pembelian obat maupun vaksin melalui distributor resmi nya saja. Nah disitu saya bisa sedikit mengabaikan rasa was-was saya terkait beredarnya vaksin palsu tersebut.
Ilustrasi, Sumber : health.detik.com
Nggak hanya sampai dititik pengadaan saja, seorang farmasis juga harus menjamin bahwa penyimpanan obat maupun vaksin tersebut sudah sesuai, karena kesalahan metode penyimpanan pun bisa menyebabkan kandungan obat ataupun vaksin menjadi rusak, sehingga nantinya dikuatirkan efek yang diharapkan malah nggak tercapai. Sebenarnya hal ini juga hampir sama dengan pengadaan obat maupun vaksin di sebuah apotek bukan milik rumah sakit. Setiap apotek pun wajib membeli obat hanya melalui distributor resmi guna menjamin keamanan obat yang diterima oleh pasien.

Saya jadi ingat juga ini alasan kenapa beberapa rumah sakit mewajibkan sebaiknya obat yang dibeli oleh pasien harus dari farmasi rumah sakit tersebut. Salah satu alasannya adalah untuk menjamin keamanan obat yang diterima oleh pasien. Loh, berarti kalo obatnya beli diluar nggak aman dong? Bukan begitu maksudnya. Disini yang dimaksud aman adalah seandainya seorang pasien sudah berobat, namun merasa belum ada perubahan signifikan, minimal dokter bisa menelusuri dimana kesalahan prosedur pengobatannya. Nah, menurut saya ini hampir sama dengan prosedur imunisasi yang ada di rumah sakit selama ini.
Ilustrasi, Sumber : health.liputan6.com

Ini juga alasan saya selama ini, menjadi salah satu orang tua ngeyel yang nggak mau pindah-pindah dokter kalo nggak kepepet banget. Sampai salah seorang tante saya pernah komen menganggap saya terlalu percaya sama dokter anak saya yang satu ini. Hihihi...bukan terlalu percaya sih ya...tapi lebih tepatnya saya ingin menjamin keamanan pengobatan yang diterima anak-anak saya. Menurut saya dengan fokus di satu dokter saya bisa fokus memperhatikan jika ada kemungkinan-kemungkinan efek yang tidak diinginkan muncul, minimal saya bisa tau kemana mencari pertanggung jawabannya.

Nah, sebenarnya menurut saya ini hampir sama dengan prosedur imunisasi yang diikuti oleh duo al selama ini. Sejauh ini, saya memang selalu mengajak duo al imunisasi didokter dan rumah sakit yang sama. Selain itu, dokter juga memiliki standart prosedur khusus setiap duo al selesai mendapat imunisasi maka dokter anak langganan duo al akan menempelkan label. Saya sempat iseng menanyakan alasan dokter menempelkan label tersebut. Ternyata menurutnya dengan menempelkan label vaksin pada buku kesehatan anak, nantinya bisa sebagai antisipasi misal terjadi efek yang nggak diinginkan. Dengan adanya label tersebut maka dokter bisa membaca track record vaksin yang diterima dan bisa melacak dari nomer batch yang tercantum di label vaksin tersebut. *wah keren ya, jujur sih saya waktu itu nggak mikir sampe ke arah situ :D
Label Vaksin Yang Di Tempel Di Buku Kesehatan

Soal nomer batch, sebenarnya setau saya di farmasi juga ada prosedur dimana saat obat datang maka pihak farmasi harus memastikan bahwa nomer batch yang tertera di obat sesuai dengan yang tertera di faktur. Sehingga farmasis bisa menjamin bahwa obat yang diterima dengan nomer batch tersebut asli karena sudah sesuai dengan yang tertera di fakturnya.

Dari alasan-alasan tersebut juga yang membuat saya bisa menepis semua rasa was-was saya terkait berita vaksin palsu yang beredar selama ini. Lalu bagaimana dengan mamam-mamam diluar sana yang mungkin was-was terkait vaksin yang sudah diterima oleh anak-anaknya. Saya pribadi tetap yakin, asalkan imunisasi tersebut didapatkan melalui rumah sakit terpercaya, atau klinik terpercaya yang memiliki instalasi farmasi, insya Allah aman. Bagaimana jika imunisasi didapatkan dari praktek pribadi dokter atau bidan setempat? Daripada hanya sekedar menebak-nebak, menduga-duga apalagi sampai suudzon yang nggak-nggak, menurut saya nggak ada salahnya bisa di konfirm langsung kepada dokter atau bidan setempat yang telah memberikan imunisasi selama ini. So, untuk selanjutnya kita nggak perlu terjebak dengan pikiran was-was atas vaksin yang sudah diterima oleh anak-anak kita :)
Jadwal Imunisasi, Sumber : idai.or.id

4 comments:

  1. hai mba adanya temuan vaksin palsu emang buat kita ketir ketir ya mba. memang sebaiknya langsung konfirmasi ya daripada kuatir sendiri

    ReplyDelete
  2. iya, aku juga bismillah saja vaksin anakku asli :")
    sehat2 buat anak kita semua

    ReplyDelete
  3. Penempelan label hanya untuk vaksin tertentu aja sih, ga semua. Kaya campak, ga ditempel labelnya :((

    ReplyDelete