Saturday, July 2, 2016

Belajar Menjadi Mamam dan Istri Hebat

Menjadi seorang mamam dan istri hebat sebenarnya memiliki definisi berbeda untuk tiap wanita di dunia ini. Saya pribadi memiliki definisi sendiri, sebagai seorang mamam dan istri hebat, salah satunya harus bisa membanggakan anak dan suami dimanapun kita berada. Membanggakan yang bagaimana ini maksudnya? Membanggakan dalam artian yang paling sederhana buat saya yaitu bisa memposisikan dan membawa diri di setiap suasana, dimanapun berada.


Sejauh ini saya juga belum merasa menjadi mamam dan istri hebat. Masih banyak kekurangan disana sini, karena termasuk kriteria mamam galak untuk anak-anak, istri cerewet bin bawel untuk suami, sedikit banyak masih sering galau nggak jelas. Namun dari sharing dan masukan beberapa teman, saya jadi banyak belajar agar bisa menjadi seorang wanita hebat yang bisa dibanggakan oleh anak dan suami dimanapun saya berada.

Yang saya perhatikan dari masukan para mama-mama hebat, salah satunya yaitu Bijak Menggunakan Media Sosial (MedSos)

Saat ini ada banyak medsos yang kita kenal diantaranya Facebook, Whatsapp, BBM, dsb.
Lalu Bijak menggunakan MedSos yang bagaimana yang di maksud?

Facebook
Pasti pernah dengar istilah "Dia yang Riya' atau Kita yang Hasad?"
Pada dasarnya, kita memang bebas mau menulis apa saja di facebook kita, toh itu facebook kita, kalo jengah sama facebook kita ya udah toh tinggal unfollow aja apa susahnya sih. Betul bukan?! yap memang ada benarnya, namun sebagai seorang yang bersosial bukankah kita seharusnya memiliki etika dalam menggunakan facebook kita secara bijak.

Hal ini sebenarnya mungkin hampir sama dengan kita saat menjalani hidup bertetangga dengan para tetangga kita selama ini kan? Kita nggak perlu bingung apalagi iri dengan tetangga kita yang punya ini itu. Namun hal tersebut juga nggak lantas bisa membenarkan untuk nggak menjaga etika kita dalam bertetangga kan?!
Kalo disambungkan dengan medsos Facebook etika disini misalnya, jangan bilangnya nggak iri tapi sukanya nyindir-nyindir nggak jelas, nanti giliran disindir balik udah (langsung update status) berasa kayak yang paling teraniyaya sedunia. Nah, kalo gini siapa yang jadi tersangka, siapa yang jadi korban? Hebatnya nanti yang nggak tau pada ikut-ikutan mojokin tetangganya (teman facebooknya) yang sebenernya jadi korban sindiran duluan.

Sumber Gambar : facebook.com
Begitu juga untuk update status, adakalanya etika juga harus dipikirkan. Menurut pendapat beberapa teman, update status boleh-boleh saja terserah namun ada baiknya jangan terlalu lebay. Lebay gimana maksudnya? Ya tiap orang pastinya memiliki permasalahan sendiri-sendiri, namun nggak harus semuanya di update di status facebook. Apalagi semisal tiap hari tiap jam hobinya rajin banget update status ngenes. Boleh, sekali lagi boleh kok itu kan hak kita mau menyuarakan hati. Namun bagaimana dengan pendapat teman-teman yang membacanya? Mungkin untuk sesekali teman yang membacanya akan merasa simpati atau empati *syukur-syukur kalo tiba-tiba ada yang mau transfer duit segepok, kan makin Alhamdulillah ya...
Namun jika diterus-teruskan ternyata survey membuktikan yang ada malah makin eneg bacanya, karena akan banyak yang menganggap kita kurang bersyukur menjalani hidup. Ada pula yan berpendapat, daripada sekedar mengeluh di facebook kan ada baiknya mending dibuat berdoa sama Sang Pencipta.

Status lainnya yang sering bikin fenomenal, yaitu update status marah atau ngomel di facebook. Marah ya marah aja sih, cuman kalo marahnya keseringan tiap hari ngomel mulu apalagi sampe maki-maki nggak jelas di facebook ternyata justru bikin pencitraan aura kita nggak bagus lo. Meskipun mungkin sebenarnya kita marahnya nggak sama teman kita yang ada di facebook. Hal tersebut justru bikin yang baca status kita mikir seribu kali, segalak apa kita sebenarnya.
Ilustrasi, Sumber : 1cak.com/1641681
Ya memang mungkin ada benarnya kalo kita nggak butuh pencitraan, mau temenan sama kita ya udah terima aja kita apa adanya. Namun pernahkah kita berpikir bahwa apa yang ada pada diri kita sebenarnya juga bisa berimbas kepada anak dan suami kita. Terutama misal nggak sengaja kebaca sama temen kantor suami yang nggak sengaja tanpa kita ketahui temenan sama kita, kan jadi nggak enak sama suami kalo jadi tenar di kantornya karna punya istri yang galaknya kayak macan :D
Atau mungkin kita seorang pengusaha yang sedang merintis bisnis agar sukses, bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika kemarahan meledak-ledak kita tadi terbaca oleh para client kita. Bisa-bisa semua client jadi ilfeel pada kabur karena ngeri bayangin galaknya kita :)

Trus masak nggak boleh marah di facebook? Boleh, nggak ada yang ngelarang kita ingin marah di facebook, namun tetap sebisa mungkin kalo marah yang elegan ya. Mau semarah apapun jangan lupakan attitude. Ingat, facebook bukan buku harian yang kalo abis kita nulis mau dibakar kayak apa juga hanya kita yang tau isinya. Sedangkan facebook, akan ada banyak yang bisa membaca dengan leluasa isi curhatan status kita. Nggak sampai disitu status yang kita tuliskan bahkan bisa di screen shoot atau dibuat sebagai viral untuk dikonsumsi publik, yang tentunya bisa menjadi boomerang untuk kita, termasuk mungkin anak dan suami kita.

Whatsapp
Berbeda dengan facebook, whatsapp disini merupakan media sosial yang sering digunakan untuk sharing melalui chat di hp dengan teman yang lain. Selain chat antar personal, whatsapp juga menyediakan fasilitas chat grup. Nah, disini kita juga dituntut untuk bijak menggunakan whatsapp grup kita.


Biasanya berawal dari grup facebook, hingga dibentuklah sebuah grup whatsapp untuk sekedar sharing, curhat, ataupun berbagi informasi lainnya. Kelebihannya, curhat disini biasanya kita bisa dengan cepat mendapat respon dari teman-teman se grup lainnya. Saking cepetnya responnya, sampe-sampe kalo tiba-tiba respon melambat langsung berasa dicuekin dan ngambeklah kita.

Sumber Gambar : whatsapp.com

Hal sepele lainnya terkadang karna merasa saking akrabnya kita dengan teman-teman se grup whatsapp kita jadi semena-mena curhatnya. Lupa tanpa pandang bulu dikupas semua, mulai urusan dapur sampai ke urusan rahasia rumah tangga (terutama rahasia ranjang) yang harusnya nggak boleh dijadikan konsumsi publik.

Kita boleh-boleh saja curhat semua yang kita rasa di grup whatsapp, namun kita juga nggak boleh semena-mena mengumbar apa saja yang bisa diumbar, apalagi kalo berhubungan dengan rahasia suami yang menjadi soulmate kita. Sebaiknya kita tetap memilah-milah apa yang akan kita curhatkan. Seperti yang pernah saya baca, bahwa kita akan mendapatkan pasangan ya seperti diri kita. Jadi kalo kita nggak mau aib kita diumbar suami kita, ya jangan ngumbar aib suami kita.

Nah kalo rahasia suami diumbar lalu ternyata jadi aib, yang malu siapa? kita dan anak-anak kita juga kan?! Hal yang perlu diingat adalah aib suami adalah aib istri, begitu juga sebaliknya aib istri juga merupakan aib suami. Sehingga sebagai pasangan suami istri seharusnya saling menutupi aib masing-masing, bukan malah saling mengumbar satu sama lain. Apalagi kalo ngumbarnya sambil sok kepedean merasa jadi wanita hebat karena kelemahan suaminya, Naudzubillahimindzalik.
Nanti misal kepentok masalah sendiri, baru deh bela suaminya habis-habisan. Lupa kalo dulu pernah dengan pedenya jelek-jelekin suaminya sendiri. Kalo udah gitu penontonnya cuman mbatin "maunya gimana coba".

BBM
Hampir sama dengan facebook dan whatsapp, saya bilangnya ini malah kombinasi keduanya. Selain bisa untuk chat, BBM juga bisa untuk chatting personal maupun grup. Sehingga ada baiknya tetap menjaga etika saat update status maupun chat curhat dengan teman baik personal maupun di grup.
Sumber Gambar : help.balckberry.com
Jangan hanya karna status BBM sesaat rusak pertemanan sebelangga *ah peribahasa ngawur nih :D
Maksudnya untuk update status di BBM hampir sama sebenarnya dengan di facebook, sebaiknya jangan terlalu lebay, karna ternyata survey membuktikan status lebay bikin mata sepet yang baca. Jangan juga keseringan nyindir atau nyinyir, nanti yang disindir siapa, yang balapan delete contact siapa :D

Intinya semuanya hampir sama, dimana kita harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial yang ada saat ini. Tanpa kita sadari apa yang kita tuliskan menggambarkan seperti apa diri kita pada umumnya. Sayangnya terkadang kita lupa bahwa apa yang menggambarkan diri kita juga bisa mempengaruhi gambaran tentang suami dan anak-anak kita.


Selain itu saya jadi ingat nasehat teman-teman yang selalu menjadi inspirasi saya, mereka selalu menasehati para mama, agar selalu menggunakan tata bahasa dan EYD yang benar. Menurutnya, tulisan kita menggambarkan diri kita yang sebenarnya. Bisa dibayangkan jika kita seorang mama yang seharusnya menjadi teladan anggun untuk anak-anak kita, tiba-tiba menulis dengan bahasa "alay", misalkan dengan mengganti huruf "ny" menjadi "x", atau huruf "j" menjadi "z". Mungkin untuk pihak yang menulis akan terkesan keren karena merasa kekinian. Namun bagaimana dengan kesan yang didapat dari yang baca tulisan tersebut? Bisa jadi bayangan seorang mama yang anggun dan keren untuk dijadikan teladan anaknya tergantikan oleh kesan seperti mama alay layaknya abg alay yang nggak patut ditiru maupun dicontoh. Padahal seperti yang kita ketahui selama ini, anak adalah peniru ulung kita.

Ah, sebenarnya ini sebuah self reminder untuk saya. Seperti yang suami selalu tekankan kepada saya agar selalu pintar-pintar membawa diri baik sebagai seorang istri maupun sebagai mamam dua balita, dimanapun saya berada baik di kehidupan sosial nyata maupun sosial media. Insya Allah kedepannya saya akan selalu belajar memperbaiki diri saya untuk menjadi wanita yang selalu membanggakan suami dan anak-anak saya.




Noted : Tulisan ini terinspirasi oleh sharing mama-mama hebat di komunitas ..::MAM::..

6 comments:

  1. EMang skrg FB uda ga seasik dlu mba.. entah sayanya yang baper y tp teman2 jadi berubah hanya krn pendapatnya merasa paling benar yang lain tolol dan bodoh *sampe segitunya* hiks

    ReplyDelete
  2. Setuju, hati-hati bersosmed. Thanks for the reminder, Mba. Btw, sekarang banyak yg beralih dari WA ke Telegram, tapi aku nggak paham *kudet* *katrok* *gaptek* bahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku juga beberapa waktu lalu baca sekilas tentang telegram. Tapi belum paham juga...hehehe...

      Delete
  3. cakep mb, blognya... meski sibuk dgn duo aktif, tp blognya teraeat. Jempol buat mba vety

    ReplyDelete