Sunday, July 10, 2016

Menghadapi Kakak Ngambek dan Rewel Ketika Lebaran

Setelah saya ingat-ingat tepatnya setelah shalat ied, sebenarnya kakak sudah mulai menunjukkan tanda-tanda rewel. Saat itu kami mengajak kakak untuk foto studio. Disitu terlihat sekali kakak yang nggak mau diajak kerja sama, padahal biasanya sehari-hari kakak paling antusia jika disuruh action didepan kamera.
Susahnya Dapetin Momen Kakak Tersenyum
Masih belum "ngeh" dengan kerewelan kakak, kami tetap cuek mengajak kakak bersilaturrahmi ke rumah saudara maupun kerabat. Disitu terlihat jelas kakak yang biasanya bersikap manis berubah menjadi rewel. Mulai nggak mau diajak salim (berjabat tangan) sampai nggak mau masuk kerumah saudara atau kerabat yang kami kunjungi.
Jujur awalnya saya sempat terpancing "kesal" dengan kelakuan kakak. Sehingga sesampai dirumah eyang uti nya saya memberlakukan hukuman "mojok" 3 menit untuk merenungi kesalahannya. Namun, kemudian setelah saya membaca postingan di beranda facebook yang banyak dibagikan oleh teman-teman saya, yang isinya yaitu :

AKU MERENGEK KARENA...

Artikan rengekan anak-anak sbb:
(1) aku masih ragu-ragu, apakah aturannya yang kemarin, atauakah yang minggu lalu, karena Mama dan Papa tidak konsisten. Itu membuatku bingung. Tunjukkan kepadaku, mana yang kau mau, aku hendak mengikutinya.


(2) aku hendak mengontrolmu. Akankah kau takluk? Aku tahu kau akan lembek pada permintaanku tiap kali ada tamu, sepanjang ada kakek/nenek, atau ketika kau tengah sibuk, atau saat kau letih, atau ketika kau fokus pada sesuatu yang penting. Tetapi tahukah kau bahwa memiliki kuasa yang sangat besar bagi anak se kecil aku itu sungguh berat. Maka, ringankanlah bebanku dengan mengambil kembali kuasa yang kurebut itu kembali ke tanganmu. Tolonglah aku, ibu/ayah.

(3) aku ingin mengekspresikan perasaan-perasaan primerku, seperti ingin dicintai, kangen, atau takut; tetapi karena aku tak pernah belajar mengenali perasaan-perasaan dasarku, dan selama ini hanya belajar mengungkapkan perasaan-perasaan tersierku, maka cara yang kutahu ya hanya merengek-rengek itu. Maka, ibu/ayah, ajari aku; tunjukkan kepadaku apa saja perasaan yang sebenarnya ada di dalam hatiku, dan bagaimana cara mengungkapkannya secara tepat dan layak.

(4) Aku gagal melakukan prioritisasi. Maklum, aku masih belajar menempatkan mana yang paling kubutuhkan dan mana yang sekadar kuinginkan. Maka, beri aku contoh, teladankan kepadaku apa saja yang penting dan mana yang tidak penting dalam perilakumu.

(5) aku juga sedang belajar berkomitmen, memegang teguh janjiku. Aku tahu, tadi aku mengatakan bersedia melakukan itu, tetapi sekarang aku tak mau lagi karena ingin melakukan ini. Maka, berikan aku teladan bagaimana kau memegang teguh janji dan kesepakatan yang sudah kita setujui bersama. Ya, aku memang tidak komit, maka bagaimana mungkin aku belajar untuk berkomitmen jika kau sendiri juga tak mampu komit pada kesepakatan kita dengan takluk pada rengekanku.

Ya, Mama/Papa, aku memang merengek. Itu artinya aku butuh kau pandu untuk menjadi anak yang tangguh, yang memiliki karakter kuat. Bimbinglah aku.
Maafkan aku, jika lebaran ini aku malah lebih sering merengek. Mungkin aku juga letih dan capek. Tunjukkan kepada cara-cara untuk asertif, tegas; bahwa kalau aku merasa tubuhku letih, aku tinggal berkata, "Aku letih, aku ingin istirahat." Bolehkan aku untuk jujur seperti itu. Ya, Abi dan Umi, acara lebaran dan liburan itu sungguh meletihkan bagi tubuh mungilku, walau menurutmu rangkaian kegiatan ini adalah acara yang menyenangkan

Sekali lagi, aku minta maaf. Bersediakah engkau mengampuniku dan membimbingku untuk sungguh-sungguh belajar perilaku baru yang lebih positif? DB

Sumber : fb Dono Baswardono Parenting

Hal tersebut membuat saya sedikit "tersadar" atas kesalahan saya. Disitu saya dan suami buru-buru meminta maaf kepada kakak, dan segera memberi penjelasan atas apa yang kami lakukan. Kami katakan kepada kakak bahwa sebagai anak yang baik, kakak harus mau bersalaman dengan saudara atau kerabat. Jika memang kakak nggak mau salaman karena memiliki alasan yang kuat, maka kakak harus bisa menyampaikan kepada kami. Sehingga kami bisa memahami kondisi kakak, dan tak perlu memaksakan hal yang tidak disukai oleh kakak.

Berulang kali saya menyounding kakak dengan nasehat tersebut. Syukur alhamdulillah kakak mulai mau diajak bekerja sama. Terutama ketika berkunjung di acara halal bihalal keluarga besar yang ada di luar kota. Awalnya saya sempat ragu silaturrahmi akan berjalan lancar. Bayangan kakak ngambek rewel minta pulang sudah terbayang-bayang di kepala.
Nyempetin Foto Wefie, dan Kakak Sudah Mau Sumringah

Sebenarnya tak dipungkiri kakak sempat rewel, namun kami berusaha tenang dan mengambil inisiatif untuk mengajak kakak keluar sebentar dari acara halal bihalal keluarga besar. Modus membelikan es krim kakak, sekaligus mengalihkan perhatian kakak agar pikiran fresh sebentar, saya sekalian menyempatkan bertemu dengan salah satu teman lama dari komunitas AIH, MAM, dan The Sundulers. Ternyata ketika tiba di tempat ketemuan teman saya, si kakak malah tertidur lelap. Disitu saya jadi lega berarti tadi rewelnya karena ngantuk.
Saat Menyempatkan Kopdar dengan salah satu Teman dari Komunitas di Sosmed
Setelah bertemu dengan teman nggak sampe 5 menit saya buru-buru kembali ke tempat acara halal bihalal keluarga karena sudah di sms adik saya untuk segera kembali ke acara. Sekembalinya di acara kakak sedikit mau diajak kerja sama. Meski nggak mau turun dari gendongan, namun minimal kakak bisa dialihkan perhatiannya nggak serewel sebelumnya. Sepanjang perjalanan kembali kakak sumringah dan semangat.

Acara Halal Bihalal Keluarga Besar
Sesampainya dirumah eyang uti (mertua), beliau sempat komen bahwa adik lebih pintar daripada kakak karena nggak rewel dan semua orang diajak salaman sama adik. Kakak sempat memasang muka kecewa, namun saya berusaha menyemangati kakak. Saya nggak mau kemakan komen negatif tentang kakak, karena saya ingin berempati memahami kondisi kakak. Saya yakin pasti ada alasan kenapa kakak rewel.


Seperti halnya saat kakak nggak mau makan malam itu, padahal siang harinya kakak juga belum makan. Namun karena saya dan suami menerapkan sistem lapar kepada kakak, sehingga kami cukup menawarkan makan sekali saja. Jika kakak memang nggak mau makan, ya sudah berarti besok pagi kakak baru bisa makan lagi. Sayangnya saat itu peraturan kami nggak berlaku, karna nenek (ibu saya) memaksa kakak untuk mau makan. Jadi daripada saya ikut spanneng maksa kakak makan, saya ngeloyor kebelakang aja.

Mungkin untuk sebagian orang metode kami terkesan "tega" membiarkan kakak kelaparan, namun seperti yang pernah kami pelajari metode tersebut sebenarnya lebih ampuh untuk kakak. Jika kakak memang nggak mau makan, berarti memang dia sedang nggak mau makan, entah memang sudah kenyang karena kebanyakan nyemil, atau memang dia sedang nggak mood makan. Dipaksa pun selama ini malah bikin episode berantem, ujung-ujungnya paling mentok 5 suap nasi udah  mingkem lagi.

Jadi menurut saya tips menghadapi kerewelan si kakak saat lebaran agar emaknya nggak kepancing emosi, beberapa diantaranya adalah :
  • Mendengarkan dan berusaha memahami keluhan kakak.
  • Mengajak kakak bicara dari hati kehati.
  • Jika setelah diajak berbicara kakak masih juga rewel, berusaha maklum saja, sambil menyounding diri sendiri dan membesarkan hati namanya juga anak kecil.
  • Jika dirasa kerewelannya sudah "nyerempet-nyerempet" etika yang kurang baik, sehingga kurang sedap diperhatikan kerabat, sementara cukup kita yang mewakili untuk meminta maaf kepada kerabat, tentunya sambil nanti kakak di sounding dan diberi nasehat kembali.
  • Tanpa berniat membela sesuatu yang salah, namun ada kalanya kita perlu untuk tidak mudah terpancing komentar negatif tentang anak kita. Karena jika kita terpancing komen negatif, yang ada justru membuat kita ikutan emosi menghadapi kakak, dan itu malah menjadi boomerang untuk kita. Bukan malah bikin selese rewelnya bisa makin berlarut-larut
  • Sharing dengan beberapa teman yang memiliki balita seumuran, ternyata hampir semua sepakat jika para balita mengalami kerewelan serempak. Hal ini bisa sedikit mewakili kesimpulan saya bahwa para balita rewel salah satunya karena capek, sehingga paling tidak itu membuat saya sedikit lega, karena hampir semua orang tua balita memiliki cerita yang sama ;)

6 comments:

  1. Terlepas dari kerewelan kakak, tentunya menyenangkan sekali ya bisa bersilaturahmi dengan keluarga besar :)

    ReplyDelete
  2. Benar sekali, kunci pentingnya adalah kita mesti tenang dalam menghadapinya ya.

    ReplyDelete
  3. Kondisi seperti inilah mbak yang sering dialami oleh orang tua, sepertinya ini bisa dicoba deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sering banget, bahkan terkadang orang sekitar ikut memandang sinis anak kita yang rewel. Kalo sudah gitu seringnya kita malah kepancing emosi karna jadi merasa malu, padahal kita belum tanya dan nggak tau penyebab rewel anak kita :)

      Delete