Sunday, July 31, 2016

Perjuangan ASI, NWP, dan Tandem untuk Duo Al

[Lomba Blog]
Berawal sejak mendengar pengalaman sahabat yang menceritakan budget bulanan susu formula anaknya bisa menembus angka jutaan, langsung membuat saya "keder". Apalagi versi cerita sahabat saya tersebut, dia akan rela mencari harga termurah sekalipun hanya terpaut seribu rupiah, dengan alasan anaknya bisa menghabiskan 1 kaleng susu formula per tiga hari.

Susu Formula Membutuhkan Budget Yang Tak Sedikit
Hal itulah yang membuat saat hamil anak pertama, saya mulai mengumpulkan informasi mengenai seluk beluk ASI. Bahkan, saking penasarannya kenapa banyak ibu yang gagal menyusui di usaha pertamanya, maka saya dan suami sepakat mengikuti sebuah kelas laktasi yang diadakan oleh sebuah komunitas AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) di usia kandungan saya yang menginjak 38 minggu.

Hingga tiba saatnya saya melahirkan anak pertama (kakak), usaha menyusui saya bisa dibilang lancar. Saya juga berhasil melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) untuk kakak. Dengan pede karena antara kurang maksimalnya pemahaman saya mengenai KB ASI, dan keinginan tidak menunda-nunda anak selanjutnya, serta mengingat sebelumnya kami membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan buah hati, membuat saya nekad hanya mengandalkan KB ASI. Maksud kami ya udah KB nya natural aja, kalo dikasih hamil ya Alhamdulillah pasti seneng, kalo masih belum berarti ya KB ASI masih berlaku. Jadi semacam KB iseng-iseng berhadiah kali ya.

Saat si kakak berusia 10 bulan ternyata saya hamil lagi. Untuk ASI kakak, karena sudah komitmen dengan suami, harus bisa memberikan ASI kepada kakak minimal 2 tahun, maka saya tetap melanjutkan ASI untuk si kakak selama saya hamil adik (Dalam dunia laktasi istilah ini disebut NWP yang merupakan singkatan dari Nursing While Pregnant).


Saking pedenya yang luar biasa saya menyambut gembira proses NWP ini di awal trimester kehamilan. Diluar dugaan, prosesnya tak semudah yang saya kira. Bisa dibayangkan banyaknya tantangan yang saya hadapi selama NWP, diantaranya :
  • Puting perih dan sensitif, sehingga membuat saya sering menangis-nangis darah jika kakak mulai minta menyusu.
  • Rasa lelah dimalam hari, ketika saya membutuhkan istirahat ternyata kakak justru terbangun ditengah malam hanya untuk minta menyusu.
  • Kontra dari lingkungan sekitar, mulai dari yang menakut-nakuti tentang bahaya NWP sampai dengan yang memaksa untuk menyapih si kakak dengan alasan mitos yang mengada-ada.

Sebenarnya sempat down dan hampir menyerah tetap melanjutkan ASI untuk kakak, namun berkat support dari suami yang tak pernah lelah membuat saya selalu bangkit untuk fokus berusaha tetap memberikan ASI kepada kakak.

Baca juga : Tantangan Menyusui Ketika Hamil (NWP)

Setelah kurang lebih 9 bulan saya menjalani proses NWP, tiba waktunya saat adik lahir. Tak lupa, sebelumnya saya sudah mengumpulkan segala macam info tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk kakak menjelang adik lahir, terutama apa yang harus saya lakukan terkait ASI untuk si kakak ketika saya harus menjalani proses bersalin di rumah sakit dan meninggalkan kakak dirumah.

Kebetulan kakak termasuk yang tak bisa jauh dari gentong ASI nya. Pernah sekali dicoba oleh mertua untuk di ajak kerumah saudara kurang lebih baru se jam, eh udah nangis terkewer-kewer nyari saya. Namun, ketika hari H, alhamdulillah semua berjalan lancar. Menurut ibu dan mertua saya, yang saya titipi kakak di rumah, kakak tidak rewel sama sekali. Sehingga saya bisa menikmati setiap gelombang cinta dahsyat yang datang menjelang adik lahir tanpa harus was-was kepikiran kakak di rumah.

Sekali lagi saya bersyukur, karena adik juga berhasil menjalani proses IMD. Berbekal segala info yang saya dapat sebelumnya saya berusaha membuat kakak tidak cemburu dengan kehadiran adiknya. Menurut info yang saya dapat, kesan pertama kakak terhadap adik akan menentukan kecemburuan kakak selanjutnya. Ternyata episode yang hampir membuat kakak cemburu muncul juga, yaitu ketika tiba saat adik menyusu di hadapan kakak. Merasa selama ini gentong ASI adalah miliknya seorang membuat kakak tidak mau kalah. Sehingga setiap adik haus minta nenen, kakak yang sebenarnya tidak haus ikut "latah" minta nenen.


Meski awalnya keluarga besar saya merasa aneh dengan keputusan saya untuk tandem nursing, namun tak jarang mereka sempat ikut berusaha membantu mengalihkan perhatian kakak ketika waktunya adik menyusu. Tapi sepertinya semua sia-sia. Setiap dialihkan yang ada kakak semakin tantrum luar biasa. Baiklah disini saya yang harus mengalah mencari cara, sehingga saya berusaha untuk bisa melakukan tandem secara bersamaan apapun kondisinya.

Baca juga : Posisi Tandem Nursing Saat Si Kakak Jealous

Perjuangan tandem nursing saya ternyata tidak berhenti disitu. Yang paling dramatis yaitu ketika ibu saya tengah malam minggat dari rumah saya karena tidak terima melihat cucunya (kakak) menangis tengah malam karena saya kelelahan menyusui. Sedangkan suami tidak berhasil menenangkan si kakak. Alih-alih ikut menenangkan, ibu saya malah marah besar kepada saya karena menganggap saya egois. Menurut ibu saya jika memang saya tidak sanggup untuk menyusui langsung dua anak, ya sudah menyerah saja, berikan si kakak dot (susu formula) saja. Entah siapa yang benar, siapa yang salah, suami saya sendiri tetap berusaha menenangkan saya tengah malam itu, yang nangis-nangis karena melihat ibu saya minggat tengah malam.

Pada titik ini jujur saya merasa sangat down. Meskipun saya mendapat support 100% dari suami, namun saya tetap merasa bersalah karena membuat ibu saya marah besar. Saya tau kemarahan beliau kepada saya tak lebih tak kurang karena bentuk rasa sayanng beliau kepada cucunya. Sempat curhat kebeberapa teman ternyata beberapa teman juga ikut menganggap saya sebagai ibu yang egois memaksakan kehendak tetap memberikan ASI kepada kakak. Menurut mereka, jika memang saya sudah  tidak sanggup ya udah menyerah saja. Niat hati sebenarnya ingin mencari solusi positif tapi apa daya yang didapat malah saran untuk menyerah.

Suporter ASI Duo Al Yang Tak Kenal Lelah
Respon kurang mendukung dari lingkungan mengenai keputusan saya tandem nursing, membuat saya berdiskusi kembali dengan suami terkait keputusan kami melanjutkan ASI kakak. Alhamdulillah, meskipun saya down di titik terbawah sekalipun, suami tetap memberi support saya untuk melanjutkan ASI kepada kakak maupun adik (duo al). Berbagai bentuk support dia berikan kepada saya, mulai menawarkan membelikan makanan yang saya inginkan ketika pulang kerja, hingga support memberikan pijatan dipunggung saya guna memancing hormon oksitosin dari dalam tubuh saya agar produksi ASI saya melimpah.

Meski terkadang saya melihat ada sinyal lelah di wajahnya mendengar keluhan saya selama menyusui duo al, namun tak sekalipun ada kalimat terucap dari mulutnya untuk menyuruh saya menyerah tandem nursing. Itu juga yang membuat saya bertekad melanjutkan tandem nursing.

Tapi tantangan tandem nursing saya tidak berhenti disitu. Saat itu adik masih berusia 4 bulan, dan kakak belum genap berusia 2 tahun, sehingga belum waktunya untuk disapih. Ternyata bapak mertua saya mengalami sakit keras dan sempat melewati masa kritis sehingga harus menjalani rawat inap cukup lama. Dengan kondisi bapak mertua yang sakit keras tentu membuat saya harus rela suami mencurahkan seluruh perhatiannya untuk bapak dan ibunya yang membutuhkan support juga saat itu.

Hal ini tentu membuat saya harus rela berbesar hati tidak mendapatkan perhatian sementara dari suami. Yang ada dipikiran saya saat itu, saya harus bisa menjadi tempat bersandar untuk suami juga disaat dia membutuhkan support. Namun sayangnya jangankan mau memberi support, untuk sekedar menyapa saja seperti tidak ada waktu. Suami sibuk riwa-riwi. Saya malah seperti terlupakan begitu saja. Suami sendiri memang melarang saya ikut menjaga di rumah sakit, mengingat kondisi duo al yang masih ASI, terutama adik yang masih ASI eksklusif ditambah saya yang belum berpengalaman dalam menejemen ASIP, serta tidak ada yang menggantikan saya menjaga duo al dirumah.

Keadaan saat itu ternyata tanpa saya sadari cukup membuat produksi ASI saya menjadi berkurang. Tak cukup sampai disitu, Innalillahi wa innailaihi raji'un ternyata kami harus rela mendapati kenyataan bapak mertua berpulang ke hadapan sang pencipta. Hal ini tentu membuat banyak pihak bersedih, terutama suami saya. Sehingga support 100% dari suami yang biasa saya dapatkan selama menjalani tandem nursing bisa dibilang berkurang. Untungnya ada banyak teman saya di komunitas the sundulers (sebuah komunitas berisikan emak-emak kesundulan) yang tetap berusaha memberi support saya untuk maju melanjutkan perjuangan tandem nursing saya.

Alhamdulillah, tidak berlangsung terlalu lama suami berlarut-larut dalam kesedihannya. Suami kembali menyadari, bahwa masih ada kami (duo al, dan saya) yang membutuhkan support ASI dari nya. Sebenarnya ini juga setelah saya curcol nangis ke dia karena merasa stres yang teramat sangat dan membuat produksi ASI saya menurun drastis. Disini saya mengakui bahwa tugas seorang suami itu cukup berat, disaat dia sedang bersedih karena baru saja kehilangan bapak tercintanya, dia tetap harus tegar dan kuat demi istri dan anak-anaknya.

Mungkin sekilas saya egois, namun jujur saat itu saya merasa ikut stres karena selain kurang mendapat support dari suami, saya sendiri tidak bisa menjaga asupan gizi saya. Ditambah banyaknya saudara yang datang turut meberikan bela sungkawa setiap hari dirumah mertua membuat saya tidak punya waktu istirahat yang cukup. Hal inilah yang membuat saya memberanikan diri menceritakan keadaan ASI saya. Bagaimanapun keputusan ASI 2 tahun untuk duo al merupakan kesepakatan kami berdua, jadi menurut saya jika merasa ada ketidak beresan dalam proses menyusui, saya harus segera melaporkan kepada suami, agar kami bisa menemukan solusi bersama.

Lucunya, malah ada seorang kerabat yang mengatakan hobby saya tidur melulu. Saya tidak bisa menyalahkan dia juga sih, karena memang saya terbiasa menyusui duo al dengan posisi Lying Down dimana posisi ibu berbaring ditempat tidur. Sedangkan si adik yang masih ASI eksklusif hampir tiap 2 jam sekali selalu minta nenen. Meski bisa dibilang posisi menyusui nya sambil berbaring ditempat tidur namun jangan dibayangkan boyok saya nggak kemeng-kemeng sedap ya. Apalagi saya harus berusaha tandem nursing, memposisikan kakak yang beberapa kali ikutan nemplok minta nenen juga. Wuih sungguh suatu perjuangan ibu yang nikmatnya luar biasa.

Posisi Menyusui Lying Down
Sharing dengan suami merupakan salah satu kunci keberhasilan saya dalam memberikan ASI kepada duo al. Saya sangat bersyukur sehingga saya berada di titik sukses bisa menuntaskan ASI selama 2 tahun untuk si kakak. Meski tidak ada perayaan meriah seperti rencana awal kami untuk menyambut kelulusan ASI 2 tahun kakak dan ASI 6 bulan adik, namun kami tetap menyambutnya dengan antusias. Mungkin untuk beberapa pihak, ini sedikit lebay. Namun, untuk kami pribadi ini cukup sebagai reward kepada diri kami karena berhasil menuntaskan ASI kakak 2 tahun di tengah banyaknya tantangan yang kami hadapi. Saat ini, kami pun masih berusaha melanjutkan ASI adik hingga 2 tahun seperti si kakak.

Tart Simbolis Kelulusan S3 ASI Kakak
Sebenarnya ada banyak alasan mendasar yang membuat saya bertekad harus bisa menuntaskan ASI untuk duo al, yaitu :

Hemat
Dengan memberi ASI, kita bisa menghemat budget pengeluaran bulanan untuk susu formula

Modus biar cepat langsing
Meskipun ternyata untuk saya dengan menyusui dua anak tetap tidak berhasil langsing, tapi minimal selama menyusui badan saya tidak makin "menggembung".

Riwayat alergi saya
Mengingat saat bayi saya memiliki riwayat alergi, yang menyebabkan orang tua saya sendiri kesusahan menentukan susu formula yang tepat untuk saya, membuat saya ingin berusaha agar duo al lebih sehat dari saya.

ASI sehat untuk semua
Seperti yang sering dibahas ASI memiliki kandungan antibodi sehingga bisa meningkatkan daya tahan tubuh bayi. Selain itu dengan menyusui dapat mengurangi resiko kanker payudara pada ibu. Untuk ayah, dengan memberikan ASI tentunya sehat untuk isi dompet dan ATM-nya.

Tandem nursing bisa mengurangi sibling rivalry
Menurut info yang pernah saya dapatkan tandem nursing bisa mengurangi kecemburuan antara saudara. Hal ini dikarenakan baik kakak maupun adik merasa tidak diabaikan.

Informasi Tentang Manfaat Menyusui, Didapat Dari Share Yang Banyak Dibagikan Di Medsos FB

Mengingat banyaknya tantangan dalam proses menyusui, dan demi meningkatkan kesadaran masyarakat atas pentingnya ASI bagi sang buah hati, maka saat ini setiap minggu pertama dibulan agustus akan diadakan peringatan Pekan ASI Dunia, yaitu tepatnya pada tanggal 1 sampai dengan 7 Agustus. Hal ini diadakan untuk memperingati Deklarasi Innocenti yakni sebuah deklarasi tentang perlindungan, promosi, dan dukungan menyusui yang diadakan pada bulan agustus tahun 1990, dan ditanda tangani oleh para pembuat kebijaksaan pemerintahan, WHO, UNICEF dan beberapa organisasi lainnya.

Saya sendiri salah satu yang mengakui bahwa proses menyusui itu banyak sekali tantangannya, sehingga butuh tekad yang kuat dan support penuh dari lingkungan sekitar. Sedikit tips dari saya untuk ikut memberikan support kepada ibu agar sukses memberikan ASI diantaranya,

Memberikan empati terhadap ibu yang sudah berjuang memberikan ASI
Empati disini dalam artian, posisikan diri kita seandainya berada di ibu yang sudah berusaha jungkir balik memberikan ASI, sehingga saat memberikan saran kita tidak hanya berbekal berdasarkan teori saja. Percayalah bahwa beberapa praktek dilapangan tak semudah teori.

Jangan memojokkan ibu yang berjuang ASI
Alih-alih memberi semangat terkadang kita lupa malah memojokkan ibu yang berjuang ASI. Hal ini justru bisa menjadi boomerang untuk ibu tersebut. Mungkin yang awalnya ibu tersebut tertarik untuk berusaha berhasil ASI sebaliknya malah menjadi antipati terhadap para pejuang ASI.

Menjadi sahabat untuk ibu yang sedang berjuang ASI
Hal ini bisa kita lakukan dengan cara menjadi tempat curhat untuk para pejuang ASI. Jika memang kita tidak bisa memberi saran ada baiknya kita bisa membantu mencarikan informasi yang mendukung. Seperti beberapa sahabat saya, yang turut membantu mencarikan kontak person konselor laktasi AIMI agar saya bisa memecahkan permasalahan yang saya hadapi selama menyusui.

Memberi informasi tentang kegiatan yang berhubungan dengan Laktasi
Daripada hanya sekedar memberikan artikel-artikel terkait ASI,  maka tak ada salahnya kita memberi informasi tentang kegiatan yang berhubungan dengan laktasi. Misalnya dengan memberikan info jadwal kelas laktasi, atau mengajak gabung di komunitas yang berhubungan dengan ibu menyusui.

Tak perlu kecewa saat support kita ditolak mentah-mentah
Menurut saya, keputusan ASI merupakan hak prerogatif dari Ayah dan Ibu si bayi, sehingga apabila kita sudah berjuang memberikan saran dan support untuk beberapa orang tua dalam memberikan ASI belum berhasil, maka tak perlu berkecil hati. Masih banyak orang tua disekitar kita yang mungkin lebih membutuhkan dan mau mendengar support dari kita. Jika support ASI dari kita masih banyak yang belum berhasil, maka mungkin kita perlu mereview cara kita dalam memberikan support kepada para pejuang ASI.

Sedangkan untuk para ibu hebat pejuang ASI, agar sukses dari ASI dan selama tidak ada indikasi medis yang memberatkan anak maupun ibu dalam proses menyusui, maka tak ada salahnya mengikuti saran :
"Menyusuilah dengan Keras Kepala"

Saran tambahan : untuk keputusan NWP dan tandem nursing tidak ada salahnya tetap berkonsultasi dengan dokter kandungan agar bisa dipastikan kondisi kandungan aman selama proses NWP berlangsung, serta berkonsultasi dengan dokter anak terkait kecukupan gizi dari si kakak maupun adik selama proses NWP dan tandem nursing. Jangan ragu untuk mencari dokter kandungan, dokter anak maupun tenaga medis lainnya yang PRO ASI dan memahami seluk beluk NWP serta tandem nursing dengan tepat. Hal ini bertujuan agar saat memberikan saran bisa benar-benar menyesuaikan keadaan kondisi kita sebagai para ibu NWP ataupun ibu tandem nursing.

Tart Simbolis Kelulusan S2 ASI Adik
Walaupun sudah berhasil memperjuangkan ASI 2 tahun untuk kakak, saya pribadi belum berani meng-claim bahwa saya termasuk yang sukses menyusui ASI selama 2 tahun, karena saat ini saya dan suami juga masih memperjuangkan ASI 2 tahun untuk si adik. So, Perjuangan ASI kami masih berlanjut. Semangat!!!

12 comments:

  1. Ya ampun penuh perjuangan banget ya mbak, hamil sambil menyusui. Bicara tentang ASI aku pernah bicarakan hal ini sama mas Raden kalau aku pengen banget kasih full ASI sama anak besok-besok. Nah, aku cerita ke dia kalau peran ayah itu berpengaruh banget untuk memperjuangkan ASI. Aku sampai kayak kebawa cerita perjuangan NWPnya mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak bener menurutku peran ayah itu nomer satu dalam keberhasilan memberikan ASI untuk anak-anak

      Delete
  2. semangat ber-ASI, mbaaak... Nanti kalo aku udah jadi ibu, aku juga mau ASI eksklusif. Aaamiin

    ReplyDelete
  3. Walah, baru tahu kalau memberi ASI bisa buat langsing :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya memang bisa mbak, karena kan ada kalori yang terbakar selama menyusui. kalo nggak salah sekitar 300 kalori. cuman mungkin saya salah dalam input makanan. Jadi asupan saya melebihi kalori yang terbakar...hihihi...

      Delete
  4. waduh beratnya perjuanganmu mbak dan yg paling sedih itu kalo orang terdekat seperti ibu malah kurang mendukung ya mbak. bikin baper banget. tetep semangat ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak sedih banget, tapi Alhamdulillah pelan-pelan semua teratasi

      Delete
  5. Punya suami yang mendukung dan tidak mengeluh (lalu mendengarkan keluhan kita) sungguh sesuatu banget ya mba... perjuangan yang luar biasa selama ngASI mba....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, banyak cerita dari teman2 yang gagal justru karena suaminya ikut kemakan mitos sekitar

      Delete
  6. Selamat Mba menang hadiah untuk cerita Asinya *tepuktangan* yeayyy

    ReplyDelete