Thursday, August 18, 2016

Belajar Parenting dari Kesuksesan Pebulutangkis Indonesia Liliyana Natsir

Pada 17 agustus 2016 menjadi sebuah sejarah tersendiri bagi dunia bulu tangkis Indonesia, dimana bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 71 pasangan pebulu tangkis indonesia Tontowi dan Liliyana berhasil meraih medali emas di kelas ganda campuran olimpiade Rio yang diadakan di Brazil.

Sumber : bbc(dot)com

Haru, takjub, bahagia, campur aduk merinding ketika melihat pencapaian tersebut. Kemudian saya yakin bahwa kesuksesan tersebut pasti tak lepas dari andil orang tua para pebulutangkis tersebut.

Benar saja ketika saya mencari informasi melalui internet. Saya mendapati cerita latar belakang pendidikan Liliyana Natsir ini. Dimana hampir sebagian besar menyatakan bahwa Liliyana memang sengaja meninggalkan bangku sekolah pada usianya yang ke dua belas demi menekuni dan fokus di dunia bulutangkis.

Jujur saya takjub membacanya, sebuah keputusan luar biasa yang berani diambil oleh orang tua Liliyana untuk memutuskan masa depannya. Apalagi banyak keluarga besarnya yang menyayangkan keputusan tersebut. Saya bisa bayangkan galaunya saya jika menjadi orang tua, dimana saya harus memutuskan keputusan besar dan sedikit nggak lumrah di masyarakat demi kesuksesan anak saya. Pasti akan ada pertanyaan kalo nggak berhasil lalu saya harus bagaimana?

Namun orang tua Liliyana memiliki alasan sendiri berani mengambil keputusan tersebut, menurutnya memang selalu ada yang dikorbankan untuk bisa mendapatkan sebuah keberhasilan. Semua tidak bisa dijalani dengan setengah-setengah.

Liliyana dan Tontowi Saat Memenangi Medali Emas. Sumber : juara(dot)net

Yang membuat saya makin takjub adalah keberhasilan orang tua Liliyana dalam melihat potensi yang terpendam pada diri Liliyana. Tak banyak orang tua yang bisa mengenali bakat dan potensi dari anak-anaknya.

Alih-alih dengan alasan agar anaknya berhasil dan sukses di masa depan, kebanyakan orang tua justru memaksakan cita-citanya menjadi cita-cita anak-anaknya, padahal belum tentu sesuai minat dan bakat anak. Parahnya terkadang ini justru bisa menekan dan menghilangkan potensi bakat yang sebenarnya dimiliki oleh anak, dan nantinya bisa berakibat anak menjadi kehilangan arah dan jati dirinya.

Disclaimer : Tulisan ini tidak bermaksud mengajak para orang tua untuk beramai-ramai memberhentikan anaknya dari pendidikan atau sekolah formal lo ya!

Namun, berusaha memberi gambaran bahwa sebagai orang tua kita harus bisa mengenali bakat dan minat anak-anak kita, agar kita bisa mengarahkan dan mengasah kemampuan mereka.

Saya sendiri seandainya ditanya,
"Berani nggak mengambil resiko nggak menyekolahkan anak, demi mengejar potensi minat dan bakat anak di bidang lainnya?" 

Jujur jawaban saya saat ini belum berani. Saya pribadi (mungkin) lebih memilih jalur tetap memberikan pendidikan formal untuk bekal ilmu anak-anak kedepan. Karena buat kami, mau menjadi Full Time Mother ataupun Working Mom, seorang anak kelak juga akan menjadi orang tua yang berperan sebagai tonggak utama penentu kualitas generasi berikutnya.

Meski demikian kami Insya Allah tetap mengupayakan memberi fasilitas dan sarana yang berimbang demi mengasah minat dan bakat anak-anak.

Terlepas dari itu semua, kami sendiri juga masih sama-sama belajar dan menebak-nebak apa potensi dari anak-anak kami. Sepakat dengan suami yang penting ketika kita melihat ada salah satu potensi yang menonjol dari anak-anak, ya udah itu yang harus di booster agar lebih menonjol, jangan malah ditekan dihilangkan. Ini hampir sama seperti ilmu parenting yang pernah saya baca di salah satu buku ayah Edy, dimana kurang lebihnya diibaratkan ikan jago berenang tidak jago memanjat jadi jangan dipaksakan terbang. Bisa dibayangkan apa jadinya ketika ikan yang harusnya berenang di air dipaksakan memanjat pohon yang tinggi.


Kami sadar, sebagai orang tua kami masih harus banyak belajar dan berkembang demi masa depan anak-anak kami. Salah satunya yaitu dengan membuka wawasan belajar dari melihat kesuksesan orang-orang yang ada di sekitar.

Maju dan sukses terus ya Liliyana Natsir \(^,^)/

8 comments:

  1. Iya, mbak, banyak ortu yang memaksakan cita-citanya menjadi cita-cita anaknya. Ortu juga abai dengan minat dan bakat anak. Yang dipentingin lagi-lagi soak akademik. Semoga kita nggak jadi ortu macam ini ya, mbak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya semoga kita bisa mengarahkan dan mendukung bakat, potensi serta kreativitas anak-anak kita ya. amin

      Delete
  2. Saudaranya kabarnya ada 2 yg jadi dokter. Brarti tidak sekolahnya Liliana bukan krn tidak mampu bayar sekolah, tapi memang sudah yakin 100%

    ReplyDelete
  3. saya sih mikirnya pekerjaan anak yang paling menyenangkan itu jika dimulai dari hobby mbak, jujur aja sih ya, saya hobby design tapi sama bapak disuruh masuk jurusan yg tidak sesuai dengan saya, akhirnya yaa hobby saya cuma saya lakukan diwaktu senggang dan belom bisa berkembang. Saya juga suka jahit, tapi tidak bisa saya kembangkan lagi, karena saya harus kerja di jruusan yang dipihkan ayah saya dulu, agak nyesel dan enggak sih, tapi ya gitu, akhirnya hobby2 saya saya sisihkan sejenak hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat mbak, terkadang orang tua lupa jika anak2 mempunyai minat sendiri. Yang penting selanjutnya sbg orang tua kita belajar untuk tidak memaksakan kehendak kita jika memang dirasa anak2 kita nggak ada potensi disitu

      Delete
  4. Wah kisahnya bagus ya. Kalau di kita gini ya mbak agak sulit untuk bisa mendobrak kebiasaan. Pintar masih di kotak-kotakan pada segi nilai akademis ,seberapa jago rumus, atau memecahkan teorema. Mungkin hal tersebut juga yang menjadikan sekarang ini banyak sekali orang tua yang memilih agar anaknya home schooling.
    Temen saya ada yang cerita, anaknya ini jago sekali biologi mungkin nantinya jadi peneliti atau dokter. Maka sedari sekarang sama sekali tidak diajarkan geografi secara berlebihan. Semoga kita bisa jadi orang tua yang mampu mengenali bakat anak ya. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya itu dia. Saya juga termasuk yang tumbuh di lingkungan dengan motto sukses itu diukur kalo kita jadi nilai akademis dengan goal menjadi pegawai negeri atau pegawai kantoran

      Delete