Wednesday, August 24, 2016

Berbagi Pengalaman dari Seminar Parenting Siap Cerdaskan si Kecil Sejak Dini

Beberapa waktu lalu saya memenangkan tiket seminar parenting yang diadakan oleh salah satu brand susu formula yang selalu mengkampanyekan generasi platinum multitalenta disetiap sponsornya.

Sempat merasa nyasar dan salah kostum waktu pertama kali datang, melihat semua para peserta datang menggunakan baju merah sedangkan saya berbaju biru. Jadi seperti sebutir upil berwarna biru dilautan merah.

Biru yang eyecatching
Lebih takjub lagi saya melihat hampir seluruh orang tua disana memberikan susu botol kepada anak-anaknya, sedangkan saya seperti orang ilang nyusuin anak saya sembunyi-sembunyi. Sehingga saya seperti pesakitan yang dipandang aneh oleh hampir seluruh peserta yang hadir. Belum lagi waktu disuruh isi quisioner yang isinya menanyakan seluk beluk tentang kandungan susu formula. Manalah saya tau yang ini...

Free Goodie Bag (Asyik...)
Ah salah acara nih kayaknya saya. Udah hampir pulang saja waktu itu. Namun suami meyakinkan saya untuk tetap ikut. Menurutnya asal mereka nggak memaksa kami memberi susu formula kepada anak-anak nggak masalah. Siapa tau isi parentingnya bagus mengingat yang hadir jumlahnya membludak. Oke saya berusaha menyingkirkan rasa egois saya, sambil menyounding diri saya "Ambil positifnya, Buang negatifnya".

Peserta Yang Membludak
OPTIMALKAN PERKEMBANGAN OTAK & DAYA TAHAN TUBUH, PENENTU KECERDASAN MULTITALENTA SI KECIL
begitu judul seminar sesi pertama.

Pada sesi pertama seminar tersebut dibawakan oleh DR. Dr. Ahmad Suryawan, SpA(K) atau biasa dipanggil dokter Wawan seorang dokter ahli tumbuh kembang anak.

Dokter Wawan Memberikan Materi di Depan
Saya pun menyimak penjelasan dari dokter Wawan. Ternyata saya mulai menyadari ada beberapa bagian cara parenting saya yang salah terhadap anak-anak saya.

Seperti yang dijelaskan oleh dokter Wawan bahwa orang tua mempunyai peran penting dalam membentuk struktur otak anak-anaknya, karena menurutnya struktur otak itu tidak "terbentuk" dengan sendirinya.

Proses pembentukan otak dibentuk mulai dari dalam kandungan saat minggu ke-2 kehamilan. Saat lahir volume otak sekitar 400 gram. Ketika usia 2-3 tahun volume otak mencapai sekitar 1100 gram. Sedangkan volume otak dewasa 1500 gram. Sehingga saran dari dokter Wawan jangan sia-siakan pembentukan otak anak di usia 2-3 tahun yang mencapai 80% pembentukan.

Yang Ini Generasi Diamond Aja Deh (Sesuai Namanya) :D

Proses terbentuknya otak bayi bisa terancam dikarenakan tingkat kestresan pada ibu hamil, yang menurut survey 80%nya kebanyakan dipicu oleh suami. Ternyata ada benarnya nasehat yang menyatakan mood ibu hamil kelak berpengaruh terhadap mood bayi.

Dijelaskan juga oleh dokter Wawan bahwa bayi memiliki kemampuan menyimpan memori jangka panjang, sehingga para orang tua diharapkan berkata dan berperilaku didepan bayinya, karena hal tersebut akan disimpan di memori sistem limbiknya dan tanpa sadar kebiasaan yang tertangkap oleh memorinya itu akan digunakan menjadi kebiasaan saat usia SMA atau kuliahnya.

Yang saya tangkap dari penjelasan tersebut berarti jika sewaktu anak kita bayi kita suka marah-marah didepannya maka bisa jadi nanti ketika dia berada di usia SMA atau kuliah juga akan menjadi pribadi pemarah. Ya Allah naudzubillahimindzalik. Saya sepertinya harus mulai mengoreksi kesalahan saya, karena mungkin terkadang saya khilaf marah tanpa sebab didepan anak-anak saya. Saya dan suami harus belajar menjadi orang yang lebih sabar lagi sepertinya agar bisa memberikan contoh yang baik kepada anak-anak.

Satu hal yang benar-benar saya garis bawahi dari penjelasan dokter Wawan. Sebagian besar otak anak 95% akan terbentuk hampir sempurna di usia 6 tahun. Sehingga selama anak berusia dibawah 6 tahun orang tua tidak perlu cemas jika dirasa masih ada yang tertinggal. Namun, begitu juga sebaliknya apabila kita melakukan kesalahan dalam mengoptimalkan perkembangan otak pada anak dibawah usia 6 tahun maka masih ada kemungkinan justru bisa menyebabkan perkembangan yang normal menjadi tidak normal.

Glekkk...langsung nelen ludah sambil bayangin dan berharap semoga selama ini saya sudah benar dalam mengambil langkah untuk mengoptimalkan perkembangan otak anak-anak saya.

Dokter Wawan juga menjelaskan untuk mengajarkan sopan santun juga harus dimulai sejak dini, jangan menunggu ketika anak baru duduk di bangku SD. Mengajarkan sopan santun kepada bayi bisa sambil memberi contoh langsung kepada bayi kita (misal bersalaman atau mengucap salam kepada orang lain) sembari menggendongnya. Sehingga bayi kita bisa langsung menangkap dan kelak seiring waktu bayi kita perlahan akan otomatis menjiplaknya.

Selain itu dokter Wawan juga menjelaskan, salah satu kelebihan ibu ASI yang tiap 2 jam sekali menyusui secara langsung dengan jarak pandangan muka ke bayi kurang lebih 15 inchi, kelak akan selalu diingat oleh si Bayi. Sehingga sebisa mungkin ibu sebaiknya tetap berusaha memberikan ASI pada anak-anaknya, karena pemberian ASI secara langsung dari ibu kepada bayinya bisa menjadi salah satu cara melatih motorik penglihatan anak.

Tambahan lainnya untuk ibu menyusui tidak disarankan menyusui bayinya sambil bermain gadget (Hp), alasannya karena ada semacam pancaran listrik dari gadget (mungkin radiasi kali ya saya nangkapnya) yang bisa mempengaruhi pembentukan otak anak.

Hal lainnya sebelum dokter Wawan memberikan sesi materi tentang alergi anak kepada DR. Dr. Anang Endaryanto, SpA(K) atau biasa dipanggil dokter Anang (seorang dokter ahli imunologi anak), menambahkan sedikit informasi kecerdasan juga berhubungan dengan alergi anak.

Dokter Anang Memberikan Materi di Depan
Saya bersyukur bisa mengikuti seminar parenting ini. Sehingga saya memiliki gambaran apa-apa saja yang salah dari cara parenting saya dan suami selama ini, dan kedepannya bisa segera saya perbaiki.

Sayangnya kendala waktu menyebabkan saya tidak bisa mengikuti seminar sampai habis karena harus mengantar kakak kontrol ke Dokter. Padahal aslinya ngiler lihat doorprize nya. Ah mungkin next time bisa di agendakan ikut acara seminar parenting yang lainnya.


5 comments:

  1. Brand susu ini rajin banget ngadain event edukasi. Di Jogja beberapa kali juga ada. Aku pernah datang satu kali. Dan all out banget yah acaranya. Tbh, aku salut sama kontinyunya event2 kayak gini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, dan next kayaknya kalo ada event edukasi mau ikut lagi. Bagus banget temanya

      Delete
  2. Hahahaha bisa bayangin rasa kagetnya diawal.

    Mb bgmn hub kecerdasan dan alergi tadi??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekilas diawal dijelasin kurang lebihnya dengan anak mengalami alergi terjadi kekurang nyamanan anak sehingga bisa mempengaruhi kecerdasan anak juga

      Delete
  3. Nggak sia-sia mbak ngikutin seminar ini. Walo pake salah kostum plus sembunyi-sembunyi nyusuin anak. Ngekek pas bagian ini. :D

    Ijin share ke fb ya, mbak... Bagus banget isinya :)

    ReplyDelete