Thursday, August 11, 2016

Hal Yang Harus Diperhatikan Saat Typus (Tipes), Dengan 2 Balita Di Rumah

Berdasarkan hasil tes lab, beberapa waktu lalu dokter mendiagnosa saya typus (tipes). Sempat disarankan rawat inap, saya nego dokter rawat jalan saja mengingat si adik yang masih ASI.


Dokter memperbolehkan saya rawat jalan, dengan catatan harus benar-benar istirahat. "Siap dokter", janji saya.


Selain itu dokter menyodorkan aturan makanan untuk saya sebagai pasien tipes, diantaranya :
- Saya hanya boleh makan bubur atau nasi tim saja. Tidak boleh makan nasi biasa.
- Tidak boleh makan buah.
- Tidak boleh makan sayur. Kalopun butuh kuahnya saja boleh tapi secukupnya.
- Tidak boleh makan pedas.
- Tidak boleh makan mie instan.

"Pokoknya makanannya harus dijaga ya bu, nggak boleh telat!", begitu ungkap bu dokter. Kemudian dokter pun meresepkan beberapa item obat untuk saya, yang sekilas saya baca isinya : Antibiotik, Obat anti radang, Vitamin.

Sebenarnya harus istirahat total ini yang susah, karena dengan menghandel dua balita aktif dirumah bagaimana mungkin bisa nantinya saya benar-benar istirahat. Ibu saya pun meragukan saya bisa istirahat, sehingga memaksa saya rawat inap saja. Jujur saya pribadi juga nggak yakin sih bisa istirahat total kalo dirumah.

Cuma ya namanya mamam, mana tega ninggalin anak-anak dirumah. Sehingga saya cari info ke beberapa teman yang punya pengalaman tipes dan tetap harus menghandel anak di rumah. Intinya sih sama tetap harus mengusahakan istirahat sebanyak-banyaknya.

Penjelasan sederhana dari teman saya, tipes itu kondisi "usus"nya terluka jadi nggak boleh banyak gerak, biar nggak makin memperburuk keadaan.

Kalo yang pernah saya baca sih, tipes ini disebabkan oleh bakteri Salmonella thypii yang masuk kedalam usus dan berkembang biak disana, sehingga jika dibiarkan lama-lama hal inilah yang menyebabkan terjadinya radang pada usus.

Lalu, apa hubungannya kondisi capek dengan tipes ini? Karena menurut beberapa orang saya kena tipes karena capek menghandle dua balita. Ah, ini nggak segitunya juga sih capeknya.

Sebenarnya saya pribadi menyimpulkan kondisi tipes ini bisa timbul lantaran capek, karena saat capek biasanya kondisi badan seseorang drop. Hal inilah yang memudahkan tubuh kita mudah terserang penyakit.

Oke, karena memang harus istirahat maka saya mengimport ibu saya. Tujuannya sih sebenarnya minta bantuan untuk menemani anak-anak saya ketika bermain, karena anak-anak saya ini hobinya "melelekin" mata orang yang lagi tidur. Trus mungkin sedikit bantuan dalam hal-hal lain tentunya. Sisanya yang bisa dihandel sama suami saya pasrahkan ke suami semua. Jadi sebenarnya ini semacam kerja sama pembagian tugas sih.

Hal ini benar-benar meringankan saya, karena ternyata saya merasakan setelah beraktivitas sedikit lama seringnya perut saya terasa nyeri, mual dan nggak nyaman. Padahal, saya cuma blender bubur lo itu, atau cuma sekedar nyuapin anak-anak makan sambil duduk. iya sambil duduk, saya nggak perlu ngejar-ngejar, tetep aja bisa memicu rasa nggak nyaman di perut. Saya sampe mikir, ini saya yang lebay apa gimana sih. Tapi memang ketika saya tanyakan teman saya, ya gitu rasanya. Oh...baru ngeh pantes ya orang tipes disuruh istirahat total.

So, mungkin saran saya seperti teman saya yang lainnya, jika memang memungkinkan sebaiknya tetap opname saja, tujuannya sih biar lebih cepat proses penyembuannya karena istirahatnya maksimal.

Namun, jika tidak memungkinkan dan memilih rawat jalan, maka sebaiknya mencari bantuan dari keluarga atau kerabat (ini untuk yang tanpa asisten rumah tangga ya). Kalo tidak ada keluarga atau kerabat yang bisa diandalkan maka terpaksa mengandalkan suami untuk cuti beberapa hari.

Oh ya, bagaimana dengan aktivitas menyusui saya kepada adik? apa harus stop? Melihat dokter tidak melarang saya untuk terus menyusui, maka saya tetap menyusui si adik. Hal ini didukung oleh jawaban dari dokter anak langganan kami, yang sempat saya hubungi via whatsapp juga tetap memperbolehkan saya menyusui si adik asal kondisi saya kuat.

Yeiii...semangat sehat...

No comments:

Post a Comment