Wednesday, August 10, 2016

Saat SD Saya Pernah Ikut Full Day School

Malam ini sambil limpang limpung susah tidur, karena dibuat merem justru bikin makin mual dan sedikit pusing, ada sedikit pikiran berkecamuk tentang Full Day School yang menjadi bahasan heboh para ibu-ibu akhir-akhir ini.

Ah saya jadi berpikir bagaimana nasib fisik anak-anak saya jika nantinya saat sekolah harus di forsir dengan kegiatan full day school. Belum lagi bagaimana dengan kedekatan saya, suami dengan anak-anak, atau kedekatan kakak dengan adik. Ya mungkin akan ada yang bilang "kan kalo nggak dicoba dulu siapa yang tau?".


Trus apa saya musti jawab, "Buat anak kok coba-coba!!!"

Ehm sedikit gambaran saja, saya sendiri dulu sempat bersekolah di sekolah setingkat sekolah dasar yang menerapkan sistem full day school. Alasan sekolah waktu itu untuk memberi tambahan pelajaran (atau bisa disebut semacam bimbingan belajar tambahan di sekolah) kepada murid-muridnya agar lebih siap menghadapi EBTANAS (waktu jaman saya Ujian kelulusan masih bernama EBTANAS).

Lantas apa yang saya rasakan saat itu? Jujur saya benar-benar lelah fisik, ditambah boring yang luar biasa. Ketika siang tiba, waktu yang seharusnya bisa saya gunakan untuk istirahat harus saya kuat-kuatkan nggak ngantuk. Beberapa kali saya dilanda pusing, mungkin saking maksanya saya bisa melek padahal ngantuk berat ya, sehingga beberapa kali saya harus minta ijin pulang terlebih dahulu.

Hal lainnya yang saya ingat, ketika saya pulang ke rumah saya seperti diburu waktu, karena masih ada kursus lainnya yang menanti. Seperti mengaji, ini saya ingat benar, saking lelahnya beberapa kali saya pura-pura tertidur maksud hati biar nggak perlu ngaji karna pengen istirahat, tapi apadaya ibu saya tetap selalu mamaksa saya mengaji. untuk yang satu ini saya nggak menyalahkan ibu saya karna mengaji salah satu usaha ibu saya untuk memberi pondasi bekal agama kuat untuk saya.

Belum lagi saat makan siang, rasa rindu masakan rumah yang disiapkan oleh ibu rasanya hanya bisa saya bayangkan di angan-angan saja, karena kebijakan sekolah demi menghindari kesenjangan sosial maka makan siang disediakan oleh sekolah.

Entah sama atau berbeda dengan pengalaman adik saya, yang juga pernah melewati jam sekolah lumayan panjang. Adik saya ini tadi juga sempat ikut mengirimi saya berita tentang full day school ini. Ketika saya tanya "Dulu waktu pulang sekolah jam 3 gimana rasanya?". Jawaban dia singkat padat dan jelas, "Nggak usah ditanyalah, anak kelas 4 SD disuruh pulang jam 3-4 an sore?????". Kemudian dia menambahkan komentar "kasihan anak SD besok itu, pulang sekolah langsung tidur, nggak belajar, nggak ketemu orang tua karena saking capeknya".

Ya...ya...ya...mungkin hampir sama dengan yang saya rasakan :
Lelah dan Bosan yang luar biasa.

Toh seandainya pun nantinya akan ada alasan Full Day School dibuat menyenangkan, tidak hanya melulu belajar tapi di isi bermain di sekolah. Saya pribadi tetap agak berat membayangkannya. Selain capek tenaga, waktu berkualitas keluarga juga menjadi salah satu alasan keberatan saya.

Mengutip komen adik saya di bagian "nggak ketemu orang tua, karena saking capeknya", ah ada benarnya nih. Bukankah madrasah utama anak itu adalah rumah, dimana ayah berperan sebagai kepala sekolahnya dan ibu sebagai gurunya?
Lalu jika hampir sebagian besar waktu aktif anak saya kelak dihabiskan disekolah, kapan saya bisa memberikan basic norma kehidupan sehari-sehari yang sesuai dengan visi misi keluarga kami. Bagaimana dengan kedekatan emosional kami?

Berbeda lagi dengan pendapat teman saya yang seorang pengajar, "Nanti kalo sebagian besar waktu saya habiskan ngajar anak orang, siapa dong yang didik anak-anak saya?". Ya, sekali lagi saya membayangkan akan banyak orang tua yang kehilangan waktu berharganya bersama si anak karena sistem Full Day School.

Lalu bagaimana pendapat saya tentang kegiatan bimbingan belajar atau kegiatan (kursus) non formal di luar sekolah apa juga nggak menguras waktu dan tenaga? Menurut saya itu hal yang berbeda dengan sistem Full Day School, karena paling tidak ketika pulang sekolah disiang hari, anak-anak masih bisa menikmati istirahat sejenak, bercanda dengan saudaranya atau orang tuanya sejenak sembari menikmati makan siang bersama keluarganya. Ah pasti lebih adem suasananya...

Meski begitu mungkin tetap akan ada yang setuju kebijakan Full Day School, dengan asumsi "Daripada anaknya dirumah sama pengasuh?". Ya mungkin sebagian akan setuju dengan kondisi tertentu, namun tak semua kondisi sama kan? Tak kurang ibu yang rela tidak menggunakan jasa bantuan pengasuh demi melihat tumbuh kembang anaknya sendiri.

Yang pasti memikirkan Full Day School cukup membuat kepala jadi pusing membayangkannya. Ah tapi apalah saya, daripada cuma mengeluh berkepanjangan nggak ada yang dengar (paling-paling cuma suami, itupun nanti dikira ngomel nggak jelas), mending mulai sekarang saya cari cara agar anak-anak bisa mendapat pendidikan yang tepat sesuai visi misi kami, serta mengikuti bakat dan minat anak tentunya. Kalo bercandaan sama suami, lama-lama duo al kita sekolahin di luar negeri juga nih. hahaha...mimpi boleh lah ya...siapa tau jadi doa baik untuk duo al ;)

4 comments:

  1. Nggak tega saya kalau anak full day school :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena saya pernah full day school, iya mbak saya juga nggak tega...

      Delete
  2. saya setuju.. full day school kurang bagus diterapkan.saya aja waktu SMA full day karena untuk persiapan UN lelahnya luar biasa apalagi anak SD.. nggak kebayang..

    ReplyDelete
  3. Jika full day diterapkan,lama-lama anak nggak dekat sama orang tuanya sendiri

    ReplyDelete