Wednesday, August 10, 2016

Ternyata Obat ini Tidak Di Rekomendasikan Untuk Ibu Menyusui, Tetapi...

Setelah beberapa hari curiga produksi ASI berkurang, akhirnya saya memutuskan untuk mencari sumber penyebab menurunnya produksi ASI saya tersebut.


Salah satunya dengan mencari data keamanan obat yang saya minum untuk ibu menyusui.

Berbekal searching di Google, di Aplikasi LactMed, dan bertanya kebeberapa teman apoteker yang masih aktif di dunia kefarmasian, ternyata saya mendapat informasi bahwa beberapa obat yang saya minum tidak direkomendasikan untuk Ibu Menyusui.

Contohnya :
  • Methylprednisolon
Menurut info yang saya dapat di LactMed, Obat ini bisa menurunkan produksi ASI. Seperti ini kira-kira info yang saya tangkap dari aplikasi tersebut (semoga saya tidak salah mengartikan, jika salah mohon berkenan mengoreksi ya)

"A patient who was 6 weeks postpartum and predominantly breastfeeding her infant received 24 mg of depot methylprednisolone plus 15 mg of A patient who was 6 weeks postpartum and predominantly breastfeeding her infant received 24 mg of depot methylprednisolone plus 15 mg of lidocaine intralesionally for tenosynovitis of the wrist. Thirty hours after the injection, lactation ceased. Her breasts were soft and not engorged at that time. Thirty-six hours later, lactation resumed slowly, reaching normal milk production 24 hours later. The author hypothesized that the suppression might have occurred because the injection was in a highly mobile joint, which might have caused rapid release of the corticosteroid. A large dose of triamcinolone injected into the shoulder has also been reported to cause temporary cessation of lactation."

Dari yang saya tangkap bahwa setelah ibu menyusui mendapat methylprednisolon, maka payudara yang awalnya berisi ASI tiba-tiba menjadi lunak karena produksi ASI berkurang.

Meskipun dosis Methylprednisolon yang saya dapat relatif kecil dan hanya melalui per oral, namun saya tidak berani mengambil resiko. Sehingga untuk obat tersebut sementara saya stop dulu. Toh pikir saya tenggorokan saya yang sakit untuk menelan karena radang sudah membaik.
  • Thiamphenicol
Untuk yang satu ini saya agak susah mendapatkan informasinya. Rata-rata tertulis data belum tersedia. Namun beberapa teman apoteker dan ada seorang dokter memberikan info yang menyatakan bahwa Thiamphenicol ini ikut keluar bersama ASI.

Info Yang Didapatkan Oleh Teman Saya Melalui Farmasiana

Untuk obat yang satu ini saya tidak bisa langsung men-stop-nya karena termasuk antibiotik. Tanpa berniat sok tau, saya memutuskan untuk konfirmasi kepada dokter saya yang meresepkan obat tersebut.

Alhamdulillah dokter memberi respon baik dan alasan yang bisa saya terima. Intinya beliau berkata memang sebenarnya obat tersebut masuk kedalam ASI namun dalam jumlah yang sangat sedikit. Mengingat dan mempertimbangkan kondisi saya saat ini yang lebih membutuhkan obat tersebut maka beliau tetap meresepkan obat tersebut.


Alasan lainnya menurutnya balita yang saya susui sudah diatas setahun sehingga tidak terlalu beresiko untuk anak saya. Mungkin maksudnya karena usia diatas setahun memang kebutuhan ASInya sudah tidak sesering bayi dibawah 1 tahun. Kebutuhan ASI diatas setahun memang yang pernah saya baca hanya sekitar 30%.

Baiklah untuk yang satu ini akhirnya saya cari cara lain. Berbekal sedikit ilmu yang pernah saya dapat, saya mengakali minum obat mencari waktu disaat jam tidur anak saya paling panjang, harapannya agar ketika adik bangun meminta nenen, kadar obat dalam tubuh saya berada pada titik yang lumayan rendah.

Namun teori tak seindah prakteknya. Dikarenakan produksi ASI saya yang sudah terlanjur dalam kondisi menurun, membuat adik yang biasanya jaran minta nenen justru makin nempel nggak mau lepas. Sehingga sampai saat ini saya masih berusaha mancari akal agar adik tidak terlalu sering meminta nenen, sembari menghabiskan obat menunggu waktu kontrol lagi.

Untuk obat yang lainnya, sementara saya rasa masih aman.

Contoh :
  • Lansoprazole
Dari yang saya baca, obat ini ditemukan meningkatkan produksi Hormon Prolactin, dimana hormon prolactin ini berperan dalam peningkatan produksi ASI. Sehingga menurut saya aman untuk ibu menyusui.

Oh ya kecuali obat batuk pilek yang saya dapat, sebenarnya saya pernah mendapat info bahwa hampir sebagian besar obat pilek bisa menurunkan produksi ASI. Sementara karena saya merasa batuk pileknya tidak terlalu mengganggu maka saya tidak meminum obat batuk pilek saya.

2 comments:

  1. kebetulan lagi pilek nih aku.. ditahan2 takut ganggu ASI, thanks infonya ya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kalo cuma pilek biasanya ngejar lewat vitamin C, minum banyak, minum madu mba. kalo obat masih kuatir produksi asi berkurang. sama2 mba ;)

      Delete