Saturday, September 17, 2016

Berawal Dari Baby Blues, Bunda Yana Menjadi Survivor PPDS

Pertama kali saya mengenal Bunda Yana Yirah ini dari sebuah komunitas Aku Ingin Hamil. Agak-agak lupa sih ya sebenarnya tepatnya kami se grup di RT AIH berapa.

Jujur, dulu hal yang saya ingat dari Bunda Yana, menurut saya "sedikit lebay" ketika menceritakan kehidupannya. Adakalanya saya merasa curhatnya kurang masuk akal. Sekilas jika mengikuti jalan ceritanya hampir seperti melihat sinetron. Namun saya saat itu berusaha diam dan mengikuti saja, sambil mengingatkan diri bahwa kita tak tau hidup orang seperti apa.

Tak hanya itu, menurut saya semua cerita yang hampir dibagikannya di grup berkisar tentang teganya ibu mertua dan suami yang tak mau mengerti dengan keadaan istri. Jujur sebagai teman satu grup yang membaca ceritanya dari satu sudut pandang saja membuat saya dan mungkin beberapa teman juga agak gemes dengan si ibu mertua apalagi dengan suaminya.

Belum lagi cerita Bunda Yana tentang ibu mertuanya yang tidak mendukung keputusannya untuk ASI. Ketika dia berjuang keras berhasil memberikan ASI si mertua malah menyalahkannya atas keputusannya tersebut. Hingga akhirnya salah satu teman di grup yang merasa tak tega berinisiatif memberikan donor ASI kepada bayi bunda Yana yang saat itu memang sedang dirawat di rumah sakit.

Tak berhenti disitu saja ketika saya mulai flash back tentang cerita-cerita dari perempuan yang kini sudah memiliki dua buah hati. Dari yang saya ingat bunda Yana ini juga sempat menawarkan putri pertamanya kepada beberapa teman di grup komunitas yang saya ikuti. Sedikit terdengar gila saat itu. Bahkan ada teman yang sampai menasehati karena menurut saya dia sedikit tersinggung dengan tindakan Bunda Yana. Bagaimana tidak tersinggung di grup yang saya ikuti banyak teman yang memang menanti hadirnya buah hati sampai jungkir balik usaha nangis-nangis, ini setelah dapat bayi yang dinanti kok malah mau dibuang. Sekali lagi saat itu saya juga ikut mbatin, "Mbak ini mau maen sinetron apa gimana sih". Sumpah terkewer-kewer saya ikut gemas.

Saya sendiri sempat terbersit ingin mengiyakan menerima tawaran tersebut. Pikir saya ketimbang nanti malah anaknya dibuang di jalan. Tapi kemudian saya abaikan lagi pikiran saya itu, karena iya kalo beneran serius, misal keputusan memberikan anak itu hanya emosi sesaat dari Bunda Yana bisa PHP dong saya. Nanti makin panjang ceritanya.

Beberapa teman pun turut menasehati Bunda Yana. Saat itu bunda Yana bercerita kabur dari rumah dan ingin minggat saja, dengan alasan tersebut dia juga ingin memberikan anaknya kepada siapapun yang bersedia menerimanya. Beberapa teman menyarankan bunda Yana untuk kembali kerumah saja. Bagaimanapun hal yang dilakukannya keluar dari rumah tanpa ijin dari suami itu tidak benar. Akan banyak malaikat yang melaknat perbuatannya.

Hingga akhirnya lupa tepatnya kapan dan bagaimana ceritanya Bunda Yana keluar dari grup komunitas AIH di BB (BlackBerry) yang saat itu juga saya ikuti. Tak lama kemudian akun Facebooknya pun menghilang. Sempat saya mengira di blok atau dihapus dari pertemanan. Namun dari beberapa info teman memang FB Bunda Yana saat itu sedang deaktif alias nggak aktif.

Beberapa teman saat itu juga beranggapan, "Ya sudahlah mungkin Bunda Yana sedang butuh waktu untuk merenungi diri". Satu hal saat itu yang kami harapkan semoga wanita tersebut tidak ada pikiran aneh untuk memberikan anaknya kepada orang lain lagi.

Lama tak ada kontak dengan Bunda Yana, hingga akhirnya saya mulai lupa dengan semua curhat dan ceritanya. Apalagi tak lama setelah itu sayapun berhasil hamil dan membuat saya tak bisa mengikuti berita-berita yang sedang "in" di media sosial. Boro-boro ngikutin perkembangan berita di medsos, untuk sekedar pegang hape saja saya mual. Gosipnya, beberapa teman pun ikut mulai menganggap saya lebay. Ah tapi saya tetap cuek dan bulat dengan keputusan menjual BlackBerry milik saya. Serius saat itu saya mengalami pusing tak berkesudahan jika harus dekat-dekat BB, apalagi kalo ada pesan "ping!!!" yang berulang-ulang bisa bikin saya makin mual.

Hingga akhirnya saya melahirkan dan melewati rutinitas yang cukup mengejutkan menjadi ibu baru. Di situ saya mulai mengenal istilah Baby Blues, dimana dari yang saya baca Baby Blues ini salah satunya juga dipengaruhi dari perubahan hormon ibu pasca melahirkan. Namun jika dibiarkan berlarut-larut Baby Blues ini bisa berkembang menjadi Post Pastrum Depression Syndrome  dan berakhir menjadi gila.

Aduh ngeri saya, kalo membayangkan harus depresi. Yah saya nggak mau depresi apalagi gila, sehingga saya harus bisa keluar dari masa-masa Baby Blues.

Berbekal curhat dan berbagi kegalauan dengan beberapa teman, Alhamdulillah saya bisa melewati. Hingga akhirnya tak lama kemudian salah seorang yang namanya pernah saya kenal mulai meng add akun facebook saya lagi.

Yap...saya lihat nama Bunda Yana. Saat awal di add saya sempat tak langsung menerima permintaan pertemanannya karena saya mengira ini kan Bunda Yana yang "aneh" dulu. Ah maaf ya Bunda yana kalo saya pernah punya pikiran seperti itu. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk meng approve permintaan pertemanannya sembari meyakinkan diri saya, mungkin Bunda Yana sudah berubah menjadi lebih baik.

Benar saja disitu saya mulai mengerti alasan-alasan kenapa dulu Bunda Yana saya anggap aneh. Ternyata dari status FB yang dibagikannya di beranda, wanita yang pernah berjuang memberikan ASInya untuk Hana putri nya sampai titik darah penghabisan pernah mengalami masa-masa Baby Blues yang berujung Post Partum Depression Syndrome.

Menurut yang saya baca, awal mula Bunda Yana ini mengalami Baby Blues tak terselesaikan sesaat setelah mengalami IUFD dari kehamilan pertamanya.

Beruntung kasus PPDS yang dialaminya cepat mendapat respon dari suami. Dari yang saya baca suaminya pun mulai lelah dengan keadaan mereka dan mengajaknya menemui seoang psikolog. Disitu saya membaca sebagai awal mula kebangkitan Bunda Yana dari masa-masa kelamnya.

Saya pun mulai flashback kembali tentang ceritanya yang dikurung oleh suaminya di rumah. Yah seperti mendapat jawaban dari teka teki cerita tersebut kenapa Bunda Yana harus sampai dikurung.

Tak sampai disitu, cerita tentang perjuangan Bunda Yana bangkit dari masa-masa Baby Blues dan PPDSnya sedikit demi sedikit menggeser opini negatif alias kesuudzonan saya selama ini.

Saya sendiri salut dengan perjuangannya. Menurut saya tak mudah seseorang untuk bisa mengakui bahwa "ada yang salah dengan dirinya", hingga bisa membuat satu keputusan berani mendatangi psikolog bersama pasangan.

Kini setelah berhasil bangkit melewati beberapa pengalaman pahitnya menghadapi Baby Blues yang berujung pada Post Partum Depression Syndrom, Bunda Yana menjadi salah satu Survivor PPDS yang juga ingin memberikan motivasi kepada para ibu yang mungkin mengalami Baby Blues pasca melahirkan. Dia berharap tak ada lagi ibu-ibu mengalami Post Partum Depression Syndrome disebabkan kondisi Baby Blues yang tak terselesaikan.

Sumber : Facebook Bunda Yana

Noted :
PPDS : Post Pastrum Depression Syndrome
PHP : Pengharapan Palsu
IUFD : Intra Uterine Fetal Death (Kematian Janin Dalam Kandungan)

2 comments:

  1. Alhamdulillah suami bunda Yana mengambil tindakan yang sangat tepat ya mbak. Jadi skrg bunda Yana bisa lepas Dr ppd nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak beruntung suaminya tanggap dan sigap. Jadi sekarang bisa dibilang kehidupan bunda yana bahagia setelah melewati masa2 babyblues dan PPDS yang kelam

      Delete