Tuesday, September 6, 2016

Mama Jangan Paksa Aku Jadi Balita Gemuk

"Aduh anakku nggak mau makan nih. Enaknya dikasih apa ya? Sudah coba vitamin penambah nafsu makan ini itu tetep aja sering GTM, bobotnya juga nggak nambah-nambah. Badannya nggak bisa gemuk, aku jadi sering diprotes mertua sama ibuku katanya anak kok cungkring kurus kayak nggak diurus. Belum lagi kalo pas lagi jalan bareng, pasti orang-orang pada ngelihat nanar karena dikira jatah makanan anaknya selalu dihabisin emaknya sampe bikin anaknya nggak berisi".
Sering dengar curhatan seperti itu?



Yap tak dipungkiri saya sendiri juga termasuk ibu yang sering diprotes oleh saudara, kerabat, dan orang sekitar untuk bisa "menggemukkan" anak-anak saya. Masih ingat sekali saat kami berusaha ASI lalu tiba-tiba ibu mertua sering men-sounding saya untuk segera memberi susu formula lantaran si kakak yang mulai melangsing. Tak mau kalah, ibu saya pun sempat beberapa kali menyarankan saya memberi susu formula demi keberlangsungan badan berisi si kakak. Entah sudah berapa kali saya menolak dan menjelaskan, hingga akhirnya beliau berdua mengalah.

Saya masih ingat sekali saat suami memberi alasan masuk akal kepada ibunya tentang berat badan kakak yang selalu dipermasalahkan karena tak kunjung gemuk. Komentar suami kepada ibunya saat itu "Sudahlah ngapain sih, sekarang anak dipaksa-paksa buat gemuk, nanti waktu gede anak gemuk bingung lagi dipaksa-paksa langsing karena takut nggak laku!!!" Sungguh komentar yang sangat singkat padat jelas. Suamipun sembari berkata "Sudah ada contohnya ini". Ngomong ininya tentu sambil ngelirik saya. Hahahahaha...jujur saya saat itu nggak tersinggung sama sekali, karena memang fakta benar adanya.

Si Kakak Yang Mungil Diantara Yayah Dan Mamam Yang Bergizi >_<
Sedikit curcol nostalgia jaman anak-anak.

Ibu saya sering bercerita bahwa ketika saya lahir bobot saya 4,8 Kg, bahkan ketika bayi saya sempat menang foto lomba bubur bayi sebuah majalah. Hal itu tentu menjadi prestasi luar biasa dan membanggakan bagi seorang ibu. Namun sayangnya tak berlangsung begitu lama, seperti pertumbuhan bayi pada umumnya seiring mulai bertambahnya gerak maka bobot bayi mulai susah bertambah. Ketika bayi mulai merangkak, kemudian berjalan ditambah melewati fase tumbuh gigi jangan ditanya sudah berapa kali bayi akan melakukan aksi GTM (Gerakan Tutup Mulut) maka saya mulai tumbuh menjadi balita yang langsing lebih tepatnya kurus cungkring.

Yeah, It's Me
Melihat pertambahan bobot saya yang kurang menyenangkan saat balita ibu berusaha mencari suplemen nafsu makan untuk saya. Sayangnya usaha ibu saya bisa terbilang sia-sia, karena tak sedikitpun saya menjadi gemuk. Padahal selain vitamin penambah nafsu makan, saya juga minum susu formula.

Lupa tepatnya kapan, hingga akhirnya ketika kelas 2-3 SD saya melewati episode gampang lapar. Sehari saya sanggup makan 5 kali. Hingga akhirnya ibu saya benar-benar kaget melihat anaknya yang dulu kurus kering cungkring ini menjadi sedikit gemuk padat berisi.
.
Coba Tebak Saya Yang Mana? Yap Yang Potongannya Nge-Bob :p

Nafsu makan yang dulunya mungkin diharapkan bertambah, saat itu mungkin mulai menjadi menakutkan untuk ibu saya. Sehingga ketika menginjak SMP ibu saya mulai mempermasalahkan berat badan saya yang bisa dibilang gemuk alias obesitas.

Secara tak langsung saya mulai mengalami tekanan psikis bulliying baik dirumah maupun di sekolah karena faktor kegemukan yang saya alami. Dirumah ibu saya selalu mewanti-wanti saya untuk menjaga pola makan saya. Jika saya ketahuan nyamil, maka ibu saya marah besar. Saya ingat sekali waktu ibu saya mengatakan akan mengunci pintu kulkas jika saya tidak bisa mengendalikan nafsu makan saya. Saat siang saya dilarang tidur siang karena tidur siang dianggap pemicu kegemukkan. Tak cukup sampai disana, saya diajak oleh ayah saya untuk berkonsultasi dengan ahli gizi di sebuah rumah sakit. Menu makan sehari-hari saya mulai ditakar dalam bentuk gram.

Masih Jaman SD
Jujur saat itu saya juga tak bisa menyalahkan kedua orang tua saya yang memaksa saya menjaga pola makan saya karena mungkin orang tua saya tak mau saya menjadi bulan-bulanan teman SMP saya. Sayangnya mungkin tanpa sadar semua yang saya alami tersebut membuat saya terobsesi untuk segera langsing.

Tanpa sepengetahuan kedua orang tua, saya mulai mengalami bulimia. Bagaimanapun saat itu saya tidak benar-benar bisa mengontrol nafsu makan saya. Setiap saya selesai makan ada perasaan bersalah yang sangat besar berkecamuk di kepala saya. Sehingga setiap kali tuntas selesai memasukkan makanan kedalam mulut saya segera buru-buru mencari closet untuk bisa memuntahkan semua makanan yang sudah saya makan tadi. Saya berusaha melogok-logok kerongkongan saya sampai tidak ada makanan yang bisa saya muntahkan lagi. Pokoknya harus tiris, biar saya nggak gemuk.

Setiap hari saya terus memantau angka timbangan saya. Tak berlangsung terlalu lama saya berhasil langsing. Saya pun bangga dan bahagia. Ibu saya yang tidak pernah mengetahui bulimia yang saya alami mengatakan kepada semua kerabat bahwa saya menjalani diet ketat dengan konsultasi kepada ahli gizi untuk mengatur pola makan dan mengikuti kegiatan rutin berenang seminggu sekali.

Masa SMA pun tiba, saya bisa mendongakkan dengan bangga muka saya tanpa perlu kuatir dicemoh atau dibully perkara tubuh saya yang dulunya gemuk. Saya menjalani masa SMA saya dengan bahagia karena tak ada lagi yang mempermasalahkan fisik saya. Bisa dibilang saya pun laku banyak yang ngelirik *ah ini mah sok pede aja*

Namun jangan kira saya bisa santai mempertahankan ukuran tubuh saya agar tak menggemuk kembali. Di sela-sela rutinitas makan saya sehari hari tak jarang beberapa kali saya berusaha memuntahkan makanan jika dirasa makanan yang masuk ke dalam tubuh saya sudah terlalu banyak dan membuat saya merasa "berdosa".

Muka Tirus Hasil Bulimia
Pun ketika jaman kuliah, saya tetap mempertahankan kebiasaan bulimia saya demi menjaga bentuk badan saya agar tetap langsing. Hingga pada akhirnya karena kesibukan kuliah saya sempat melupakan obsesi langsing dan kebiasaan bulimia saya. Berat badan saya pun mulai menanjak naik perlahan.

Menyadari hal itu membuat saya kembali mengambil jalan pintas bulimia untuk menurunkan berat badan saya secara instan. Apalagi saat itu saya ada rencana akan menikah ketika lulus kuliah. Kembali langsing dengan instan melalui langkah bulimia lama-lama membuat saya sedikit merasa galau. Hingga akhirnya setelah menikah saya memberanikan diri jujur 100% kepada suami bahwa saya mengidap "penyakit psikis" bulimia yang berlarut-larut. Bersyukur suami saya orang yang mau terbuka dan menerima saya apa adanya, sehingga dia mau memberi support saya agar benar-benar sembuh total dari bulimia.

Support yang dilakukan oleh suami saya diantaranya dengan mencoba membuat saya tidak merasa bersalah dengan makanan. Selain itu suami selalu berusaha menahan saya kurang lebih 30 menit untuk tidak ketoilet setiap selesai makan. Ya hanya cukup 30 menit saya bisa menahan keinginan tidak muntah, maka setelahnya saya tidak akan berhasil memuntahkan makanan yang sudah masuk keperut saya.

Coba tebak apa yang terjadi, tak butuh waktu terlalu lama. Cukup setahun berat badan saya berhasil naik 30 kg. Melihat berat badan saya naik drastis keinginan bulimia saya timbul lagi. Mengingat jika sedang ada acara keluarga saya selalu menjadi bulan-bulanan komentar tidak menyenangkan dari beberapa tante saya.

Hampir down kembali lagi bulimia, namun lagi-lagi saya mendapat semangat dari suami saya. Hal yang membuat saya bertahan untuk tidak memuntahkan makanan ketika suami mengatakan bahwa makanan itu dibeli dengan uang hasil kerja keras dia, jadi dia memohon untuk tidak menyia-nyiakannya. Melihat suami yang sering kelelahan pulang malam karena lembur bekerja, membuat saya tak sampai hati memuntahkan makanan lagi. Saya selalu mensounding saya bahwa makanan yang saya muntahkan sama dengan uang hasil kerja suami yang saya buang-buang.

Tolong Jangan Tanya Ini BB Berapa. Lupa Soalnya :p
Kemudian saya pun mulai mencari support dari beberapa teman di komunitas untuk membantu saya diet sehat. Saya mulai terbuka jujur tentang kebiasaan bulimia saya kepada owner komunitas Mari Kita Diet (MKD). Disitu Reggie sebagai sang owner tiba-tiba mengadakan lomba diet dan memaksa saya ikut berkompetisi dengan catatan saya dilarang curang melakukan bulimia. Kebetulan saat itu saya juga sedang menjalani program hamil karena tak kunjung hamil.

Saya pun mulai menyounding diri saya bulimia bukan diet sehat. Dengan memaksa memuntahkan makanan sembari melogok kerongkongan saya mungkin bisa membuat aliran nutrisi ke rahim saya menjadi kacau.

Alhamdulillah saya berhasil langsing tanpa melewati episode bulimia. Kurang lebih 20 kg saya berhasil menurunkan berat badan. Hingga akhirnya saya berhasil hamil dan menggemuk kembali. Hahahahah...kalo sekarang jangan tanya ya berapa berat badan saya...


Dari semua pengalaman tersebut membuat saya dan suami bertekad untuk tidak mendengarkan saran yang memaksa anak-anak kami agar "gemuk mengembang". Asalkan berat badan sudah sesuai dengan tabel tumbuh kembang anak kami berusaha tak mempermasalahkan. Toh setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis anak langganan kami, menurutnya anak-anak kami masih belum memerlukan tambahan susu formula ataupun suplemen penambah nafsu makan.

Menurutnya ada masanya anak-anak memang melangsing karena faktor aktivitas yang tinggi, dan melewati fase GTM karena tumbuh gigi ataupun sakit. Kamipun melihat adakalanya anak-anak kami tidak mau makan sama sekali, tapi dilain hari tiba-tiba mereka seperti balas dendam makan berporsi-porsi.
Kakak Adik Yang Makannya Nggak Bisa di Prediksi
Dari pengalaman tersebut saya dan suami mencoba belajar bijak menyikapi komentar tentang berat badan anak-anak kami. Mau gemuk atau langsing menurut kami yang penting anak sehat. Asal sehat maka tak perlu memaksa balita yang langsing untuk menggemuk ataupun sebaliknya juga jangan memaksa balita yang sudah berisi jadi melangsing. Ujung-ujungnya nanti balitanya gemuk disuruh diet giliran terlalu kurus bingung lagi kok nggak gemuk-gemuk. Yang ada jangan-jangan malah dikira cacingan -_- 

Balita Langsing dibilang Cacingan, Gemuk dibilang Obesitas

"Sekarang anak dipaksa-paksa buat gemuk, nanti waktu gede anaknya gemuk bingung lagi dipaksa suruh langsing karena takut nggak laku"


8 comments:

  1. semua yang berlebihan biasanya emang ga baik ya mba. makasi sharingnya

    ReplyDelete
  2. Hihihi, yang wajar-wajar aja Mbak BB dan tingginya :D

    ReplyDelete
  3. Lho Mbak Vety pernah tirus? #dikeplak wkwkwkk
    Itu yang fotomu usia 2 tahun plek sama Almas yo :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha iya mbak...makanya guyonan sama suami jangan sampe almas gedenya salah bermetamorfosis jadi kayak emaknya sing sak nggedembleg iki #eaaaaaa...

      Delete
  4. Duh Mbak kasian sampai gitu bulimianya.

    Btw demi melihat foto anak dan ibu diatas, saya juga pengen menatap nanar. Hahahahha canda Ding
    Soalnya saya juga berpengalaman sama.

    Anakq makannya banyak tp g jd daging. Sdh cek macam2 dan akhirnya bersyukur dia sehat. Cuma aktivitasnya yg kebanyakan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iyakan nanar...orang liatnya emaknya berisi anaknya kok ya keceng sekali...hihihi...

      Delete