Wednesday, September 7, 2016

Memahami Peran Orang Tua Mengantisipasi Anak Menjadi Korban Bulliying dari Bunda Ventri

Tanpa sadar banyak sekali bulliying terjadi di sekitar kita. Sayangnya banyak orang tua yang cuek menanggapinya. Banyak anak yang berpotensi menjadi pelaku bulliying pun terus tumbuh tak terarah. Sebaliknya tak jarang pula banyak anak yang berpotensi tumbuh menjadi korban bully karena kurang perhatian dari orang tua. Disinilah menurut sahabat saya Bunda ventri yang selalu aktif mengikuti seminar parenting, mengatakan peran kita sebagai orang tua sangat diperlukan.

Saya sendiri tumbuh di lingkungan keluarga yang mengajarkan saya untuk selalu mengalah. Begitu juga dengan anak-anak saya yang terkadang tanpa sadar diajarkan mengalah oleh eyangnya. Alih-alih sungkan daripada ramai dengan tetangga, eyang selalu mengajarkan kakak adik mengalah dengan temannya dengan alasan "temannya nggak tau".

Disini juga peran saya atau suami sebagai orang tua diperlukan, karena potensi anak menjadi korban bulliying dan pelaku bulliying bisa dimulai sejak balita. Sehingga kita harus pintar, cermat dan waspada dalam mengawasi pergaulan balita kita.


Bagaimana bisa seorang Balita berpotensi menjadi pelaku Bulliying nantinya?
Seperti yang saya tangkap dari penjelasannya, bahwa seorang balita yang selalu terus-terusan dibela meskipun melakukan kesalahan nantinya akan merasa berada diatas angin. Hal inilah yang menyebabkan nantinya balita tersebut tumbuh menjadi pribadi yang mau menang sendiri. Tak segan-segan mereka juga akan berani melakukan bulliying kepada kawannya karena merasa selama ini tak ada yang menyalahkan tindakannya yang salah misalnya merebut mainan, dsb.

Lebih parah lagi jika tanpa sadar alih alih bercanda orang tua sering mengajak si anak mengolok baik teman atau saudaranya dengan kalimat menyakitkan.

Bagaimana dengan korban bully?
Korban bully sendiri bisa timbul karena kurang kedekatan dengan orang tua dan mengalami kebingungan atas tindakan yang dicontohkan orang tua. Semisal saat kecil anak diajarkan untuk selalu mengalah sekalipun sebenarnya anak tidak salah. Sayangnya bahkan saat si teman yang cenderung mau menang sendiri justru dibela oleh orang tuanya hanya karena rasa "sungkan" dengan tetangga alias orang tua si anak yang maunya menang sendiri tadi.

Lalu bagaimana mengantisipasinya?
Dari yang saya tangkap, sebagai orang tua kitalah yang harus bisa membela anak kita disaat kita tau anak kita benar. Begitu juga sebaliknya kita harus bisa mengingatkan anak kita ketika dia salah.

Bunda Ventri Menikmati Aktivitas Seru Bersama Keluar
Langkah awal yang bisa kita ambil yaitu jangan pernah cuek dengan kejadian tersebut. Jika kita tau mainan anak kita direbut makan jangan menyarankan anak kita mengalah, melainkan beri pengertian kepada si anak perebut tadi bahwa anak kita tidak suka jika mainannya direbut. Kedepannya kami tak mau bermain dengan teman yang kasar dan hobi merebut.

Tidak perlu sungkan dengan tetangga, yakinlah jika si ibu anak tersebut memang benar-benar orang tua yang baik maka pasti akan ikut memberikan pengertian kepada anaknya bahwa merebut itu perbuatan yang tak baik.

Kebetulan saya pernah sekali memiliki pengalaman ketika si kakak berusia 10 bulan ada salah seorang temannya yang merebut mainan anak saya sembari mendorong keras. Anak saya saat itu langsung terjatuh dan melihat saya dengan muka nelangsa. Orang tuanya pun tak segera menegurnya.

Disitu saya teringat pesan Bunda Ventri, sehingga saya segera menegur si anak sembari memberi pengertian bahwa merebut mainan itu tidak baik apalagi sampai bertindak kasar. Saat itu si anak yang berusia 2 tahun tetap berusaha merebut dan mau menang sendiri. Sekali lagi saya inisiatif mensounding si anak bahwa tidak akan ada teman yang mau bermain dengannya jika selalu berbuat kasar dan suka merebut.

Pasti akan ada yang bilang "ah masih kecil ini, masih belum tau mana salah mana benar?!". Kalo saya pribadi selalu berpegang pada anggapan bahwa setiap anak itu cerdas, sejak bayi sudah bisa mulai disounding hal-hal baik. Sehingga ketika balita, yang menurut sebagian orang beranggapan balita masih belum mengerti tetap bisa diberi pengertian perlahan-lahan.

Lalu bagaimana kedepannya dengan hubungan kita dengan tetangga?
Menurut Bunda yang sedang hamil anak ke dua ini, apapun alasannya tidak membenarkan kita untuk seenaknya dengan anak kita hanya karena merasa tidak enak kepada tetangga kita. Kita harus konsisten dengan cara didik kita kepeda mereka. Jika selama ini kita selalu mengajarkan anak-anak untuk tidak merebut, maka saat ada anak lain merebut mainan mereka kita tidak boleh diam saja. Sebisa mungkin kita harus memberikan contoh yang baik dalam menyelesaikan masalahnya. Agar anak tidak menjadi bingung mana batasan yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.

Bunda Ventri Saat Mengikuti Seminar Stifin
Bunda yang memiliki nama lengkap Ventriana Dian Putri ini sering kali memiliki ide permainan kreatif untuk melatih motorik anak pertamanya kakak Faian yang juga sedang tumbuh menjadi balita aktif.

So, untuk yang penasaran dengan ide ide permainan Bunda Ventri untuk kakak Faian bisa langsung follow instagramnya @ventriana atas nama Ventriana Dian Putri. Ada banyak ide permainan yang bisa bunda tiru untuk melatih motorik anak-anak dirumah.

Saya pun tak mau ketinggalan dengan akun ig @vety_fakhrudin ikut memfollow instagram Bunda dari Kakak Faian ini. Pliz Follow saya juga ya kakak...Biar kita bisa saling berbagi tips ilmu parenting ;)

Semangat Bunda Faian, Sehat terus ya Kakak Faian dan calon dedeknya ;)

Aktivitas Seru Kakak Faian Yang Dibuatkan Oleh Bunda Ventri

4 comments:

  1. Jadi, memperlakukan anak dengan adil itu penting sekali ya, Mbak. Meski ia masih kecil ketika salah tidak harus dibela, tapi diberi tahu kalau ia salah. Tentu saja cara memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.

    ReplyDelete
  2. Meluncur follow :) oh jadi harus berbicara ya mba klo mainan anak direbut, kita ajari supaya anak bilang baik2 ke temannya itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, karena kalo anak disuruh diem aja nantinya dia makin bingung

      Delete