Saturday, September 10, 2016

My Dad is My Hero

Menjadi seorang ayah memiliki tanggung jawab besar yang harus dipikul karena harus bisa menjadi sosok yang bisa di teladani dan dibanggakan untuk anak-anaknya.

Saya pribadi sering mendapat protes dari keluarga besar terutama dari ibu saya jika suami saya mulai ikut andil dalam pekerjaan sehari-hari dalam menghandel anak-anak saya seperti mengajak makan anak anak (atau lebih tepatnya menyuapi anak-anak), ikut mengganti popok, bahkan mengajak main anak-anak.


Tak jarang saya sering mendengar protes kepada anak-anak saya dengan kalimat "Yayahmu masih capek pulang kerja, sini jangan ganggu yayahmu". Padahal saat itu anak-anak ingin bermain dengan yayahnya. Sering juga saya dimarahi ibu saya karena membiarkan suami membantu mengganti popok dengan kalimat "suamimu itu udah capek-capek kerja kasihan jangan disuruh ganti popok anak-anak kenapa?!". Padahal saya nggak nyuruh, cuman minta tolong sih...eaaaaa...sama aja ya...hihihi...

Saya sendiri sebenarnya memiliki alasan sering melibatkan suami dalam menghandel anak-anak. Tak lain tak bukan agar anak-anak tidak merasa ada jarak dengan yayahnya kemudian merasa nyaman ketika bercanda bermain dan bahkan agar kelak mereka nyaman bercerita tentang pelajaran, temannya, atau mungkin cowok yang dekat dengannya kepada yayahnya. Sehingga nantinya tak ada satupun lelaki yang bisa mematahkan hatinya *eaaaaaa...

Tujuan lainnya sebenarnya untuk meminimalisir terjadinya KDRT dirumah. Menurut yang pernah saya baca KDRT kepada anak paling sering dilakukan oleh ibu dirumah yang mengalami stres karena kelelahan. Jika suatu saat terjadi KDRT oleh ibu kepada anak tanpa sepengetahuan ayah, minimal saat ada ayah anak bisa nyaman bercerita segala hal yang terjadi ketika ayah tidak sedang dirumah. Dengan nyaman bercerita anak memiliki sosok yang bisa dipercaya untuk bisa menyampaikan keluh kesahnya.

Menurut yang saya baca dengan mendekatkan anak kepada ayahnya juga bisa meminimalisir pengaruh buruk lingkungan luar.

Alasan lainnya dengan suami ikut terjun menghandel anak-anak suatu saat suami bisa diandalkan ketika dibutuhkan.

Serunya ketika seorang ayah memiliki balita perempuan, maka dia akan dengan rela menunjukkan kasih sayang untuk anak gadisnya dengan berbagai cara. Dijamin para ayah akan rela melakukan hal-hal diluar nalar.

Seperti halnya suami saya yang rela diajak ber ootd baju purple warna favorit si kakak. Tak jarang suami sering all out bermain dengan kakak adik. Mulai dari sekedar jadi perosotan untuk anak-anaknya sampai rela didandani anak-anaknya. Suamipun rela memberi contoh menggunakan jepit maupun bandana untuk anak gadisnya. Pernah suatu ketika saat si kakak mengajak suami bermain jepit, mungkin karena saking lelahnya suami tertidur. Hingga tak lama kemudian datang kurir delivery makanan siap saji yang kami pesan beberapa menit sebelunya. Tanpa sadar suami pun membukakan pintu untuk membayar dan mengambil pesanan tersebut. Bisa dibayangkan shocknya si kurir melihat Suami menggunakan pita besar di rambutnya. *Jujur saya nggak bisa membayangkan respon si kurir saat itu...Untungnya mas kurir delivery nggak sampe lari ngibrit...hihihi...

*Note : pelajaran berharga bagi para ayah, next kalo mau bermain pita, jepit, atau dandan-dandanan jangan sampai ketiduran. Minimal sebelum ketiduran jangan lupa melepas jepit dulu ya...kali aja tiba-tiba ada tamu datang :D

Mungkin untuk sebagian orang itu menjadi hal konyol yang sia-sia dan memalukan untuk dilakukan, namun bagi kami dengan bersedia meluangkan waktu untuk bersenang-senang bersama anak-anak, suami menjadi sosok pahlawan bagi anak-anak. Kini saya memahami makna My Dad is My Hero.


Meski masih banyak hal-hal yang terkadang bikin kami sebel bin gemes tapi anak-anak pun pasti setuju mengatakan My Dad is The Best. Setiap ayah pasti punya cara untuk menjadi Best Hero bagi keluarga dan anak-anaknya.

So, Bagaimana dengan ceritamu?

2 comments:

  1. Hahaha...ngakak pas ayahnya pake pita besar waktu bayar si mas delivery order :D Mungkin masnya nahan ketawa, mbak. :D

    Suamiku juga sering kumintain bantuan, mbak. Sampai bayi pup saja, aku minta bantuin suami. :D nah, ibuku yang tahu hal ini sering negue juga. Tapi ya...karena suami wae mau bantuin kok, nggak salah juga kan. Lagian kalo punya bocil yang usianya deketan emang rempong banget ngurusnya. Nggak kebayang kalo nggak dibantuin suami. Selain lelah, bisa stres pikiran juga karena kayak nggak perhatian gitu ke istri. :D

    ReplyDelete