Tuesday, October 18, 2016

Hordeolum atau Kalazion? Ini alasan Kakak Tak Jadi Insisi Benjolan Kelopak Mata.

Entah sudah berapa kali saya bolak balik konsultasi dengan dokter mata, terkait benjolan di kelopak mata kakak yang belum ada perubahan sama sekali. Sempat konsul dengan dokter umum di klinik kantor suami dengan tujuan mendapat third opinion. Namun menurut dokter tersebut memang jika tidak ada perubahan, satu-satunya jalan insisi, karena jika dibiarkan terlalu lama juga tidak baik.

Foto Atas : Benjolan di Kelopak yang Tidak Ada Perubahan Selama 3 bulan.
Foto Bawah : Setelah Hampir 3 Bulan Lebih Tiba-Tiba Benjolan Mata Kakak Memerah

Meski demikian saya sempat curhat dan sharing dengan beberapa teman di grup the sundulers yang beranggotakan emak-emak kesundulan. Ternyata beberapa emak disana mengakui pernah memiliki pengalaman serupa terhadap anaknya. Saya pun mendapat beberapa saran alternatif untuk mengompres hangat kelopak mata, dan menyabuni kelopak mata kakak (bagian luar tentunya) dengan sabun (bayi) setiap mandi.

Saya pun mendapat istilah hordeolum dari teman-teman, dan saya mulai mencari istilah hordeolum tersebut. Namun seperti yang saya dapat hordeolum ini sebenarnya nama lain dari bintitan. Beberapa ciri diantaranya benjolannya memerah dan meradang. Sedangkan benjolan mata kakak tidak memerah dan tidak ada tanda-tanda meradang ataupun sakit sama sekali selama hampir 3 bulan.

Kemudian saya juga mendapat istilah kalazion, dimana menurut yang saya baca kalazion ini hanya benjolan biasa yang tidak menimbulkan rasa sakit. Salah satunya bisa dikarenakan alergi menumpuk yang menyebabkan kelenjar minyak dibagian kelopak mata tersumbat. Untuk kalazion ini salah satu cara penyembuhannya dengan melakukan tindakan insisi (pembedahan kecil di bagian kelopak, untuk mengambil benjolan didalam kelopak yang tak bisa keluar).

Senada dengan dokter mata, menurut sang dokter jika benjolan dibiarkan terlalu lama dikuatirkan akan mengeras dan makin menempel di dalam kelopak mata. Sehingga kedepannya dikuatirkan malah akan semakin susah jika ingin dilakukan tindakan insisi. Meski demikian menurut dokter mata yang kami kunjungi, setelah insisi benjolan mata ini tetap bisa berulang. Sehingga jika pun dilakukan insisi, nantinya kami tetap harus menjaga pola makan si kakak.

Terkait proses insisi yang menggunakan bius total, maka kami disarankan untuk konsultasi dengan dokter spesialis anestesi. Saya pun menjadi galau dan melow. Disetiap shalat saya selalu menyelipkan doa untuk mendapat jawaban yang terbaik bagi proses penyembuhan benjolan dikelopak mata kakak. Tak lupa saya juga berdoa agar sebisa mungkin jangan ada proses insisi yang memerlukan bius total. Sedikit lebay memang, namun orang tua mana yang mau kedepannya anaknya bakal terganggu konsentrasi belajarnya hanya karena bermula dari benjolan mata seuprit.

Jadi pilihan saya hanya 2, segera dilakukan tindakan insisi dengan bayang-bayang akan dilakukan tindakan bius total untuk kakak yang kedepannya bisa mempengaruhi konsentrasi belajar kakak? Atau saya pasrah tanpa melakukan tindakan apa-apa, membiarkan benjolan di kelopak mata kakak yang kemungkinan bisa mengeras dan kedepannya mungkin bisa mengganggu kenyamanan mata?

Entah bagaimana ceritanya, setelah hampir 3 bulan benjolan di kelopak mata kakak yang semula lempeng tidak ada perubahan tiba-tiba memerah (seperti meradang) dan setiap hari semakin besar.

Masih ingat saya ketika harus mengantar ke UGD karena episode kakak adik baru saja tanpa sengaja makan silica gel, disitu dokter ugd juga sempat menanyakan perihal kelopak mata kakak yang terlihat meradang dan menyarankan untuk segera dilakukan tindakan insisi karena dikuatirkan menjadi infeksi yang parah. Namun, karena saat itu kakak demam tinggi tentunya insisi tidak bisa dilakukan saat itu juga.

Tak lama setelah itu, tiba-tiba benjolan di kelopak mata kakak meletus perlahan mengeluarkan darah, dan ada putih-putih (mungkin seperti nanah ya). Saya pun berusaha membersihkan darah dan nanah dengan tisu, tapi si kakak tidak mau karena terasa sakit. Sepanjang benjolan meletus itu kakak nangis mengeluh perih.

Jujur saya agak ngilu dan gemes sama benjolan itu pengennya saya pencet gitu biar keluar semua, tapi saya juga kuatir iya kalo benjolan itu isinya nanah. Lah kalo daging? kan makin ngeri.
Akhirnya Benjolan di Kelopak Mata Meletus
Keesokan harinya saya kontrolkan ke dokter anak, karena saat itu kakak juga masih dalam masa recovery pasca demam, yang kemudian segera dikonsulkan dengan dokter mata. Oleh dokter mata kamipun dikonsulkan untuk menemui dokter anestesi, dengan tujuan agar lebih memantapkan hati kami mengingat kondisi kelopak mata kakak yang terlihat meradang pasca meletus tadi.

Saat berkonsultasi dengan dokter mata, dokter mengatakan bahwa benjolan yang ada saat itu berbeda dengan benjolan di awal kami memeriksakan kakak. Saya pun yang mengikuti perkembangan benjolan kakak setiap hari dan setiap jam mengakui jika benjolan tersebut berbeda.

Kami pun segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anestesi. Ternyata disitu dokter menjelaskan ketakutan kami tidak beralasan. Menurut dokter anestesi, bius disini sebenarnya hanya membuat si anak tertidur, karena jika anak bangun tentu akan susah melakukan tindakan insisi pada kelopak mata. Saya menangkap info yang disampaikan si dokter adalah anak nantinya tidak diberi obat bius melainkan hanya obat yang membuat si anak tertidur sesaat selama proses insisi berlangsung. Menurut dokter anestesi tersebut kami tak perlu kuatir untuk efek samping yang membuat konsentrasi anak menurun, karena biasanya efek samping itu timbul untuk kasus berat yang mungkin harus dilakukan bius berulang hampir setiap hari yang memerlukan operasi berulang dan berkali-kali.

Mendengarkan penjelasan tersebut saya sedikit lega. Hingga akhirnya kami memantapkan diri, jika memang harus insisi maka itu yang terbaik untuk kakak.

Sempat dijadwalkan 2 hari berikutnya untuk kontrol ulang agar bisa segera dijadwalkan tindakan insisi. Namun karena kesibukan suami tugas luar kota, membuat jadwal kontrol ulang mundur.

Kurang lebih seminggu setelahnya kami bisa mengajak kakak kontrol ulang. Namun karena saat kontrol ulang hari sabtu, maka mau tak mau kami tetap harus kontrol ulang 1 hari sebelum tindakan insisi, karena insisi tidak mungkin dilakukan hari minggu. Sedangkan hari senen suami keberatan karena senen hari sibuk, dan dia pasti tidak bisa menemani kakak selama proses insisi.

Akhirnya kami sepakat kontrol hari jum'at agar sabtu bisa segera dilakukan insisi, agar tidak semakin menjadi infeksi.

Qadarullah, saat hari jum'at kami akan kontrol, tiba-tiba dokter sudah tidak ada ditempat karena ada rapat mendadak. Kami pun disarankan perawat kontrol keesokan harinya. Namun berbekal pengalaman sebelumnya jika kontrol sabtu maka minggu depannya tetap harus kontrol ulang 1 hari menjelang insisi maka saya memutuskan kontrol minggu depannya lagi.

Saya sempat kecewa karna gagal berkonsultasi dengan dokter, karena berarti tindakan insisi harus diundur lagi. Bayangan kelopak mata yang semakin infeksi jujur membuat saya sedikit was-was. Namun suami menenangkan saya dan meyakinkan bahwa pasti ada hikmah kita tidak bisa menemui dokter saat itu, padahal saat itu planning kami sudah mantab.

Alhamdulillah benar saja nasehat suami, setelah gagal kontrol di hari jum'at, selama beberapa hari berikutnya ternyata radang di kelopak mata kakak berangsur-angsur membaik, selain itu benjolan di mata kakak juga mulai terlihat menghilang.

Oh ya beberapa saat setelah radang pasca meletus itu kami meminumkan proris syirup (dengan kompsisi : ibu profen) yang pernah diresepkan sebelumnya. Kebetulan ibu profen selain menurunkan panas juga memiliki indikasi sebagai obat anti inflamasi, anti nyeri. Tujuan saya sebenarnya untuk mengurangi rasa sakit dan radang yang ada dikelopak mata kakak.
Proris Yang Pernah diResepkan Sebelumnya Oleh Dokter Mata
Melihat perubahan tersebut suami menyarankan saya untuk sedikit bersabar beberapa hari kedepan lagi saja jika ingin kontrol ulang ke dokter. Padahal saat itu kami benar-benar diburu jadwal dokter yang akan melakukan pendidikan selama setahun diluar kota. Menurut suami seandainya pun jika dokter pilihan kami tidak berada ditempat saat saya merasa harus ada tindakan insisi untuk kakak, tak masalah kami bisa mencari dokter mata lainnya.

Baiklah saya mengikuti nasehat suami. Benar saja tak lama setelah itu benjolan di kelopak mata kakak hilang sama sekali. Kami pun belum sempat menyampaikan kabar gembira ini kepada dokter mata, karena beliau sudah tidak ditempat keburu menempuh pendidikan diluar kota.

Lalu kemana benjolan mata kakak yang pertama kali muncul, yang selama 3 bulan nangkring cantik di kelopak mata yang tidak ada tanda-tanda membesar apalagi mau meletus? Kami beranggapan mungkin benjolan pertama tersebut hilang bersamaan dengan benjolan di kelopak mata yang meletus berikutnya tadi.

Jika dokter membaca tulisan kami ini (kali aja dokter baca), kami ingin menyampaikan permohonan maaf sekaligus kabar bahagia ini. Mohon maaf dok, kami bukan menghilang tanpa kabar. Namun, ada beberapa pertimbangan membuat kami mengulur waktu kontrol ulang, yang pada akhirnya malah nggak jadi kontrol karena dokter sudah tidak ditempat, dan kelopak mata si kakak sudah sembuh membaik. Terimakasih atas supportnya menghadapi emak heboh macam saya selama ini. Sukses terus ya dok :D

10 comments:

  1. sungguh ibu yang baik dan taat pada suami, semoga tidak terulang ya mbak.. aamiin dan diberikan kesehatan selalu pastinya..

    ReplyDelete
  2. Sekarang udh membaik mak kesimpulannya?temenku pernah kayak gini pe kumat lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, jadi ga perlu kuatir efek bius membius karena ga perlu insisi. iya ini katanya bisa berulang

      Delete
  3. anakku juga ada benjolan di kelopak mata bawah. di rujuk untuk insisi, krn stlh 6 bulan lebih, benjolannya jadi melebar. kecil dan gak mengganggu sih, tapi berpotensi pecah dan melebar lagi. Deg-deg'an juga kalo harus bius total >_<

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak soalnya kalo kata dokternya misal ga dibius total dikuatirkan anaknya jadi trauma. sekarang udah diinsisi mbak? kalo anakku kemaren masih diusahakan salep, kompres sama diet makanan pencetus alergi, karna ada kekuatiran bius dibawah usia 3 th kedepannya bisa mempengaruhi konsentrasi belajar

      Delete
  4. Mbk boleh minta no hp nya nomor wa

    ReplyDelete
  5. Aku jg ada benjolan dibawah mata tp ga sakit baru sebulan sih,,tp risih aja ganggu penampilan,intinya harus sabar ya nunggu mateng benjolannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung benjolannya apa dulu kak, sebaiknya langsung dikonsulkan ke dokter 🙏

      Delete