Friday, October 14, 2016

Mamam Aku Marah!!! #Sharing With Friends

Beberapa waktu lalu kakak yang antusias ngedance tiba-tiba ngambeg rewel nggak mau ngedance. Sudah dirayu berbagai cara sampai diomel pun tetap kekeuh nggak mau ngedance. Yang lebih bikin kaget ketika saya gertak untuk berhenti dance, dia malah mengangguk mantap setuju. Jujur saya sedikit bingung dengan sikap kakak saat itu. Hingga saya berkonsultasi dengan salah satu sahabat saya yang memiliki background pernah menjadi pengajar di sebuah sekolah keren di Bogor. Sebut saja namanya Mama Enji, begitu biasanya saya dan teman-teman memanggilnya.


Saya menceritakan semua yang terjadi, dari yang awalnya kakak semangat malah minta sendiri berangkat ngedance. Mulai yang saya dipaksa buru-buru mandi, siap-siap mengantar dia ke tempat kursus dance sampai dia yang milih baju dan boneka sendiri. La lalu kenapa tiba-tiba ditempat dance dia semena-mena minta pulang lagi.

Awalnya Mama Enji menyarankan saya untuk tidak menawarkan atau membahas tentang kursus dancing dulu kepada si kakak. Menurutnya bisa jadi si kakak mulai boring. Tapi saya tetap nggak yakin kalo kakak mulai boring, karena saat acara ngambeg itu saya perhatikan si kakak sebenarnya fokus memperhatikan kelas dancing yang sedang berjalan.

Sempat sharing dengan suami, menurut suami ya udah kalo anaknya boring jangan dipaksa. Kita cut saja kursus dance nya ganti kegiatan lainnya. Sebenarnya bukan perkara berat cut kursusnya, namun sekali lagi saya kuatir nanti setelah di cut eh nih anak angot-angotan maksa minta dancing lagi. Bisa rugi bandar dong ya kalo harus bayar biaya pendaftaran lagi.

Kepikiran juga apa ada yang nggak enak sama kakak. Sedikit parno sih, karena sebelumnya memang kami baru saja melakukan perjalanan luar kota. Tapi saya yakin kakak dalam kondisi fit. Apa mungkin capek? Ah harusnya nggak juga, karna kalo capek biasanya kakak akan ngomong terus terang minta dipijitkan. Bingung juga deh...

Ya udah trus konsul lagi deh ke Mama Enji. Dari obrolan kami selanjutnya Mama Enji menyarankan saya memancing-mancing obrolan dengan kakak tentang kejadian di tempat dancing dipertemuan sebelumnya. Kebetulan saat itu ketika kelas dancing selesai si kakak pasang muka kecewa karena melihat temannya yang mendapat reward stiker besar, sedangkan dia hanya stiker kecil. Sempat saya lihat dia mendekat kepada miss sang pelatih entah apa yang disampaikannya saya tak tahu pasti karena saya hanya memperhatikan dari jauh. Yang jelas setelah menghadap miss pelatih, kakak pasang muka tidak suka.

Menurut Mama Enji, seharusnya jika ada kejadian mengganjal pada balita kita seperti itu sebagai orang tua kita harus bisa menuntaskannya, minimal dengan membiarkan anak kita bercerita tentang ketidak sukaannya agar dia bisa menyalurkan emosinya, sehingga kedepannya tak adalagi yang dipendam.

Menurut mama yang kini memiliki bisnis sukses online shop clodi ini semua perasaan harus terselesaikan. Bahkan hal sekecil itu bisa tertanam berpuluh-puluh tahun kedepan.

Oke, akhirnya saya coba gali lagi perasaan si kakak ini. Mulai saya mencoba mengingatkan kejadian pembagian stiker dikelasnya. Dari situ terjawab kakak memang kecewa karena dia inginnya stiker gambar kuda (poni). Baiklah selanjutnya saya mencoba saran Mama Enji ini untuk memberi pengertian bahwa memang tak selalu kita bisa mendapatkan stiker yang kita inginkan, namun dengan miss (pelatih) mau memberi stiker kakak itu berarti si miss baik hati karena mau berbagi stiker. Saya sarankan next kalo memang ingin mendapatkan stiker yang diinginkan maka kakak harus pintar.

Salah Satu Stiker Reward di Kelas Dancing
Setelah saya tanya tentang stiker iseng-iseng saya pancing apa karena dapat stiker kecil kakak jadi nggak mau dancing?

Ternyata tanpa saya duga meluncur kalimat yang mengejutkan dari mulut mungilnya. Kakak berkata pelan tapi pasti, "Mamam aku marah sama mamam!".

Glekkk...!!! Agak kaget dengar pengakuannya di awal, tapi sambil memandang muka kakak yang agak ragu meneruskan kalimatnya saya berusaha membuat si kakak nyaman membuat pengakuan kenapa marah kepada saya.

"Iya mam, aku marah sama mamam...soalnya aku nggak boleh pake sepatu boot", begitu lanjutan kalimatnya.

Jeng jeng jeng...saya jadi ingat memang sebelum turun ketempat dancing, kakak sempat akan menukar sepatu kets nya dengan sepatu boot namun saya larang. Lah pikir saya ini ngapain pake boots kayak mau ke sawah aja.

Ternyata hal sepele seperti itu cukup bisa melukai hati kakak yang mungkin membayangkan bakal keren kalo dancing pake sepatu boots.

Ya ampunnn pantas saja, sepanjang perjalanan pulang si kakak nggak mau minta maaf sama sekali ke saya. Padahal sudah dipaksa-paksa sama yayahnya. Padahal waktu itu versi saya si kakak sudah bikin bete saya karena rewel nggak jelas, sedang versi kakak rewelnya itu mungkin bentuk penyampaian rasa protes dia yang saya larang menggunakan boots tanpa alasan jelas.

Baiklah disini saya menyadari kesalahan saya, sehingga saya meminta maaf kepada kakak karena sudah membatasi impiannya tanpa alasan yang jelas dari saya.

Dari situ juga saya mendapat pencerahan dari Mama Enji yang baik hati seperti Mama Dedeh, sehingga sering menjadi jujugan curhat banyak teman-teman dikomunitas parenting Mammamia, bahwa pasti ada alasan ketika anak bikin ulah seperti rewel nggak jelas.

Semula saya kira karena memang lagi fasenya balita menguji emosi jiwa raga emaknya. Ternyata menurut Mama Enji, walaupun bisa jadi balita kita lagi fase egois tapi dengan kita mengetahui alasannya maka kita bisa memberi nasehat dengan benar. Sehingga kita tidak serta merta menuduh menyalahkan balita kita.

Meski demikian tetap ada triknya untuk menasehati balita kita, yaitu dengan kita berempati terlebih dahulu.

Prosedurnya
- kita menggali terlebih dahulu dalam bentuk pertanyaan ya/tidak.
- Kita berempati.
- Baru memberikan masukan.

Seperti kasus saya dengan si kakak seputar sepatu boot tadi, Mama Enji mencontohkan percakapan seperti ini :

Kakak sedih ya karena mamam nggak membolehkan pakai boots? Kakak marah waktu sepatu boots keren kakak nggak bisa dipakai karena mamam larang?

Duh padahal kakak pasti terbayang kerennya ya dancing pakai boots :(
Pasti jadi keren ya dancingnya, andai nggak dilarang mamam.

Maafin mamam ya kak, mamam kemarin sudah melarang kakak. Mamam nggak tau kalau kakak ingin sekali pakai boots.

Kenapa sih, kemarin kakak ingin sekali pakai boots?
Cerita dong sama mamam

(Kalo sudah cerita)
Nah, sebenarnya kemarin itu mamam khawatir kalau ada teman kakak jadi sedih dan kepingin punya boots yg sama. Itu kalau ortunya punya uang untuk beli, kalau pas nggak punya gimana? Nggak bs beli dong. Sedih nggak ya kak kira kira-kira?

Tapi kalau kakak mau coba pakai boots ya nggak papa, namun ada kemungkinan jatuh kak atau tidak nyaman kaki kakak. Tak apakah? Kalau tak apa, next class pakai boots yuk untuk coba juga.

Ah disini saya sedikit melow bin baper. Saya jadi merasa apa bedanya saya dengan ibu saya yang dulu sering mengecewakan saya dengan langsung menjudge saya salah padahal belum bertanya alasan saya terlebih dahulu. Padahal dulu saya sudah janji kepada diri saya sendiri nggak mau mengulangi kesalahan ibu saya kepada anak-anak saya.

Baiklah tapi bagaimanapun menjadi orang tua saya harus tetap mau belajar dari kesalahan yang ada. Seperti kata Mama Enji Parenting itu pelajaran sepanjang masa.

Oh ya setelah saya meminta maaf kepada kakak dan memberi alasan kenapa kemaren nggak membolehkan menggunakan sepatu boots, si kakak menjadi ceria. Beda banget sama kemaren, boro-boro mau ngeciwis cerita, yang ada tiap dia ngomong sepotong-sepotong selalu ditambahin kalimat "Aku ngomong sama yayah kok". *eaaaaa...kan emaknya jadi baper kemaren. Kalo sekarang sih udah nggak 😁

Sini kak mamam peluk, udah ya jangan pake ngambeg-ngambegan, nggak pake rewel-rewelan. Jadi anak manis yang sholehah ya sayang :*

Tengkyu sharingnya ya Mama Enji 😘

4 comments:

  1. Lucu si kakak y mba tapi setuju mba aku juga begitu ke anak klo dia pasang muka bete dan bilang "aku ga mau sama bunda" siap2 aku coba tarik perhatiannya biar dy mau cerita dan open untuk saling memaafkan.
    Disini bner2 nuntut kita sbg ortu mesti peka y mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, ya ampun anak balita juga bisa pasang aksi protes ternyata ya

      Delete
  2. setuju banget kalau parenting itu pelajaran sepanjang masa. Kayak tentang marah ini. Kadang kita anggap itu biasa, ternyata bikin anak marah. Kita belajar terus jadi orang tua, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kita belajar menjadi oranv tua yang baik juga dari anak2 kita

      Delete