Monday, October 3, 2016

Suamiku Ayah ASI Terkeren untuk Anak-Anakku

Keinginan kami untuk memberikan ASI kepada anak-anak sebenarnya melalui proses yang tanpa disengaja. Dengan alasan agar lebih hemat, karena seringnya melihat salah seorang sahabat yang curhat tentang banyaknya biaya yang dikeluarkan untuk membeli susu kaleng jujur cukup membuat kami cukup ngeri membayangkannya.


Ditambah riwayat alergi dari keluarga saya, membuat saya berpikir dua kali untuk terjebak memberikan susu formula terhadap anak-anak saya. Pikir saya, jika nanti anak-anak saya alergi susu sapi seperti saya pasti saya harus mengeluarkan budget extra.

Sehingga sebelum akhirnya saya hamil, suami dan saya sepakat untuk berusaha bisa memberikan ASI 2 tahun untuk semua anak-anak kami kelak. Alhamdulillah ketika saya hamil, dukungan suami saya ini benar-benar dijalankan 100% olehnya. Meski awalnya agak bikin gemes, karena saat saya sarankan baca buku ASI, suami saya malah males-malesan. Dia maunya dibacain, katanya udah mumet baca tulisan kerjaan kantor.

Oke disitu saya tidak mau meyerah, mengingat saya sering membaca banyak yang gagal memberikan ASInya ketika anak-anaknya lahir, hanya karena dia atau pasangannya mengganggap sepele proses pemberian ASI tersebut.

Berbekal dari beberapa informasi, saya mengajak suami saya untuk mengikuti kelas laktasi yang diadakan oleh sebuah komunitas ibu menyusui di Surabaya. Seperti biasanya, awalnya dia ogah saya ajak ikut acara-acara begitu, menurutnya saya aja yang ikut nanti ilmunya disharing di rumah. Waktu itu sih saya nggak mau ya ikut kelas laktasi sendirian, jadi kalo dia nggak ikut ya saya maunya dirumah saja. Pikir saya enak aja dia tidur-tiduran dirumah, sedangkan saya yang hamil besar harus duduk sendiri ngikutin materi ASI dikelas laktasi.

Melihat saya nggak mau ikut kalo dia nggak ikut, akhirnya dia malah ngajakin saya daftar kelas laktasi berdua. Saya beruntung dia ikut kelas laktasi tersebut, karena disitu banyak diajarkan hal-hal yang bisa dilakukan suami untuk mendukung 100% keberhasilan pemberian ASI oleh ibu menyusui. Suami belajar teori pijat oksitosin guna membantu kelancaran ASI saya. Selain itu suami juga mendapat wawasan tehnik memerah ASI.

Menurut mentor kelas laktasi saat itu, para suami harus punya wawasan tentang tehnik memerah ASI, karena beberapa clientnya justru suaminya yang lebih jago dalam tehnik memerah ASI untuk istrinya.
 Meski terkesan cengengesan saat mengikuti kelas laktasi ternyata suami benar-benar mengikuti semua materi yang disampaikan tanpa terlewat sedikitpun. Hal ini tampak terlihat dari keseriusannya saat mengikuti proses saya melahirkan bayi pertama saya. Disitu selain mendampingi saya melahirkan, dia orang pertama yang mengingatkan dokter dan perawat untuk membiarkan saya melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) kepada bayi saya.

Tak sampai disitu sejak kelahiran bayi pertama saya, suami selalu berusaha mengkondisikan saya selalu bahagia. Tak dipungkiri saat awal melahirkan saya merasa sedikit mengalami baby blues dikarenakan tidak ada orang tua yang membantu mengajari saya menghandle bayi baru orang tua, kecuali tante saya yang memang beberapa kali datang untuk memastikan kondisi saya aman terkendali. Kebetulan saat itu mertua saya sedang naik haji, dan ibu saya sedang sibuk-sibuknya mengurusi adik saya yang sedang mendekati ujian akhir sekolah.

Selain mengkondisikan saya bahagia, suami juga tak segan-segan membantu meringankan semua pekerjaan saya. Suami selalu berpesan saya tidak boleh terlalu capek, utamakan anak kami saja. Jika memang ada pekerjaan rumah yang belum selesai dia menyarankan saya untuk membiarkan saja, nanti sepulang kantor dia akan membantu menyelesaikannya.
Saat pulang kantor pun dia tak pernah lupa mengirim SMS kepada saya yang berisi pertanyaan hari ini mau titip makanan atau cemilan apa tujusnnya sih katanya makanan enak bisa bikin mood saya bagus dan ASI melimpah.

Semua dukungan yang diberikan suami selama hamil hingga menyusui itu membuat saya merasa menjadi Ratu, sehingga saya mulai merindukan kehamilan kembali. Untuk kedua kalinya akhirnya saya hamil ketika bayi pertama saya (kakak) kurang lebih berusia 10 bulan.

Tak seperti lingkungan sekitar yang menyarankan saya untuk berhenti memberi ASI kepada si kakak, suami saya justru mendukung penuh keputusan saya menjalani NWP (Nursing While Pregnant) yang berlanjut dengan proses Tandem Nursing (menyusui tandem) saat bayi kedua saya (adek) lahir, hingga usia kakak genap 2 tahun.

Banyak tantangan yang saya hadapi ketika saya menjalani NWP dan Tandem Nursing tersebut, diantaranya pada waktu puting saya mengalami perih saat menyusui karena faktor kehamilan, maka saat itu suami dengan sigap mengalihkan perhatian kakak sementara. Pun ketika malam hari saat saya merasakan kelelahan yang teramat sangat, suami dengan cekatan membantu menenangkan kakak yang sedang rewel.

Tak sampai disitu saat tandem nursing pun ada beberapa kali episode yang membuat kakak cemburu dengan adik. Setiap adik minta ASI, kakak pun nggak mau kalah ikutan nyerobot minta ASI. Disitu suami turut berperan besar untuk membantu mengkondisikan saya agar belajar bisa menyusui kakak adik bersama-sama.

Seperti sebelum-sebelumnya ada banyak lingkungan yang kontra terhadap keputusan saya tandem nursing. Berbagai komentar nyinyir mungkin terkadang tanpa sadar mereka lontarkan, namun seperti biasa suami saya menjadi orang pertama yang membela dan mendukung saya. Sehingga setiap ada kerabat yang melontarkan kalimat kurang menyenangkan terkait keputusan ASI, saya nggak perlu baper (kebawa perasaan) karena selalu ada suami saya yang bertindak sebagai jubir (juru bicara) ASI saya, lebih tepatnya mungkin jubir ASI anak-anak saya.

Saat ini usia kakak sudah hampir 3 tahun, dan kakak sudah lulus ASI tepat ketika usianya 2 tahun. Sedangkan si adik masih berusia 16 bulan, dan masih tetap berusaha melanjutkan ASI hingga 2 tahun seperti sang kakak. Sampai saat ini ketika saya mulai lelah melewati proses pemberian ASI untuk si adik, justru suami yang tak pernah lelah mendukung saya memberikan ASI untuk si adik.
Selain itu beberapa waktu lalu saya salut dengan suami, karena tiba-tiba sms saya mencari info tentang donor ASI untuk salah satu rekan kerjanya yang baru saja kehilangan istri dan memiliki bayi newborn yang harus dibesarkan.

Dan tanpa disadari karena keterlibatannya dalam mensupport saya untuk memberikan ASI, saat ini anak-anak saya menjadi anak ASI yang selalu lengket dengannya selaku Ayah ASI hebat.
Mungkin jika saya gambarkan dengan kalimat singkat,
“Suamiku Ayah ASI Terkeren untuk Anak-Anakku, dan dia adalah Penyemangat Hebat ASI ku”.

Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Menulis Rachma Ifadati #pekanASIKendangsari

4 comments:

  1. Asi adalah yang terbaik untuk si kecil. :)

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah suaminya kereeenn banget yah Mbak, Ayah ASI dan suami yg pengertian banget yah.

    Saya jg menyusu utk 2 bayi loh Mbak, tp sekarang tinggal 1 (anak saya) karena ponakan yg menyusu ama saya udh 2thn lbh sekarang :)

    Sehat slalu ya Mbak, moga si Adik jg bisa lulus ASI seperti Kakak, semangat Mbak ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mbak suami support asi banget. wah mbak diah berarti sempat tandem juga ya keren banget

      Delete