Monday, October 31, 2016

Yang Harus Dipersiapkan Sebelum Survey Sekolah? Mama Enjiii...Curhat Dongggg... #Sharing With Friends

Sudah sekolah belum? Begitu kira-kira pertanyaan yang sering berseliweran dilontarkan kepada si kakak anak sulung saya dari orang-orang sekitar. Pertanyaan simpel tapi lama-lama cukup mengusik hati dan pikiran saya. Makin kesini saya makin menyadari betapa pentingnya persiapan pemilihan sekolah sejak dini. Bahkan sahabat saya Mama Enji rela jauh-jauh hari melakukan survey sekolah bersama suaminya demi mendapat sekolah tepat untuk buah hati tercintanya. Oke, berarti langkah pertama kita harus Suvey Sekolah dulu. Namun sebelum benar-benar terjun berpetualang survey sekolah kebayang nggak sih, nanti pas disekolah yang kita survey, "Apa saja yang akan kita tanyakan?"


Jangan sampai nanti suami sudah rela-rela cuti demi bisa ikut suvey, eh malah nggak bisa dapat informasi maksimal. Gimana bisa maksimal kalo pas di TKP kita cuman bisa colek-colekan sikut-sikutan bingung nggak tau harus ngapain, karena kita kurang persiapan matang.

Benar saja meski sebelumnya saya sudah mendapat gambaran tentang "Bagaimana memilih sekolah anak sejak dini" dari cerita Mama Enji di status FB nya, ternyata saya masih mengalami kebingungan tentang langkah apa saja yang harus saya persiapkan sebelum benar-benar menjejakkan kaki di beberapa sekolah yang akan saya datangi. Boro-boro mikir pertanyaan, saya saja masih bingung sekolah mana saja yang mau saya datangi bersama suami dan anak-anak saya. Masak iya puluhan atau mungkin bahkan ratusan sekolah harus saya datangi satu persatu? Nggak dong ya, bisa nggak cukup jatah cuti sehari suami saya...hihihi...

Sehingga saya pun mulai berkonsultasi lagi dengan sahabat saya yang keren ini yang sudah mulai lebih dulu berpetualang survey sekolah. Mama Enji curhat...donggggg... 
*Bayanginnya saya curhat sambil panik tereak-tereak heboh, dan Mama Enji menjawab dengan kalem ya (>,<)

Ternyata saya mendapat kan beberapa poin (saran) penting yang harus saya persiapkan sebelum melangkah melakukan petualangan survey sekolah bersama suami, diantaranya yaitu :

1. Hal paling awal, Diskusi dengan suami. Mau dibawa kemana rumah tangga ini. Maksudnya Tentukan Visi Misi  keluarga lalu di breakdown dari situ juga lahir visi misi untuk anak kedepannya.

2. Baru mulai cari sekolah yg masuk kriteria menuju pencapaian visi misi tersebut. Ini kita harus pilih sendiri

3. Udah dapat beberapa sekolah? Mulai kunjungi sekolahnya, tanya-tanya kepada beberapa kenalan yang menyekolahkan anaknya disitu. Jangan lupa cek webnya dahulu

4. Saat mengunjungi sekolah, pastikan sudah menyiapkan ceklis pertanyaan.
 Mulai dari: visi misi sekolah, jumlah anak dlm kelas, kegiatan pembelajaran, kantin, transport, guru2nya, pembelajaran agamanya, metode pembelajarannya, tuition fee nya, cara pendaftaran, ada pr atau tidak dll

5. Saat mengunjungi sekolah, cek satpamnya, suami bantu untuk ngobrol sama satpam agar setidaknya kita bisa menggali tentang sekolah yang kita datangi.
Mulai dari : Satpamnya kelihatan bahagia atau tidak? Satpamnya mengenal sekolah atau tidak? Begitupun kalau ada pegawai kantin maupun tukang kebunnya.

Sekolah yg bagus biasanya melibatkan seluruh civitas sekolah untuk bersama meraih tujuan.

Jadi jika mereka pun mengetahui apa saja yg ada d sekolah, paling tidak kita tahu bahwa semua civitas bekerjasama dalam meraih tujuan dan visi misi sekolah.

Sounds too perfect yaaa... tapi ada kok sekolah kayak gitu. Tidak ada salahnya "Set the bar high".
Meski demikian kita disarankan tetap fleksibel seandainya tidak menemukan hal yang disebutkannya tadi. Menurutnya belum tentu juga sekolahnya kurang oke, jadi disarankan jangan terlalu kaku juga tentang kriteria

6. Saat mengunjungi sekolah, lihat anak-anaknya Kelelahankah? Hepi kah? Bagaimana interaksi dengan gurunya?

Selain memberikan poin-poin tersebut mama Enji juga memberikan contoh gambaran bagaimana wanita tersebut menyangkutkan visi misi sekolahan dengan visi misi keluarganya.

Seperti yang diungkapkan oleh Wanita berkacamata tersebut, waktu sebelum menikah dia bersama pasangannya sudah mendiskusikan tujuan berumah tangganya, yaitu Untuk meraih ridho Allah. Selian itu mereka ingin jika diberi amanah keturunan, maka anak mereka bisa menjadi anak yang mengikutsertakan Allah dalam setiap napasnya, mampu menghadapi tantangan masa depan, memiliki kreativitas dan keberanian tinggi. Namun, mereka tetap akan melakukan sesuai fitrahnya di setiap jenjang usia. Nah dari situ mereka bisa mencari sekolah yg paling mendekati dengan visi misi keluarga mereka.

Menurutnya, mereka bukan tipe ortu yang minta anak menghapal juz 30 di usia dini. Saat ini baru sampai pada pengenalan kebesaran Allah dan tahap doa sehari-hari serta pengenalan  hijaiyah. Step-step itu diambil karena Mama enji berharap kebisaan berdoa ini yang merasuk terlebih dahulu dan melekat dalam hidup kakak faiq putranya.

Selain itu langkah mengenalkan terhadap kebesaran Allah SWT juga saat ini merupakan salah satu poin yang sangat ditekankan oleh Mama Enji kepada anaknya. Dengan tujuan agar kakak faiq tahu bahwa Allah SWT itu Maha Penyayang dan sudah memberikan kita kehidupan, oksigen dll. Serta mengajarkan agar segala yg kita lakukan di dunia itu tanda rasa syukur kita atas karuniaNya.

Menurutnya sebenarnya tidak masalah juga mengajarkan anak bisa menghafalkan 30 jus Al-qur'an, namun bukan disitu poin visi misinya. Mereka ingin anak mereka tidak sekedar "hafal" saja, tapi juga lebih ke poin (memahami) esensinya.

Seperti yang dituturkan oleh wanita penyuka nasi padang ini, saat ini Faiq hapal surat Al Fatihah karena suka sholat bersama bapaknya. Bagaimanapun anak-anak masih seperti spons yang bisa langsung menyerap info yang didapat dari kebiasaan sekitarnya.

Tambahan lagi dari Mama Enji, menurutnya tidak ada visi misi yang paling benar karena disesuaikan dengan kesepakatan bersama pasangannya. Yang penting nantinya semakin besar anak maka sedikit demi sedikit mereka juga harus mengetahui visi misi keluarganya.

Pada akhirnya sahabat saya yang mengaku mengikuti institut ibu profesional demi mengupgrade dirinya ini menambahkan bahwa Pendidikan anak yang utama dari orang tua bukan dari sekolahan. Kalo ada yang tidak bisa dilakukan oleh ortu baru dicover oleh sekolah. Jangan sampai kebalik. Dengan alasan itu juga menurutnya sebagai orang tua kita dituntut untuk belajar tanpa henti.

Sehingga jika tidak menemukan sekolah yang benar-benar seperti idaman kita, maka kita bisa memilih sekolah yang terbaik dari yang ada, karena seperti yang Mama Enji bilang Pendidikan Utama tetaplah dari Orang Tua. So, jika ada visi misi pendidikan (keluarga kita) yang tidak tercover di sekolahan tugas kita sebagai orang tua untuk memfasilitasi dengan jalan lain. Menurutnya Tugas anak adalah berusaha dengan baik tidak harus selalu menjadi ranking satu. Yang penting jangan lupa untuk memberi tahukan visi misi keluarga dengan bahasa yang paling sederhana agar anak bisa memahami tujuan dalam menjalani pendidikannya.

Ah Mama Enji keren banget...bener-bener cinta mati deh saya kalo disuruh sharing diskusi dengan sahabat saya yang satu ini...Sehat terus ya Mama Enji, Faiq, dan Papapnya Faiq...

Sopo sih Mama Enji kui? Hihihi...nanti ya kapan-kapan akan saya kupas semua profil lengkapnya. Selama ini belum sempat karena setiap mau nulis tentang profilnya Mama Enji selalu saja nemu bahan sharing yang oke punya buat ditulis di artikel...Yang jelas wanita yang jago berbahasa inggris ini pernah punya basic sebagai pengajar di salah satu sekolah keren di Bogor, dan memutuskan menjadi Stay At Home Mother demi mendampingi tumbuh kembang anaknya di rumah.

7 comments:

  1. Sepakat banget itu, Mbak, sekolah yang baik adalah sekolah yang melibatkan seluruh unsur yang terlibat di sekolah tersebut, tidak hanya guru, tapi juga tukang kebun, kantin, bahkan juga satpam.

    ReplyDelete
  2. Eh ada PR atau tidak ini juga penting di tanyakan yaaa ??? Bukan nya sekolah pasti ada PR ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu kayaknya jaman kita om...ada buku PR, PS, Catatan sendiri2...hehehe *ketauan deh angkatan tua :p

      Delete
  3. Duh, jadi inget jaman anak pertama mau masuk SD. Saya pilihkan sekolah yang konon terbaik di Pemalang, fullday school, agamanya kuat, yang sekolah di sana anak-anak orang penting katanya. Tesnya aja sampe seharian gitu, dites macem-macem. Eh, ndilalah anak saya nggak keterima.

    Akhirnya disekolahin di SD deket rumah. SD negeri, nggak pake bayar SPP dan uang iuran ini-itu. Cukup seragam aja. Alhamdulillah, anaknya seneng. Ceria banget di sekolah.

    Eh, terus denger cerita sesama ortu yg juga daftarin anaknya di sekolah unggulan tadi. Sama-sama nggak diterima. Katanya dia ditelepon sama pihak sekolah, bilang kalo bersedia bayar sekian (lebih tinggi dari yg diisikan di formulir pendaftaran) anaknya boleh masuk karena ada penambahan kuota siswa. Omaigat! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo sudah pake embel-embel bersedia bayar kayaknya perlu dipertanyakan banget ya visi misi sekolahnya...hehehe

      Delete
  4. Pas banget lagi nyari checklist untuk survey sekolah mba, daripada dateng trus planga-plongo aja haha.makasih sharingnya, dikupas mendalam #like it ^^

    ReplyDelete