Thursday, November 17, 2016

Ayah Sebagai Sosok Raja di Hati Anak

Jaman dulu mungkin banyak lelaki yang akan gengsi ketika harus ikut terjun berjibaku membantu menyelesaikan pekerjaan rumah istrinya. Bagaimana tidak malu jika ujung-ujungnya mereka akan mendapat predikat ISTI (Ikatan Suami Takut Istri). Sehingga dari situ mungkin muncul prinsip Ayah adalah Raja. Dimana semua urusan pekerjaan rumah tangga termasuk tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab ibu. Ayah tugasnya hanya mencari nafkah (titik).

Bisa dibilang saya terlahir di keluarga yang memiliki prinsip ayah adalah raja.

Saya masih ingat ketika piring dan gelas ayah saya dibedakan dari piring dan gelas kami, begitu juga sendok dan garpunya. Belum lagi ukuran lauk untuk ayah yang lebih besar 2x lipat dari lauk penghuni rumah lainnya (saya, ibu, adik, dan asisten rumah tangga ibu saya). Tak sampai disitu ketika ayah pulang kerja, maka saya tak boleh mengganggu waktu istirahatnya. Ketika ayah makan, maka kami tak boleh mengganggu kenikmatan ayah dalam menghabiskan makanannya (baca : nggak boleh ikutan nyomot).

Yah saya sempat mengikuti prinsip tersebut diawal pernikahan kami. Saya tak ingin suami ikut mencuci, menjemur pakaian, apalagi memasak. Menurut nasehat ibu saya, jangan sampai suami tau urusan dapur, biar kalo ada macem-macemnya suami dia bakalan bingung keteteran. Anggaplah kita lagi ngambek males masak ya udah pasti serasa dunia gonjang ganjing buat suami. Tapi itu duluuuuuu...

Setelah anak-anak lahir saya mulai menyadari kesalahan saya. Menurut saya prinsip ayah adalah raja justru bisa menjauhkan kedekatan emosional antara ayah dengan anak. Pernah di protes ibu saya? Seringgggg!!! Nggak cuman ibu sih ya, tapi termasuk nenek saya. Menurut beliau saya jadi (seakan-akan) tidak hormat kepada suami saya.

Bagaimana dengan suami? Saya sudah pernah sharing sih ya dengan suami, hasilnya dia justru setuju prinsip rumah adalah madrasah utama anak, dimana ibu sebagai gurunya dan ayah sebagai kepala sekolahnya. Sehingga suami justru dengan sukarela mau terlibat dalam semua urusan rumah tangga kami, tujuannya sebagai koreksi visi misi dari apa-apa yang sudah saya kerjakan dirumah.
Nggak Ada Yang Bisa Ngalahin Rasa Manis Menimati Es Krim Secone Berdua Bareng Yayah
Saya tidak pernah menyalahkan prinsip ibu saya tersebut. Menurut saya sebenarnya ada benarnya juga menjadikan ayah raja bagi keluarganya agar ayah menjadi salah satu orang yang paling dihormati dan disegani oleh anak-anaknya. Namun dari sudut pandang saya, prinsip tersebut memiliki kelemahan, salah satunya justru nantinya akan timbul tembok pembatas antara ayah dan anak. Sehingga ketika anak sedang hilang tujuan, dia menjadi segan untuk menceritakan keadaannya kepada si ayah.

Selain itu kurang andilnya ayah dalam memperhatikan tumbuh kembang anak bisa menyebabkan anak menjadi sasaran amukan ibu saat dirumah ketika lelah. Bayangkan saat tumpukan lelah menyerang ibu, namun ayah tidak mau diganggu sehingga ibu tak ada jedah untuk meredakan kelelahan yang bertumpuk tumpuk, maka ibu ibarat gunung berapi yang bisa meletus sewaktu-waktu mengeluarkan (emosi) lahar panasnya.

Saya sendiri bukan tipe wanita kalem yang saat lelah melihat rewelnya anak-anak seharian tetap bisa tersenyum sambil berkata "Lanjutkan nak acak-acak saja rumahmu!". Boro-boro ngomongnya sambil kalem dan senyum simpul, yang ada saya malah ngomel kayak radio rusak yang nggak ada jedahnya. Ibarat kata saat lelah saya bisa berubah jadi macan...😅

Disitulah peran suami dalam mengambil alih menghandel anak sementara dirumah. Biasanya dengan tujuan agar saya mendapat jedah sebentar untuk selanjutnya saya bisa mencharge energi positif saya.

Biasanya saat mengambil alih menghandel anak tersebut saya lihat (lebih tepatnya saya nguping) suami akan bertanya kepada anak-anak seharian tadi ngapain saja anak-anak sama saya? Suami akan mengorek-ngorek info apakah mereka pintar nggak bikin marah saya? Biasanya anak-anak dengan polosnya akan menjawab apa adanya.

Begitu juga dengan saya, ketika saya mulai lelah dan ingin marah biasanya akan langsung saya sampaikan ke suami tujuannya agar setidaknya suami bisa mengantisipasi terjadinya ledakan emosi saya kepada anak-anak.

So, buat saya ayah yang keren untuk anak-anak itu yang mau terlibat dalam setiap tumbuh kembang anak. Suami saya tak segan-segan bersedia membantu saya mencuci popok anak-anak disaat awal-awal kelahiran buah hati kami. Alasannya simpel agar saya bisa mencurahkan ASI untuk anak-anak kami. Suami juga tak segan ikut andil mengganti popok anak-anak saat tengah malam agar saya bisa memiliki kualitas tidur yang bagus demi kualitas ASI super. Ketika pulang kantor suami rela disibukkan oleh buah hati kami yang memiliki tenaga ekstra. Mulai salto loncatan di kasur pun dijabani.

Dengan demikian, secara tak langsung suami menjadi seorang raja dihati kami. Seorang raja yang selalu dirindukan oleh penghuni kerajaannya (iya siapa lagi kalo bukan kami penghuni kerajaannya). Seorang raja yang selalu dinanti kehadirannya, karena kesabaran dan pengertiannya terhadap keluarganya.

Yeah...We Love You Yayah Udin...
Tetap selalu jadilah raja yang berlimpah cinta dan kasih sayang untuk kami...


Selamat Hari Ayah...
Telat banget nih, hari ayahnya udah lewat...harusnya 12 November 2016 kemaren kan??? Hehehe...Maap ya telat ngucapinnya...Nggak papa kan ya terlambat ngucapin daripada terlambat datang bulan...bwahahahaha...

2 comments:

  1. macan = mamah cantik :D
    eh iya, ada tradisi gt ya mbak, lauk ayah paling gede
    umpamanya ayam, dapat yg dada, anak2 dapat paha/sayap
    ibu e, kadang cuma dpt brutu..ngenees
    pdhl yg masak siapa

    alhamdulillah suamine mbak sabar dan mau bantu2

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi iya mbak ayah ibuku dulu gitu, tapi jadinya aku ngerasa kurang dekat sama ayahku

      Delete