Friday, November 18, 2016

Ibu Rumah Tangga Juga Punya Mimpi

Memilih menjadi Ibu Rumah Tangga atau bahasa kerennya Full Time Mother alias Stay At Home Mother jujur terkadang membuat saya merasa dianggap sepele di lingkungan keluarga ibu saya. Mungkin bagi mereka Ibu Rumah Tangga itu identik dengan Pemalas!!! Atau bisa juga identik sebagai orang bodoh yang nganggur karena nggak keterima kerja dimana-mana?!!
Ibu Rumah Tangga Yang (Sok) Sibuk
Saya jadi ingat beberapa waktu lalu ibu sempat curhat mendengar salah satu komen nyinyir salah seorang kerabat yang mengatakan kepada sodara laennya yang kebetulan menempuh kuliah farmasi sembari mengatakan, "Mau jadi apa kamu sekolah farmasi, tuh sudah ada contohnya si Vety yang kuliah farmasi tinggi-tinggi sekarang cuman pengangguran dirumah". Yeah komen telak yang bisa bikin ibu saya mendidih dan tentunya mungkin semakin kecewa dengan keputusan saya menjadi Stay at Home Mother. Padahal dibalik keputusan tersebut ada sebuah perjuangan dan pertimbangan panjang, yang tak lantas muncul begitu saja. Mungkin meskipun saya jembrengkan berkali-kali tetap akan memiliki pendapat yang berbeda dengan si kerabat ibu saya tersebut, yang nggak bakal bisa paham cara pikir saya karena kami memiliki sudut pandang yang berbeda.

Gadis Kecil Yang Diharapkan Jadi Apoteker Hebat itu Kini Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga
Bagaimanapun kalo sudut pandang udah berbeda ya bakal susah disingkronkan. Radarnya aja udah beda, Sinyalnya juga udah nggak sama jadi gimana bisa singkron :D

Sebagai gambaran saja, sebenarnya saya memutuskan menjadi Stay at Home Mother ketika usia pernikahan saya memasuki 4 tahun. Dititik tersebut kami mengalami kejenuhan pernikahan yang sangat hebat karena tak kunjung mendapat buah hati. Cemohan sindiran nyinyiran datang silih berganti kepada kami. Hingga suatu ketika saat mulai lelah menjalani program hamil yang tak kunjung berhasil, kami mendatangi salah seorang dokter kandungan senior. Disana sang dokter hanya menyarankan saya untuk resign dari pekerjaan saya. Menurut dokter, bisa jadi program hamil saya selama ini terhambat kesibukan dan kesetresan saya menjalani pekerjaan saya. Yah menurutnya terkadang bisa jadi tanpa sadar kita stres dibawah tekanan tuntutan pekerjaan.

Lalu saya merenung, ah bisa aja kali ya. Episode episode bayangan saya di omel, dimarahin sama pasien yang nggak sabar nunggu antrian obatnya datang silih berganti. Yah terkadang bekerja di dunia kesehatan itu perlu kesabaran extra yang luar biasa. Disaat kaki ini mulai lelah berlari kesana kemari disitu kami harus kuat mengingat masih banyak antrian nomer yang menunggu untuk segera diselesaikan.

Dokter kandungan tersebut pun menyarankan saya untuk istirahat dari dunia pekerjaan dalam rentang waktu tertentu. Menurutnya semisal dalam waktu 2 tahun "pengangguran", saya belum berhasil hamil maka saya diperbolehkan melanjutkan aktivitas pekerjaan saya, sebab itu artinya saya belum hamil bukan karena faktor kelelahan/stres terhadap pekerjaan.

Setelah berdiskusi dengan suami akhirnya kami mengikuti saran dokter tersebut. Namun, keputusan kami sempat ditentang ibu saya. Ibu saya justru mengkhawatirkan saya semakin jenuh menganggur dirumah selama 7 hari x 24 jam. Meski demikian akhirnya ibu tetap menghormati keputusan kami.

Alhamdulillah setelah berbulan-bulan tidak bekerja akhirnya saya mendapatkan hasil tespack positif. Sungguh suatu anugerah yang telah kami nanti-nantikan selama ini. Karena penantian yang cukup lama maka selama hamil saya tetap memutuskan dirumah saja. Sebenarnya bersyukur sekali saya, karena ternyata kehamilan saya sering diwarnai dengan mual parah. Nggak bisa bayangin aja jika saya harus bekerja dengan kondisi mual parah.

Pun tak lama kemudian ketika saya melahirkan putri pertama, saya masih galau tentang status pekerjaan saya. Disatu sisi saya ingin kembali bekerja, namun disisi lain saya merasa Allah telah memberikan saya buah hati disaat saya memutuskan untuk berhenti bekerja, sehingga rasanya tidak adil jika saya harus bekerja lagi dan meninggalkan amanah bernama buah hati yang telah Allah berikan kepada kami.

Meski demikian masih kurang rasanya jika saya hanya diam saja dirumah. Entahlah ada perasaan tidak puas ketika saya hanya menjadi seorang ibu rumah tangga yang tidak berbuat apa-apa. Apalagi mengingat nyinyiran keluarga besar makin baperlah saya...hehehe...

Namun, diantara kebaperan saya, ternyata pada akhirnya justru membuka sudut pandang lain bagi saya dan suami. Bahwa apapun yang kita sukai sebenarnya bisa mendatangkan penghasilan.

Sehingga suami mensupport saya untuk mengembangkan hobi menulis saya. Disaat semua keluarga berpaling tak melihat saya, suami yang menemukan celah sisi positif hobi saya yang bisa mendatangkan penghasilan. Ketika ibu saya (mungkin) kecewa dengan keputusan saya menjadi ibu rumah tangga, suami justru memberi sudut pandang berbeda bahwa ibu rumah tangga itu bukan pekerjaan yang memalukan.

Dan semangat itu datang kembali ketika saya berada di titik down terendah sembari menahan ngilu sakit gigi, ternyata tulisan saya yang tergabung dalam buku antologi akan segera terbit. Kalo boleh teriak nih mungkin saya pengen tereak sekenceng-kencengnya sambil bilang "Yeah...akhirnya buku antologi pertamaku terbit". Lebay banget sih ya...hahaha...
Jadi Bernostalgia Kembali Perjuangan Mengejar Farmasi, Demi Mendapat Restu dari Orang Tua
Sumber Foto : FB Mas Dwi Suwiknyo
Harapan saya, semoga keputusan menjadi stay at home mother alias ibu rumah tangga menjadi pilihan yang tepat dan hal yang membanggakan bagi suami dan terutama anak-anak kami.

Pengen gitu nanti kalo mereka besar trus ditanya orang "Ibumu kerjanya apa?" Trus mereka jawab dengan bangga "Ibuku ibu rumah tangga yang selalu ada buat kami dirumah". *Ah jadi baper bin melow deh 😂😂😂

Yeah meski mungkin saya hanya ibarat remahan roti yang tak dianggap bagi sebagian keluarga besar. Namun saya berharap bisa menjadi bermanfaat untuk semua.

Entah memilih profesi ibu rumah tangga atau memilih menjadi wanita karir, yang saya tau hanya satu, menjadi seorang ibu kita dituntut untuk cerdas, kreatif dan selalu upgrade ilmu, karena kita memiliki tugas dan amanah untuk menjadikan buah hati kita menjadi pribadi yang hebat. Dibalik anak yang hebat pasti ada peran sukses ibu sebagai guru anak di madrasah bernama rumah.

Noted : Suatu saat kalo pas lagi melipir di toko buku trus nemu buku warna pink dengan sampul seperti itu, bukunya nggak nolak lo buat dibawa kekasir, dibayar trus diajak pulang buat di baca... :D
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Mimpi itu bernama penulis#

11 comments:

  1. Aku resign kerja juga setelah menikah. Terus gak lama hamil.
    Aku sudah kebal sih dinyinyirin krn gak kerja dn jd irt doang. Secara di keluarga suami, para istri pada kerja dipabrik. Aku aja yg santai, lha mau kerja siapa yg jaga anak. Suami jg g mau cari art wkwkwk

    ReplyDelete
  2. bapak rumah tangga juga punya mimpi ah

    semangat buibu menggapai mimpi

    ReplyDelete
  3. Mbak..segalau aku dulu. Aku lebih lagi dinyinyiri teman dekat, tetangga ,dll. Hehe. Sekarang akhirnya nulis juga dan sekolah lagi. Someday msh pingin ngajar sih, kalo anak2 udah gedean=). Tetap semangat ya rekan sejawat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak bener galau banget, padahal ada temen2 seprofesi juga sering nasehatin aku katanya aku harusnya bersyukur bisa ambil kesempatan jadi FTM untuk mantau anak2. Sedangkan dia pengen jadi FTM masih belum bisa

      Delete
  4. Menjadi ibu rumah tangga itu ga mudah, beban kerjanya malah lebih berat n tidak mengenal lelah.
    Selamat Mbak buat buku antologinya, moga memberikan inspirasi bagi pembaca, aamiin.

    ReplyDelete
  5. Mba Vety jangan galau. Biarin aja sih yang pada nyinyir. Kayak mereka beliin kita beras aja kok pada enteng komen. HUFF

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kan mereka nggak ikut beliin beras ya...hehehe...

      Delete
  6. Aku salut sama ibu rumah tangga yg bisa bekerja dari rumah, multitasking, & Manajemen waktunya mesti bagusss

    ReplyDelete