Thursday, November 3, 2016

Kategori Obat Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Selama ini mungkin banyak yang berpendapat bahwa obat yang boleh (aman) dikonsumsi selama hamil langsung dianggap aman juga dikonsumsi oleh ibu menyusui. Meskipun beberapa obat memang ada yang aman dikonsumsi ibu hamil, ternyata ada obat-obat tertentu belum tentu aman di konsumsi oleh ibu menyusui.


Sepanjang info yang saya dapat, obat untuk ibu hamil memiliki 5 kategori. Mulai dari kategori yang paling aman sampai yang benar-benar tidak boleh diberikan kepada ibu hamil, karena dapat membahayakan kondisi janin yang dikandung si ibu, yaitu : (Sumber : Informasi Spesialite Obat, Vol. 43)

Kategori A
Penelitian terkontrol menunjukkan tidak ada resiko. Penelitian terkontrol dan memadai pada wanita hamil tidak menunjukkan adanya resiko pada janin.

Kategori B
Tidak ada bukti resiko pada manusia. Penilitian pada hewan menunjukkan adanya resiko tetapi penelitian pada manusia tidak menunjukkan adanya resiko.
Atau bisa juga, penelitian pada hewan tidak menunjukkan adanya resiko tetapi penelitian pada manusia belum memadai.

Kategori C
Resiko tidak dapat dikesampingkan. Penelitian pada manusia tidak memadai, penelitian pada hewan menunjukkan resiko atau mungkin tidak memadai.

Kategori D
Resiko pada janin terbukti positif, baik melalui penelitian atau post-marketing study.

Kategori X
Kontra indikasi pada kehamilan. Penelitian pada hewan atau manusia, atau data post marketing study menunjukkan adanya resiko pada janin yang secara jelas lebih merugikan dibandingkan manfaatnya.

Meski demikian ada beberapa obat yang mungkin dianggap beresiko bagi ibu hamil namun tetap diberikan biasanya dengan alasan dan beberapa pertimbangan tertentu.

Seperti Obat kategori C ini biasanya hanya boleh diberikan jika manfaat terapinya dianggap mebihi besarnya resiko yang mungkin terjadi pada janin.

Begitu juga dengan Obat kategori D hanya digunakan untuk keadaan yang mungkin mengancam jiwa/keselamatan serius pasien, bilamana sudah tidak ada lagi obat aman yang efektif untuk diberikan kepada si ibu.

Saya sendiri memiliki sebuah pengalaman, ketika hamil si kakak saya sempat mendapat obat dengan kategori C. Awalnya saya sempat ragu dengan obat yang saya terima tersebut, sehingga saya mulai menanyakan ke beberapa teman-teman yang masih aktif di dunia kefarmasian, sembari mencari info dari berbagai sumber yang ada, plus konfirmasi dan memastikan ulang kepada dokter kandungan yang meresepkan obat tersebut kepada saya.

Setelah saya cari cari info dan kroscek sana sini, akhirnya saya menemukan sebuah jawaban, bahwa obat tersebut memang masuk kategori C dengan catatan jika diminum pada usia trimester sekian. Sedangkan jika diminum pada trimester berbeda obat tersebut dianggap aman dan boleh diberikan untuk ibu hamil.

Selain itu, saat itu jika saya tidak meminum obat yang diresepkan oleh dokter kandungan maka saya juga berada dalam posisi membahayakan janin serta kandungan saya. Sehingga saya memutuskan untuk mengikuti saran dokter kandungan. Seperti saran suami dan beberapa sahabat saya, kita mencari jalan yang terbaik dari yang paling baik.

Lalu apa beda obat untuk ibu hamil dan ibu menyusui?

Jika keamanan obat untuk ibu hamil biasanya lebih diidentikan dengan adanya obat yang bisa terserap ke dalam janin sehingga bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan pada janin, maka untuk obat bagi ibu menyusui biasanya lebih cenderung pada obat yang bisa masuk ke dalam ASI sehingga dikuatirkan terminum oleh si bayi saat menyusu.

Meski demikian ternyata ada beberapa obat yang juga bisa mempengaruhi jumlah produksi ASI. Ada obat yang memiliki efek bisa menambah produksi ASI, namun sebaliknya ada juga obat yang bisa menurunkan produksi ASI.


Sehingga dengan alasan tersebut saya selalu mempertimbangkan dua hal berikut sebelum mengkonsumsi obat selama periode menyusui.

1. Apakah Obat berpengaruh terhadap produksi ASI?
Meski tidak terserap masuk kedalam ASI, namun jika dapat menurunkan jumlah produksi ASI maka tentu bisa mengganggu proses menyusui pada bayi kita, terutama untuk bayi yang masih ASI eksklusif (alias belum mendapat tambahan asupan lain selain ASI).

Meski demikian untuk beberapa kondisi tertentu dokter tetap meresepkan obat dalam kategori ini, karena dianggap manfaatnya lebih besar daripada resikonya yang tidak membahayakan si bayi.

Biasanya dokter juga melihat usia bayi yang sedang menyusu. Seperti pengalaman saya beberapa waktu lalu sempat mendapat obat yang ternyata bisa menurunkan produksi ASI. Pada dasarnya saat itu obat memang tidak masuk kedalam ASI, dan karena si adik berusia sudah lebih dari 1 tahun dimana asupannya sudah mendapat tambahan MPASI gula garam, sehingga dokter meresepkan saya obat tersebut. Tapi meski demikian karena si adik justru semakin rewel karena merasa produksi ASI saya berkurang sangat maka saya segera berkonsultasi kembali dengan dokter yang meresepkan obat tersebut, dan dokter segera menyetopnya setelah memastikan kondisi saya juga sudah membaik.


Obat Yang Pernah Saya Dapatkan Saat Terkena Tipes,
Beberapa diantaranya ternyata mempengaruhi produksi ASI
2. Apakah Obat ikut terserap dan keluar bersama ASI sehingga dikuatirkan terminum oleh si bayi dan dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan pada si bayi?
Untuk beberapa obat memang ada yang komposisinya bisa ikut masuk kedalam ASI sehingga bisa membahayakan kondisi si bayi yang masih dalam proses menyusui.  Biasanya alternatifnya agar tidak membahayakan si bayi, maka si ibu tidak boleh menyusui si bayi dalam periode tertentu.

Seperti pengalaman seorang teman saya yang mengatakan saat itu terpaksa tidak bisa memberikan ASInya dikarenakan sedang mengkonsumsi obat keras yang menurut dokternya bisa masuk kedalam ASInya. Sehingga solusinya teman saya tersebut harus membuang ASI nya selama beberapa periode hingga dia benar-benar dinyatakan sembuh dan tidak meminum obat tersebut lagi.

Lalu obat apa saja sih kira-kira yang aman dan tidak aman untuk ibu hamil atau menyusui? Kalo obat untuk ibu hamil sih mungkin kita bisa langsung tanya ke dokter kandungan pada saat konsul/kontrol. Tapi kalo ibu menyusui, boro-boro mau periksa ke dokter, ke toilet bentar aja anak udah nangis kewer-kewer. Mau ke dokter bawa anak juga nggak tega, belum lagi antrinya. Ditambah bawa duo bocils periksa ke dokter pasti rasanya sesuatu. Jadi sebelum-sebelumnya saya hanya berbekal googling, sembari menunggu waktu tepat untuk bisa kontrol ke dokter. Namun beberapa waktu lalu dokter spesial anak kami yang merupakan seorang konselor laktasi menyarankan saya untuk download aplikasi LactMed yang berisi tentang info daftar obat bagi ibu menyusui. Hihihi saya kudet banget ya, ternyata ada aplikasi keren beginian :D


Meski demikian, agar tidak sembarang mengkonsumsi obat tanpa diagnosa yang jelas atau tepat untuk kondisi tertentu saya tetap usaha untuk kontrol ke dokter. Setidaknya maksimal 3 hari saya sudah harus menemui dokter untuk mengecek kondisi kesehatan, jika dirasa belum ada perubahan membaik. Tujuannya agar tidak terjadi efek samping yang tidak diinginkan karena penggunaan obat jangka panjang (lebih dari 3 hari).

Seperti kata iklan di TV

"Jika Sakit Berlanjut, Segera Hubungi Dokter" 😉

No comments:

Post a Comment