Monday, November 7, 2016

Kunci Sukses (Awal) Kakak Adik (Kesundulan) Akur

Seringkali saya mendapat pertanyaan dari sekitar tentang hubungan persaudaraan kakak-adik duo al (anak-anak saya). Apa mereka dirumah akur? Apa mereka nggak pernah bertengkar? Apa mereka nggak pernah cemburu satu sama lain? Saya jadi ingat saran kunci sukses awal agar kakak-adik kedepannya tidak ada rasa saling cemburu satu sama lain, yang saya dapat dari banyak teman di The Sundulers (Komunitas berisikan emak-emak kesundulan). Satu hal yang benar-benar saya ingat yaitu kunci Kesan Pertama Kakak Terhadap si Adik. Kalo diibaratkan dalam bahasa inggris mungkin kurang lebihnya seperti Love at the first sight.

Hari Pertama Menjadi Kakak dan Adik

Menurut beberapa teman saya, kesan pertama kakak terhadap adik kedepannya akan menjadi kunci rasa cemburu kakak terhadap adik, meski sebenarnya ada beberapa poin lain yang juga turut mendukung keakuran hubungan kakak adik. Beberapa teman selalu menasehati saya sebisa mungkin untuk tidak sedang menggendong si adik atau bahkan mungkin menyusui si adik ketika si kakak pertama kalinya mengunjungi atau menemui saya dengan adiknya.

Jangan menggendong atau menyusui si adik saat pertama kali bertemu dengan si kakak, agar tidak ada kesan bahwa mama direbut oleh adik.

Bahkan saya disarankan agar membuat janji terlebih dahulu dengan keluarga yang ingin membawa kakak menemui saya dengan adik. Minimal saya bisa mendapat aba-aba jadi bisa bersiap-siap menyambut kedatangan si kakak dalam keadaan tidak mennggendong atau menyusui si adik.

Terkesan sepele memang. Namun beberapa teman mengatakan justru dari situ kunci awal, karena setelah beberapa saat kita tidak bertemu dengan kakak, dimana kakak juga pasti merindukan kita lalu tiba-tiba melihat kita sedang menggendong bayi lain, maka si kakak akan merasa bayi itu (si adik) adalah rival atau saingan barunya.

Pernah juga tetangga saya juga sharing tentang pengalamannya dimana dia merasa melakukan sebuah kesalahan karena pada saat anak pertamanya berkunjung si adik sedang melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Dimana tentunya si adik sedang posisi nemplok sama si mama, otomatis saat itu buah hati pertamanya langsung menangis. Menurutnya mungkin bisa jadi karena "Gentong ASI" yang selama ini dianggap miliknya seorang tiba-tiba direbut bayi lain.

Dari banyak nasehat dan sharing dari banyak teman dan tetangga saya pun akhirnya jauh-jauh hari bersepakat dengan ibu dan mertua saya untuk tidak membawa si kakak ke tempat saya bersalin (melahirkan) secara tiba-tiba.

Beruntung juga pada saat detik-detik melahirkan suami dan saya dimudahkan untuk bisa menitipkan si kakak kepada ibu dan mertua saya secara bersamaan, sehingga saya bisa melewati detik-detik persalinan dengan sedikit tenang. Kurang lebih jam 4 pagi flek, kemudian jam 7 menuju ke rumah sakit tempat bersalin, jam 12 siang ketuban rembes, dan jam 15.15 Alhamdulillah si adik lahir melalui proses persalinan normal.

Setelah lahir, si adik langsung melakukan IMD. Seperti prosedur persalinan sebelumnya, pasca menjalani IMD si adik langsung dibawa ke ruang bayi, sedangkan saya masih menunggu kurang lebih 2 jam untuk bisa kembali ke kamar sembari memastikan apa saya masih pusing, serta tidak ada pendarahan yang dianggap membahayakan.

Kurang lebih pukul 5 saya diperbolehkan kembali kekamar, tak lama kemudian ibu saya mengabari akan segera menyusul bersama kakak ke tempat saya bersalin. Kami pun segera bersiap-siap menyambut kedatangan kakak yang sudah sangat kami rindukan.

Setibanya di lift ibu saya segera menelpon mengabari, sehingga saya bisa mempersiapkan posisi si adik tidak dalam gendongan saya. Sembari mengingat-ingat saran lain dari teman-teman yang sudah lebih berpengalaman sebelumnya.

Saat si kakak pertama kali tiba, kami pun segera memperkanalkan bahwa bayi yang berada di box tersebut adalah adiknya. Perkenalan awal berjalan mulus, seperti saran dari banyak teman saya pun meminta ijin kepada si kakak (yang saat itu baru berusia 18 bulan) untuk diperbolehkan menggendong si adik. Kakak pun setuju...yeiiiii...berhasil pikir saya.

Tak berapa lama, si adik merengek meminta nenen. Seperti sebelumnya saat akan menggendong, saya pun meminta ijin si kakak untuk diperbolehkan menyusui si adik karena adik haus. "Boleh ya kak adik minta nenen?", begitu tanya saya. Sekali lagi kakak mengangguk setuju. Horeeeee...diijinkan...

Tapi, Eng ing eng...tak sampai 5 menit saya menyusui si adik, ternyata si kakak mulai cemburu. Awalnya semua sepakat berusaha untuk mengalihkan perhatian si kakak, tapi justru membuat si kakak makin menangis sejadi-jadinya. Hihihi...disini akhirnya saya berusaha untuk belajar (pertama kalinya) melakukan posisi tandem nursing.

Tandem Nursing Kakak-Adik

Selama ini saya mengira nanti saat si adik menyusu maka si kakak bisa dialihkan perhatiannya. Ternyata asumsi saya salah. Semakin saya berusaha mengalihkan perhatian si kakak, semakin rewel si kakak, dan sepertinya justru membuat si kakak membenci siapa saja yang berusaha mengalihkan perhatiannya.

Saya masih ingat ketika eyang uti (ibu mertua) berkunjung. Saat itu niat eyang uti mengajak kakak agar saya bisa fokus menyusui si adik dengan tenang. Ternyata bukannya mau, si kakak malah marah dengan galaknya kepada eyang utinya. Bahkan si kakak segera mendong si eyang uti keluar dari kamar sembari buru-buru menutup pintu kamar agar eyang utinya tidak bisa masuk. Saat itu saya dibuat terkejut dengan respon si kakak.

Dari situ akhirnya saya mencari sharing dan mendapat nasehat dari banyak teman-teman saya lainnya. Ada yang menyarankan agar saya menyapih (men-stop ASI) kakak saja, menggantikan dengan dot. Sehingga si kakak akan teralihkan dengan dot tanpa harus ingin berebut ASI dengan adik. Namun menurut teman lainnya saran tersebut bukan solusi. Justru menurutnya dengan saya tetap berusaha menjalani tandem nursing maka saya bisa mengurangi rasa cemburu antara kakak-adik tersebut. Tinggal bagaimana bisa-bisanya saya memposisikan mereka berdua.

Menyapih Kakak dan mengantikannya dengan dot bukan solusi untuk mengatasi kecemburuan kakak adik (sibling rivalry).

Tak sampai disitu saja, mereka juga menyarankan saya melibatkan kakak untuk setiap aktivitas dengan adik. Misal ketika saya akan mengganti popok si adik, maka tidak ada salahnya saya disarankan untuk meminta tolong kakak sekedar membuang popok ketempat sampah, atau mungkin membantu mengambil kapas, atau sekedar mengajaknya melihat si adik yang sedang kita ganti popoknya. Begitu juga saat kita sedang memandikan adik.

Ajak kakak untuk terlibat dalam aktivitas kita bersama adik

Saat si kakak mengajak bermain sedangkan kita harus menyusui si adik maka disinilah saatnya kemampuan multitalenta seorang ibu dipraktekan. Banyak teman saya yang mengakui bahkan mereka sanggup menyusui sembari melakukan aktivitas menggambar dengan si kakak. Tak jarang mereka juga sering menyusui si adik sembari menyuapi si kakak.

Saran lainnya, sebisa mungkin dahulukan keperluan si kakak agar kakak tidak ada perasaan "Aku dinomer duakan sejak ada adik". Namun untuk sikon ini sebenarnya tidak berlaku lagi ketika si adik juga semakin tumbuh besar, karena saat adik mulai sadar lingkungan maka adik juga bisa mengajukan protes atau cemburu yang dirasa. Adik juga sama nantinya ingin diberi perhatian lebih.

Tak lupa saya selalu menyounding kakak-adik untuk saling menyayangi. Bisa dibilang ini hanya sebagian kecil saja sharing kunci sukses agar kakak-adik kedepannya selalu akur yang sudah saya terapkan dalam keseharian kami. Meski terkesan sepele dan mungkin tidak masuk akal namun bagi kami ini sangat membantu. Alhamdulillah tidak ada episode si kakak terhadap adik yang menghawatirkan, seperti yang ditakutkan oleh keluarga besar kami.

Indahnya Berbagi Minuman

4 comments:

  1. Tipsnya bagus, Mbak Vety.

    Saya jadi inget bahwa saya sendiri punya adik ketika saya baru berumur 3 tahun. Saya memang merasa cemburu kepada adik saya karena mendadak semua orang jadi lebih sayang kepada adik saya ketimbang saya. Kadang-kadang sisa trauma akibat perasaan cemburu itu masih ada sampai sekarang.

    Harus baik-baik empati terhadap perasaan kakak, jika ingin si kakak dan si adik tetap akur. Tanpa empati terhadap masing-masing pihak, sulit mengharapkan mereka tidak saling menyakiti ketika besar.

    Anyway, itu foto yang terakhir bagus banget sampai-sampai saya mengira mereka itu kembar siam :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, terkadang emaknya juga kuatir akan ada cemburu. Tapi Alhamdulillah so far kakak-adik kompak banget dan saling sayang...

      hehehe itu kembar beda tahun... :D

      Delete
  2. mbak oot ya...eh bener ya ada komunitas buat keluarga terutama ibu2 yg kesundulan? Wkwkwkw unik euy...asli baru tau ada komunitas ini. Seru ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ads mbak, coba dicari di FB namanya The Sundulers Indonesia (dulunya cuman The Sundulers aja) hehehe...

      Delete