Wednesday, November 16, 2016

Minum Antibiotik Selama Kehamilan Pertama Karena Toxoplasma

Menanti kehamilan (kakak) hampir 5 tahun, membuat saya bahagia sekali saat pertama kalinya menemukan hasil test pack dua garis samar di pagi hari. Kamipun segera memutuskan untuk menemui dokter kandungan hari itu juga. Saat itu tidak ada bayangan tentang Toxo (TORCH) sama sekali di benak kami. Pikir kami, saya sudah melakukan tes TORCH saat program hamil sebelumnya.



Saat pertama kali kontrol dokter hanya menyatakan ada tanda-tanda penebalan menuju kehamilan, sehingga saya disarankan untuk kontrol kembali sekitar 2 minggu kemudian. Mengingat penantian hampir 5 tahun dokter juga memberikan beberapa suplemen dan obat, yang menurut informasi sang dokter, dengan obat tersebut nantinya kalo saya memang tidak hamil maka saya akan segera mendapat menstruasi, sebaliknya jika saya hamil maka obat tersebut kurang lebihnya bisa menjadi penguat kandungan saya. *Semoga saya tidak salah tangkap dan salah ingat tentang informasi tersebut. Meski demikian sayangnya saya lupa obat apa yang diresepkan oleh dokter kandungan tersebut.

Selang beberapa hari ternyata saya mendapatkan flek (noda darah) di celana dalam. Sempat sedih sebenarnya, namun beberapa teman memberi saran saya untuk banyak-banyak istirahat (bed rest) dan mengganjal kaki saya lebih tinggi dari posisi badan saya. Alhamdulillah ternyata hanya sekali saja saya menemukan flek darah tersebut. Hingga akhirnya tiba saatnya kontrol kembali ke dokter kandungan.

Saat kontrol berikutnya dokter sempat menanyakan apakah saya sudah pernah tes Toxo (TORCH) sebelumnya? Mengingat Tes TORCH terakhir yang saya lakukan sudah hampir lebih dari setahun, maka saya disarankan untuk tes ulang.


Sedikit berat mengingat budget untuk melakukan test tersebut tidak murah, sehingga kami memutuskan pindah ke dokter kandungan lain dimana biaya nya di ganti oleh kantor suami. Saat kontrol ke dokter kandungan ke dua pun ternyata saya disarankan test Toxo. Bersyukur saat itu biaya test Toxo diganti oleh kantor suami.

Hasilnya sebenarnya bisa dibilang tidak terlalu mengkhawatirkan karena hanya hasil tes Igg toxo saya yang positif, artinya saya (mungkin) memang pernah terkena toxo dimasa lampau. Agak kaget dan nggak percaya sih sebenarnya karena seingat saya, tes toxo saya yang lalu hasilnya bagus (negatif). Saya pun menyampaikan hal tersebut kepada dokter saya. Tanpa saya duga, saya disarankan melakukan tes toxo avidity.

Tes avidity ini sebenarnya menurut info yang saya tangkap dari penjelasan dokter, berguna untuk mengetahui seberapa lama saya sudah terkena toxo ini, dan apa tubuh saya sudah mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dan janin saya dari toxo ini.

Hasil avidity tes toxo saya ternyata berada di garis borderlines dengan angka mengarah ke nilai garis bawah. Agak kuatir juga sebenarnya, mengingat dokter sempat mengatakan jika angka avidity tinggi maka kondisi kehamilan saya dianggap aman karna tubuh saya dianggap sudah membentuk antibody (pertahanan) terhadap si virus toxo. Sedangkan jika nilai avidity rendah maka dianggapnya saya belum memiliki pertahanan tubuh terhadap virus toxo tersebut.

Menunggu waktu kontrol ulang terlalu lama membuat saya memutuskan kontrol lagi ke dokter kandungan yang saya datangi awal (saat pertama kali hasil tes pack saya menunjukkan positif samar). Ternyata melihat hasil lab tersebut dokter kandungan yang saya datangi tersebut menyarankan agar saya meminum antibiotik.


Jujur saya masih galau jika harus meminum obat antibiotik yang disarankan oleh dokter, karena setelah mencari info kesana kemari antibiotik yang diresepkan masuk Obat kategori C untuk ibu hamil (Info lebih jelas tentang Obat Kategori C bisa di lihat di Kategori Obat Aman Untuk Ibu Hamil dan Menyusui).

Sembari galau dan bertanya kesana kemari ke beberapa teman farmasis (apoteker), saat kontrol ulang ke dokter kandungan saya ke dua ternyata sarannya tetap sama. Saya disarankan untuk meminum antibiotik selama kehamilan dengan jadwal tertentu yang sudah ditetapkan.

Seingat saya, saat itu saya disarankan minum antibuotik selang seling (2 minggu minum, dan 2 minggu istirahat stop tidak minum).

Atas berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk meminum antibiotik tersebut. Seperti nasehat suami saya yang mengatakan, insya Allah kita memilih pilihan yang terbaik dari yang paling baik.

Memang sih setelah saya mencari info kesana kemari tentang pengobatan toxo ini, menurut saya meminum obat antibiotik yang diresepkan oleh dokter saat itu adalah pilihan yang paling baik. Asumsi saya saat itu saya sendiri harus berkejar-kejaran dengan si toxo agar tidak menyerang janin yang saya kandung.

Sempat terpikir untuk mencari pengobatan alternatif saja, seperti info yang saya dapat diantaranya extrak kulit manggis konon bisa mengobati toxo, begitu juga dengan buah mengkudu. Sayangnya setelah saya gali info lebih dalam, baik extrak kulit buah manggis dan buah mengkudu sama-sama tidak disarankan untuk ibu hamil dibawah 7 bulan.

Tak sampai disitu, mengingat toxo ini termasuk yang membahayakan janin (seperti info yang saya tangkap), toxo ini bisa dengan cepat menyerang "menggerogoti" janin yang kita kandung jika tidak segera diobati. Untuk trimester awal kemungkinan terburuk dari serangan toxo ini biasanya terjadinya keguguran. Sedangkan untuk trimester-trimester berikutnya menurut info yang saya baca toxo ini bisa menyerang janin sehingga saat terlahir bisa mengakibatkan beberapa gangguan (fatal) di beberapa organ tubuh bayi.

Sedangkan untuk pengobatan alami dengan extrak kulit manggis atau buah mengkudu tersebut saya tidak berani gambling seberapa cepat akan menangkal virus toxo tersebut agar tidak menyerang janin yang saya kandung.

Ya sudahlah saya pasrah bismillah minum obat yang diresepkan oleh dokter. Toh pikir saya, tidak hanya satu dokter yang menyarankan.

Oh ya saya sempat berargumen sih sebenarnya kepada dokter kandungan saya perihal obat yang masuk kategori C tersebut. Seperti kata si dokter "Sekarang semua orang bisa menulis di internet bu, tinggal kita gimana menyikapinya".

Waktu itu saya juga akhirnya manut dengan saran dokter karena si dokter berkata "Ya kalo saya sih menyarankan ibu tetap minum obatnya. Kalo ibu nggak mau ya nggak papa, tapi kalo ada apa-apa ya jangan salahin saya ya bu. Saya kan ngeresepin gini juga berbagai pertimbangan, nggak ngasal bu". Hehehe...maapkan pasienmu yang ngeyelan ini ya dok :D

Disitu saya banyak belajar, Intinya kita jangan terlalu menelan mentah-mentah info yang kita dapat ya. Pastikan dulu sumbernya terpercaya atau tidak. Seperti kata dosen saya dulu waktu pengajuan proposal skripsi "Cari literatur terpercaya seperti jurnal penelitian. Jangan asal nyomot yang ada di internet".

Alhamdulillah meski dengan perjuangan berat saat jadwal minum si antibiotik, saya berhasil melewati episodenya hingga saya melahirkan seorang bayi perempuan yang kami nanti-nantikan selama ini.

Oh ya saat itu, saya mendapat resep antibiotik spiramycin, dimana saya harus meminum obat sesuai jadwal. Tabletnya bulet gede-gede dan cukup bikin mual parah. Tanpa minum obat saja saya sudah mual parah, apalagi harus minum obat yang punya efek ke lambung itu rasanya nano-nano. Bisa dibayangkan bagaimana frustasinya saya 😭

Entah berhubungan dengan hasil Igg Toxo saya yang positif dengan Igg avidity toxo berada di rentang nilai borderlines, namun sepanjang kehamilan saya tersebut, saya sering terserang flu parah. Tak dipungkiri saat jadwal minum antibiotik secara tak langsung sedikit banyak flu saya berkurang. Ini berbeda dengan kondisi kehamilan saya ke dua yang terasa lebih fit (tidak mudah terserang flu). Bersyukur saat kehamilan ke dua hasil Igg avidity toxoplasma saya sudah tinggi. Sehingga saya tidak perlu meminum antibiotik selama kehamilan ke dua.


Disclaimer : Artikel ini sekedar sharing pengalaman selama hamil pertama dengan nilai igg toxoplasma positif. Bagaimanapun kondisi kehamilan dengan toxoplasma tetap harus dikonsultasikan kepada dokter kandungan yang paling mengerti kondisi kita dan janin yang kita kandung. Sehingga diharapkan untuk tidak menjadikan artikel ini sebagai rujukan pemakaian obat atas inisiatif sendiri tanpa rekomendasi dari dokter kandungan.

Sebagai catatan selama hamil dan konsumsi antibiotik tersebut, kondisi kandungan saya benar-benar dipantau oleh dokter setiap bulannya. Saat usia kandungan memasuki usia 24-26 bulan dokter memberikan rujukan kepada saya untuk melakukan USG 4 dimensi demi mengetahui kondisi janin yang saya kandung.


USG 4 dimensi yang kami jalani tidak hanya sekedar bersifat rekreasional karena penasaran ingin melihat wajah bayi kami yang ada dalam kandungan, melainkan juga memantau kondisi organ-organ tubuh bayi dalam kandungan, serta memantau aliran darah baik dari ibu menuju janin maupun sebaliknya.

8 comments:

  1. Perjalanannya lumayan bikin perasaan campur aduk, ya, Mbak? Tapi alhamdulillah, hasilnya bisa lahir bayi lucu dan sehat. :)

    ReplyDelete
  2. Aku sepanjang kehamilan anak pergama jugak minum obat toxo spiramicyn, smoe boseeen. Alhamdulillah pas anak kedua udah ga perlu lagi kata dokter setelah cek lab

    ReplyDelete
  3. Waaaah... Pengetahuan baru mba. Tapi emang jaman sekarang siapa aja emang bisa nulis di internet ya. Jadi kita harus pinter2 menelaah maksih mba infonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak bener banget, jadi musti cermat milah2 informasi

      Delete
  4. Antibiotik spiramycin itu memang efeknya bikin mual ya mbak; memang tidak mudah, tapi konsultasi ke dokter dan pertimbangan yang matang tentu penting sekali ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mual banget, jadi makin nano2 rasanya

      Delete