Wednesday, November 2, 2016

Nostalgia Pengalaman ASI Kakak Pertama Kali

Mak Tullllll...dulu waktu si kakak lahir ASI langsung keluar banyak nggak sih? Pipisnya sering nggak sih? Soalnya anak pertamaku dulu (pake susu formula) kok pipisnya sehari bisa sampe 10x. Begitu kira-kira pertanyaan salah seorang sahabat saya yang sedang berjuang ingin berhasil memberikan ASI kepada putra ke-2nya. Kebetulan saat anak pertama karena suatu alasan dia hanya berhasil memberikan ASI sedikit saja.
Tak langsung menjawab pertanyaan tersebut, saya mengingat-ingat perjuangan pengalaman ASI pertama saat kakak lahir. Kebetulan saat anak kedua lahir, ASI saya masih keluar karena si kakak masih menyusu ASI hingga beberapa jam menjelang si adik lahir. Lalu saya tersenyum sendiri membayangkan pengalaman pertama saya memberikan ASI kepada si kakak.

Saya ingat menjelang melahirkan ketika perawat menanyakan kepada saya "Apa ASInya sudah keluar bu?", Saat itu saya jawab belum, karena memang saya merasa tidak keluar. Bahkan saat saya pencet sendiri juga tidak keluar ASI nya. Tapi ternyata ketika diperiksa oleh perawat, sebenarnya ASI saya sudah keluar. Namun mungkin karena kurang pengalaman membuat saya tidak bisa memencet mengeluarkan ASI dengan benar.

Saya sendiri saat si kakak lahir, tanpa melihat jumlah ASI yang keluar tetep berusaha "lempeng" menyusui si kakak. Saya ingat nasehat dari salah seorang konselor AIMI (kalo nggak salah namanya Mbak Astrid) yang mengatakan untuk awal saya tak perlu membawa pompa ASI, karena ASI saat awal bayi lahir jumlahnya akan sangat sedikit bahkan mungkin hanya cukup untuk membasahi corong Pompa ASI saja. Daripada di pompa sebaiknya disusukan langsung saja, sehingga suplay ASI akan semakin banyak sesuai kebutuhan bayi.

Ukuran Lambung Bayi Baru Lahir
Dari situ akhirnya saya nekad melahirkan tanpa membawa persiapan pompa ASI. Ketimbang nanti saya jadi down kepikiran waktu lihat hasil pompa ASI saya diawal cuman setetes bahkan nggak bisa bahasahin corong ASI sekalipun, dan malah bikin saya stres ujung-ujungnya bisa bikin produksi ASI seret.

Saya pun cuman berbekal pengetahuan ASI itu Suplay On Demand, sehingga ASI akan diproduksi sesuai permintaan. Semakin sering kita menyusui bayi kita maka akan semakin banyak produksi ASI kita.

Saat itu bisa dibilang saya "pura-pura" tidak tau saja sama jumlah ASI yang diproduksi oleh payudara saya. Yang penting setiap 2 jam sekali (maksimal 3 jam sekali) saya usaha memberikan ASI saya kepada bayi saya.

Saya pun baru benar-benar lega merasa ASI keluar saat salah seorang tante saya nyeletuk mengatakan ASI saya sudah keluar karena melihat bayi saya yang sedang nenen mengeluarkan suara "cegluk cegluk" dari dalam kerongkongannya. Itu kurang lebihnya saat usia bayi saya sekitar 2-3 hari.

Tak lama setelah itu saya pun justru sering mengalami LDR Let Down Reflex ASI alias ASI menetes mengucur sendiri sehingga membuat bra bahkan baju basah dimana-mana.

Menyusui di awal-awal kelahiran si kakak serasa menaiki roller coaster. Setelah di awal saya mengalami kekuatiran ASI tak keluar hingga akhirnya justru mengucur deras, lalu tak lama setelah itu tiba-tiba badan saya mendadak menjadi panas dingin (demam) dan ASI tiba-tiba seperti "mampet" kembali serta payudara tiba-tiba sakitnya luar biasa. Yeah...orang jawa bilang saya mengalami yang namanya "Ngerangsemi". Kalo secara medis disebutnya Engorngement (Pembengkakan Payudara). Sebagian orang lebih sering menyebutnya dengan istilah Mastitis. Padahal sebenarnya Engorngement dan Mastitis ini berbeda kondisi.

Engorngement merupakan kondisi payudara terasa bengkak, dimana aliran ASI tiba-tiba tersumbat begitu saja, salah satunya bisa dikarenakan aliran ASI yang terlalu lancar sedangkan frekuensi si bayi menyusu sedang tidak sesering mungkin. Sehingga sebagian ASI yang menumpuk menjadi sedikit menggumpal dan menyababkan tersumbatnya aliran ASI yang ada. Sedangkan mastitis biasanya terjadi dikarenakan adanya infeksi, radang pada payudara atau bahkan ada yang sampai bernanah dan tentunya juga menyebabkan aliran ASI tersumbat.

Tak sampai disitu ternyata menjadi satu tantangan berat untuk saya saat berusaha memenuhi Suplay ASI sesuai kebutuhan si kakak di hari-hari awal kelahirannya. Alasannya simpel saya mengalami puting lecet dedel duwel yang rasanya sungguh aduhayyyyy...cukup bikin saya meringis miris plus trauma setiap jadwal si kakak minta nenen. Bahkan seorang tetangga saya pun mengakui karena mengalami puting lecet di awal masa menyusui bayinya dia akhirnya menyerah kepada susu formula (sufor). Selain karena dia merasa ketakutan bayangan akan perihnya saat menyusui bayinya, lama-lama produksi ASInya pun menurun.

Sungguh suatu keadaan yang membuat saya dilema, disatu sisi saya ingin sesering mungkin menyusui bayi saya agar ASI semakin lancar, tapi disisi lain saya juga merasa ngeri akan perihnya episode menyusui. Episode tersebut akan terasa semakin dahsyat saat terjadi berbarengan antara puting lecet yang belum benar-benar sembuh dan Engorngement yang datang tanpa aba-aba.

Namun sebenarnya ada cara sederhana untuk mengatasi rasa perih puting lecet ketika menyusui bayi kita. Selain dengan mengoleskan kembali ASI di tempat puting yang lecet, atau bisa juga dengan bantuan salep puting luka atau biasa disebut nipple cream/nipple balm agar membantu mempercepat penyembuhan puting yang luka, membenarkan posisi perlekatan bayi dengan benar, bisa juga dengan meminta bantuan suami atau keluarga dekat yang ada untuk membantu menggosok/memijat punggung atau betis kita saat kita merasakan perih ketika menyusui bayi kita. Dengan dipijat atau digosok maka pikiran kita akan sedikit terpecah tidak hanya fokus dirasa sakit luka yang ada di puting saat disusu oleh bayi kita. Sehingga rasa sakit yang tadinya terasa luar biasa menjadi sedikit lebih ringan perihnya. Huhuhu jika ingat perjuangan tersebut sungguh menjadi sebuah momen nostalgia yang sering membuat saya meringis sendiri.

Andalan Untuk Puting Luka Saat Periode Menyusui Si Kakak
Salah Satu Niple Cream (Krim untuk Puting Luka) yang Lain
Sedangkan cara mengatasi Engorgement yaitu bisa dengan jalan mengompres panas-dingin secara bergantian di area payudara yang terasa bengkak sembari di massage pelan-pelan dan tetap menyusukan ASI kepada si bayi. Hisapan bayi juga membantu membuka sumbatan ASI yang terjadi. Selain itu untuk mengatasi rasa panas dingin (meriang) yang terjadi saya meminum paracetamol 500 mg. Menurut info yang Paracetamol merupakan obat panas (demam) paling aman untuk ibu menyusui karena tidak ikut masuk kedalam ASI dan tidak membuat produksi ASI berkurang.

Sebenarnya ada cara lain juga, menurut beberapa teman yang pernah mengalami Engorgement, mereka mengatasinya dengan mengompres payudara yang terasa bengkak dengan menggunakan beberapa lembar sayur kol. Menurut info yang saya kumpulkan kompres kol bisa membantu mengatasi Engorgement karena berfungsi membantu mengurangi produksi ASI. Asumsinya saat produksi ASI berkurang maka aliran ASI tidak terlalu menumpuk. Oleh sebab itu juga dianjurkan untuk tidak terlalu lama mengompres payudara menggunakan kol.

Ilustrasi, Sumber : warungkopi.okezone.com
Untuk frekuensi pipis (buang air kecil) si kakak saat pertama kali lahir, setelah saya ingat-ingat sepertinya memang tidak terlalu sering apalagi sampai 10x pipis. Saya ingat betul karena hari pertama kakak lahir saya tidak punya bekal cara mengganti underpad bayi saya. Sedangkan sepanjang yang saya ingat sehari itu saya tidak terlalu sering "merepotkan" memanggil perawat untuk meminta bantuan mengganti underpad bayi saya. Seingat saya awal-awal jika bayi saya menangis, saya mengiranya haus sehingga buru-buru saya nenenin lagi, lagi, dan lagi. Mungkin 2 atau 3x saat saya meminta perawat mengecek kondisi bayi saya masih menangis padahal sudah saya beri ASI ternyata saat itu underpad kakak basah. Oalahhhhh...saking nggak taunya saya sampai nggak perhatian sama popok dan underpad bayi saya. Seiring pertambahan usia hari maka frekuensi buang air kecil si kakak saat itu pun mulai bertambah. Hingga lama-lama penggunaan underpad mulai tidak efektif karena tidak bisa menampung ompol bayinya yang semakin banyak. Sehingga akhirnya saya mulai beralih menggunakan popok bayi biasa.

2 comments:

  1. Good job bunda!saya pun masih "berjuang" menyusui dek Michan sampai sekarang :)

    ReplyDelete