Wednesday, November 23, 2016

Seni Menjadi Ibu (Kesundulan) Itu...

Gara-gara baca status facebook salah seorang teman di komunitas kesundulan The Sundulers tentang seninya seorang ibu, membuat saya menjadi menerawang dan tersenyum sendiri.
Iya seninya seorang ibu (Kesundulan) itu...


Saat kita sedang lapar berat, sudah siapin nasi anget (hangat) di piring, lengkap dengan lauk dan sambelnya terbayang nikmatnya suapan demi suapan makananan masuk ke dalam mulut lalu tiba-tiba si kakak tereak "Mamam...kakak mau pub..."  *eaaaaaa bubar sudah angan-angan perut tiba-tiba kerasa kenyang :D

Belum kelar beresin (cebokin) kakak, adek sudah kepo ikutan masuk kamar mandi *tujuannya apalagi kalo bukan untuk sekedar ikut obok-obok air...eaaaaaa... :D

Sepertinya Perlu Toilet Kering Kayak di Mall Biar Nggak Ada Acara Obok-Obok :D

Atau saat mata sudah tinggal 5 watt badan lelah kakak sudah tertidur pulas tiba-tiba bau harum semerbak tercium dari popok si adik. Mata yang tinggal 5 watt mau tak mau tiba-tiba menjadi 100 watt *Dada bubay bayangan tidur cantik disiang hari :D

Terkadang juga, saat membayangkan guyuran air keseluruh tubuh agar badan kembali segar. Baru juga wanti-wanti (sounding) kakak-adik agar akur, pintu belum sempat terkunci eh sudah terdengar teriakan kakak saut-sautan sama adik. "Mamammmmm adikkkkk looo...", trus diiringi suara adik "mamaaa mamaaa mamaaa..." *langsung buru-buru mandi bebek :D

Lupakan Angan-Angan Punya Bath Up Cantik Seperti di Hotel *Nggak Bakal Ada Waktu Untuk Berendam Cantik :D

Lalu ketika semua pekerjaan rumah kelar, rumah baru saja kinclong tiba-tiba kakak bertanya "Mamam kakak boleh orat arit maenan lagi ya sama adik". Mulut sudah mangap mau ngomel langsung batal mengingat manisnya kakak saat meminta ijin orat arit (berantakin) mainannya. Hati langsung meleleh :D

Percayalah Kinclong Seperti Ini Hanya Bertahan Tak Lebih Dari 5 Menit :D

Saat sudah masak nasi sedikit banyak dengan asumsi porsi makan anak-anak dobel, ternyata pada lagi nggak nafsu makan. Kemudian keesokan harinya saat masak sedikit ternyata nafsu makan kakak-adik menggila, disitu terkadang saya agak kelimpungan :D

Sampai Sekarang Saya Masih Belum Menemukan Takaran Beras Yang Pas Untuk Makan Seharian

Sering bete kalo mau keluar, sebelum melangkahkan kaki keluar pintu sudah tanya "Kakak nggak pipis?", Kakak pun mantap menjawab "Nggak mam, aku nggak kebelet pipis". Eh baru juga keluar portal kompleks kakak heboh "Mamammmmm pipis mammm...". Langsung bayangin hebohnya nurunin duo bocils lagi satu-satu demi mengantar si kakak ke toilet. So, semua persiapan yang sudah di prepare beberapa jam sebelumnya biar nggak telat bubar semua.

Disaat sandal kakak mulai nggak muat. Niat hati kasih jatah sandal kakak buat beli sandal baru, apadaya si adik ikut milih dan semangat bawa sandal pilihannya ke kasir disitu saya jadi dilema 😂😂😂

Lalu saat si kakak minta nyemil, dan si adik latah ikutan ambil cemilan berbeda. Tapi belum juga dimakan setengah udah pada nggak doyan, kemudian semua cemilan langsung dihibahkan kepada emaknya, disitu saya cuman bisa mbatin "Kapan saya langsingnya?!" 😂

Paling baper itu kalo kakak beradik sakit estafet bergantian. Baru juga si kakak sembuh, tiba-tiba ganti si adik. Itu masih belum ditambah episode opname bergantian -_- Kalo sudah gitu, mau nggak mau, egois nggak egois seringnya kita malah piknik rame-rame di rumah sakit. Peta kuman? Lewat sudah...-_-


Belum lagi saat salah satu kakak-adik sedang sakit (batuk), kemudian mereka sudah tertidur pulas saya pun mulai menarik nafas lega untuk bisa selonjoran me time (mau) pegang hp lalu salah satunya batuk dan muntah (banyak) di sprei. Disitu saya hanya bisa menarik nafas dalam-dalam 😭. Mau tak mau saya harus merelakan waktu me time saya untuk sekedar memegang hp, dan berganti dengan kehebohan memindahkan kakak-adik satu persatu di tempat lain, untuk kemudian mengganti sprei baru. Beruntung sekali kalo salah satunya nggak terkena muntahan.

Paling melow, adalah saat kondisi tubuh saya tiba-tiba drop. Seperti beberapa waktu lalu saat dokter menyarankan saya untuk opname karena thypus, saya memutuskan untuk rawat jalan saja. Alasannya simple, selain tidak memungkinkan memboyong kakak adik ke rumah sakit, saya juga nggak sampai hati menitipkan kakak-adik kepada saudara atau kerabat, karena saya tau mereka akan kuwalahan jika harus menghandel kakak-adik secara bersamaan. Seperti pengalaman saya saat menjaga ibu saya yang sakit, mau tak mau saya harus menitipkan kakak-adik kepada mertua saya. Sayangnya (mungkin karena merasa kuwalahan) kakak adik jadi dihandel secara terpisah. Mau tak mau mereka jadi semakin rewel. Mungkin karena kakak maupun adik merasa rindu satu sama lain. Yeah kakak adik (kesundulan) itu mau tak mau, dan tak dipungkiri mereka sudah seperti soulmate.

Dari sekian banyak kejadian tersebut kemudian saya jadi menyadari, mungkin ini alasan Allah dulu memberi saya waktu hampir 5 tahun untuk menanti hadirnya sang buah hati. 

http://www.sundulerparents.com/2016/09/aih-jatim-komunitas-aku-ingin-hamil.html

Mungkin karena Allah tau kami akan menjadi salah satu dari sekian banyak orang tua yang beruntung menjadi orang tua kesundulan. Sehingga Allah memberi waktu kepada kami hampir 5 tahun untuk belajar arti sebuah kesabaran agar nantinya saya (terutama) lebih bisa belajar mengendalikan emosi yang mungkin bisa berbuntut menyebabkan stres. Kalo suami jangan ditanya, meski kadang sering nyebelin tapi sudah dari sononya dia termasuk orang yang berhati sabar. Walaupun demikian jangan dikira suami nggak pernah meringis, atau tarik nafas dalam-dalam saat menghadapi episode-episode diatas.

Meski heboh, rempong, dan terkadang bikin hati cedat cedut menghadapi setiap episode kakak-adik yang sering membuat kami meringis, namun semua pengalaman tersebut menjadi sebuah cerita seru tersendiri untuk kami. Meski adakalanya kami tampak mengeluh, nggerundel atau sebangsanya bukan berarti kami menyesal menjadi salah satu dari orang tua kesundulan. Sebenarnya itu semua hanya sebagian dari bentuk kami mengeluarkan emosi atau uneg-uneg dengan tujuan agar tidak meledak-ledak yang bisa berimbas mengerikan ke anak-anak.

Jangan pernah ada kata "Kasihan kakaknya, masih kecil sudah punya adik", karena mungkin kita tak pernah tau sisi positif menjadi kakak yang sudah memiliki adik di usia balitanya adalah kakak selalu mempunyai partner, soulmate, teman (bahkan adakalanya teman berantem) disetiap waktu mainnya.

Percaya tak percaya hal tersebut kami akui. Seperti cerita suami yang memiliki adik terpaut sekitar 6 tahun. Menurutnya karena perbedaan usia yang lumayan jauh membuat mereka memiliki perbedaan dalam hal usia permainan. Sehingga menurutnya dia dulu lebih sering bermain sendiri bersama teman sepermainannya ketimbang main bersama si adik.

Apalagi saya yang terpaut 10 tahun dengan adik saya. Hampir setiap harinya sebagai anak yang lebih tua tugas saya adalah mengalah. Boro-boro seru-seruan bareng, dulu mau main bareng pun jarang, karena selain perbedaan usia permainan, kita juga terlahir di jaman yang berbeda. Kalo saya lahir dan besar di jaman game nitendo dan sega, adik saya lahir dan tumbuh di jaman game playstation dan gadget. Untuk urusan film pun berbeda, saya taunya sih dulu film kartun yang bentuknya lebih manusiawi bukan spons hidup di laut seperti sponge bob :D

So tertarik menjadi kesundulan??? Nggak sih kita nggak pernah ngelarang teman-teman untuk ikut kesundulan mengingat heboh dan serunya menjadi orang tua kesundulan, tapi kita nggak mau ngomporin juga sih paling nanti kalo sudah kesundulan dan ngerumpi bareng teman-teman kesundulan kita bakal menyambut dengan sambutan meriah "Welcome to The Jungle". :D

Intinya jangan pernah lupakan bagian bahwa anak adalah amanah, sehingga jika memang berniat kesundulan terencana ada beberapa hal (persiapan) yang bisa dipertimbangkan. Agar kedepannya kita nggak perlu terlalu "takjub" menghadapi segala kehebohan dan kerempongan menjadi salah satu dari sekian banyak emak kesundulan di dunia. So, kita masih bisa melangkah sambil tersenyum lebar *ya meski kadang sambil nyukur-nyukurin diri sendiri sih ya... :D

Saat mulai lelah saya selalu mengingat perjuangan kami menanti kehadiran buah hati... Disitulah selalu terbersit rasa untuk selalu belajar mengelolah emosi kami kepada anak-anak...

12 comments:

  1. Mengelola emosi... Ini dia mba. Jarak anak2ku 3 tahun.. Ngerasain pas lagi mau makan si adek bobo terus kakaknya mau pup berisik dan adek jadi bangung. Makan kita jadi ke skip haha... Nikmat :)

    ReplyDelete
  2. HAhahaha aku pun seperti itu Mba, tapi mikir rumah berantakan, anak nangkel kayak koala, ngga bisa me time itu akan berlalu, dan setelah nunggu 5thn (aku pun nunggunya 5thn) ya harus dinikmatin tiap detiknya saat2 spt ini. Tadinya aku cukup sama 1 anak, tapi kok ya sekarang Raya minta adek.... Oh no hahahahah... XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha kasih mbaaaakkk...berarti bener ya mending capeknya sekalian :D

      Delete
  3. Semangat mba vety, memang kehidupan ini ladang terus belajar yaa, saya juga blm berhasil menemukan takaran beras yg pas meski masih berdua. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya takaran beras ini yang suka bikin baper

      Delete
  4. Hahaha serasa ngaca baca ini
    Emang seru ya jadi emak

    ReplyDelete
  5. Seruuuunyaaa.... Ah aku ingin hamil kayak grup di fb mbak vety...

    ReplyDelete
  6. Punya satu balita ajah rempong, kebayang kalo punya 2 balitaaa,,, rempng kuadratlah pokoke

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak pake dibayangin langsung dijalankan aja mbak...hihihi

      Delete