Monday, November 14, 2016

Surat untuk ibu yang telah melahirkan suamiku (part-1)

Assalamualaikum bu...
Bagaimana kabarnya? Semoga ibu baik dan sehat selalu ya...Kami disini selalu mendoakan kesehatan dan kebahagiaan ibu.



Bu, kami minta maaf kalo akhir-akhir ini jarang main ke rumah ibu, sekalinya main kami cuman mampir sebentar sekali. Ibu pasti sedih sekali mendapati hal tersebut.

Sebenarnya ada banyak alasan dari kami bu, yang mungkin saat kami utarakan ibu sedang tidak fokus mendengar penjelasan kami, sehingga ibu terkadang lupa dan saat ada tetangga atau sanak saudara bertanya ibu hanya melemparkan jawaban "Mbuh, saiki jarang muleh, mulehe paling sak ulan pisan" (Nggak tau, sekarang jarang pulang, pulangnya paling sebulan sekali).

Bagi ibu mungkin itu jawaban sepele, tapi bagi tetangga atau kerabat yang tak mengerti pasti kami dianggap mulai melupakan ibu. Berkali-kali saya mendapat nasehat dari kerabat memaksa saya untuk tinggal menemani ibu saja, suami biar di Surabaya sendiri karena suami sudah dewasa pasti bisa ngurus diri sendiri.

Bu, jujur saya sedih setiap mendapat nasehat seperti itu. Kenapa saya sedih? ibu pasti tau, saya juga masih punya ibu (yang melahirkan saya) yang hidup sendiri. Saya rela memilih menemani suami yang tak lain tak bukan adalah anak ibu dan meninggalkan ibu saya sendiri demi bakti pada ibu yang telah melahirkan saya. Iya konon nasehat dari ibu saya, katanya ibu saya akan mendapat pahala surga jika saya berbakti kepada suami.

Namun jika saya pergi meninggalkan anak ibu untuk menemani ibu apa adil untuk hati saya yang terkadang sering mengkhawatirkan ibu saya dirumah sendiri. Sedangkan ibu masih ada adik (ip) yang menemani di rumah.

Lalu ada nasehat lain yang berkata, ya udah anaknya ditaruh satu saja disini nemenin eyangnya.

Ibu mendapat nasehat tersebut saya juga makin sedih. Sejak awal lahir saya berusaha untuk tidak memisahkan kakak maupun adik, alasannya agar mereka memiliki rasa persaudaraan yang kuat satu sama lain. Melihat banyak cerita saudara yang menjadi rival nantinya saat dewasa karena merasa diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya membuat kami memutuskan tidak ingin memisahkan mereka.

Selain itu kami lihat ibu juga masih aktif bekerja, sehingga semakin berat rasanya kami meninggalkan anak-anak kami terpisah jauh dari kami hanya untuk diasuh orang lain ketika ibu bekerja. Padahal saya memilih karir dirumah demi bisa memantau tumbuh kembang anak-anak kami langsung di era yang sungguh mengkhawatirkan ini.

Jadi kalo begitu kenapa kami lebih sering menyempatkan pulang sebulan sekali ketimbang seminggu sekali?

Maaf bu, kami bukan anak dan mantu yang durhaka. Kami juga bukan anak dan mantu yang sengaja melupakan ibu. Saya masih ingat seorang sahabat suami yang bercerita kepada saya, sejak menikah, kakaknya berubah lebih condong kepada istri dan keluarganya, sehingga jarang pulang ke rumah. Saya juga tak ingin seperti mereka bu.

Namun, adakalanya ketika kami sudah mempersiapkan rencana akan pulang ke rumah, tiba-tiba kami mendapat kabar anak ibu ada kerjaan di kantornya yang harus diselesaikan dengan segera. Sehingga tas yang sudah saya siapkan isi baju ganti kami untuk main ke rumah ibu saya biarkan tergeletak nangkring di bagasi.

Terkadang kerjaan beres, tiba-tiba anak-anak sakit bergantian. Sehingga mau tak mau kami memutuskan sementara istirahat dirumah saja. Dulu setiap anak sakit kami selalu mengabarkan kepada ibu, sebenernya bertujuan agar ibu tau alasan kami tidak bisa pulang sementara waktu.

Namun, semakin kesini kami merasa tiap kabar yang kami sampaikan sepertinya disalah artikan oleh ibu. Yang bagi kami hanya ingin menyampaikan agar ibu tau kondisi kami, ternyata mungkin bagi ibu kami seperti minta bantuan untuk menjaga anak-anak. Selain itu ibu jadi kuatir nggak karuan. Ujung-ujungnya kami jadi sering kena nasehat ibu jangan nambah anak dulu, nanti kalo anak-anak sakit bingung sendiri.

Belum lagi, mungkin ibu lupa beberapa waktu lalu saat kami mengabarkan akan main ke rumah ibu ternyata ibu sudah menyampaikan terlebih dahulu akan tidak ada dirumah beberapa waktu karena sedang mengikuti wisata religi dengan tetangga. Disitu akhirnya kami membatalkan rencana pulang.

Lalu kenapa setiap pulang, kami hanya menyempatkan waktu sebentar saja?

Disini saya mohon maaf yang sebesar-besarnya bu, karena kami baru bisa pulang sabtu siang, dan harus kembali di minggu pagi/siang. Alasannya karena sabtu pagi saya harus ikut senam bu.

Saya ikut senam juga sudah melewati berbagai pertimbangan dan sudah mendapat ijin dari anak ibu tercinta. Ibu pasti akan bilang "Halah lapo sih diet-dietan, masio lemu lak yo wes" (Halah, ngapain pake diet [ikut senam segala], meskipun gemuk kan nggak masalah).

Mungkin untuk sebagian orang memandang saya ikut senam itu lebay bin alay sok jadi kayak ibu-ibu iyes. Tapi bu saya cuman pengen sehat. Saya ingin menua dan sehat bersama suami.

Pasti akan ada komen, masio lemu kan sing penting sehat (Meski gemuk kan yang penting sehat). Memang ada sebagian orang yang beranggapan demikian, namun sudah lama saya menyadari resiko kesehatan karena timbunan lemak di badan saya. Mungkin saya lupa belum pernah cerita, kalo dulu saya sempat didiagnosa mengalami perlemakan hati karena kegemukan, sehingga dokter menyarankan saya untuk berdiet.

Dulu saya sudah berhasil diet, perlemakan hatipun sudah lenyap. Tapi dengan kenaikan BB sekarang yang amazing mau tak mau saya harus waspada. Selain itu dengan riwayat ayah saya yang pernah terkena serangan jantung membuat saya harus sadar diri bahwa gemuk tidak sehat untuk saya. Sehingga saya memutuskan harus rutin berolah raga minimal 1x seminggu *itupun sebenarnya masih terasa kurang bagi saya lo bu. Tapi mau bagaimana lagi  jadwal senam yang singkron dengan jadwal suami lengang agar bisa menemani anak-anak cuma hari sabtu pagi saja.

Ah itu kan alasanmu saja, suruh siapa nggak pake asistern rumah tangga? Waduh soal asisten rumah tangga yang selalu ibu paksa anak ibu untuk mencarikannya buat saya nanti ya bu kapan-kapan saya jelaskan lagi kenapa kami memutuskan sementara maunya tanpa asisten dulu. (Mungkin di surat selanjutnya ya).

Selain itu alasan saya ingin diet sebenernya karna saya sempat baper dengan obrolan ibu bersama beberapa tetangga tempo hari yang sering membahas saya persis seperti Melati (bukan nama sebenarnya) tetangga ibu itu. Ya saya baper aja bu, secara saya sering mendengar gosip Melati belum nikah karena bodinya yang bongsor (alias gemuk) itu.

Disamain sih sah-sah saja ya bu, apalagi kalo memang muka dan perawakan saya persis kayak melati, jadi saya ya nggak boleh protes dong ya. Kalo kata ibu saya, ya udah terima nasib aja nggak boleh marah kalo memang sama persis. Tapi kadang saya jadi baper lo bu, kalo memang saya persis sama Melati kenapa anak ibu dulu nggak dinikahkan sama Melati saja, ketimbang musti nyari jodoh dari kota tetangga.

Mungkin kalo ibu bilangnya saya kayak tamara blezenski saya nggak bakal usaha mati-matian diet deh bu. Ah tapi saya tau kalo ada yang bilang saya seperti tamara blezenski berarti itu fitnah. Fitnah itu lebih kejam daripada tidak memfitnah kan ya bu.

Jadi mohon ibu memahami kondisi kami yang baru bisa pulang sabtu siang. Lalu kenapa kami harus buru-buru kembali di minggu pagi atau siang.

Sekali lagi saya mohon maaf bu kalo terkadang di minggu pagi kami sudah harus heboh balik (sebenarnya setiap sabtu pagi pun suasana rumah kami juga selalu heboh lo bu buat buru-buru bisa segera main kerumah ibu agar tidak terlalu siang).

Seperti yang kami sampaikan sebelum-sebelumnya, sebelum kembali kekota kami, terkadang kami ingin mampir kerumah ibu saya yang kebetulan sejalan. Ya bu namanya anak, mana sih bu yang nggak kangen dan kuatir sama ibunya. Iya bu saya menyadari sekali kalo tanggung jawab saya setelah menikah adalah kepada anak ibu yang artinya seharusnya ibu (mertua) lebih saya nomer satukan daripada ibu saya sendiri. Ibu saya juga sering menasehati seperti itu kepada saya kok bu.

Trus suami gimana? Entah iya atau tidak, nanti atau kapan-kapan pasti akan ada beberapa statement suudzon dari beberapa orang yang mengira saya yang nggak ngebolehin suami main ke rumah ibu. Boro-boro main, telpon aja jarang.

Ibu saya selalu berusaha mengingatkan suami agar sering-sering menghubungi ibu. Saat suami harus ada pekerjaan keluar kota saya selalu mengingatkannya untuk meminta ijin kepada ibu terlebih dahulu. Tapi mohon dimaafkan jika mungkin adakalanya suami lupa tidak segera menghubungi ibu. Suami sendiri juga terkadang sering lupa hubungin saya lo bu seharian karna kesibukannya. Saya udah sering protes tapi ya cuman berjalan beberapa minggu aja, setelahnya sering lupa lagi *sedih ya bu...

Saya sendiri sedang berusaha memaklumi bahwa kesibukan suami juga demi masa depan dan bentuk rasa sayangnya kepada kami...*Ya meskipun kadang suka bikin saya bete bin nyeseg sih bu...

Walau demikian saya berterimakasih kepada ibu karena sudah mengandung dan melahirkan serta menjadikan anak lelaki ibu yang hobi ngorok semena-mena dimana-mana ini menjadi suami yang bertanggung jawab kepada keluarga. Insya Allah setia juga kan ya bu :D

Bu, sudah dulu ya surat dari saya...Ini anak-anak sudah bangun, minta makan. Insya Allah kapan-kapan saya sambung lagi suratnya. Selanjutnya mungkin saya mau curcol sama ibu lebih dalam kalo saya sering baper waktu ibu menyamakan saya dengan Melati. Sehat terus ya Bu...

Wassalam,

Vety Fakhrudin

***Begini mungkin kira-kira isi tulisannya kalo saya disuruh nulis surat untuk ibu mertua. Adakalanya saya melow, adakalanya baper...Seru sih sebenarnya ya kalo misal surat menyurat masih trend. Meski demikian saya masih maju mundur kalo harus kirim surat ini langsung ke ibu mertua, karena inget dulu pernah kirim surat ke suami (pas masih belum nikah sih), sayangnya suratnya nggak langsung sampai ke tangan suami. Harus melewati beberapa tahap sampe kekepala desa nya, hingga akhirnya dia cerita malah nemuin surat saya nggeletak di lantai sudah nggak karuan bentuknya *ya...mungkin abis kena sortiran banyak orang kepo yang kecewa nggak nemu sesuatu yang istimewa didalam tulisan surat "cinta" saya...hehehe...

Ya sudahlah daripada suratnya nggak nyampe, mending suratnya nangkring disini saja dulu :D

Ini mau publish juga maju mundur sih ya... >,<
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

#PUBLISH
#ENTER
#DONE

8 comments:

  1. Selalu saja pandangan org, pendapat org, asumsi org, nggak pernah tahu apa yg sebenernya terjadi di dapur rumah tangga kita yaaa, hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak...nah yang dikuatirkan itu kan kalo misal beliau ini jadi kekompor omongan orang *jadi semacam perlu klarifikasi...hehehe

      Delete
  2. Aku mengerti perasaanmu, Mbak. #Cieeee
    Rasanya pengen juga jelasin seperti itu ke mertua. Apalagi rumah mertuaku juga jauh. Minim liburan pula.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga mertua kita mengerti keadaan kita ya mbak. Amin

      Delete
  3. mba Vety bisa romantis banget gini ya ,,uhuyy
    katanya sih, mama/mertua itu makin sepuh makin sensi, jadi sing enom ngalah ae wis..

    ikut lomba diet lagi kah mbak?

    ReplyDelete
  4. Selesai baca sampe habis aku loh mba.. Wuihh, panjaang :D lega kali rasanya ya walopun nulis di blog aja hihi. Makasi remindernya utk jaga kesehatan demi menua bersama, bikin mellow. Rumah aq dan mertua deket mba,cuma jarak 1 per-4an aja. Ke rumah ibu yang jauh,dan jadinya jarang kesana :( Alhamdulillah ibuku pun ngertiin.tapi bikin aq nya sering baper juga

    ReplyDelete
  5. btw mbak, meskipun aku bukan seorang mantu dari seorang mertua hahah (intine aku urung nikah), aku ngerti perasaan mbak soalnya ibuku dan salah satu sodaraku persis ada di posisi mbak sekarng. Emang serba salah, apalagi udah ada pihak2 ketiga yang ikut ngrecoki urusan ini.

    salam kenal,
    http://www.fujichan.net/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah yang nggak enak itu kan pihak ketiganya tadi

      Delete