Saturday, December 17, 2016

Egoiskah Menitipkan Anak Kepada Suami Karena Kesibukan Istri?

Dulu sebelum memiliki anak bahkan saat anak pertama saya lahir, suami dan saya sepakat tidak akan menghadiri acara yang melarang kami membawa anak. Alasannya kami beranggapan jika acara tersebut melarang membawa anak, artinya si panitia tidak baby friendly.

Bahkan demi komitmen tersebut kami pernah menolak tawaran potongan 50% menginap di sebuah hotel mewah di Bali, karena terdapat syarat kami berdua harus mengikuti semacam tour hotel dimana kami tidak boleh membawa anak kami ikut.

Tapi kemudian kami melihat beberapa pengumuman seminar parenting yang mensyaratkan tidak boleh membawa anak. Disitu saya agak merasa aneh sebenarnya, bagaimana mungkin sebuah seminar parenting yang harusnya baby friendly malah melarang orang tua membawa anaknya.

Ternyata rasa penasaran saya terjawab dari beberapa teman yang pernah mengikuti seminar tersebut. Menurut beberapa teman selain agar fokus mengikuti seminar, memang terkadang ada semacam video atau gambar pendukung penjelasan seminar yang ditampilkan dan kurang pantas jika dilihat oleh usia dibawah umur.

Seiring dengan waktu kami pun berproses, hingga akhirnya suami mensupport pilihan saya menjadi blogger.

Saat mendapat undangan pertama kalinya, ternyata oleh panitia saya disarankan untuk tidak membawa anak ke lokasi undangan. Mak jleb banget sebenernya ini, karena selama ini saya belum pernah meninggalkan anak-anak saya untuk datang ke sebuah acara.

Namun berbeda dengan suami yang justru mendorong saya untuk hadir ke acara tersebut dan meminta saya mempercayakan kedua anak kami dibawah pengawasannya selama saya mengikuti acara. Alasannya saat itu simpel agar saya bisa lebih fokus mengikuti acara.

Tapi ternyata saya baru menyadari ada banyak alasan tersimpan yang tidak diberi tahukan langsung oleh suami kepada saya.

Salah satunya dengan memberikan saya waktu untuk mengikuti undangan tanpa membawa anak, suami saya memberikan waktu "me time" kepada saya yang lebih berharga dan bermanfaat ketimbang saya me time keluyuran nggak jelas.

Manfaat yang saya rasakan saat itu yaitu sepulang dari acara aura saya seperti cerah ceria. Selain itu ada semacam rasa rindu yang menggebu untuk bertemu dengan anak-anak layaknya seorang kekasih yang merindukan pacarnya karena sudah berminggu-minggu tak bertemu.

Sehingga saya yang biasanya merasa pikiran ruwet dan sering ngomel karena merasa bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja menjadi lebih bersemangat menghadapi hari esok.

Manfaat itu tentunya tidak hanya berefek positif kepada saya saja tetapi juga kepada suami dan anak-anak.

Meski demikian saya selalu berusaha memilih-milih waktu yang sesuai untuk menghadiri sebuah acara. Saya selalu berusaha memilih waktu yang tidak mengganggu jam kerja utama suami saya.

Beberapa kali saya pernah menolak undangan blogger meskipun dengan iming-iming fee yang lumayan memikat hati (terutama ditanggal tua). Alasannya jadwalnya tidak pas. Apalah artinya fee besar kalo nasib anak-anak jadi tidak terhandle apalagi sampai mengganggu jam kerja wajib suami saya.

Sebaliknya saya bersedia hadir di beberapa undangan blogger sekalipun mungkin tanpa fee yang besar, asal saya melihat benefit dari segi lain yang lebih bermanfaat untuk saya. Benefit yang saya maksud adalah ILMU.

Yap, dari dulu saya termasuk orang yang tergila-gila untuk selalu belajar, karena mengikuti prinsip almarhum ayah saya yang selalu mengatakan ILMU adalah INVESTASI yang paling berharga di dunia.

Ilmu disini tidak harus berupa seminar parenting, bisa berupa apa saja, termasuk bertemu dengan teman-teman blogger lainnya. Dengan bertemu dengan banyak blogger saya bisa belajar lebih banyak dari mereka apa-apa saja yang harus dan boleh saya lakukan sebagai seorang blogger, dan apa-apa saja yang sebaiknya saya hindari.

Saya sendiri memilih menjadi blogger salah satunya juga demi menambah wawasan, sebagai sarana aktualisasi diri agar saya tidak merasa menjadi manusia yang terlahir useless, serta untuk memperluas sosialisasi. Jadi fee, goodie bag, apalagi nasi kotak maupun doorprize dan hadiah memenangkan lomba saya anggap merupakan bonus tambahan dari hobi saya menulis.

Noted so far belum pernah menang lomba sih ya, baru give away aja...huahahaha...Nggak papa sih seperti nasehat suami saya justru itu sebagai penyemangat saya untuk terus belajar lebih baik lagi.

Seperti ilmu yang saya dapat dari sharing saya dengan mbak grace meilia yang saya tulis di artikel saya berjudul "Berguru Blog Dari Mami Gesi ((Jangan Lupa List To Do nya ya Vety!))", saya pun ingin menjadikan blog ini sebagai "sekolah" tempat saya meng-upgrade ilmu dan wawasan.

Sebagai catatan, setiap apa yang saya tulis di blog ini selalu saya sharingkan juga kepada suami saya selaku penasehat saya. Sehingga setiap artikel yang saya tulis setidaknya harus bisa saya pertanggung jawabkan. Jika pun sampai ada artikel yang dirasa beberapa pihak harus dihapus maka akan saya arahkan untuk menghubungi suami selaku penasehat blog saya.

Seperti artikel saya berjudul "Undangan Mom & Baby Community, Trinity Sebagai Bintang Tamu? Seriously?!" yang sempat dipertanyakan oleh beberapa teman apa tidak perlu dihapus? Setelah saya diskusikan dengan suami, dia berkesimpulan tidak pelu karena artikel itu hanya berisi runutan pengalaman saya pada tanggal 15 Desember 2016.

Kalopun nantinya ada pihak-pihak yang merasa dan memaksa saya harus menghapus artikel tersebut maka suami saya dengan senang hati bersedia untuk berdiskusi untuk menanyakan poin dimanakah yang membuat pihak tersebut keberatan.

Kenapa sih ngeyel amat nggak mau hapus? Kalo kata suami tulisan saya termasuk karya yang setidaknya harus bisa saya hargai sendiri, dimana saya harus berkorban waktu dan pikiran untuk menuangkan tulisan saya agar layak di publish. Sehingga nggak fair rasanya setelah publish harus dihapus (Nggak sebanding sama melekannya sampe bikin saya flu berat, trus usaha nidurin 2 anak balita, dan ngebiarin suami tidur sendiri sementara saya mantengin laptop buat ngetik...huahahaha...).

Nanti kalopun suatu saat artikel saya tersebut ngilang dari peredaran berarti sudah atas persetujuan suami saya juga. Halah...kayak artikel sok hiyesss aja padahal lo cuman ecek-ecek. Jadi saran saya link artikel diatas (yang berjudul Undangan bla bla bla bla ..) mending nggak usah di klik ya!!! ketimbang ngabis-ngabisin kuota ternyata isinya jauh dari ekspektasi... >_<

Selain itu saat mengikuti lomba blog, menerima Job Review atau bahkan menerima undangan (blogger) termasuk mengikuti seminar-seminar lainnya tentunya selalu saya konsultasikan terlebih dahulu kepada suami saya.

So jadi kembali lagi jika ada yang menganggap seorang blogger (family) menitipkan anak kepada suami demi sebuah goodiebag apalagi nasi kotak itu SALAH BESAR!!!

Prinsip tiap orang dan keluarga berbeda sih ya, saya pun tetap menghargai teman-teman yang lebih memilih membawa anak untuk datang disebuah acara ataupun memilih tidak datang jika tidak diperbolehkan membawa anak. Saya yakin pasti ada alasan mendasar bagi mereka yang tentunya pilihan terbaik bagi keluarga mereka.

Kita pun tidak bisa memaksakan prinsip kita harus sama dengan orang lain, karena tentunya sikon keluarga kita pun berbeda.

Sebagai tambahan, anak saya yang ke dua sampai saat ini masih ASI tanpa tambahan susu formula, sehingga saat menghadiri acara yang menyarankan untuk tidak membawa balita saya, saya selalu menghitung durasi (termasuk durasi molor acara) yang kira-kira dibutuhkan hingga akhirnya saya bisa kembali ke rumah untuk menyusui anak saya.

Oh ya, sekalipun jika sebuah acara memperbolehkan membawa satu anak saja, biasanya saya lebih memilih tidak datang karena ada beberapa metode parenting kami (sementara ini) dimana jika ingin membawa anak ke acara maka saya pilih bawa dua-duanya atau tidak sama sekali.

Alasannya suami dan saya tidak ingin ada rasa cemburu antara saudara. Kami berusaha untuk meminimalisir timbulnya perasaan sibling rivalry diantara keduanya.

Apa tidak bisa dititipkan ke neneknya atau mertua atau orang yang dipercaya lainnya? Selain mertua dan nenek berada di beda kota, sementara ini, so far saya lihat, baru suami saya (selain saya tentunya) yang sanggup menghandle kakak-adik sekaligus dalam waktu bersamaan. (Noted) Sanggup disini juga bukan berarti kami tidak terlepas dari kehebohan ngomel selama menghandel kakak-adik berdua ya.

Sebenarnya pernah saya mencoba untuk menitipkan kakak-adik kepada mertua yang ternyata (mungkin) karena tidak sanggup menghandel keduanya sekaligus beliau justru memisah kakak-adik. Sehingga menimbulkan efek nelangsa diantara keduanya dan berakhir rewel barengan yang akhirnya justru membuat beliau dan saudara yang membantu menghandel kakak-adik kelimpungan.

Yap, sejauh ini meski terkadang ada kehebohan kecil saat bersama, saya lihat justru kehadiran mereka bersama saling mengisi dan melengkapi. Jadi bisa dibilang justru meminimalisir kerewelan karena perhatian mereka teralihkan dengan keseruan berdua.

Trus kalo misal diundang nih, dan diperbolehkan bawa dua balita gimana? Yakin anaknya nggak rewel apalagi mengganggu acara?

Ehmmm...jujur sih saya nggak yakin...karena belum pernah nyoba...huahahahaha...Tapi setidaknya jika melihat keseharian kakak-adik seharusnya resiko rewel akan semakin kecil saat mereka bermain bersama. Mentok paling ujung-ujungnya cuman rebutan maenan, yang kalo emaknya sudah jadi "macan" mereka bakal langsung akur lagi :D

Nanti deh ya kalo semisal ada undangan boleh bawa 2 anak, insya Allah saya coba berani hadir. Tapi kalo bisa sepaket deh ya boleh ngajak suami (hihihi...tetep nawar).

Tambahan lainnya, dengan menitipkan anak-anak kepada suami setidaknya bisa semakin memperkuat hubungan ayah dan anak-anak.

Jadi "Egoiskah Menitipkan Anak Kepada Suami Karena Kesibukan Istri?" <- saya rasa semua keluarga punya jawaban dan alasan masing-masing untuk pertanyaan ini ;)

3 comments:

  1. Tergantung yang memandang juga. Kalau seperti ini, orang lain yang pro dan kontra. Saya juga mengalaminya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dan jujur terkadang itu bikin lelah...cuman ya mau dijelasin kayak apa nggak bakal paham kalo nggak ngalamin sendiri :D

      Delete
  2. jujurnya ya mbak, aku srg ngelakuin ini... aku hobi banget traveling daridulu sebelum nikah.. itu udh kayak kebutuhan hidup buatku, dan suami tau.. karena itu kdg kalo aku lg pgn traveling dengan teman, suami slalu ksh izin dan anak2 dia yg handle.. so far paling lama aku ninggalin mereka seminggu.. Kalo utk ninggalin salah 1, aku jg pernah.. malah feb nanti si adek yg bakal ditinggal 2 minggu , krn aku suami dan anak pertama mau ke Jepang.. si adek kita percayakn dengan babysitternya yg udh lama ikut keluarga dan udh kami percaya 100%.. kenapa si adek g ikut, krn saat kita pergi itu peaknya winter, dan aku blm tau apa anak 10 bulan bisa kuat menahan dinginnya ..

    jd buatku ninggalin anak dengan suami ato org yg kita percaya ga ada salahnya sih.. buat org lain mungkin egois,tapi buatku itu suatu yg wajar.. sebagai ibu yg kerja kantoran aku jg butuh me time , dalam hal ini traveling dengan anak dan suami ato hanya sendiri.. penting banget utk ngerefresh pikiran ku yg jenuh ama target kantor.. Dan kayak kata mbak di atas, ini bisa membuatku lbh ceria, lbh sabar menghandle anak saat pulang dr liburan :).

    ReplyDelete