Wednesday, December 28, 2016

Kenapa Adik Belum Bisa Bicara???

Memiliki dua anak dengan usia berdekatan ternyata terkadang membuat orang sekitar suka membanding-bandingkan tumbuh kembang mereka. Hal ini tentunya cukup membuat saya yang awalnya cuek jadi sedikit pusing dibuatnya. Salah satunya yang paling membuat saya panik yaitu kemampuan bicara adik. Dimana ketika menjelang usia 18 bulan adik baru bisa menyebut 3-5 kosakata saja. Seingat saya saat si kakak menjelang 18 bulan sudah banyak kosakata yang bisa di ucapkan oleh nya. Saya ingat sekali, saat usia kakak 18 bulan, si adik sudah lahir sehingga saya tidak perlu kesusahan berkomunikasi dengannya jika menginginkan sesuatu.


Saya pun sempat berkonsultasi dengan beberapa teman dan dokter spesialis anak langganan kami dimana mereka semua menjawab bawah tumbuh kembang tiap anak berbeda, sehingga saya tidak perlu panik memikirkannya.

Meski demikian mau tak mau masih ada rasa tidak puas dihati saya bagaimana mungkin dua anak yang benar-benar saya asuh sendiri bersama suami bisa memiliki perbedaan tumbuh kembang. Saya pun sempat berdiskusi dengan suami dan sepakat jika kosakata adik tidak bertambah juga hingga usia si adik menginjak 2 tahun, maka saya ingin membawa adik berkonsultasi entah ke dokter spesialis tumbuh kembang anak atau ke psikolog anak. Suami pun menyetujui permintaan saya.

Lalu suatu ketika tanpa sengaja saya disadarkan oleh seorang teman blogger bernama anisa ae (pemilik blog www.babyae.com) ketika pertama kali bertemu dengannya di acara GIIAS Pertamina 2016 Surabaya. Saat itu kami sedang berada di mushola salah satu mall di Surabaya akan menjalankan shalat sembari menunggu acara di mulai.

Mbak anisa ketika itu tiba-tiba mengajak ngobrol bayinya yang kalo tidak salah masih berusia 4 bulan. Saya pun langsung hampir dibuatnya menangis karena menyadari kebodohan saya selama ini. Iya saya tersadar ada perbedaan ketika saya mendampingi si kakak bayi tumbuh dengan adik bayi. Salah satu perbedaan mencolok yang saya ingat adalah mulai usia new born hampir setiap hari saya sudah mengajak kakak berbicara. Sedangkan saat adik lahir perhatian saya sedikit terbagi dengan keberadaan kakak, dimana saya berusaha selalu memperhatikannya agar dia tidak merasa cemburu dengan kehadiran adik. Sehingga rutinitas ngobrol dengan si adik bisa dibilang jarang saya lakukan.

Tak sampai disitu saat saya mengantar kakak periksa ke dokter mata karena ada benjolan di kelopak mata kakak, dimana saya saat itu tidak tahu apakah itu kalazion atau hordeolum, sang dokter justru sempat menanyakan terkait usia si adik dan kemampuan kosa-kata nya. Mungkin karena si dokter melihat si adik ini sudah aktif jalan kesana kemari, tapi jarang terdengar kosakata keluar dari mulutnya. Saya pun tanpa sengaja malah curcol ke dokter mata tersebut, kalo sampai saat itu (usia adik menjelang 18 bulan) belum banyak kosakata yang bisa diucapkan olehnya.
Ternyata saya mendapat respon masukan dari sang dokter mata tersebut. Dimana menurut ceritanya, dulu anaknya saat usia 3 tahun juga belum bisa bicara, sehingga sang dokter berinisiatif untuk melatihnya sendiri. Setiap sebelum berangkat kerja menurutnya dia akan mengulang-ngulang beberapa kata didepan anaknya untuk ditirukan anaknya selama kurang lebih 30 menit. Menurutnya tidak harus bisa langsung diikuti di awal, namun yang perlu digaris bawahi adalah fokus pandangan mata kita dan mata anak kita. Saya disarankan untuk menatap mata anak saya (si adik) saat saya melatihnya mengucapkan kosakata, sembari mengarahkan juga agar adik membaca gerak mulut saya.

Tatap Mata Saya dan Tirukan Ucapan Saya...(Sempat di Gundul Siapa Tau Kesaktiannya tiba-tiba muncul langsung bisa ngomong cas cis cus)
Selain itu, saya mendapat teguran dari ibu dan mertua yang menebak apa kemungkinan kemampuan adik berbicara disebabkan karena kebiasaannya melihat film anak berbahasa inggris. Kebetulan memang si kakak antusias sekali dengan tayangan berbahasa Inggris, sehingga berkali-kali kakak meminta untuk di-setel-kan film berbahasa Inggris saja.

Hal tersebut pun sempat disampaikan oleh beberapa teman saya, yang memberikan saran sebaiknya untuk usia balita lebih diutamakan pengenalan terhadap bahasa ibu terlebih dahulu. Senada dengan komentar ibu saya sih ya sebenarnya "Jangan-jangan si adik ini belum bisa ngomong karena bingung sama bahasa yang harus diikuti?!".

Akhirnya dari banyak sharing tersebut dan berbagai pertimbangan, saya dan suami sepakat untuk mencoba melatih adik terlebih dahulu sebelum memutuskan akan membawa ke dokter tumbuh kembang anak di usia 2 tahun. Seperti sharing yang saya dapat dari sebuah seminar parenting bertema siap cerdaskan anak bangsa. Disana dokter wawan selaku tumbuh kembang anak menyampaikan bahwa selama anak berusia dibawah 6 tahun orang tua tidak perlu cemas jika dirasa masih ada yang tertinggal

Beberapa hal yang saya coba lakukan diantaranya
  • Mengurangi frekuensi tontonan anak berbahasa Inggris
  • Mengganti lagu anak-anak berbahasa Inggris dengan berbahasa Indonesia
  • Mulai mengajak adik berbicara setiap waktu
  • Rutin "memancing" adik mengucapkan beberapa kata setidaknya 30 menit perhari
  • Mencoba melibatkan kakak untuk mengajak adik berbicara
  • Mengajak kakak bernyanyi bersama ketika saya sedang mengemudi di jalan, sehingga membuat adik tertarik untuk bubling mengikuti irama kami.

Kenapa saya mencoba melibatkan kakak untuk mengajak adik berbicara?
Alasannya karena selama ini saya lihat adik lebih tertarik meniru apa saja yang dilakukan oleh sang kakak. Sebenarnya ini juga terinspirasi dari ibu saya yang beberapa kali saat bertemu kami, mencoba memancing adik untuk bisa mengucapkan beberapa huruf dengan lebih dulu meminta kakak mengucapkannya. Awalnya ibu saya hanya memancing kakak untuk mengucapkan a-a-a-a-a lalu berubah menjadi o-o-o-o-o dilanjut e-e-e-e-e  kemudian u-u-u-u-u dan i-i-i-i-i dimana adik diminta untuk ikut menirukan juga. Sebenarnya itu tak lebih dari usaha agar adik mau menggerakkan mulutnya. Ya ibarat kata pemanasan dulu kali ya...

Alhamdulillah meski awalnya seperti tidak ada perubahan, namun sedikit demi sedikit adik akhirnya mulai mau mengeluarkan kosakatanya. Meski masih ada beberapa kosakata yang tidak terucap jelas tetapi jumlah kata yang bisa diucapkan oleh adik sudah mulai bertambah.

Yei Adik Akhirnya Bisa Menirukan Beberapa Kata

Sebenarnya ada satu cerita yang membuat saya geli, yaitu seperti pengalaman sang kakak dimana bubling awalnya adalah "yayayayaya", maka saya mengarahkan kakak untuk mengucapkan yayah (ayah). Pikir saya itu kalimat yang paling mudah diucapkan oleh bayi yang baru mulai belajar bicara. Ternyata beberapa kali saya ajarkan ke adiknya untuk ikut mengucapkan yayayayaya untuk "yayah", eh si adik justru mengeluarkan bubling "papapapapa". Lama-lama saya menyadari ternyata memang si adik maunya manggil "Papa". Hal ini saya perjelas lagi ketika saya mencoba memancing pertanyaan "Mana Papa?", ternyata si adik langsung menunjuk yayahnya. Huahahahaha...Padahal suami saya sejak awal sudah wanti-wanti nggak mau dipanggil papa, katanya kurang "njawani". Tapi ya apa daya si adik maunya dan bisanya malah Papap, jadi terima nasib aja ya pa... 😅😎

16 comments:

  1. Ah, banyak cerita ya soal si kecil. Ini Michan udah ngoceh tapi belum bisa duduk di usia 8 bulan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti mirip kayak si kakak mbak, dulu ingetku juga pas 7 bulanan belum duduk tegak. Yang penting distimulasi terus mbak

      Delete
  2. Mba Vety makasih banyak ya tipsnya.. Aku pun jg lagi mengalami hal yg sama mba.. Anak keduaku jg mau 18 bulan mba dan kosakatanya jg sedikit sekali, inget banget pas kakaknya umur segitu udah banyaaak bgt.. Tapi memang gak bisa disamakan.. Stimulasi penting bgt ya mba..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak kunciny sebenarnya di stimulasinya ya...kebetulan anak ke 2 aku baru sadar kalo kurang stimulasi

      Delete
  3. Keponakanku juga termasuk telat bia ngomong. Meski belum jelas apa yang ia omongin,sekarang cukup cerewet sekali kalau diajak ngobrol. Salah satu kosa kata yang lancar diucapkannya adalah bau, dengan mulutnya yang monyong. Lucu deh hahaha... Jadi emang anak bayi harus banyak diajak ngobrol dengan bahasa ibu ya? Oke deh, noted kalau nanti aku punya anak hehe :)

    ReplyDelete
  4. anakku juga agak telat ngomong..udah ngerti tapi masih cadel juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pelan2 mbak insya Allah nanti lama2 nggak cadel

      Delete
  5. Sama satu lagi Mbak, sering dibisikin di telinga kanannya. Dulu pas wawancara narsum untuk liputan, saya dikasih tahu itu. Bisa dengan pujian atau kata-kata positif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iya mbak, makasih tambahan sarannya...bermanfaat sekali

      Delete
  6. Makasiih sharingnyaa mbak vety. . Jd tambah ilmu untuk brkal nanti kalau sudah punya baby. Hehehe 😁

    ReplyDelete
  7. Udah di tes pendengaran blm bun? Anak saya 20 bln jg blm bs mengeluarkan kata, pdhl 2 kakanya sebelumnya cerewet bgt. Akhirnya dokternya menyarankan tes bera, anak saya positif tuna rungu. Skrg anak sy memakai alat bantu dengar untuk menyelamatkan verbalnya. Semoga anak mba makin pinter selalu yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum sampai tes pendengaran bun, karena si adik pas dikasih instruksi manut. Tapi memang dia dulu kayak yang pelit suara

      Delete
  8. Aim dulu juga agak telat bicaranya, salah satu penyebabe lumayan sering liat video anak bhasa inggris. Tapi sekarang ngomoong terus kadang mpe capek nyautin he3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ternyata video bahasa inggris untuk anak yang belum mulai bicara agak kurang bagus ya

      Delete