Monday, December 26, 2016

Korupsi Umur Anak Demi Harga Tiket Murah??? #Sharing With Friends

Pernah nggak sih saat akan membeli tiket bioskop, kereta api atau bahkan mungkin pesawat terbersit keinginan curang untuk mengurangi usia anak-anak kita agar harga tiket lebih ramah didompet atau bahkan tidak perlu bayar? Beberapa kali jujur ada perasaan seperti itu menggelitik di pikiran kami, namun saya selalu berusaha untuk tidak mengikuti naluri curang tersebut. Ibu saya sendiri selalu mengajarkan saya arti sebuah kejujuran. Menurut ibu, jika saya ingin melahirkan generasi yang jujur maka semua harus dimulai dari kita sebagai orang  tuanya dengan memberikan contoh hal-hal yang baik.

Ini sebenarnya gara-gara saya share tentang kekagetan suami saya ketika menjadi panitia yang ikut membagi goodie bag kepada anak-anak ternyata ada saja orang tua yang rela mengorbankan kejujurannya demi agar mendapat goodie bag lebih. Sehingga saya pun menulisnya dalam sebuah artikel berjudul Mengorbankan Kejujuran Anak demi Goodie Bag???

Ternyata artikel yang saya share di FB saya tersebut mendapat respon menarik dari salah seorang sahabat saya Mama Enji yang sering saya ajak sharing dan ide sharingnya saya tuliskan di blog ini.

Menurut ceritanya, beberapa waktu lalu salah seorang siswanya yang tinggal di singapura baru saja menulis status (di medsos). Dimana saat sedang antri di bandara untuk pulang ke Jakarta, sang siswa melihat ada keluarga dengan dua anak (satu masih bayi dan satu lagi masih berusia TK).

Ketika akan membeli tiket atau entah mungkin akan check in, oleh petugas si ibu ditanya perihal usia anaknya. Saat si ibu menjawab usia anaknya 5 tahun, si anak tiba-tiba protes berkata jika dia sudah berusia 6 tahun.
Ketika itu juga si ibu langsung memarahi anaknya dalam bahasa inggris yang kurang lebihnya berarti "Kapan ibu pernah minta kamu ikut campur. Berhenti untuk ikut campur karena ini bukan urusan kamu!". Sang anakpun tetap protes berkata jika dia sudah berusia 6 tahun. Sayangnya si ibu malah semakin lanjut memarahi.

Disini sebenarnya mama Enj bercerita, dari kejadian tersebut sang IBU sudah MENGHANCURKAN banyak VALUE dalam diri sang anak, yaitu :
  • Kejujuran
  • Harga Diri
  • Kepercayaan Diri
  • Keberanian
Padahal menurut siswa mama Enji dari segi penampilan mereka tidak terlihat seperti orang tidak mampu.

Disitu mama Enji berpesan kepada saya agar selalu memberdayakan diri untuk berkata dan bertindak segala hal yang baik, karena tindak tanduk kita akan menentukan karakter dan kualitas anak kita di masa depan.

Di usia-usia awal inilah anak-anak menyerap berbagai value yang akan mereka gunakan sepanjang hidup mereka.

Ternyata hal seperti ini tanpa kita sadari justru sering terjadi di sekitar kita, seperti yang juga diceritakan oleh sahabat saya lainnya Bunda Nelly Meilina. Dimana dia pernah ikut sebuah keluarga ke taman safari, dan anak-anak disuruh jongkok.

Buat apa jongkok?

Ternyata tujuannya agar tidak terlihat, karena jika terlihat maka akan dihitung bayar.
Arghhhh...saya pun tersadara dulu jaman saya kecil sepertinya pernah beberapa kali nih kejadian seperti ini. Apapun alasannya seharusnya itu tidak boleh kita lakukan. Seperti kata mama Enji value macam apa yang akan ditransfer ke anak?

Yah saya pun mengakui dengan seperti itu kita mencontohkan anak kita untuk berbuat curang. Sayangnya hal tersebut saat ini jadi semacam budaya yang turun menurun.

Seperti nasehat salah satu sahabat saya,
"Sesuatu yang salah jika dibiasakan maka akan menjadi suatu kebiasaan!!!"
Jadi, yuk mulai dari yang paling mudah dengan diri kita untuk tidak membiasakan hal yang salah

Tamparan keras buat saya sebenarnya sebagai orang tua yang selalu menjunjung tinggi kejujuran. Jika saya tidak diingatkan oleh mama Enji mungkin bisa jadi suatu saat ketika saya berkunjung ke tempat-tempat seperti taman safari tersebut saya akan bertindak gegabah dengan memaksa anak-anak saya jongkok.

Jadi apa selama ini saya pernah sampai melakukan hal tersebut??? So far saya belum pernah, sebenarnya dulu bukan karena sok gaya mau bayar sih ya tapi saya memiliki sudut pandang yang berbeda. Yap saya cuman takut kualat saja kalo saya berbohong. Huahahaha...

Alhamdulillah rasa takut kualat tersebut malah membentengi saya untuk tidak berbuat curang, sehingga saya tidak sampai memberikan contoh (nilai-nilai) yang tidak baik kepada anak-anak saya.

Demi Harga Murah, Kami Memilih Tiket Salah Satu Maskapai Yang Harganya Lebih Masuk Budget Kami
Oleh karena itu beberapa waktu lalu saya sempat bercanda dengan suami, "Sepertinya kita harus sering-sering travelling sekarang nih sebelum nanti kita harus lebih sering ndekem dirumah karena minim budget untuk tiket pesawat", mengingat setelah ini usia adik sudah menginjak 2 tahun dimana bayar tiket pesawatnya sudah full. Hihihi...kalo gitu ya hayuk nabung...kita kencengin ikat pinggang kita biar nggak jajan melulu. Yah...itung-itung diet. Itu kalo beli tiketnya bisa di planning ya, kalo dadakan gimana dong?

Saya akui beberapa kali saya dan suami bersama anak-anak harus bepergian dan dadakan beli tiket, biasanya sih kami akali dengan beberapa cara :
  • Mencari tiket promo di beberapa website tiket online yang ada di internet.
  • Mencari tiket maskapai penerbangan yang rate nya masuk dalam budget kami. Beda maskapai biasanya beda rate.
  • Mencari tiket kelas ekonomi di jam-jam tertentu
  • Mengatur pos-pos pengeluaran lainnya agar bisa ditekan, sehingga bisa dipos kan untuk budget tiket pesawat. Ini tips emak-emak banget nih :D
  • Mencari jalur alternatif lainnya jika memang memungkinkan.
Kalopun budget benar-benar mepet dan tidak memungkinkan untuk bepergian bersama biasanya kami memilih menunda waktu perjalanan, atau seandainya memang tidak bisa ditunda maka cukup perwakilan saja yang berangkat (biasanya ini kalo berhubungan dengan undangan suatu acara sih ya).

"Value (Nilai Norma-Norma) yang diserap anak di usia awal akan digunakan sepanjang hidup mereka"
Jadi masihkah kita akan "tega" mengajak anak kita berbuat curang dengan memalsukan umur atau sekedar memaksanya berjongkok demi mendapatkan tiket murah???

10 comments:

  1. Saya setuju mba, jangan sampai korupsi dari hal terkecil sekalipun karena bisa jadi kebiasaan dan memberi contoh yang tidak benar ke anak :)

    ReplyDelete
  2. Cakep, mengajarkan anak untuk jujur sejak usia dini. Salut buat orang tua yang mengajarkan kejujuran sejak kecil. Memang harusnya begitu.

    OOT, saya sering melihat orang tua memakan buah yang belum dibayar di hipermarket modern. Beberapa kali saya melihat kejadian: dengan acuhnya orang tua mengajak anaknya memakan buah lengkeng yang belum dibayar, padahal ada tulisan dilarang dimakan sebelum dibayar. Saya ngurut dada melihat kejadian itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ini juga sering.

      Kalo saya pribadi pernah beberapa kali saat lagi belanja anak2 tiba2 kehausan dan minta minum. Biasany saya langsung ijin ke mas2 penjaganya untuk saya buka dulu minumannya nanti saya bayar dikasir

      Beberapa kali pernah juga si kakak minta incip buah, ya saya minta timbang dulu terus minta ijin petugasnya untuk dimakan si kakak nanti kan ada labelnya itu yang dibayar di kasir.

      Biasany mas2nya malah bantuin motongin atau ngupasin buahnya...hehehe...

      Delete
  3. Untung aku gak pernah begitu mbak, itu juga alasan kenapa ngajak anak travelling sebelum usia 2 tahun xixixi
    Tapi meski sudah lebih 2 tahun, ya mang harus nyiapin budget lebih untuk mas Aiman.
    Makanya mumpung aira masih imut sering diajak jalan2 hahaha ( ini alasan emaknya aja pengen jalan )

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kalo diatas 2 tahun budgetny udah lumayan...hihihi...

      Delete
  4. Setuju mba.dari kecil memang anak diajarin jujur
    Keinget peristiwa goodie bag kemarin ya
    Duo Al udah pernah diajak travelling ke mana aja?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh ini baru bali dan malang mbak...eh kalo kakakny lebih banyak lagi sih destinasinya karna dulu kan kita belum terlalu mikir tiketnya...hehehe...

      Delete
  5. Sinyal anak-anak pas masih kecil itu lebih kuat. Mereka amat natural dan sangat mudah buat meniru dan menyerap hal2 yg diketahuinyaa...
    Belajar dri keponakan2 hheee

    ReplyDelete