Wednesday, December 21, 2016

Relaktasi Kakak demi Tandem ASI dengan Adik?

Mungkin kita pernah mendengar istilah Relaktasi, yaitu menyusui kembali setelah berhenti beberapa saat. Beberapa waktu lalu seorang sahabat saya menanyakan kepada saya apa yang harus dilakukannya agar si kakak kembali mau menyusui, karena si kakak lebih cenderung menggigit puting saat dia kembali berniat menyusuinya. Kebetulan sahabat saya berniat tandem ASI untuk kedua buah hatinya (Kakak Adik). Oh ya sebelum melanjutkan menulis, saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya bukan seorang konselor laktasi, jadi mungkin saya tidak bisa memberikan saran lebih. Saat itu saran utama saya adalah mungkin dia bisa menghubungi konselor laktasi terdekat. Namun untuk memberi semangat kepadanya saya ingin berbagi tentang pengalaman saya saat menjalani Nursing While Pregnant (Menyusui kakak saat saya hamil si adik) dan Tandem ASI Kakak Adik disini. Jujur saya mengapresiai keinginannya untuk kembali menyusui anak pertamanya.


Saya pun menanyakan beberapa hal yang sebenarnya saya bisa sedikit menebak di awal, salah satunya yaitu sudah berapa lama si kakak tidak menyusu, hingga si kakak menggigit puting yang mana saya berasumsi si kakak sudah lupa cara menyusu. Beberapa teman yang pernah berbagi pengalaman tentang proses NWP sampai tandemnya pernah bercerita, rata-rata mereka berhenti menyusui hanya sekitar 3 hari saat mereka harus menjalani proses persalinan dimana mereka tentunya tidak bisa membawa sang buah hati untuk ikut serta karena banyak alasan dan pertimbangan.

Sedangkan salah seorang sahabat saya pernah bercerita bahwa si kakak pada akhirnya benar-benar tidak mau menyusu setelah seminggu menelang HPL (Hari Perkiraan Lahir) anak keduanya, dia tidak memberi ASI kepada si kakak. Sehingga saat si adik lahir si kakak sudah tidak mau menyusu lagi.

Lalu bagaimana dengan sahabat saya tersebut?
Ternyata menurut ceritanya dia mengakui bahwa memang dia sudah mulai tidak menyusui si kakak saat usia si kakak sekitar 10 bulan, tentunya karena banyak pertimbangan. Yah saya sih tidak bisa menyalahkannya, karena saya sendiri yang pernah menjalani NWP (Nursing While Pregnant) pun mengakui beratnya prosesnya. Mulai dari puting nyeri, mual berkepanjangan, rasa tidak nyaman diperut karena konpal (kontraksi palsu), produksi ASI yang menurun sampai durasi nenen kakak yang semakin panjang. Lebih lengkapnya bisa dibaca di artikel saya tentang "Tantangan Menyusui Ketika Hamil (NWP).

Usia anak pertamanya saat ini 17 bulan. Sehingga bisa dibilang si kakak (anak pertamanya) berhenti ASI kurang lebih 9 bulan.

Sebenarnya Relaktasi atau proses menyusui kembali setelah menyusu beberapa bulan bisa dilakukan salah satunya yaitu dengan menyusui bayi kita sesering mungkin, dan tentunya itu harus didukung dengan niat yang sangat kuat. Menurut yang saya baca di wishingbaby.com frekuensi menyusuinya setidaknya 10 kali selama 24 jam (atau boleh lebih jika memang si bayi menginginkannya).

Adapun tahapan relaktasi yang bisa dilakukan yaitu :
  • Si ibu sebaiknya makan dan minum cukup
  • Melatih posisi perlekatan bayi dalam berbagai posisi
  • Menghentikan dot dan botol bayi secara total
  • Banyak beristirahat
  • Usahakan menyusui 2 jam sekali
  • Mempersering kontak ibu dan bayi (agar si bayi mulai mengenal lagi bau ibunya, mungkin termasuk bau ASI si ibu)
  • Si ibu harus membiarkan si bayi menghisap setidaknya minimal 30 menit setiap proses menyusui
  • Memperbaiki posisi perlekatan, mencari posisi yang nyaman sembari berkomunikasi tentang proses relaktasi yang sedang dijalaninya dengan bayi (sounding)
  • Memakan makanan yang bisa merangsang produksi ASI
  • Memerah ASI
  • Siapkan waktu dan kesabaran, karena tentunya proses ini tidak instan perlu jangka waktu yang tidak bisa kita prediksi
  • Untuk beberapa kondisi terkadang dibutuhkan Lactation Aid (alat bantu relaktasi), biasanya nanti salah satu ujung selang dilekatkan di botol berisi ASI perah atau Susu formula, dan satu lagi diujung puting si ibu agar si bayi tidak merasa frustasi saat merasa ASI yang dihisapkan sangat sedikit.
  • Yang perlu diperhatikan lainnya adalah kenaikan BB dan frekuensi BAK dan BAB pada bayi kita
Jika membaca proses tahapan relaktasi tersebut tentu kita akan paham jika tahapan tersebut lebih ditujukan kepada ibu menyusui dengan produksi ASI yang mungkin sudah berkurang sangat banyak atau bahkan mungkin berhenti total tidak berproduksi. Sebagai gambaran, saya sendiri pernah mendengar kabar teman-teman saya yang menjalani relaktasi meski sebenarnya si ASI tidak ada sama sekali, biasanya setau saya dibantu oleh obat dimana hormon si ibu dikondisikan seperti baru saja melahirkan, kemudian si ibu juga mendapat suplemen yang bisa membantu memperbanyak produksi ASI.

Saya sendiri kalo ditanya prosesnya secara detail mungkin tidak bisa menjelaskan secara spesifik, tapi setidaknya saya ada gambaran.

Oke kembali lagi ke pertanyaan teman saya yang jika asumsikan bisa nggak sih teman saya ini melakukan relaktasi untuk kakaknya sembari tetap menyusui si adik alias tandem ASI?, saya pribadi melihatnya pasti akan berat.

Tantangan di awal hari kelahiran si adik saat tandem yang menurut saya paling berat yaitu ketika puting saya mengalami lecet karena mengalami perlekatan yang tidak sempurna. Jika dulu saat si kakak belajar menyusui pertama kali saya paling hanya butuh maksimal seminggu untuk recovery puting saya yang lecet akibat perlekatan yang tidak benar. Namun saat adik lahir tak dipungkiri saya menghabiskan hampir satu bulan melewati hari-hari meringis karena puting luka.

Ada Banyak Perjuangan diBalik Cerita Seru Tandem ASI Kakak-Adik
Saat itu saya sendiri memang tidak bisa langsung merawat luka atau bahkan mengistirahatkan payudara saya yang sedang mengalami lecet dedel duwel karena perlekatan tidak sempurna. Bagaimana bisa sekedar mengistirahatkan, kalo setiap si adik nenen si kakak pun cemburu berat ikut nenen, jadi pilihannya ya kalo nggak nenenin estafet, berarti saya harus tandem barengan yang tentunya perlekatan sempurna sementara lewat dulu. Memposisikan satu bayi dengan benar saja perlu "ketepatan" tangan untuk memposisikan, biasanya lebih gampang dibantu memposisikan dengan dua tangan.

Mengingat bayi newborn yang biasanya durasi menyusu nya kurang lebih 2 jam sekali, dan poin relaktasi setidaknya dilakukan 2 jam sekali, maka menurut sayas sebenarnya masih ada kemungkinan celah jika teman saya tersebut ingin tetap melanjutkan niat relaktasinya. Tapi dengan catatan dia harus memiliki tekad yang benar-benar kuat dan support dari keluarga besar terutama dari pasangan.

Seperti cerita saya sebelum-sebelumnya di Perjuangan ASI, NWP, dan Tandem untuk Duo Al,dimana disitu seperti saya ceritakan bahkan ibu saya sempat menentang keputusan saya untuk melanjutkan tandem ASI karena merasa kasihan dengan si kakak, disitu jujur cukup membuat saya sempat putus asa dan merasa bersalah akan keputusan saya memilih tandem ASI.

Namun mengingat usia anak pertama teman saya tadi sudah menginjak 17 bulan, dimana beberapa bulan setelah itu jutru para ibu mulai menyounding bayinya untuk disapih di usia 2 tahun, maka saya pribadi merasa sepertinya hal tersebut akan membutuhkan proses yang lebih berat.

Sebagai yang pernah menjalani proses tandem dan proses menyapih ketika si kakak berusia 2 tahun, sebenarnya ada sedikit perasaan tidak rela jika nantinya setelah proses susah payah merelaktasi dan ketika berhasil menyusu kembali ternyata si kakak harus rela dihadapkan pada kondisi harus disapih kembali karena sudah berusia 2 tahun. Jadi ini kalo diibaratkan apa nanti nggak malah jadi PHP (PengHarapan Palsu) untuk si kakak? Kecuali mungkin jika si kakak akan dibiarkan tetap menyusu selama yang dia mau.

Seperti yang saya bilang diatas saya sendiri bukan konselor laktasi. Melihat tahapan-tahapan relaktasi diatas sebenarnya "mungkin dan seharusnya bisa", mengingat untuk ibu dengan bayi newborn justru bisa membantu memperbanyak produksi ASI. Saya sendiri saat menjalani tandem ASI kakak adik tak dipungkiri produksi ASI saya justru semakin melimpah ruah, karena seperti Teori Produksi ASI itu Suplay on Demand. Jadi semakin sering bayi kita menghisap ASI dari payudara kita, maka semakin banyak pula payudara akan memproduksi ASI.

Saran (sementara) lainnya sih, mengingat saya sendiri perlu perjuangan berat karena banyak keluarga yang tidak support keputusan saya untuk menjalankan tandem ASI (karena dianggap aneh, tidak masuk akal dan nyeleneh), maka mungkin relaktasi sekaligus tandem ASI bisa dijalankan dengan pemberian ASI Perah.

Kekurangannya mungkin si ibu akan sedikit lelah karena harus meluangkan waktu memompa ASI untuk si kakak, namun setidaknya si ibu tidak perlu merasa kesakitan double ekstra karena perlekatan yang tidak benar dari si adik maupun mungkin si kakak yang tiba-tiba iseng menggigit puting karena tidak tau harus ngapain.

ASI Perah Mungkin Bisa Jadi Solusi
Tambahan lainnya menurut saya untuk usia kakak yang sudah mencapai 17 bulan, karena sudah mendapat MPASI (makanan pendamping ASI). Dimana setau saya prosentase kebutuhan MPASI sudah mencapai setidaknya 70%, dan ASI 30% sehingga "seharusnya" si ibu juga tidak perlu terlalu "mengejar" memberikan ASI tiap 2 jam kepada kakak. Berbeda dengan si adik newborn yang benar-benar 100% masih ASI eksklusif sehingga mau tak mau kebutuhan ASInya lebih diutamakan. Ini hampir sama dengan nasehat dari dokter anak langganan kami yang juga seorang konselor laktasi. Dulu saat saya menjalani tandem dokter anak kami tersebut selalu mewanti-wanti kepada saya untuk lebih memprioritaskan ASI bagi si adik yang masih ASI eksklusif.

Mungkin akan ada yang tanya "Kenapa sih harus ngeyel relaktasi demi tandem, padahal si kakak sudah berhenti ASI selama 9 bulan?".
Saya sendiri sebagai seorang ibu yang pernah melewati proses tandem ASI dengan berbagai macam hujatan menghargai keputusan teman saya yang masih mau berusaha memberikan ASI lagi kepada si kakak. Apapun alasannya saya rasa itu bukan sebagai gaya-gayaan semata ya. Justru dengan si ibu berusaha memberikan ASI lagi untuk si kakak, saya melihat itu sebagai bentuk upaya si ibu memberikan nutrisi terbaik untuk si kakak. Kebetulan dari cerita teman saya ini, anak pertamanya sempat mengalami diare karena pemakaian susu formula, sehingga dari situ dia berinisiatif untuk berusaha memberikan ASI kembali bagi si kakak.

Selain itu mungkin bisa jadi usaha relaktasi pemberian ASI sampai 2 tahun setidaknya mungkin bisa menebus rasa bersalah si ibu yang mungkin nanti (bisa) timbul saat si anak beranjak dewasa. Sehingga si anak juga akan tau betapa sayang dan berjuangnya si ibu kepada si anak untuk tetap bisa memberikan ASI nya.

Kalo saya sih sebagai ibu yang pernah menjalani tandem untuk kakak adik, saya melihat keuntungan lainnya, yaitu si kakak tubuhnya jadi ikutan semekel alias berisi. Masuk akal sih ya, karena seperti kata dokter spesialis anak langganan kami ASI untuk bayi usia 0-6 bulan kandungannya lemaknya memang paling tinggi. Ini sebenarnya (secara alamiah) memang disesuaikan dengan kebutuhan bayi 0-6 bulan yang masih belum membutuhkan makanan pendamping ASI karena berkaitan dengan beberapa organ pencernaannya yang masih belum siap menerima makanan selain ASI.

Apapun pilihan dan usahanya saya sangat menghargainya. Saya sih berharapnya teman saya tadi akhirnya berhasil menjalani relaktasi untuk kakak sekaligus tandem untuk adik. Pasti seru kalo ditulis di artikel sunduler parents ya :D

Seandainya pun ternyata teman saya memilih ASIP untuk pengganti susu formula sebagai asupan susu hariannya saya pun tetap salut kepadanya, karena semua pilihannya sama-sama memerlukan usaha dengah support dan tekad kuat.

Semangat kakak...Ditunggu ceritanya lulus ASI nya di usia 2 tahun ya... 😚😍

1 comment:

  1. Tulisan yg bagus mbak..semoga temannya berhasil ya tandem ASInya..

    ReplyDelete