Monday, December 5, 2016

Tentang Teman yang Sengak, Ketika Mama Enji Curhat... #Sharing With Friends

Tersanjung itu ketika sahabat saya Mama Enji yang biasanya justru saya ajak sharing tentang pendidikan tumbuh kembang anak menghubungi saya karena ingin curhat. Buat saya ini semacam kehormatan. Mengingat kebiasannya yang selalu mengajarkan kepada saya (secara tidak langsung) untuk bisa menjadi pendengar setia maka siapa sangka mama Enji juga bisa baper (kebawa perasaan). Ah mama Enji...so sweet menurut saya :D

Oke namun karena suatu hal dan banyak hal kali ini curhatan bapernya nggak bisa saya jembrengkan disini. Namun dari curhatan mama Enji kami malah dapat sharing ngalor ngidul menarik tentang "Teman Yang Sengak".

Tak dipungkiri mungkin di sekitar kita akan banyak menemukan orang-orang yang kesehariannya bermuka sengak alias jutek atau mungkin sekilas nampak sombong. Begitu juga dengan nada bicaranya. Awalnya saya kira hanya saya saja yang punya semacam indra ke 10 yang langsung bisa menangkap kesengakan orang-orang yang sedang saya ajak ngobrol atau saya hadapi. Halah bilang aja sensi.

Tapi ternyata ada berapa teman yang juga mengakui sering bertemu dengan orang-orang yang hobi jutek. Salah satunya ya Mama Enji ini...hihihi *toss dah kita punya kesamaan...

Dulu sih saya kalo ada yang jutek atau sengak ke saya, pasti saya sengakin balik. Situ galak? Saya bisa lebih galak kali! Tapi nyatanya justru kebiasaan tersebut jadi semacam boomerang untuk saya, karena semua jadi menganggap saya jutek *oalah nasib!
Ilustrasi, Sumber : girls.kidnesia.com
Sejak itu saya punya prinsip, Yaudahlah Orang lain mungkin boleh sengak, cuman saya aja yang nggak berhak sengak!

Dari situ saya juga belajar mengupgrade diri untuk nggak gampang baper, nggak gampang sensi. Ya meski faktanya susah tapi minimal saya bisa belajar cuek nggak selalu nanggepin orang-orang yang bermuka menye alias jutek apalagi punya nada bicara sengak.

Apalagi kalo sengak dan menyenya karena memaksakan pendapat, ya weslah lewat aja...Hihihi...kayak saya yang dulu nggak pernah memaksakan pendapat aja...bwahahaha *toyor diri sendiri.

Seperti sharing dari Mama Enji, pada dasarnya beda pendapat itu nggak dilarang tapi kan ya nggak harus memaksakan harus sependapat. Mbok ya belajar untuk bicara yang baik agar tidak menyakiti lawan bicara. Kita sudah dewasa jadi seharusnya bisa memberikan contoh kepada anak-anak kita untuk bisa berpendapat sehalus mungkin. Jangan sampai awalnya teman malah bikin jadi penyakit hati dan jadi duri dalam pertemanan.

Ah saya jadi ingat pengalaman saya tempo hari saat seorang teman yang hobinya nyindir-nyindir  nyinyir saya. Awalnya saya berusaha cuek, namun lama-lama saya merasa nggak nyaman dan akhirnya saat saya sindir balik eh yang bersangkutan marah besar sampai maki-maki saya (secara tidak langsung) di akun FB nya.


Nah kan apa saya bilang, saya itu nggak boleh sengak ama orang, kalo orang lain mungkin (merasa) boleh -_-"

Ah ya sudahlah...yang lalu biar berlalu...belajar dari Mama Enji aja deh untuk jadi teman yang baik. Dari ngobrol sana sini tadi trus tiba-tiba kami jadi menemukan tips adab berkawan yang baik.

Jadi setelah ngobrol ngalor ngidul bersama Mama Enji, saya mengambil beberapa poin obrolan kami untuk catatan diri saya sendiri. Diantaranya tips untuk menjaga silatturahmi dengan teman, yaitu :
  • Jangan Sengak → Jangan bermuka jutek, bernada sinis, apalagi hobi nyinyir sana sini
  • Jangan memaksakan pendapat → Tidak semua memiliki pendapat yang sama dengan kita. Jangankan kita yang bukan saudara, yang saudara kembar saja sering berbeda pendapat, dan itu lumrah.
  • Jangan Over Sensi → Jangan memasakan orang lain untuk nggak boleh ngomong sengak ama kita, karena bisa jadi si orang tersebut sengak justru karena ulah kita. Tapi kalo kita ngerasanya udah nggak sengak tetep disengakin, ya udah cuekin aja mungkin dia lagi lelah.
  • Jangan modus minta gratisan mulu
  • Teman bukan tempat sampah emosi. Cerita boleh tapi jangan malah "nyipratin" emosi keteman apalagi sampai bikin sakit hati.
  • Smart memilih tema→terutama untuk tema vulgar dengan pasangan atau urusan ranjang, jangan di buka lebar-lebar, apalagi jika menyangkut "size". Selayaknya kita sebagai wanita yang nggak pengen diumbar oleh para pasangan kita, maka sebaiknya kita juga jangan mengumbar rahasia pasangan kita.
  • Hindari bahasan yang bisa memicu perdebatan SARA, apalagi dengan bahasa menyakitkan → Terkadang mungkin meskipun menyindir atau bahasan yang kita lempar bukan untuk lawan bicara kita namun belum tentu tema yang kita obrolkan tidak melukai atau menyakiti hati teman kita. Bisa jadi yang sedang kita jelek-jelekan tersebut adalah justru sahabat atau saudara dari teman kita.
Ilustrasi Indahnya Persahabatan, Sumber : merdeka.com
Mungkin seperti prinsip saya saja tadi ya, sebisa mungkin kita jangan sengak sama orang lain. Apa untungnya buat kita saat kita berhasil membuat orang lain sakit hati dengan kita? Menjadi lebih keren? Merasa lebih hebat? Jadi plong karena puas?

Ya setiap orang memiliki pandangan masing-masing...saya sendiri masih harus banyak belajar tentang etika berteman, karena nambah satu teman itu rasanya sedikit, sebaliknya nambah musuh itu terasa banyak. Nggak percaya? Coba deh yang memanfaatkan instagram untuk mensupport pekerjaannya pasti kerasa banget saat kehilangan followernya meskipun cuman sebiji, sebaliknya saat nambah satu follower kok belum nampol rasanya :D

3 comments:

  1. Setuju, Mbak. Aku sering digituin, tapi gak kubalas seperti itu juga. :D Hasilnya, aku yang tenang, dia yang kebakaran kumis

    ReplyDelete
  2. Saya malah bales nyengak mbak.. Hihihi..
    Sebelnya tuh kalo pas jalan2 seputaran komplek, ketemu tetangga.. Mau ku sapa, eee dianya malah mrengos.. Yasudah gak tak sapa sekalian.. Hihi..

    ReplyDelete