Wednesday, December 14, 2016

Tragedi Karet Masuk Ke Hidung Kakak...#Apa yang harus saya lakukan?!

Sebenarnya ini kejadian lama, saat itu usia si kakak belum genap 3 tahun. Seperti biasa setelah mandi dan makan sore sembari menghabiskan waktu santai saya bersama dua balita saya asyik menonton televisi. Melihat rambut kakak yang mulai panjang, dengan poni yang sering menutup mata saya berinisiatif menguncrit rambutnya (termasuk poninya) menggunakan karet. Saat sedang asyik limpang limpung diatas kasur bersama, sembari nonton tivi saya lihat kakak mulai melepas kuncitnya satu persatu. Siapa sangka salah satu karet kuncit tersebut nantinya nyasar didalam hidung kakak. Bagaimana ceritanya? Apa saya terlalu lengah?!

Tragedi Karet Masuk Kedalam Hidung Kakak

Saya sendiri saat melihat kakak melepas kuncit (ikat rambutnya) tidak pernah berpikir sejauh itu bahayanya, karena selama ini saya melihat kakak sudah bisa membedakan mana-mana yang boleh dilakukan atau tidak dilakukan saat bermain. Terutama saat memegang mainan si kakak pasti tau jika mainan tidak boleh dimasukkan kemulut, karena mainan bukan makanan. Dia tau aturan tersebut dengan jelas.

Tapi mungkin penjelasan saya kurang spesifik membuat si kakak sore itu iseng memasukkan karet ke dalam lubang hidungnya. Tak butuh waktu lama jedah setelah saya melepas karet hidungnya sampai dia meminta tolong kepada saya sembari berkata “Mamam, ada karet di hidungku...tolonggggg...”.

Baca Juga : Ketika Kakak Mengaku Ikut Memakan Blink-Blink Silica Gel

Whattttttttt?????? Saya yang semula juga asyik bercengkrama bersama adik langsung kaget begitu saja. Tapi saya tidak langsung percaya begitu saja, karena saya melihat ada karet (lain) berwarna merah diatas kasur yang memang tadi saya lihat sempat dibuat mainan oleh kakak. Namun saat saya tanya ulang, ternyata kakak tetap menjawab bahwa memang ada karet di hidungnya.

Saya pun buru-buru mencari senter untuk membantu melihat kedalam hidung kakak, karena saat dilihat sekilas tidak nampak ada karet di dalam lubang hidungnya. Ternyata setelah saya senter terlihat jelas ada karet berwarna hijau di bagian dalam lubang hidungnya. Sehingga saya tidak berani mengambil resiko, karena posisinya yang terlalu dalam.

Yang terlintas dibenak saya saat itu adalah segera membawa si kakak meunju UGD, karena jika saya ambil sendiri yang saya kuatirkan justru karetnya akan masuk semakin dalam, atau bahkan bisa jadi saya justru akan melukai lubang hidung si kakak.

Nggak kebayang waktu itu paniknya saya harus kepancal-pancal segera menuju UGD terdekat, sembari ngangkutin dua bocah masuk kedalam kendaraan. Kalo sudah begini lupakan OOTD (outfit on the day), saya tak ambil pikir dengan kaos dan jilbab ala emak-emak berdaster yang saya pakai. Yang penting harus segera sampai RS sebelum karetnya semakin terhirup kedalam.

Selama di perjalanan saya meminta kakak untuk bernafas melalui mulut saja. Sepanjang perjalanan saya menyetir seperti orang kesetanan. Lebih kesetanan lagi saat saya telpon suami namun tak kunjung diangkat juga. Sumpah saat itu saya kesel banget sama suami saya yang paling ganteng itu. Bayangkan disaat emergency dia malah nggak bisa saya hubungin sama sekali. Akhirnya saya putuskan meninggalkan sms saja.

Sesampainya di IGD ternyata saya mendapat jawaban yang justru makin membuat saya makin panik. Ternyata untuk kasus karet masuk ke dalam hidung pihak IGD tidak bisa membantu, karena alatnya hanya ada di tempat praktek dokter THT (Telinga Hidung dan Tenggorokkan). Lahhhhhh!!!!!!

Beruntung ternyata salah satu perawat mengatakan saat itu di RS tersebut masih ada dokter THT yang praktek. Awalnya saya disarankan untuk mengurus administrasi terlebih dahulu dengan antrian yang tentunya sungguh luar biasa -_-

Sekali lagi saya pun protes kepada pihak perawat, “Apa nggak bisa mbak adminnya nanti saja?”, secara menurut saya ini udah emergency. Si kakak juga sudah mengeluh hidung sakit saat digunakan untuk bernafas. Ditambah saya kuatir karetnya akan terhirup makin dalam dan justru malah semakin sulit untuk diambil.

Beruntung lagi pihak perawat dan admin juga security di RS tersebut baik hati, sehingga untuk admin saya dibantu menguruskan mereka, sedangkan si kakak dan saya (sembari menggendong adik) langsung diarahkan masuk ke ruang praktek dokter THT tanpa menunggu antrian. Yap karena memang sudah emergency ya, jadi urutan si kakak didahulukan. Kalo di UGD nih biasanya memang ada semacam status pasien mana-mana saja yang boleh didahulukan tanpa menunggu antrian.

Sesampainya di ruang praktek dokter, si dokter langsung memeriksa hidung kakak dengan menggunakan lampu yang dipasang didahinya (entah apalah namanya). Dengan bantuan dua perawat satu memangku si kakak sembari memegang badan dan tangannya, dan satu lagi memegang kepalanya agar kakak tidak berontak saat karet diambil dari dalam lubang hidungnya.

Awalnya saya mengira-ngira apa akan dilakukan pembedahan? Atau mungkin akan dimasukkan alat tertentu untuk mengambil karet tersebut. Sumpah saya ngilu bayanginnya. Hingga akhirnya dokter mengeluarkan sebuah pinset panjang runcing dan melengkung diujung. “Glekkkkk...” Jujur saya makin ngilu lihat runcingnya ujung si pinset. Bayangan saya, itu gerak dikit aja bisa luka tuh -_-

Tapi ya gimana...jadi saya pun hanya bisa memandang sambil menahan napas sembari komat kamit berdoa dalam hati.

Alhamdulillah cuman sekedipan mata karetnya berhasil diambil oleh sang dokter THT. Horeeeeeeee...Saya langsung bernafas lega. Si kakak pun sesaat sempat menangis (hanya) karena kaget. Huahahahahahaha...

Bersyukur Karet Berhasil Diambil (Ceritanya Lagi Nungguin proses Adminintrasi)

Errrrrr...jadi itu kenapa karet bisa masuk kedalam hidung si kakak?

Asumsi saya karena hanya keisengan si kakak semata. Mungkin saat awal kakak iseng memasukkan karet hanya berada di permukaan luar saja, namun entah saat mau mengambil justru terdorong semakin dalam atau mungkin terhirup saat bernafas justru membuat si karet masuk semakin dalam.

Mungkin karena alasan ini juga, beberapa mainan yang memiliki bagian-bagian kecil biasanya memiliki peringatan tidak boleh diberikan untuk anak berusia 0-3 tahun. Bisa jadi yang dikuatirkan karena rasa penasaran atau iseng-iseng semata mereka memasukkan mainan-mainan kecil tersebut kedalam hidung atau mulut

Baca Juga : Ada Banyak Silica Gel di Mulut Adik?! Bagaimana Sebaiknya?

Awalnya saya sempat merasa menjadi ibu yang tidak becus karena lengah. Namun ternyata setelah sharing dengan banyak teman, banyak dari mereka yang pernah berada di posisi saya. Saat tiba-tiba si anak memasukkan potongan kertas kedalam hidungnya, atau memasukkan biji-bijian kedalam hidungnya.

Dan semua sepakat ternyata saat tiba di UGD kebanyakan dokter dan perawat UGD menyarankan kami menuju tempat praktek dokter THT dengan alasan peralatannya yang punya hanya dokter THT.

Kesimpulannya jika ada kejadian serupa mending segera menghubungi dokter THT saja, selain di UGD kebanyakan tidak tersedia alatnya, saya rasa memang hanya dokter spesialis THT yang sanggup memasukkan alat panjang dan lancip tersebut masuk kedalam lubang hidup dengan cermat, cepat, tepat, akurat dan dahsyat secepat kilat.

Trus kalo nggak ada dokter spesialis THT praktek gimana? Ya sebaiknya tetap dibawa ke UGD, setidaknya bisa diperiksa terlebih dahulu berbahaya atau tidaknya.

Oke jadi sejak itu saya menambahkan sounding dengan terperinci bahwa mainan atau apapun itu tidak boleh dimasukkan kedalam hidung.

Oh ya trus gimana nasib suami saya yang dari tadi saya telpon nggak diangkat?

Jadi ceritanya ketika pada akhirnya kami kembali kerumah, suami saya malah telpon mencari kami di RS tempat saya membawa si kakak tadi. Oalah...kalo kata orang jawa “Lakone tekonen telat”. (yang artinya : Pahlawannya datang terlambat).

2 comments:

  1. Duuh mbaa. Aku baca aja udah deg2an. Emang anak harus diawasi ya. Smoga nggak terulang lagi deh :)

    ReplyDelete
  2. Saya nyengir mak yang kalimat terakhir.. Lakone tekone telat. Hihihi
    Alhamdulillah mak bisa terselamatkan.. Saya jadi ikut panik bacanya..
    Saya baca judulnya, tak kira sedang terjadi. Dalam hatiku, anak kena musibah geto sempet2nya emaknya ngeblog.. Ternyata saya salah sangka.. Maafkan saya mak.. 😊

    ReplyDelete