Monday, January 30, 2017

Adab Membawa Anak Ke Majelis Ilmu #Belajar Menjadi Lebih Baik

Seringkali saat akan menghadiri sebuah undangan untuk menghadiri acara, saya dihadapkan dengan perasaan merasa bersalah. Adakalanya saya merasa menjadi ibu yang super tega dan egois saat meninggalkan anak bersama suami untuk menghadiri sebuah acara. Namun, disatu sisi saya pun jadi merasa tidak bisa efektif atau fokus jika harus mengajak anak-anak saya menghadiri sebuah undangan/event/seminar. Paling baper saat ada seorang teman yang mengatakan, "Kalau saya sih selama undangan tersebut tidak memperbolehkan saya membawa anak, maka ya sudah saya nggak perlu hadir". Saya tidak menyalahkan komentar tersebut, karena saya pun dulu berpikiran demikian, karena berasumsi jika kita tidak diperbolehkan membawa anak, artinya si penyelenggara acara tidak welcome kepada anak, dan saya tidak suka akan hal tersebut.


Namun, seiring waktu saya mulai melihat hal tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Dimana saya mulai menimbag-nimbang baik buruknya saat mengajak anak-anak pada suatu acara.

Benarkan meninggalkan anak dirumah bersama suami, hanya demi menghadiri suatu undangan dimana saya merasa akan mendapat banyak ilmu saat menghadiri acara termasuk egois? Atau justru ketika saya mengajak anak-anak ke sebuah acara tersebut, saya termasuk mendzalimi anak-anak saya yang mungkin akan merasa bosan atau lelah selama mengikuti saya menghadiri acara tersebut.

Pertanyaan tersebut sempat dilemparkan oleh salah seorang teman saya di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional IIP, sebagai berikut :

Assalamualaikum,
Selama ini jika saya datang ke majelis ilmu, anak saya yg kedua, selalu saya bawa, dia usia 3thn.Kebetulan saya tidak punya ART, ketika si kecil ikut ngaji, saya bawakan mainan, bawakan makanan+minuman, karena biasanya durasinya selama 2jam. Apakah saya termasuk mendzolimi anak sendiri? 😭
Tapi dia alhamdulillah tidak rewel. Kalau dia sewaktu-waktu rewel di majelis, saya langsung bawa keluar.
(Yekti_Sidoarjo)

Ternyata berikut penjelasan tentang adab membawa anak ke sebuah majelis ilmu dari Mbak Ilva salah satu fasilitator kami, yang bersumber dari tulisan Bu Septi selaku Founder dari Institut Ibu Profesional.

📝ADAB MEMBAWA ANAK KE MAJELIS ILMU
Seorang ibu yang semangat menuntut ilmu tentu saja segala rintangan akan dihadapinya untuk mendapatkan ilmu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kalau kita memiliki anak kecil-kecil, yang tidak bisa ditinggal.Mari kita pelajari adabnya :

1. Tanyakan ke penyelenggara apakah kelas ini mengijinkan anak-anak masuk diruangan atau tidak?

DON'T ASSUME

misal :
"Ah, pasti boleh, ini kan komunitas Ibu-ibu/keluarga dan pasti punya anak kecil, jelas boleh lah"

ini ASSUME namanya.

Harus di CLARIFY (klarifikasi) di awal. Tidak semua guru ridha kelasnya ada anak-anak dengan berbagai alasan kuat. masing-masing.

2. Apabila tidak diijinkan anak-anak di dalam kelas, maka kita tidak boleh memaksakan diri. Memilih alternatif untuk tidak berangkat, kalau memang tidak ada kids corner atau saudara yang dititipi.

3. Apabila diijinkan, maka kita harus tahu diri, tidak melepas anak begitu saja, berharap ada orang lain yang mengawasi, sedangkan kita fokus belajar, ini namanya EGOIS. Dampingi anak kita terus menerus, apabila anda merasa sikap dan suara anak-anak mengganggu kelas, maka harus cepat tanggap, untuk menggendongnya keluar dari kelas, dan minta maaf.

Meskipun tidak ada yang menegur, kita harus tahu diri, bahwa orang lain pasti akan merasa sangat terganggu. Jangan diam di tempat, hanya semata-mata kita tidak ingin ketinggalan sebuah ilmu.

KEMULIAAN ANAK KITA DI MATA ORANG LAIN, JAUH LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN ILMU YANG KITA DAPATKAN.

Maka Jaga Kemuliaannya, dengan tidak sering-sering membawa ke forum orang dewasa yang perlu waktu lama. Karena sejatinya secara fitrah rentang konsentrasi anak hanya 1 menit x umurnya.

Untuk itu andaikata kita punya anak usia 5 tahun, menghadiri majelis ilmu yang perlu waktu 30 menit, maka siapkan 6 amunisi permainan atau aktivitas yang harus dikerjakan anak-anak. Kalau ternyata anak cepat bosan dari rentang konsentrasinya, segera undur diri dan fokus ke anak kita. (Sumber : Bu Septi Peni Wulandari)

Tambahan dari Mbak Ilva,
Jika anak sudah memperlihatkan tanda2 kerewelan artinya anda harus segera membawa anak pulang sehingga kemulian anak pun terjaga dr pandangan negatif orang lain. Kembali lagi bahwa anak adalah prioritas utama dan pertama. Jangan sampai kita mendzolimi dg memaksa anak dibawah 5 thn utk duduk tenang mengikuti acara yg dirancang utk org dewasa.✅

Dari penjelasan tersebut akhirnya saya mempunyai wawasan tentang adab mengajak anak untuk menghadiri majelis ilmu (bisa pengajian, seminar, talk show parenting, atau mungkin pelatihan dan bahkan undangan event) sebaiknya tetap di komunikasikan terlebih awal oleh penyelenggara acara, bolehkah kita membawa anak. Tak perlu kita takut penyelenggara akan mencari-cari alasan melarang kita membawa anak. Toh pada dasarnya penyelenggara pasti memiliki alasan mengapa melarang kita membawa anak-anak untuk ikut datang ke majelis tersebut. Jadi tak perlu memaksakan.

Jikapun ternyata saat itu memang tidak diperbolehkan hadir membawa anak, dan tidak ada yang bisa dititipi anak-anak, maka percayalah Insya Allah masih akan ada acara serupa di lain waktu yang tetap bisa kita hadiri.
Saya sendiri selama ini justru lebih nyaman menghadiri suatu acara majelis ilmu tanpa membawa anak, alasannya saya bisa lebih konsentrasi. Pernah sekali saya memutuskan mengajak anak-anak saya mengikuti sebuah majelis arisan ilmu, ternyata memang justru membuat konsentrasi menjadi terpecah. Padahal saat itu pihak penyelenggara sudah memperbolehkan saya mengajak anak dan ada anak-anak lain sebaya yang ikut hadir. Faktanya seperti halnya saya saat kecil yang jika terlalu lama berdiam diri di sebuah acara maka saya akan segera merasa bosan dan sedikit rewel. Ditambah jam tidur yang terlewatkan mungkin cukup membuat anak-anak kelelahan sehingga alih-alih saya ingin mendengarkan ilmu yang dijelaskan didepan, saya jadi terburu-buru ingin segera meninggalkan ruangan karena anak-anak bertanya berulang kali, "Mamam...kapan selesainya? Ayo pulang... sudah ngantuk".

Ah, saya mengakui masih harus banyak belajar agar bisa menjadi ibu dan istri yang lebih baik dari hari kehari.

No comments:

Post a Comment