Friday, January 20, 2017

Belanja Bulanan Diskonan atau Sesuai Kebutuhan???

Seringkali kita terjebak dalam situasi dimana kita antusias memborong barang obralan atau diskonan hanya karena kita tertarik dengan harga yang miring. Begitu juga dengan saya, dulunya saya tidak peduli meski stok gudang kebutuhan masih ada, saya tetap membeli lagi dengan dalih "mumpung murah", atau "mumpung lagi diskon". Namun seiring dengan waktu saya jadi banyak belajar.

Promo Kebutuhan Yang Selalu Diminati
Yah, saya sekarang lebih memilih belanja sesuai jumlah kebutuhan saja.

Loh tapi sayang, kan mumpung lagi banyak diskon? Bulan depan belum tentu ada diskon lagi lo?!

Saya dulu juga berpikiran seperti itu, apalagi jika untuk urusan belanja popok bayi sekali pakai, dimana sering kali harga diskon yang ditawarkan terpaut sangat jauh.

Sebut saja merk "Mam**pok*" dimana setidaknya harga setelah diskon bisa terpaut kurang lebih Rp.20.000,- dari harga normal. Bagi saya yang memilih jalur praktis untuk menggunakan popok sekali pakai dalam keseharian anak-anak saya, tentunya selisih harga tersebut sangat terasa sekali.

Anggap anak saya berganti popok maksimal 4 jam sekali. Maka dalam sehari (24 jam) saya membutuhkan popok sebanyak 6 biji. Dalam sebulan (30 hari) setidaknya saya membutuhkan 180 biji. Untuk ukuran "L" pada merk popok yang saya sebutkan diatas, maka 1 bags terdiri dari dari 28 biji. Sehingga dalam satu bulan saya harus menyediakan stok popok sebanyak 6,5 bags, yang jika saya bulatkan berarti saya harus membeli 7 bags.

Sebagai emak-emak irit, pasti pada langsung paham diluar kepala berarti jika saya berhasil mendapatkan harga diskon maka saya bisa berhemat Rp. 140.000,- per bulan. Lumayan bukan?

Perhitungan tersebut mungkin baru selisih untuk popok satu anak saja ya. Jika untuk kebutuhan popok bulanan dua anak balita seperti saya dulu, tentu selisihnya semakin terasa kelihatan mencolok.

Stok Timbunan Kebutuhan Popok Setiap Bulan
Dengan alasan tersebut dulu saya sering memutuskan untuk menimbun stok popok saat saya menemukan diskon. Faktanya, saya justru terjebak pada pengeluaran yang membengkak di awal. Selain itu, ternyata dengan melihat stok penyimpanan yang masih banyak membuat saya menjadi boros. Saya jadi sedikit terlena dalam menghabiskan stok tersebut.

Sejak saat itu saya jadi banyak belajar ...

Sesuai dengan nasehat dari salah seorang dosen saya yang selalu mewanti-wanti semua muridnya dalam menejem keuangan, beliau selalu berpesan agar kami tak tergiur oleh diskon yang sedang ditawarkan. Menurut nasehatnya belanjalah sesuai dengan kebutuhan bukan belanja karena diskonan.

Seandainya pun pada saat kita berbelanja kebetulan barang yang kita cari sedang diskon, tetap beli sesuai kebutuhan saat itu. Hal ini sebenarnya bertujuan menghindari kita memboroskan stok kebutuhan bulanan kita karena merasa stok masih banyak.

Sesuai kebutuhan disini, kalau saya pribadi semisal dalam satu bulan membutuhkan 3 detergen maka saya akan menyediakan stok 3 buah detergen di gudang persediaan saya, dan jika pada bulan selanjutnya detergen saya masih tersisa 1 buah di gudang maka saya hanya akan menambah stok dengan membeli detergen lagi sebanyak 2 buah saja. Sisa budget detergen yang satu buah tadi buat saya lumayan, bisa saya masukkan celengan.

Waduh kalau nyetoknya di "press" gitu ngeri kalau sewaktu-waktu kehabisan karena suatu hal diluar prediksi dong.

Jujur saya dulu memang sempat berpikir seperti itu, nyatanya setelah saya nekad nyetok nge-press justru insting berhemat saya malah semakin bekerja. Sehingga stok penyimpanan saya malah menjadi awet.

Untuk urusan stok popok sekali pakai pun, karena merasa stok nge-press, maka mau tak mau saya justru jadi semangat belajar untuk mengajari si kakak toilet training secepatnya, dengan alasan simpel agar tidak terlalu "tertekan" mengejar diskon hanya demi selisih harga yang ditawarkan.

Jika boleh jujur, akhir-akhir ini saya dan suami malah justru jarang sekali stok belanja bulanan. Seringnya justru kami  belanja mingguan, bisa seminggu sekali, atau dua minggu sekali, tergantung dari kebutuhan yang sedang habis di rumah.

Mungkin untuk sebagian orang hal ini beresiko budget belanja bulanan akan habis terpakai untuk hal lain. Saya pun demikian awalnya, ada kekuatiran jangan-jangan nanti duitnya habis duluan. Faktanya lagi-lagi saya dan suami justru semakin rajin berhemat. Lebih awet-awet kekepin dompet dan isi ATM karena merasa masih ada keperluan yang harus dibeli di tengah bulan.

So, bagaimana dengan teman-teman? Mungkin ada yang mau berbagi alasannya juga? Ditunggu ya sharingnya 😉

4 comments:

  1. Hihihiii, seruuu deh kao baca cerita daily lifenya mba Vety :)

    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  2. Sama kita mak, untuk masalah diskon seringkali malah bikin jadi numpuk barang, maklum ebo-eboo... Naluriah mungkin kalau liat yg diskon 😂
    Sekarang belinya sesuai kebutuhan aja, karena kadang bukannya hemat malah jadi nambah duit, bocor diawal bulan. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener banget...trs abis bocor didepan ujung2nya ditengah bulan kita bingung kok ada aja yang belum kebeli ya...makin bocor deh...hahaha

      Delete