Wednesday, January 25, 2017

Fakultas di Universitas Kehidupan #Belajar Menjadi Lebih Baik

Menikah, lalu memiliki buah hati merupakan idaman bagi  banyak pasangan. Namun, tanpa sadar setelah memiliki buah hati sebagai orang tua kita memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam mendidik mereka. Ya, seperti kita tahu anak adalah amanah yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk kita pertanggung jawabkan nantinya. Saya sendiri baru menyadari ada banyak yang harus saya pelajari setelah anak saya mulai tumbuh menjadi balita aktif. Pun ketika anak kedua saya lahir kedunia, maka lebih banyak lagi hal yang harus lebih saya pelajari. Pernah terbersit obrolan ringan dengan Rika sahabat kuliah saya, tentang bahasan ternyata jadi ibu itu tidak semudah yang kami bayangkan. Sayangnya dulu jaman sekolah atau kuliah kami tidak pernah mendapat bekal untuk menjadi ibu yang baik. Sehingga jika boleh berkhayal, apabila saya sedang menempuh pendidikan di sebuah Universitas Kehidupan, maka fakultas atau jurusan yang ingin saya pilih adalah jurusan pendidikan menjadi ibu sekaligus istri yang baik bagi keluarga.

Sumber : Okezone News
Ibu yang baik disini bukan hanya sekedar ibu yang bisa diandalkan oleh anak-anak juga suami untuk bisa mengerjakan semua tugas rumah, namun juga sabar, sholehah, kreatif, bisa menempatkan diri, membanggakan, dan teladan. Yah, saya membayangkan dalam fakultas atau jurusan menjadi ibu baik tersebut akan ada banyak mata kuliah dan "praktikum" yang membahas tentang seluk beluk menjadi ibu yang baik, terutama dalam hal mengelolah emosi saat diri kita dalam kondisi lelah harus menghadapi dua balita yang aktif, dimana saya yakin mereka belum tahu dengan benar apa yang dilakukannya terkadang ada kalanya bisa menguras jiwa dan emosi kita.

Tak dipungkiri ada banyak kejadian-kejadian ketika saya kecil saat dimarahi oleh ibu saya, padahal waktu itu saya masih belum tahu benar apa penyebab kemarahan ibu saya. Saya masih ingat, saat itu mungkin saya masih duduk di bangku kelas 2 SD. Saya tidak tahu benar kejadian awalnya bagaimana, yang saya tahu tiba2 ibu saya sudah mengunci rumah dan marah besar kepada saya yang berada dihalaman rumah di siang hari. Kemudian ibu memberi saya uang Rp. 10.000,- yang diselipkan di jendela rumah sembari meminta saya untuk minggat saja. Waktu itu akhirnya saya baru sadar dan berusaha masuk kedalam rumah sembari membobol pintu garasi rumah, dibantu oleh teman-teman sebaya saya. Setelah sukses masuk ibu saya marah besar dan tak mau menyapa saya. Disitu saya baru tau, ibu marah kepada saya karena saya tidak mau tidur siang. Yang terlintas dibenak saya saat itu adalah, "Kenapa ibu langsung marah-marah kepada saya? Bukankah ibu bisa menanyakan baik-baik kepada saya alasan saya tak mau tidur?".

Belum lagi kenangan saat, tiba-tiba tangan saya terkena paku dan dan menurut saya yang waktu itu berdarah sangat banyak. Ibu saya yang berada di kamar mandi pun terkejut mendengar teriakan histeris saya waktu itu. Saya yang masih kecil saat itu tak pernah tau, jika karena jeritan histeris saya tersebut, ibu saya mengalami keguguran. Saya hanya tahu waktu itu ibu saya membentak saya dengan kalimat kurang lebihnya "Halah, cuma seperti itu aja sampai  bikin kaget! Ibu kira kamu kenapa?!". Waktu itu saya hanya menangis sambil berkata dalam hati "Ibu tapi aku takut lihat darahnya ini banyak". Yah, tak sepatah kata pun keluar dari mulut saya saat itu, karena saya sudah terlanjut takut melihat ibu saya marah. Tak lama setelah itu saya mendengar ibu saya bercerita kepada ayah dan beberapa orang, bahwa beliau keguguran karena kaget mendengar saya menjerit histeris.

Meski telah lama berlalu, entah bagaimana semua bayangan tersebut tak bisa hilang begitu saja. Dari situ saya selalu berjanji, kelak saat menjadi ibu, saya ingin bisa menjadi ibu yang lebih baik, yang tidak mudah marah seperti ibu saya, yang mau mendengarkan keluhan atau alasan anak-anak saya terlebih dahulu.

Namun, faktanya saya merasa tak jauh lebih sabar dari ibu. Adakalanya saat si kakak dan adik rewel bergantian secara estafet ternyata hal tersebut cukup membuat pikiran saya menjadi tidak jernih. Hal inilah yang membuat saya jadi gampang tersulut emosi. Bahkan suami saya sendiri pernah mengakui, bahwa sekarang saya lebih galak dari dulu. Saya pun akhirnya merasa tak ada bedanya dengan ibu saya dalam mengelolah emosi saat menghadapi anak-anak saya. Bahkan mungkin jangan-jangan saya malah lebih galak dari ibu saya. Saya sendiri pun tak pernah tahu jika suami saya tak menegur saya.

Terkadang saya iri melihat teman-teman saya yang menurut saya memiliki hati yang mulia layaknya seorang peri baik hati. Dari situ saya banyak sharing, belajar, dan meminta masukan dari banyak teman-teman yang saya kagumi tersebut. Saya juga belajar banyak dari suami untuk tidak gegabah mengambil sebuah keputusan dan memandang suatu hal dari banyak sudut pandang, agar saya  tidak salah langkah. Setidaknya saya selalu berusaha memikirkan sebab akibat sebuah tindakan yang akan saya lakukan. Selain itu saya berusaha untuk menjaga lisan dalam berucap, dan jari dalam bermedia sosial.

Tak sampai disitu saya berusaha untuk mengikuti seminar-seminar atau talk show parenting yang menurut saya bisa membawa perubahan diri saya ke arah yang lebih baik. Saya juga mengikuti beberapa komunitas parenting, dimana nanti disana saya berharap bisa sharing, bertukar pikiran dan meminta pendapat kepada teman-teman yang sama-sama memiliki problemantika serupa. Selain itu saya juga berusaha mau mendengarkan pendapat dari teman-teman yang mungkin lebih berpengalaman dari saya. Meski demikian, jika saya rasa sarannya tidak tepat biasanya saya akan memilah-milah kembali atau melakukan improvisasi menyesuaikan keadaan. Nantinya, jika belum berhasil saya praktekan maka saya akan meminta pendapat lagi yang lainnya.

Baru-baru ini pun, saya mengetahui dari salah seorang sahabat bernama Anggie Izzaty bahwa ada semacam kelas online bernama Institut Ibu Profesional. Dimana dari ceritanya, saya menangkap bahwa di Institut Ibu Profesional  kita bisa banyak belajar mengupgrade diri untuk bisa menjadi ibu yang lebih baik. Sehingga saya pun antusias mencari informasi dibukanya kelas Institut Ibu Profesional, dan saat mendapat informasinya tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar kelas matrikulasi IIP. Yah, saya ingin menjadi ibu baik untuk anak-anak saya.

Saya juga sempat berdiskusi dengan suami, ingin berkonsultasi dengan seorang psikolog. Suamipun mendukung keinginan saya sepenuhnya. Mungkin bagi sebagian masyarakat kita, menemui psikolog merupakan hal yang tidak lumrah atau bahkan mungkin bisa dianggap sebagai aib. Yah, mungkin psikolog identik dengan hal yang berhubungan dengan orang stress, depresi, dan sebagainya. Namun, saya berusaha untuk tidak membentengi diri mau menerima masukan dan ilmu dari segala arah selama itu bisa mendatangkan kebaikan bagi saya dan keluarga saya. Meski demikian, untuk poin ini mungkin tidak bisa saya lakukan dalam waktu dekat, mengingat setelah mencari informasi ternyata budget yang dibutuhkan untuk berkonsultasi dengan psikolog tidak sedikit. Info dari salah seorang sahabat mengatakan bahwa biaya konsultasi biasanya dihitung berdasarkan durasi lamanya kita berkonsultasi.

Selain itu saya juga ingin mengikuti healing yang berhubungan dengan inner child saya. Dimana saya sedikit banyak menyadari kekurang sabaran saya mungkin bisa jadi terkait dengan inner child saya yang belum terselesaikan dengan tuntas pada diri saya. Apapun itu, akan saya lakukan selama bisa menjadikan saya sebagai ibu yang lebih baik lagi.

Healing Inner Child, Info Saya Dapat Dari Sahabat Saya Bunda Anggie Izzaty
Kedepannya dengan berusaha menjadi ibu yang lebih baik yang berhati mulia, saya berharap bisa menularkan kebaikan juga kepada anak-anak. Bagaimanapun anak adalah peniru ulung, sehingga saya tidak ingin memberikan contoh yang kurang baik. Saya ingin memberikan masa kecil yang bahagia kepada anak-anak saya agar kelak saat dewasa mereka bisa menjadi pribadi dan pondasi yang lebih baik untuk generasi selanjutnya.

Hal yang tak boleh saya lupakan untuk menjadi lebih baik adalah saya masih harus belajar banyak memuliakan anak-anak kami, agar kelak kami juga dimuliakan oleh mereka.

Seperti halnya doa anak-anak kepada orang tua "Ya Allah, Ampunilah dosaku dan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka, seperti mereka menyayangi kami di saat kami kecil".

Saya sering merenungi arti doa tersebut terutama di poin "Sayangilah mereka seperti mereka menyayangi kami di saat kecil", Astaghfirullah, Ya Allah ampunilah saya jika masih sering terbawa emosi ketika lelah menghadapi dan menghandel mereka. Jadikan mereka anak-anak yang shalehah, yang kelak saat tumbuh dewasa bisa memahami kami terutama saya sebagai orang tuanya yang mungkin masih sering terbawa emosi. Maafkan kesalahan-kesalahan saya dalam menjaga amanah-Mu ya Allah. Untuk anak-anakku maafkan ibumu yang masih harus banyak belajar. Yah, saya belajar untuk tidak gengsi mengakui kesalahan jika saya memang bersalah. Bagaimanapun saya harus terus berusaha belajar mengoreksi semua kesalahan saya agar lebih baik.

Poin utaman lainnya, yang tak boleh tertinggal yaitu salah satunya saya harus mulai memperbaiki ibadah saya dari sekarang, agar hati menjadi lebih bersih.

Yah, mungkin memang tidak mudah. Namun seperti halnya adab menuntut ilmu yang baik,saya ingin selalu belajar memperbaiki diri agar bisa menerima ilmu dengan hati yang ringan, bersih sehingga nantinya saya bisa lebih mudah menularkan ilmu tersebut bersama suami kepada anak-anak kami sebagai generasi kami selanjutnya.
Selalu Berusaha Menjadi Lebih Baik Demi Sebuah Janji Pernikahan
***Artikel ini ditulis, terinspirasi dari tugas NHW#1 yang diberikan dikelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang sedang diikuti oleh saya sebagai penulis blog sundulerparents ini.

4 comments:

  1. Mbak, kalau kelompok kira-kira jadi bayar berapa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum nanya sih mbak untuk kelompok, karena belum ada gambaran mau ngajak siapa...

      Delete
    2. Kalau boleh bawa anak, coba info biayanya Mbak
      Bagus banget materinya...

      Delete
  2. yeah..aku juga pernah nulis tentang innerchild mbak, dan nyembuhin luka innerchild emang butuh waktu
    setuju, gausah malu konsul ama psikolog/psikiater

    udah pernah baca buku quantum ikhlas? bagus itu
    buat beresin alam bawah sadar

    ReplyDelete