Thursday, January 19, 2017

Jangan Banding-Bandingkan Anakmu! #Belajar Menjadi Lebih Baik

Menjadi seorang ibu untuk dua anak dengan usia yang tidak terpaut jauh, terkadang membuat tanpa sadar terlontar kalimat membanding-bandingkan ke-dua nya. Saya sadar apapun alasannya, itu tidak baik. Menurut saya, hal tersebut justru bisa memicu timbulnya sibling rivalry (kecemburuan) diantara keduanya.

Sibling Love

Beberapa waktu lalu saya mendapat teguran dari Bunda Utari, salah satu sahabat dari komunitas Aku Ingin Hamil Jatim yang saya temui di Jogja saat saya sedang asyik bercerita dengannya. "Mak Tul, nggak boleh loh banding-bandingin gitu!", begitu tegurnya.

"Astaghfirullah", iya saya pun sedikit tersentak kaget menyadari kesahalahan saya.

Baca juga : Petualangan Menyusuri Malioboro ala Emak Sundul, saya bersama Bunda Utari

Ah iya, mungkin saya terlalu sering mendengar opini-opini dari orang sekitar yang membuat saya sedikit banyak jadi tanpa sadar sering membanding-bandingkan keduanya.

Dari situ kemudian saya jadi teringat banyak kejadian di masa kecil saya, dimana hubungan saya dan adik laki-laki saya bisa dibilang hampir memburuk karena seringnya ibu saya tanpa sadar sering membanding-bandingkan satu sama lain di belakang kami.

Yah, saya yakin beliau tak sadar saat melakukan hal tersebut, buktinya saat kami dewasa dan sempat mengajukan "komplain" ke beliau untuk tidak membanding-bandingkan kami, agar hubungan kami tak makin memburuk, beliau sangat terkejut dan merasa selama ini tak pernah sekalipun membanding-bandingkan kami.

Padahal dari sudut pandang kami sebagai anaknya, beliau sering sekali misal dihadapan saya, beliau membaik-baikkan adik saya dengan kalimat, "Adikmu itu orangnya sabar, nggak kayak kamu!!! Nanti kalau ibu tua, ibu nggak mau ikut kamu, maunya ikut adik saja".

Belum lagi kebanggaan beliau terhadap adik saya yang bergender laki-laki. Sering kali beliau tanpa sadar mengatakan, "Anak laki-laki itu pelindung keluarga". Atau saat beliau sering menceritakan episode perjalanannya bertemu dengan seorang yang menebak kelak salah satu anaknya akan menjadi orang yang bisa membanggakan beliau. Disitu dari ceritanya yang berulang-ulang nampak sekali bahwa anak yang dimaksud adalah adik, bukan saya".

Sakit hati? Sedih? Iya tentunya ... Sehingga tanpa sadar saya pun dulu mulai menanam rasa kebencian kepada adik saya.

Ternyata begitu juga menurut pengakuan adik yang selalu iri dengan pujian ibu kepada saya yang katanya, "Mbak Vety itu kata ibu lebih rajin dari aku", dsb. Disitu sedikit demi sedikit menurut adik saya, dia pun menganggap saya sebagai saingan beratnya dan mulai membenci saya.

Beruntung, kejadian tersebut tak berlangsung berlarut-larut. Puncaknya ketika adik saya akan memasuki bangku SMA disitu lagi-lagi saya dibenturkan dengan keadaan dimana ibu saya menyalahkan saran saya atas pilihan sekolah adik saya. Padahal jujur saat itu saya sudah berusaha maksimal untuk kebaikan adik saya.

Meski saya sering iri dan cemburu dengan adik, namun tak terbersit sedikit pun ingin menjatuhkan adik saya dalam segala hal, karena bagaimanapun dia adalah saudara saya.

Saya pun menangis kepada suami, hingga akhirnya suami memanggil adik dan mengajak kami berbicara. Disitu ternyata suami sudah lama membaca adanya hubungan yang tidak baik antara adik dan saya. Suami saya yang selama ini selalu meyakinkan saya, bahwa dia adalah adik saya satu-satunya. Dimana sebagai layaknya saudara kami harus saling support satu sama lain agar bisa terus maju, bukan malah saling menjatuhkan.

Bersyukur saat itu suami segera menengahi kami, setelah mendengar kesedihan saya yang disalahkan ibu saya atas semua yang terjadi dengan pilihan sekolah adik saya. Benar saja, adik saya sempat mengira saya sempat berniat menjatuhkannya. Dia pun sempat down merasa dirinya tak sehebat saya. Ah, padahal apalah saya!

Singkat cerita, akhirnya hubungan kami membaik. Kami pun berkomitmen untuk tak langsung menelan mentah-mentah perbandingan-perbandingan yang sering dilontarkan ibu kepada kami. Intinya kami berkomitmen bahwa kami saudara sedarah, se-ibu dan se-ayah, sehingga apapun itu tak ada alasan bagi kami untuk saling iri apalagi saling menjatuhkan.

Seperti nasehat suami saat itu, jika memang salah satu dari kalian menjadi orang sukses ya sudah itu rejeki membanggakan juga bagi kalian yang lain! Setidaknya kita bisa dengan bangga mengatakan kepada dunia bahwa "Hei, orang sukses itu saudaraku lo!".

Yah, belajar dari kejadian tersebut dan banyak kejadian lain di masa kecil saya bersama adik, saya memang pernah berjanji untuk tak membanding-bandingkan anak-anak saya kelak. Namun, ternyata seperti yang saya bilang sebelumnya itu tak semudah yang saya bayangkan.

Mungkin dengan alasan ini pula saat ini Allah baru memberi saya dua balita yang sama-sama cantiknya. Bukan satu cantik, satu ganteng!!! Bisa jadi jika Allah kemarin-kemarin memberi saya balita ganteng, cinta saya akan berat sebelah karena faktanya setelah saya perhatikan di lingkungan saya memiliki seorang balita lelaki itu seperti sebuah kebanggaan! Mungkin mereka lupa justru dari balita perempuanlah kelak dia akan tumbuh menjadi pondasi utama yang mencerdaskan generasi selanjutnya.

Sampai saat ini pun masih banyak kerabat yang selalu memberi komentar kepada kami untuk menambah satu anak lagi dengan kalimat "Tambah satu lagi, cowok! biar lengkap! Biar ayahnya ada temennya! Biar bisa menjadi pelindung saudara-saudara perempuannya!".

Pernah teman suami bertanya "Jo (Bedjo), nanti kalau kamu punya anak lagi terus ternyata cewek lagi gimana?". Lah gimana yang gimana maksudnya ini?

Suami dan saya pun sering hanya memberi senyum dan menjawab mau perempuan atau laki-laki sama saja. Yah, kami tak ingin terjebak dengan kalimat tersebut sehingga nantinya menjadi obsesi harus laki!!! Bagaimana sakitnya hati anak-anak kami nantinya jika hanya karena obsesi tersebut mereka menjadi terluka dan tak diharapkan! No, saya tak ingin mereka merasa seperti yang saya rasa dimana dulunya saya sempat merasa tidak berguna terlahir menjadi perempuan, karena saya merasa ibu saya dulu lebih bangga terhadap adik saya yang laki-laki dengan alasan anak lelaki lebih bisa melindungi keluarga daripada perempuan.

Saya baru benar-benar bisa bangga menjadi perempuan saat suami mengatakan kepada saya "Harusnya kamu bangga menjadi wanita, karena kamu diberi banyak keistimewaan dari Allah! Coba bayangkan kamu bisa merasakan nikmatnya hamil dan melahirkan dengan segala kebaikan yang ditawarkan oleh Allah! Kamu juga mendapat keringanan libur puasa atau libur shalat saat nifas atau haid tiba!". Ah benar juga nasehat suami saya tersebut, Kalau saya jadi laki-laki saya pasti iri ingin merasakan nikmatnya 9 bulan mengandung, serta nikmatnya melahirkan dan masa menyusui dimana semua keinginan saya akan dipenuhi oleh suami dengan alasan demi tumbuh kembang anak yang saya kandung dan saya susui.

Bersyukur Terlahir Menjadi Wanita
The moral of the story, adalah saya jadi banyak belajar untuk berusaha tidak membanding-bandingkan anak-anak saya. Saya ingin kelak mereka menjadi saudara yang solid, tidak ada iri apalagi kecemburuan di antara mereka hanya karena ucapan-ucapan yang saya lontarkan.

Bisa jadi mungkin saat saya mengatakan, "Kak, lihat itu adik pinter kan? Mau bantu mamam!" justru menjadi boomerang bagi kami semua. Mungkin niat hati, saya memberikan contoh hal baik kepada kakak dari kebaikan yang dilakukan adik. Namun, siapa sangka hal tersebut justru membuat si kakak terluka karena merasa adiknya selalu saya puji. Padahal bisa jadi dilain kesempatan saya justru memuji si kakak, dan justru malah membuat si adik juga menjadi muak.

Terkadang tanpa sadar saya bercerita kepada beberapa orang bahwa kedua anak saya ini berbeda karakter, padahal niat hati saya bukan membandingkan hanya mengakui bahwa keduanya memiliki keunikan masing-masing yang ternyata memang saling melengkapi.

Yah, saya masih harus banyak belajar ...
Beruntung sahabat saya tersebut segera mengingatkan saya untuk jangan membanding-bandingkan anak-anak apapun alasannya, karena seperti halnya saya dia pun sering terluka saat merasa dibanding-bandingkan oleh ibunya ...

Hati anak kecil siapa yang tau? Sedikit saja luka yang kita torehkan bisa jadi akan selalu di ingatnya sampai kelak mereka dewasa. Saya pun masih harus banyak belajar untuk tidak melukai hati anak-anak saya. Tak disadari, sekali dua kali saya sempat melihat mimik kakak yang tidak senang menanggapi ucapan saya, yang memang terkadang ketika saya review kembali memang sedikit keterlaluan. Saya tak ingin, luka yang tertanam makin lama makin tertimbun banyak dan kelak bisa menjadi bom yang meledak sewaktu-waktu.

Soulmate, Selalu Kompak
Melalui tulisan ini, juga tulisan saya yang lainnya, saya berharap kelak saat anak-anak dewasa, mereka lebih bisa memahami dan menerima apa yang saya lakukan. Setidaknya mereka bisa mengerti kalau sebagai orang tua saya selalu belajar menjadi lebih baik demi dan untuk mereka.

Belajar dan terus berusaha mengoreksi kesalahan, agar kami selalu bisa menjadi sebuah keluarga yang bahagia, sakinah, mawaddah, warrahmah, yaitu sebuah keluarga yang damai, tenang, aman, tentram, penuh cinta, kasih sayang, dan limpahan Rahmat Allah, serta selalu dalam limpahan Barakah Allah. Amin.

14 comments:

  1. semoga sehat terus dan selalu dalam lindungan allah

    ReplyDelete
  2. Karena br pny anak satu, jadi ya ngga bisa bandingin Raya sama yg lain :D tapiiiii kadang keceplosan bandingin Raya sama temennya di daycare... abis itu langsung minta maaf sama anaknya huhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan mbak, pasti sakit banget nanti hatinya. bisa sedih

      Delete
  3. Memang benar ya mbak kita nggak boleh banding2in anak, walau sebenarnya aku masih suka gitu, huuu sakit rasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, saya juga masih harus banyak belajar

      Delete
  4. Ga usah anak, kita aja kalo dibandingin juga ga enak rasanya, hiks... maka kesadaran semacam ini melecut kita untuk tidak memperlakukan anak demikian ya, Mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas bener banget, sbg ortu kita harus terus sering belajar mengoreksi diri

      Delete
  5. Amin. Benar sekali mba, jangan sampai kita membandig-bandingkan anak ya. Soalnya kalau dibanding-bandingkan itu ga enak banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, saya masih harus banyak belajar

      Delete
  6. Aamiin, Mbak. Semoga keluarganya sejahtera terus ya.
    Aku baca ini kok ya berkaca-kaca jadinya. Jadi ingat mama. Jadi kayak unek-unekku dijawab sama mama, kalo sebenernya mama gak maksud sama sekali buat banding-bandingin anaknya.
    Aku sering ngerasa sakit hati sama yang diucapin mama. Terakhir yang beliau bilang ya soal "anak laki-laki" yang jadi harapan keluarga. Padahal, ya aku nih udah usaha sekolah yang tinggi, nilai bagus, cari uang ya buat banggain orangtua. Jadi ngerasa gak dianggap. Sedih. Yah malah curhat hahaha
    Terima kasih, Mbak Vety, untuk tulisannya. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak sedih banget kalo dibanding2in soal gender. Makanya aku bener2 belajar untuk nggak membanding2kan anak2ku. Tapi kadang meskipun sama2 ceweknya beberapa kali juga sering dibanding2in ama orang lain, katanya kok si ini lebih cantik ya dari sodaranya. kalo gitu emaknya yang baper...hahaha

      sama2 mbak. peluk mbak pertiwi

      Delete
  7. Karena dibanding bandingin itu rasanya sakit banget..nyeseeek..
    Nice article.. Makaci ya Mba
    Btw susunya itu enak bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku malah dulu nggak pake minum susu mbak. Nggak minum susu aja udah melar...huahaha

      Delete