Monday, January 2, 2017

Jangan Tanya Kenapa Aku Phobia Kancing

Entah mulai kapan tepatnya saya mulai mengalami phobia kancing, atau sering disebut dengan istilah koumpounophobia. Saya sendiri berusaha mengingat-ingatnya. Namun, yang saya ingat saat sekolah TK, saya paling bahagia jika harus menggunakan rompi dres selutut tanpa kancing karena rompi tersebut bisa menutupi kegelian saya terhadap kancing. Saya sendiri malah geli saat melihat seragam teman (laki-laki) sekelas saya yang saat itu justru menggunakan rompi berkancing.


Saat saya mempunyai seorang adik lelaki, saya sempat mengira jika dia juga akan geli terhadap kancing seperti saya. Bayangan saya dulu, semua orang didunia ini geli dengan kancing. Justru saya merasa aneh jika ada orang yang tidak geli dengan kancing. Hingga akhirnya saya tersadar bahwa justru saya yang aneh karena phobia tersebut. Normalnya orang pada umumnya tidak akan masalah jika harus melihat, memakai atau bahkan memegang kancing.

Ah, jujur untuk menyebut "kancing" saja saya sering merasa mual, begitu juga perasaan saya ketika mengetik tulisan ini. Rasanya nano-nano, karena saat menuliskan kata "kancing" secara tidak sadar saya akan membayangkan bentuknya, sehingga mau tak mau saya harus menahan rasa geli saya. 😥

Lebay? Yap, sebagian orang yang  tidak menyadari akan hal tersebut juga pasti akan merasa geli dengan phobia saya tersebut. Beberapa juga bahkan akan "semena-mena" menggoda saya, dengan mengejar saya berusaha menempelkan baju berkancingnya di lengan saya. Disitu rasanya sumpah kalo nggak ingat teman sudah mau saya "tampol" mukanya, dan toyor kepalanya berkali-kali.

Ibu saya sendiri tak pernah menyadari akan phobia saya tersebut. Bahkan pernah sekali saya menangis merasa ibu saya "raja tega", karena saat duduk dibangku SMA ketika itu saya sudah request kepada ibu untuk membuatkan seragam sekolah lengan panjang dengan kancing jepret saja dibagian lengannya. Tapi entah lupa atau bagaimana justru ada kancing "yang menggelikan" buat saya nempel di lengan. Bisa bayangkan bagaimana stresnya saya saat akan menulis atau makan ketika menggunakan baju tersebut. Sayangnya saat saya mengajukan protes kepada ibu, beliau hanya menjawab "Halah, kakean (kebanyakan) acara!". Hiks, saya pun sempat nelangsa dan hanya bisa pasrah menjalani hari-hari SMA saya selama 3 tahun dengan seragam tersebut.

Namun, ibu saya akhirnya menyadari rasa phobia saya ketika saya mulai kuliah. Disitu beliau mulai membantu saya untuk menghindari rasa phobia saya dengan menjahitkan jas laboratorium khusus beresleting. Ibu saya juga mulai memaklumi phobia saya tersebut, ketika beliau bertemu dengan salah satu teman band adik saya (cowok) yang juga memiliki phobia yang sama dengan saya.

Lucunya, ibunya pun tak pernah menyadari phobia anaknya tersebut, hingga saya yang terlebih dahulu menyadari dan menanyakan langsung kepada teman adik saya tersebut. Disitu ibunya baru menyadari, menurutnya pantas saja selama ini si anak sering tidak mau memakai baju kemeja yang dibelikan ibunya, meskipun si ibu sudah marah-marah nggak karuan.

Bersyukur saya memiliki suami yang memahami ke-phobia-an saya tersebut. Dulu suami pernah beberapa kali mencari info untuk menyembuhkan phobia saya dengan bertanya ke beberapa seniornya yang kebetulan memiliki basic psikolog. Sayangnya saat itu beliau menjawab, untuk bisa menyembuhkan phobia saya, setidaknya saya harus bisa tau "penyebab" awalnya. Sehingga nanti bisa ditelusuri perlahan dan alam bawah sadar saya bisa diarahkan untuk tidak takut lagi.

Pernah sekali ibu saya nyeplos ke saya untuk belajar menghilangkan rasa phobia saya, menurutnya mungkin karena rasa phobia saya tersebut yang membuat saya tak kunjung hamil! Bagaimana saya akan (bisa) punya bayi kalau saya phobia kancing, sedangkan baju newborn bayi rata-rata semua berkancing! Begitu kira-kira protes beliau terhadap saya.

Namun, seperti halnya beliau yang phobia terhadap belut, saya pun demikian tak bisa dengan mudah belajar menerima keadaan kancing disekitar saya. Hingga akhirnya saya pun sempat mengadu kepada suami, apa iya kita belum dikaruniai buah hati karena rasa phobia saya? Sehingga mungkin secara tidak langsung ada perasaan dialam bawah sadar saya yang menolak karena takut harus berhadapan dengan kancing baju bayi.

Sekali lagi saya bersyukur, karena suami saya diam-diam mencari info tentang baju bayi tanpa kancing. Hingga suatu ketika bercerita kepada saya, agar saya tak perlu takut lagi, karena sekarang ada banyak baju bayi model kimono. Seperti mendapat angin segar saat mendengar cerita tersebut, sehingga saya pun tidak perlu ada perasaan was-was membayangkan ini itu.

Entah bagaimana ceritanya, seingat saya tak lama setelah itu (mungkin sekitar 1 tahun berselang setelah obrolan tersebut) saya pun mendapat kehamilan. Sempat tergelitik sedikit dengan pikiran ingin memiliki bayi laki-laki, namun ada bayangan bagaimana nantinya saat si bayi mulai tumbuh besar. Tentunya mau tak mau saya harus mengajarkan mereka menggunakan kemeja sebagai salah satu baju resmi.

Sepertinya Allah menjawab rasa was-was saya dengan memberi kami bayi perempuan. Kami pun menyambut antusias menyambut kehadiran bayi tersebut dengan memborong baju bayi berbentuk kimono di toko bayi yang ada di kota kami. Suami pun justru menjadi salah satu orang yang paling semangat memberikan sinyal untuk mengijinkan saya membeli baju bayi jika dirasa baju tersebut tidak berkancing.

Saat si kakak mulai tumbuh besar, dan baju mulai tak muat, disitu suami dan saya sepakat untuk menyimpan beberapa baju (newborn) kimono tersebut. Alasannya model dan itemnya terbatas. Daripada nantinya kami harus berburu baju bebas kancing lagi saat hamil berikutnya.

Baju Bayi New Born Kimono

Benar saja, 10 bulan berselang setelah kakak lahir, saya hamil anak ke dua. Seperti sebelumnya saya dikaruniai bayi perempuan yang mungil dan sehat.

Mendapat dua bayi perempuan yang tumbuh menjadi gadis balita ceria sebenarnya saat ini tak dipungkiri membuat saya sedikit lega untuk urusan pemilihan baju. Alasannya untuk saat ini saya tak perlu heboh harus berhadapan dengan baju kemeja anak.

Lho, apa iya karena phobia kancing terus saya nggak mau punya anak laki-laki?
Nggak juga kok, buktinya saya juga tetap bisa menikah sama suami saya yang laki-laki dan memiliki kemeja segambreng di lemarinya.

Terus bagaimana saya bisa menjalaninya?
Saya sendiri beberapa kali sudah mencoba mengkondisikan diri agar bisa "lebih" berdamai dengan kemeja suami. Salah satunya, dulu saat awal menikah saya mencoba berbagai metode melipat baju kemeja suami. Mulai dari yang hanya menggantung di hanger tanpa mengancingkannya dan justru berakhir jatuh dari hanger sehingga membuat sang kemeja berantakan tidak rapi lagi. Hingga akhirnya saya bisa menyetrika dan melipat baju kemeja suami dengan lipatan yang berbeda pada umumnya. Dan sekarang saya lebih memilih menggunakan jasa laundry kiloan saja untuk baju kemeja suami.

Meski demikian untuk saat-saat tertentu saya tetap harus dihadapkan dengan kondisi "berani" menyetrika kemeja suami. Disitu suami saya yang paling tau mana baju hasil setrikaan laundry dan yang mana baju benar-benar hasil setrikaan saya.

Bagaimana dengan baju kakak-adik?
So far aman!
Seperti cerita saya diatas untuk baju anak perempuan lebih banyak pilihannya yang tanpa berkancing, sekalipun itu baju untuk acara resmi.

Meski demikian suami selalu mewanti-wanti saya untuk tidak mempengaruhi kakak-adik ikut geli dengan kancing. Tak dipungkiri beberapa kali kakak-adik seperti penasaran dengan kancing baju kemeja yayahnya, sehingga sering sekali mereka bertanya "Apa ini yah?", sembari memainkannya. Disitu saya terkadang tanpa sadar malah histeris sambil berkata "Ih...apa itu geli ah...jijik ah"😅

Terus ada yang pernah bertanya, nanti kalau anak-anak mulai sekolah, bagaimana saya akan menghadapi rutinitas mengajari anak-anak menggukan baju seragam? Ah itu apa kata ntar deh ya, dipikir lagi pelan-pelan.

Toh buktinya orang keren macam Steve Jobs sang pendiri Apple, konon katanya juga memiliki phobia kancing. Toh selama hidupnya dia tetap bisa menjalani hari-harinya.

Ada sedikit cerita menggelitik saat pengalaman melahirkan. Bahkan saat proses melahirkan di ruang bersalin saya masih sempat sadar dengan baju para perawat yang memiliki kancing. Sehingga beberapa kali saya harus berusaha menghindari kancing yang tanpa sengaja akan menempel. Disitu saya seperti memiliki kekuatan agar segera menyelesaikan proses lahiran saya dengan cepat agar saya tak perlu ndredeg sama kancing yang dipakai oleh para perawat. Berbeda dengan dokter yang menangani saya lahiran saat tiba saya langsung merasa lega karena beliau menggunakan apron yang terbebas dari kancing. Kalo nggak pake apron jangan-jangan mungkin saya sudah reflek nendang (nah lebay kan!).

Yah, tapi mana mungkin dokternya nggak pake apron bisa kotor kali nanti seragamnya 😂. Dengan alasan ini juga saya memilih rela mengenakan baju saya pribadi selama proses bersalin, meskipun para perawat heboh kuatir baju saya bakal kotor. Ih biarin kotor kenapa mbak, yang penting saya bisa konsen lahiran ketimbang gara-gara kancing saya malah nggak bisa fokus "mengejan" maksimal.

Dua kali melahirkan di Rumah Sakit yang sama, dan suka rempong dengan urusan baju berkancing plus gelang RS yang bikin saya geli karena ada bulet-bulet mirip kancing, membuat kepala perawat sempat turun menemui saya menanyakan alasan saya "ogah pake gelang RS" sehingga beberapa perawat pun jadi kenal saya "Pasien yang takut kancing".

Terus saya nggak pake gelang Rumah Sakit gitu jadinya? Ya, tetap pakai sih. Tapi dengan solusi bagian bulet-buletnya ditutup pakai plester biar nggak kelihatan.

Oh iya, sebenarnya saya juga tidak serta merta phobia dengan semua jenis kancing. Untuk kancing jins yang terbuat dari logam selama ini sih saya merasa aman. Saya hanya geli dengan kancing yang memiliki lubang, terutama lubang dua. Jadi jangan heran ya saya juga geli sama gambar-gambar babi yang bentuk hidungnya mirip kancing -_-

Udah ah nggak mau bahas kancing lagi, bulu saya makin begidig membayangkan setiap saya mengetik namanya...

Jadi pleaseee...jangan tanya lagi ya kenapa saya phobia kancing...menyebutnya saja berat... >_<

23 comments:

  1. Ada ternyata phobia kancing dan saya baru tau. Smoga dikit2 bs blajar ngilangin phobianya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya udah dalam tahap pasrah ini...hehehe

      Delete
  2. Proses lahirannya jadi cepat ya, Mbak. Tentu ini di antara "manfaat" phobia kancing.

    ReplyDelete
  3. Hihi, wajar sih phobia hal seperti ini. Suami mendukung ya, seneng deh. Btw, kakakku phobia karet gelang, mba. Susah kalau mau membungkus makanan di rumahnya karena ga ada karet gelang.

    ReplyDelete
  4. Jujur saya ikutan heran kok bisa takut sama kancing, mungkin ada pengalaman traumatik saat balita Mbak.
    Kalau tetanggaku ada yang phobia pisang, anaknya cowok padahal. Kesian jadi bahan ledekan saat masih kecil hingga remaja.
    Moga bisa segera tau apa penyebabnya sehingga bisa 'disembuhkan' phobianya ini, aamiin.

    ReplyDelete
  5. kancing kancing kancing.. mual g bacanya? hehe.. sy juga msh brusaha hilangin phobia ketinggian hehe

    ReplyDelete
  6. Beneran baru tahu mbak kalau ada phobia itu. Secara biasa yg phobia sama hewan, eh ini benda bulet2 hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada mbak...hehehe... Nanti kalo saya cerita ada phobia sama jajan lapis mbak ivone malah lebih aneh lagi...😂

      Delete
  7. Mmm.. Semoga bisa pulih dari phobia kancing!
    Kalau menurutku mungkin ada hikmah tertentu yang kita belum mengerti kenapa bisa ada phobia kancing di diri sendiri.
    Someday pasti ada jalan keluar

    ReplyDelete
  8. mungkin dulu pas bayi gak sengaja ngemut kancoing atau gimana mba..jadi trauma
    hii mbayangin mau lahiran sambil ngeliat barang yang bikin trauma..horror banget ya

    ReplyDelete
  9. saya phobia kancing baju juga (sejak balita sampai dewasa sekarang ini) :( .
    mood saya bisa mendadak buruk dan mual kalo melihat,membayanglan, kancing apalagi menyenggol :( .
    dan sering jadi bahan guyonan, padahal itu ga lucu. hasilnya saya merahasiakan phobia saya ini terhadap orang2 baru :)

    ReplyDelete
  10. hahaha,saya juga dari kecil kok. cuma ga semua kancing sih,hanya kancing yg terbuat dari plastik dan ada lubang benangnya. kalo kancing model yg dipake di celana jeans,atau yg dibungkus kain macem yg ada di jas/beskap jawa gitu gpp. tidak terasa mual atau eneg

    ReplyDelete
  11. Aku juga phobia ini..itu jg yg aku bayangin..gmn kalo udah nikah dan harus nyuci baju yg berkancing..tapi aku sendiri kalo ngeliat sih biasa aja..tapi kalo udah nyuci atau nyentuh tuh..jijik bgt......😣😣😣

    ReplyDelete
  12. waahh...
    makasih untuk sharingnya mbak..

    barusan anak saya nih yg kasih link ini,katanya
    "buuun,ternyata ada loh yg takut lausecing seperti aku"
    (nama kancing aja dia ganti saking gelinya kalo sebut itu)
    sama persis ama anak saya dr umur setaun kalo liat kancing langsung lari..
    sama nih,takutnya ama kancing yg ada lubangnya jd kemeja dia semua diganti kancingnya pake kancing bungkus atau kancing logam..
    btw,bahkan ama bolongan air di wastafel pun anak saya geli katanya ada bolongannya 4 kayak kancing..

    salut ama anak saya selama sekolah SMP sampai lulus SMA dia pakai kemeja sendiri,duuh berarti selama itu dia harus menahan jijik ya...

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah baca ini. Aku jg pobhia kancing mba. Sama bgd crita mba sm aku. Aku mau sharing dongg boleh mnta no wa mba? Klo boleh kirim by email vitha_imoodz@yahoo.com

    ReplyDelete
  14. Saya sudah bapak2. Dari sejak SD jijik melihat kancing yg lubang dua dan lubang empat, kalau yg di blue jeans nggak. Sampai sekarang umur 53 th, masih jijik...kalau beli makanan, kalau yg melayaninya berkancing, jadi batal belinya...nggak tahu kenapa, semua pakaianku t shirt semua...ssst ini rahasia ya...kalau dikasi tahu nanti bisa bisa dicandain kasi kancing ;-)

    ReplyDelete
  15. Saya sudah bapak2. Dari sejak SD jijik melihat kancing yg lubang dua dan lubang empat, kalau yg di blue jeans nggak. Sampai sekarang umur 53 th, masih jijik...kalau beli makanan, kalau yg melayaninya berkancing, jadi batal belinya...nggak tahu kenapa, semua pakaianku t shirt semua...ssst ini rahasia ya...kalau dikasi tahu nanti bisa bisa dicandain kasi kancing ;-)

    ReplyDelete
  16. Wah... Sama.. Saya juga phobia kancing. Apalagi kancing berlubang 2 ato 4. Cuma kancing celana jeans yg gak. Tapi kalo banyak yg begidik juga. Paling takut kalo kancing lepas dari baju. Saya kadang maksa buat pegang kalo terpaksa tapi habis gitu cuci tangan pakek sabun berkali2 deh, udah kayak pegang kotoran. Berasa kancing itu najis... 😅😅😅

    ReplyDelete