Saturday, January 28, 2017

Keluar Dari Zona Nyaman #Belajar Menjadi Lebih Baik

Beberapa waktu lalu setelah saya mendaftar di Institut Ibu Profesional dengan tekad ingin membawa diri ke arah perubahan lebih baik, maka saatnya saya memutuskan berani keluar dari zona nyaman mengambil tugas koordinator mingguan di minggu pertama kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional. Awalnya sempat maju mundur, karena saya tidak ada gambaran sama sekali mau bagaimana nantinya.



Saya sempat kuatir tidak bisa amanah, mengingat saya masih harus handel dua balita saya yang sering protes jika melihat saya terlalu sering memegang gadget. Namun, akhirnya saya memutuskan nekad ambil kesempatan tersebut dengan asumsi toh minggu tersebut saya tidak kemana-mana.

Faktanya setelah fix menjadi koordinator mingguan di minggu pertama, berturut-turut ada banyak list pekerjaan lainnya datang bersamaan. Membayangkan berentet pekerjaan membuat kepala saya hampir pecah rasanya.

Baru sadar ternyata di minggu tersebut saya memiliki target harus menyelesaikan deadline tulisan yang ingin saya ikutkan di karya antologi #2 Dwi Suwiknyo.

Baca Juga : Ya Allah Izinkan Kami Menikah! #Buku Keren Yang Kekinian

Ditambah ternyata awal minggu tersebut kelas online bahasa Inggris Ican Course yang saya ikuti di mulai. Di kelas Ican Course pun saya juga harus mengerjakan home work.

Belum lagi target saya mengalahkan diri sendiri untuk bisa menulis di blog setiap hari. Seandainya mau libur menulis maka batas maksimal cuti nulis saya hanya 2 hari. Lebih dari itu justru akan membuat saya semakin malas memulai untuk menulis.

Sempat menyesal mengambil keputusan tersebut. Baper, melow merasa bersalah karena mau tak mau di awal tugas ada banyak tugas yang saya kerjakan, yang artinya saya harus sering-sering berkutat dengan gadget atau laptop.

Baca Juga : Curahan Hati Untuk Anak-Anakku ... Surat Untuk Anak-Anakku ...

Ah sedih rasanya, saat anak-anak melihat saya seharian sibuk dengan gadget dan laptop. Saya pun beberapa kali sempat sedikit ngomel saat kakak atau adik terutama mulai mencari cara meminta mengalihkan perhatian saya dari laptop atau gadget.

Sempat hampir menyerah saat saya merasa tugas koordinator mingguan terasa memberatkan. Tapi saya mencoba untuk tidak mau mengeluh dan mendorong diri saya agar mengikuti alur kemana tugas ini membawa saya melangkah. Saya hanya menyemangati diri saya sendiri dengan berkata dalam hati "Ayo, katanya mau belajar? Katanya mau berubah? Masak gini aja udah nyerah!".

Kalimat tersebutlah yang selalu menyemangati saya. Saya pun menyampaikan kepada anak-anak saya, terutama si kakak yang sudah lebih paham jika saya ajak diskusi. Saya katakan kepada meraka, bahwa saya minta maaf jika dalam beberapa hari ini saya akan sibuk berat menghadap layar laptop atau gadget. Saya katakan, saya ingin belajar untuk mereka.

Baca Juga : Fakultas di Universitas Kehidupan #Belajar Menjadi Lebih Baik

Setiap kali mereka menggoda atau mencari alasan untuk mengganggu kesibukan saya, tak dipungkiri sempat membuat saya sedikit hampir terbawa emosi. Namun, lagi-lagi saya mendapat semangat dari para fasilitator yang selalu mengatakan, "Tak perlu dipersulit mbak, bagaimana enaknya saja".

Ya, kebetulan koordinator mingguan mendapat tugas meresume materi, tanya jawab, serta membuat daftar (list) nama teman-teman yang sudah mengerjakan tugas, sekaligus mengingatkan teman-teman yang belum mengerjakan tugas.

Bersyukur lagi, mbak Evi salah satu fasilitor di kelas kami membantu saya membuatkan form konfirmasi pengumpulan tugas dari teman-teman. Sehingga saya tak perlu membuat list secara manual, dan tak perlu mengingatkan satu persatu lagi. Semacam ada secercah sinar harapan mendapat bantuan tersebut. Yah, tekad kesabaran saya berbuah manis rasanya.

Saat ini sudah hampir seminggu saya menjalani tugas koordinator mingguan di kelas. Rasanya ada sedikit rasa plong, artinya setelah ini "kehebohan" tugas saya menjadi koordinator mingguan selesai. Sehingga saya bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama bercengkerama dengan anak-anak.

Deadline tulisan saya pun selesai di awal minggu itu, begitu juga tugas kelas ICan Corse yang berhasil saya kumpulkan tepat waktu.

Disini saya belajar banyak bagaimana menyikapi kehebohan deadline pekerjaan yang bertubi-tubi. Yaitu dengan mulai mencoba menyelesaikan pekerjaan tersebut satu demi satu. Abaikan bayangan semua pekerjaan yang belum terselesaikan menumpuk jadi satu, karena hal tersebut justru membuat kita semakin terpuruk dan stres. Tetap yakin pasti bisa mengerjakannya. Tak perlu mengeluh karena kita tak pernah tau akan ada bantuan apa didepan.

Ternyata mencoba keluar dari zona nyaman itu sedikit menegangkan, namun melegakan saat semua pekerjaan bisa terselesaikan satu demi satu.

Semangat untuk selalu Belajar Menjadi Lebih Baik ...

3 comments:

  1. Cemungut miss vetyy... Aku mau jadi chirlidersmu.. *lhoohh.. 😓
    You can do it.. I trust you..
    *cieeh.. Mentang2 ikut ican course sok bule sekarang.. 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyikkk udah lancar sekarang bahasa inggrisnya. Semangat miss miftha :*

      Delete
  2. aku pernah baca sekilas tentang Institut Ibu Profesional ini, semoga sukses ya Mbak menjalankan amanah namun tetap ada waktu buat anak-anak, aamiin.

    ReplyDelete