Wednesday, January 4, 2017

Lubang dan Sakit Gigi Saat Hamil?

Jauh sebelum hamil, tidak pernah terpikirkan bahaya lubang gigi saat hamil. Hingga akhirnya beberapa teman saat hamil ternyata mengalami sakit gigi yang teramat sangat dan tidak mendapat solusi memuaskan selama menahan sakit gigi saat periode kehamilannya. Meski demikian tak menyurutkan rasa takut saya untuk datang ke dokter gigi. Saya pun selalu menunda-nunda rencana saya untuk ke dokter.
Peralatan Dokter Gigi

Saya pun butuh waktu untuk bisa membulatkan tekad saya baru berani ke dokter gigi setelah melewati 2x periode kehamilan.

Lama banget ya?!

Beruntung meski gigi berlubang, saya tidak masuk kategori ibu hamil yang harus menahan rasa sakit selama kehamilan.

Lho mana mungkin?!

Sebenarnya bisa dibilang gigi saya yang berlubang ini sudah lama di matikan akarnya. Sampai akhirnya tambalan gigi nya pecah berulang kali karena suatu hal yang tidak bisa saya sebutkan disini, sehingga tidak bisa diselamatkan.

Halah bilang saja tambalan gigi sering pecah karena sering nyemil kerupuk udang mentah! Iya toh?!

Iya sih (nah ngaku juga kan!).
Saya memang pecinta kuliner ekstrim, salah satunya suka nyemil kerupuk udang mentah yang "alotnya" luar biasa.

Nah, mungkin karena itulah yang membuat tambalan gigi saya tidak pernah bisa bertahan. Lama-lama bahkan membuat gigi saya ikut pecah, dan tidak memungkinkan untuk ditambal ulang.

Singkat cerita selama kehamilan, saya cukup dibuat was-was dengan kondisi gusi (gigi) yang sering mengeluarkan darah saat saya sikat gigi. Mungkin tidak banyak tapi cukup membuat bulu sikat menjadi "merah merona" ketika saya menyikat gigi.

Selama kehamilan saya hanya berdoa, semoga tidak seharipun saya akan merasakan sakit gigi. Saya nggak bisa bayangkan jika harus menahan rasa sakit gigi selama kehamilan. Maklum tidak semua obat sakit gigi aman dikonsumsi ibu hamil.

Sharing pengalaman dari seorang sahabat, dia hanya mendapat paracetamol untuk membantu meredakan nyeri giginya. Sayangnya dengan kondisi hamil, menurutnya paracetamol kurang mumpuni untuk mengurangi sakit giginya. Sehingga selain rutin mengkonsumsi paracetamol, teman saya tersebut juga rutin berkumur dengan air garam demi membantu meredakan sakit giginya.

Tambahan lainnya, jika memang merasa tidak ada lubang di gigi namun tetap merasa nyeri dan merasa kekurangan kalsium bisa langsung minta saran tambahan suplemen kalsium dari dokter kandungan.

Sebenarnya ibu hamil boleh nggak sih tambal gigi apalagi cabut gigi?
Salah seorang sahabat saya (lainnya) sepertinya ada yang punya pengalaman diperbolehkan tambal gigi namun dengan syarat dan ketentuan berlaku.

Saya sendiri sempat menanyakan perihal cabut gigi ke dokter kandungan saya, ternyata saya tidak disarankan melakukan tindakan tersebut jika memang dirasa tidak terlalu emergency.

Ada banyak hal sih ya menurut saya yang dipertimbangkan kenapa sebaiknya tidak melakukan tindakan tambal gigi apalagi cabut gigi saat hamil, mungkin diantaranya :
  • Faktor psikis selama proses penambalan. Selama proses menambal  mau tak mau kita akan mendengar suara bor gigi yang terkadang tanpa sadar justru membuat hati kita ngilu dan menahan panik (alias stres). Nah padahal ibu hamil sebisa mungkin kan nggak boleh panik apalagi stres, kasihan janinnya.
  • Perasaan mual. Nah, untuk ibu hamil seperti saya yang mengalami mual parah sepanjang hari bisa dibayangkan apa jadinya ketika proses penambalan atau cabut gigi saat mulut saya di obok-obok pake bor, tang, pinset dans sebagainya.
  • Obat bius yang digunakan. Meskipun beberapa dokter gigi berpendapat obat bius yang digunakan bersifat lokal dan aman untuk ibu hamil, saya sendiri merasa ngilu jika gusi saya harus disuntik obat bius. Bisa-bisa konpal nanti perut saya karena menahan ngilu.
  • Photo Rontgen Gigi. Setau saya biasanya sebelum dilakukan tindakan cabut gigi, dokter akan melakukan photo rontgen gigi dimana untuk memastikan apa memang benar gigi tersebut harus dicabut atau bisa diselamatkan dengan perawatan rutin ke dokter. Nah, beberapa kali (dulu) saat saya akan photo gigi, biasanya petugas akan menanyakan apakah saya hamil atau tidak. Selain itu didepan ruangan photo biasanya terdapat tulisan bahwa ibu hamil dilarang masuk.
  • Efek setelah cabut gigi. Meski sudah dibius sebelum dilakukan tindakan, biasanya berangsur-angsur efek obat bius tersebut akan hilang dan rasanya sangat luarrrrr biasa.
  • Durasi diperbolehkan makan setelah proses tambal atau cabut gigi. Biasanya kita akan dilarang untuk makan beberapa jam kedepan. Bo', bagaimana rasanya perut kita yang bisa nyemil tiap menit karena rasa lapar ibu hamil yang terkadang sulit dimengerti. Pas lapar banget kalau nggak buru-buru di isi bisa mual parah begitu juga sebaliknya kenyang pun juga bisa bikin mual muntah nggak karuan.
Meski demikian saya cukup was-was menjalani kehamilan dengan gigi berlubang, karena konon katanya gigi berlubang juga bisa membahayakan kehamilan.

Apa sih bahayanya gigi berlubang selain sakit gigi?
Utamanya dikuatirkan akan menyebabkan infeksi di gigi dan gusi.
Yang jika dibiarkan berlarut-larut dikuatirkan akan ada kuman (bakteri) yang masuk ke dalam aliran darah melalui lubang di gigi dan akan menyebar ke seluruh tubuh. Bayangan paling "lebay" saya, kalau kuman (bakteri) ikut menyebar (menyerang) janin.

Memang bisa ya?
Dari yang saya baca-baca sih bisa, karena lubang gigi mau tak mau bisa menjadi salah satu akses pintu masuk kuman (bakteri) menuju aliran darah.

Saya jadi ingat sharing dari sahabat saya bernama Rafelia Reggie owner komunitas Aku Ingin Hamil tentang anjuran merawat gigi saat menjalani program hamil. Dulu sih menurutnya gigi yang berlubang juga bisa mempengaruhi kesuburan kita. Masuk akal juga sih ya sebenarnya hubungan antara kesehatan gigi dan kesuburan kalo baca dari sisi bahaya gigi berlubang tadi. Mungkin karena lubang, jadinya masuk kuman menuju organ-organ yang berhubungan dengan kesuburan rahim kita (ini saya hanya mengira-ngira sih ya).

Namun sayangnya saat itu belum sempat saya merawat gigi, malah dapat rejeki hamil.
Begitu juga saat ada niat mau mulai merawat gigi setelah si kakak lepas ASI. Tadinya sih karena bingung kalau misalnya saat proses perawatan gigi si kakak minta nenen. Eh, belum juga si kakak umur setahun tau-tau saya hamil anak kedua. Jadi ya sudah akhirnya saya baru benar-benar bisa ke dokter gigi setelah adik lahir dan cukup umur.

Si Adik Ngintip Emaknya di Dokter Gigi
Dan rasanya memang luarrrrrrr biasaaaaaahhhhhhh (pake "h" ya...)
Setelah melewati berbagai proses salah satunya disarankan photo gigi yang ternyata hasilnya menyarankan cabut gigi, karena tambalan sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Maka saya pun harus rela melewati beberapa proses yang cukup bikin ngilu dan ciut hati dengan suara bor dimana-mana, dan suara tang "kriet-kriet" saat mencabut gigi saya yang masih menempel digusi.

Tak sampai disitu, beberapa jam setelahnya (nggak sampai satu jam) gigi saya berasa ngilu luar biasa, karena efek obat bius yang disuntikkan hilang.

Uwooowwwww...rasanya handel dua bocah sambil nahan ngilu itu benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Demi apa saat itu sampai request ke suami khusus hari itu untuk jangan lembur dulu. Belum lagi saat ngilu dan si adik rewel minta nenen. Disitu saya cuman bisa meringis pengen menangis mentertawakan diri sendiri😂. Sambil ngedumel dalam hati "sukurin-sukurin! Suruh siapa nggak mau merawat gigi dari dulu sebelum hamil". 😅

Bersyukur akhirnya saya memutuskan untuk benar-benar merawat gigi saya setelah kelahiran anak ke-2. Tujuannya agar saya tidak perlu was-was lagi jika hamil anak ke-3 sesuai dengan salah satu daftar Resolusi Menjadi Lebih Baik di Tahun 2017 milik saya.

Namun setelah cabut gigi ternyata dokter menyarankan saya untuk memasang bridge gigi, alasannya agar gigi saya bagian atas lama-lama tidak semakin turun dimana dikuatirkan akan membuat gigi tersebut goyang "mudah goyah" dan akan ikut terlepas. Whatttttt???

Ya sudah pasrah saja deh, pasang bridge gigi.
Yang ternyata prosesnya pun cukup bikin hati merinding. Setelahnya pun saya harus melewati ngilu-ngilu parah dan cukup bisa bikin nangis guling-guling hampir seminggu lebih.

Oh ya, namun meski demikian ada beberapa info yang saya dapat dari teman di beberapa komunitas, konon katanya sakit gigi pada ibu hamil bisa juga disebabkan karena kurangnya asupan kalsium pada si ibu hamil.

6 comments:

  1. kalau bicara sakit gigi saya jadi gmn gitu. sakitnya tuch disini... ya disini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sakit gigi itu rasanya bikin nggak bisa apa2. dunia rasanya muram banget -_-

      Delete
  2. Sampai sekarang aku belum berani ke dokter gigi hiks.
    Pdhl gigi lubang kanan kiri dan nyaris tinggal akar doang huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. AYo mbak ivon ke dokter gigi, sebelum jadi ompong. hehehe...

      Delete
  3. Duh kalo bahas sakit gigi,, emang ga bisa santai kalo pas lagi sakit gigi... hehehe

    ReplyDelete