Monday, January 9, 2017

Pengalaman Naik Kereta Dengan Dua Balita

Beberapa waktu lalu akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajak dua balita saya menaiki transportasi kereta api menyusul suami yang sudah lebih dulu tiba dijogja menggunakan pesawat sehari sebelumnya. Dengan berbekal tips aman naik kereta api ala emak kesundulan dari beberapa teman The Sundulers Indonesia, akhirnya saya meyakinkan diri sendiri pasti bisa. Saya pun memilih Sancaka Pagi sebagai pilihan kami, dengan berbagai alasan yang sudah saya pertimbangkan dengan sedikit masukan dari suami.


Sempat ibu saya bertanya kepada saya "Nanti, diatas kereta api kalau kamu kebelet pipis gimana?".

Saya pun hanya menjawab "Santai bu, nanti pasti ada cara". Saya sih tidak seberapa kuatir, karena beberapa sahabat saya sudah berbagi tips ke toilet ala emak sundul saat bepergian bersama dua balita.

Sebenarnya ada dua alternatif sih saran dari beberapa teman, jika nantinya saya memang terpaksa harus ketoilet saat berada di atas kereta api, yaitu
  • Ajak anak-anak ikut ke toilet ramai-ramai
Atau

  • Biarkan anak-anak tetap duduk dibangkunya. Kita wanti-wanti si kakak untuk menjaga adiknya sebentar, sembari titip-titip ke penumpang lainnya yang mungkin kita percaya.
Namun, saat diatas kereta api saya lebih memilih mengajak anak-anak saya ke toilet ala rombongan sirkus. 😁

Hal ini dikarenan kebetulan tiba-tiba justru si kakak minta ke toilet di tengah jalan. Jadi sekalian saja saya ajak adik ke toilet, sekaligus saya ikut "menyempatkan" buang air kecil. Biar nggak bolak balik kan. 😂

Beruntung toilet kereta api Sancaka Pagi yang saya tumpangi memiliki space yang cukup luas bagi kami bertiga untuk masuk beramai-ramai.

Salah Satu Sudut Toilet Kereta Api Sancaka Pagi

Ternyata bukan bagaimana cara saya bisa buang air kecil ke toilet sambil bawa dua bocils yang menjadi kendala selama perjalanan di atas kereta api. Tapi justru si kakak yang heboh nggak bisa pipis karena toiletnya "goyang-goyang".

Sempat suami menyarankan saya untuk mengajak kakak adik mencari toilet saat kereta api berhenti. Tapi saya tidak berani mengambil resiko, daripada tiba-tiba saya ditinggal kereta api karena masih heboh sama dua balita selama di toilet stasiun.

Saya sempat menawarkan si kakak menggunakan pampers adik sementara, tapi si kakak tidak mau, dan sepertinya memilih menahan rasa ingin buang air kecilnya.

Okelah, pikir saya nggak apa-apa. Nanti kalau sudah kebelet pipis banget mau nggak mau pasti bisa pipis.

Beruntung selama perjalanan si kakak sempat tertidur sebentar.


Alhamdulillah selama perjalanan baik kakak maupun adik tidak rewel sama sekali.

Namun, meski demikian saya harus sering-sering mengambil nafas panjang saat melihat keaktifan kakak-adik selama di kereta. Terutama si adik yang heboh naik sana-sini.


Untungnya ini dua seat bisa kami dudukin sendiri karena si kakak sudah full bayar tiketnya. Coba kalau duduk sebelahan dengan penumpang lain, bisa cekot-cekot sepertinya kepala mereka.

Tak cuma "pencilakan" sana sini, beberapa kali suasana kereta api dihebohkan dengan serunya suara teriakan kakak adik saat berebut entah makanan atau mainan hanya karena hal sepele. Belum lagi suara "cempreng" kakak khasnya suara balita yang seru bertanya dan bercerita sepanjang jalan.
video

Sesampainya di stasiun jogja, saya dan anak-anak tak langsung turun. Tapi pasrah menunggu petugas poter naik keatas kereta agar bisa membantu kami membawa koper kepintu keluar stasiun tempat suami menunggu.

Meski hanya satu koper dan satu ransel tapi cukup membuat saya heboh membawanya sembari menggandeng kakak sekaligus menggendong adik.

Sebenarnya, meminta bantuan petugas poter juga saya lakukan ketika akan naik keatas kereta api saat keberangkatan tadi. Dengan alasan ini juga saya memutuskan meminimalis bawaan saya dengan tidak membawa stroller dari Surabaya.

Untuk tiket kereta api, entah sudah berapa tahun saya tidak pernah naik kereta api. Saya-pun baru tahu ada perubahan kebijakan (sistem) untuk keberangkatan penumpang.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dimana saat ini para penumpang ternyata diharuskan melakukan check in minimal 12 jam sebelumnya.

Tiket kereta api baik yang kita beli melalui on line ataupun di loket stasiun, nantinya harus kita tukarkan dengan mencetak tiket boarding pass di stasiun keberangkatan.

Sehingga saya sengaja datang jauh lebih awal dari jadwal jam keberangkatan sebagai antisipasi kehebohan saya melakukan check in sembari menghandel dua balita saya.

Mencetak Boarding Pass Kereta Api
Setelah check in untuk mendapatkan boarding pass, saya menyempatkan diri mengajak kakak adik sarapan di sebuah restoran yang ada di stasiun.

Satu jam mejelang keberangkatan saya beserta kakak dan adik segera melakukan "boarding" masuk ke ruang tunggu yang ada didalam stasiun sembari menunggu kereta api Sancaka Pagi tiba.

Sebenarnya pertimbangan memilih kereta Sancaka Pagi, dengan alasan
  • Kakak-Adik bisa benar-benar menikmati perjalanan kereta karena perjalanan dilakukan pada saat jam aktif kedua-nya.
  • Meminimalisir jam tidur kakak-adik, agar saya tak perlu bingung jika harus ke toilet. Justru akan semakin panik jika saya harus ke toilet sembari menggendong kakak-adik yang sedang tertidur pulas.
  • Jadwal tiba kereta api siang hari, sehingga suami bisa menyempatkan menjemput kami saat jam istirahat.
  • Budget jauh lebih ringan ketimbang saya harus memilih pesawat sebagai sarana transportasi kami.
  • Lokasi destinasi pemberhentian kereta Sancaka Pagi berada di stasiun Jogjakarta, yang tentunya lokasinya berada di dekat Malioboro. Sehingga seandainya saat itu suami meleset tidak bisa menjemput, saya bisa memilih banyak alternatif transportasi menuju hotel.
Kakak Adik Menikmati Pemandangan Kereta Api
Sebagai catatan tambahan, untuk selanjutnya jika ingin melakukan perjalanan menggunakan kereta api bersama dua balita maka sebaiknya mengajak mereka sarapan atau makan dan membeli camilan serta minuman terlebih dahulu sebelum naik keatas kereta api.

Menikmati Roti O yang Dibeli Di Stasiun Keberangkatan

Agar kita tidak perlu heboh dengan kakak-adik yang kelaparan saat awal-awal keberangkatan kereta api. Meski diatas kereta api nantinya akan ada petugas yang menawarkan makanan, namun mereka baru akan muncul sekitar satu jam setelah kereta api lepas landas.

Jangan lupa "emaknya" juga makan dulu ya biar perut nggak keroncongan di dalam kereta api.

Petugas KA Menawarkan Makanan

Sebagai gambaran, untuk harga makanan dan minuman yang dijual diatas kereta api beraneka ragam. Seperti MiSo (Mie Bakso) yang ditawarkan dengan harga Rp. 20.000,- dan snack Lays yang dibandrol dengan harga Rp. 12.500,-.

MieSo (Mie Bakso)

Adik Menikmati MieSo
Kakak Bergaya Kekinian dengan Snack Lays yang Dibeli Di Kereta Api

7 comments:

  1. Waksss aku juga ngak bisa pipis kalo di kereta, butuh konsentrasi lebih

    ReplyDelete
  2. Wah seru banget ya naik kereta dengan anak-anak, coba juga ah ke Garut naik kereta sama anak.

    ReplyDelete
  3. Mba beli tiket 2 ya?trus mba duduk dmn kl kakak bobo?☺ aku rencana mo bw balitaku 1.6 thn naik kereta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak beli dua untuk saya dan anak pertama karena sudah kena bayar wktu itu. Saya duduknya agak maju mbak. Hehe

      Delete
  4. Mba beli tiket 2 ya?trus mba duduk dmn kl kakak bobo?☺ aku rencana mo bw balitaku 1.6 thn naik kereta

    ReplyDelete