Thursday, February 23, 2017

Belajar Membuat Desain Pembelajaran ala Keluarga Kami #BerprosesMenjadiLebihBaik

Jika merunut istilah Rumah adalah Madrasah utama untuk anak, dimana ibu berperan sebagai gurunya, dan ayah sebagai kepala sekolahnya, maka mau tak mau untuk membawa kemajuan bagi madrasah utama anak-anak kami, saya harus bekerja sama dengan suami untuk menentukan desain pembelajaran bagi keluarga kecil kami.

Jadi sebenarnya apa sih desain pembelajaran itu? Untuk bahasa simpelnya saya mengartikannya sebagai perencanaan pembelajaran.

Sebenarnya jika mau searching di google ada banyak model desain pembelajaran yang sudah beredar ditengah masyarakat. Jika mau kita bisa memakainya untuk membuat desain pembelajaran bagi keluarga kita. Tapi untuk saya, jujur dengan melihat model desain pembelajaran tersebut, saya merasa kuatir akan terpaku pada standart yang ada padahal bisa jadi model tersebut tidak sesuai dengan keluarga kami. Sehingga disini saya mencoba untuk mendobrak ruang berpikir saya dengan berselancar mencari gambaran desain pembelajaran bagi keluarga kecil kami.

Jika boleh mengibaratkan maka untuk bisa membuat desain pembelajaran ini, saya mencoba membayangkan kami sedang ingin mendesain sebuah rumah impian kami. Dimana beberapa langkah yang bisa saya ambil, yaitu :
  1. Membuat sketsa kasar rumah yang ingin kami buat, dimana pada poin ini saya dan suami mulai mencari visi dan misi untuk keluarga kecil kami. Kemudian menyempurnakan sketsa dalam bentuk utuh, dan spesifik. Disini saya mengibaratkan saya sudah harus memiliki visi dan misi yang sama dengan suami, akan dibawa kemana keluarga kecil kami ini nantinya.
  2. Memperhitungkan hal-hal detail, mau dibuat seperti apa nantinya rumah yang kami desain tersebut, mulai dari desain eksterior sampai interiornya, sehingga kami juga harus mempertimbangkan beberapa hal berikut :
    • Bahan yang dibutuhkan. Setelah sketsa gambar ditentukan maka waktunya untuk menentukan bahan apa saja yang diperlukan untuk mulai merealisasikan sketsa tersebut. Disini peran kami sebagai orang tua harus bisa melihat apa saja yang kira-kira kami butuhkan untuk merealisasikan visi misi keluarga kecil kami.
    • Tenaga yang dibutuhkan. Tak hanya bahan yang dibutuhkan, kami juga harus memperhitungkan tenaga yang akan kami keluarkan untuk mencapai visi misi tersebut.
    • Menghitung waktu yang dibutuhkan. Mau tak mau, kami juga harus menentukan durasi waktu yang diperlukan untuk bisa merealisasikan sketsa gambaran visi keluarga kecil kami.
    • Mengestimasi biaya yang mungkin dikeluarkan. Tidak harus spesifik, tapi bisa jadi kisaran saja. Hal ini sebenarnya jika dihubungkan dengan desain pembelajaran kami, maka estimasi biaya ini bisa dibilang berhubungan dengan estimasi biaya yang mungkin kami butuhkan untuk pendidikan atau sekolah anak-anak.
  3. Memperkirakan halangan rintangan. Jika membangun rumah, bisa jadi halangan rintangan berupa gangguan cuaca, sehingga nantinya bisa jadi desain rumah yang kami harapan tidak jadi tepat pada waktunya. Sehingga untuk desain pembelajaran keluarga kami, saya juga harus mempertimbangan rintangan-rintangan yang ada didepan kami, sehingga kedepannya kami bisa mencari solusi agar semua rencana kami berjalan dengan lancar.
  4. Mereview/mengoreksi perkembangan desain yang sedang dikerjakan.
  5. Menyediakan alternatif lain. Suami saya tahu benar saya termasuk orang yang suka menyiapkan plan B seandainya plan A tidak memungkinkan kami capai.
Setelah membaca ulang desain diatas, maka kami mulai dengan mendiskusikan mencari visi dan misi yang sama agar kami bisa mencapai goal keberhasilan yang sama dan saling mendukung dalam keluarga kecil kami.

Seperti kesepakatan suami dengan saya di awal, kami ingin nantinya anak-anak kami tidak hanya terpaku menjadi seorang pegawai kantoran saja. Goal kami, anak-anak tidak harus belajar di Universitas Negeri. Jika diijinkan kami punya mimpi agar anak-anak kami kelak bisa menempuh pendidikan Universitas di luar negeri (amin). Sedangkan saya goalnya bisa menjadi ibu baik yang profesional. Baik disini dalam artian luas bisa dilihat di tulisan saya sebelumnya yang berjudul Fakultas di Universitas Kehidupan #Belajar Menjadi Lebih Baik. Sebenarnya goal saya ingin menjadi ibu baik yang profesional adalah agar anak-anak bisa menjalani rutinitas dengan menyenangkan tapi tetap bisa mencapai kesuksesan sesuai potensi yang dimilikinya. Untuk suami goalnya adalah ingin menjadi suami dan ayah keren bagi anak-anaknya. Keren yang tidak sekedar hanya sebatas penampilan saja, tapi juga bisa menjadi imam dan teladan bagi kami keluarga kecilnya. Keren yang juga berarti bisa membahagiakan kami keluarga kecilnya.

Ya Allah ijinkan kami punya mimpi, ijinkan keluarga kecil kami bisa menggantungkan cita-cita setinggi langit.

Nah, jadi untuk bisa merealisasikan goal visi misi keluarga kecil kami, kami harus mulai memperhitungkan apa saja yang kami perlukan untuk membekali anak-anak kami. Ibarat ingin membuat sebuah rumah maka yang harus kami perkuat di awal adalah pondasinya. Dimana pondasi yang kami maksud disini adalah landasan agama yang kuat bagi anak-anak kami.

Ibarat Mendesain Rumah, Maka Harus Diperkuat Pondasinya

Selain itu untuk memberikan pondasi kuat, suami dan saya mulai belajar untuk mendidik anak-anak kami sesuai fitrahnya. Dimana seperti yang saya ketahui, fitrah individu diklasifikasikan menjadi 8, yang bisa dibaca di artikel berjudul, Berita Penusukan Mantan Kekasih, Menjadi Perenungan Kami Mendidik Anak Sesuai Fitrah

Untuk memberikan landasan agama yang kuat bagi anak-anak kami, maka saya dan suami sedang belajar dengan berusaha memberikan contoh langsung dari rutinitas kami sehari-hari atau bisa dibilang Learning by doing. Hal paling mendasar dan paling mudah, dengan kami berusaha memberikan contoh melaksanakan shalat wajib tepat waktu. Selain itu kami juga mencoba membiasakan membaca Al-qur'an didedapan anak-anak. Kami juga sedang belajar untuk mengajarkan kepada anak-anak mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.

Tak dipungkiri untuk membuat pondasi yang kuat, kami menyadari kami juga harus mencari ilmu dari luar. Sehingga kami memutuskan untuk juga memberi bekal agama dengan bantuan dari lingkungan sekitar, seperti dengan mendatangkan guru ngaji.

Saya sendiri untuk menguatkan pondasi tersebut juga harus banyak belajar mengelolah emosi saya. Dimana saya mulai menanamkan mindset kepada diri saya, bahwa anak-anak merupakan amanah yang telah diberikan kepada Allah untuk kami jaga dan arahkan dengan benar, agar nantinya kami bisa berhasil mempertanggung jawabkan amanah tersebut.

Tak hanya pondasi kami juga harus memperhitungkan bahan yang kami butuhkan untuk membangun rumah tersebut. Seperti visi misi yang ingin kami capai diatas maka, saya ingin memberikan bekal pendidikan terbaik untuk anak-anak kami. 

Pendidikan terbaik untuk anak-anak kami bukan tentang memberikan pendidikan di sekolahan termahal di kota kami, tapi lebih kepada mencari sekolah yang sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh anak-anak kami.

Setuju dengan yang disampaikan dalam materi kuliah matrikulasi institut ibu profesional minggu ke 5, saya dan suami ingin mengikuti sistem pembelajaran meninggikan gunung, bukan meratakan lembah.

Sebenarnya sudah lama sekali hal ini pernah saya diskusikan dengan suami setelah kami melihat tayangan hitam putih oleh deddy cobuzer tentang cara didiknya terhadap anaknya yang menurut saya dia lebih memfasilitasi apa yang menjadi potensi anaknya.

Selain itu saya juga pernah membaca buku parenting milik ayah edy, dimana disitu digambarkan seekor ikan tentu akan merasa sangat kesulitan jika dipaksa belajar terbang. Sebaliknya burung yang jago terbang akan semakin kesulitan jika dipaksa berenang. Sepele tapi mengandung makna yang dalam. Ibarat seekor burung yang memiliki potensi terbang sangat tinggi, ketika kita paksakan untuk mendalami keterampilan berenang, maka akan menjadi suatu hal yang sangat berat, bahkan mungkin bisa menyebabkan keterampilan terbangnya ikut kembali terkubur karena terlalu fokus ingin mengembangkan keterampilan berenangnya yang bahkan mungkin tidak dimiliki dalam dirinya.

Jadi langkah apa yang akan saya lakukan untuk metode pembelajaran meninggikan gunung tadi?

Saya dan suami sepakat untuk mulai mengeksplore, menggali bakat maupun potensi yang dimiliki oleh anak-anak kami. Tidak mudah memang, bahkan sampai saat ini kami masih meraba-raba bakat dan potensi apa yang dimiliki oleh anak-anak kami.

Untuk bisa mengeksplore potensi anak-anak sebenarnya kami berencana ingin berkonsultasi dengan psikolog. Jika diberikan rejeki lebih, mungkin tidak menutup kemungkinan kami juga ingin mengikutkan anak-anak kami tes sidik jari untuk mengenali bakat dan potensi mereka sejak dini. Meski demikian, bagaimanapun sebagai orang tua justru dari kamilah seharusnya dituntut bisa mengenali sendiri lebih awal.

Kami juga sepakat ingin mengasah kemandirian, kepercayaan diri, dan kreativitas didiri anak-anak kami. Dimana dengan menumbuhkan hal tersebut kami yakin anak-anak akan bisa bertahan dimanapun mereka berada.

Selain itu kami sekeluarga sepakat ingin mulai membiasakan anak-anak agar menjadi pribadi yang tangguh dan kritis. Dimana mereka tidak boleh menjadi pribadi pasrah yang mau menelan informasi mentah-mentah.

Kami mulai mencoba untuk menghindari kalimat, "Ya wes, pokoke ngono" (Ya udah pokoknya begitu), karena dengan mengeluarkan kalimat tersebut artinya kami tidak mau membuka diri akan informasi yang mungkin lebih baik, dan bisa kita serap untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan tidak mau membuka diri akan informasi yang datang dari luar, bagaimana kami bisa terus berkembang, padahal diluar sana jaman terus berkembang.

Sehingga dengan menanamkan pribadi yang kritis pada keluarga kami, setidaknya kami bisa lebih mengembangkan dan mengeksplore diri sendiri. Terutama anak-anak juga bisa lebih memahami alasan sebab akibat, sehingga mereka bisa lebih terbuka wawasannya. Untuk bisa mengembangkan hal tersebut maka kami ingin menanamkan rasa kritis dengan mulai menanamkan cara berpikir 5w+1H
  • What
  • Why
  • Where
  • When
  • Who
  • How
Dengan alasan tersebut maka kami sebagai orang tuanya juga sepakat, harus mau terus belajar. Kami menghindari jawaban-jawaban yang justru menjebak apalagi mengandung kebohongan, karena kami selalu meyakini bahwa anak-anak itu terlahir cerdas, sehingga jangan sampai kami sebagai orang tua justru membuat pembodohan.

Kebetulan anak pertama saya seorang balita yang sangat kritis sejak awal. Dia sering menanyakan suatu hal dengan sangat dalam dan tidak akan berhenti jika dia belum mendapatkan jawaban yang membuatnya puas.

Sebenarnya seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya alasan kenapa kami tak pakai asisten rumah tangga, salah satunya agar anak-anak sehari-harinya bisa dibawah handelan saya secara langsung, tanpa campur tangan dan intervensi dari luar. Rumah boleh berantakan, tapi justru dengan adanya kondisi rumah berantakan justru membuat saya untuk membuat diri saya mau bergerak berusaha menjadi lebih baik dari hari kehari atau dengan kata lainnya saya memaksa diri saya sendiri untuk tidak manja.

Untuk bisa merealisasikan desain pembelajaran yang kami impikan maka tentu ada poin poin indikator keberhasilan diri yang bisa saya capai. Dalam setiap tahapan tersebut saya juga akan terus mengoreksi perkembangan kami. Jika saya merasa tidak ada perubahan yang berarti maka kami akan mencoba memperbaikinya lagi saat itu juga. Sebaliknya jika kami anggap ada perubahan mengarah ke arah lebih baik, sekalipun hanya sedikit maka kami akan terus melanjutkan proses tersebut, salah satunya yaitu proses saya menjadi ibu profesional bagi keluarga.

Kemudian seperti cita-cita suami saya untuk menjadi ayah keren sebenarnya tak lain tak bukan, juga berhubungan dengan visi misi keluarga kami. Dimana harapannya suami saya bisa memfasilitasi semua potensi yang dimiliki oleh anak-anak kami untuk keberhasilannya. Tak dipungkiri saya sendiri sebenarnya masih belum yakin dengan kemampuan saya "saat ini" jika harus memberikan full home schooling kepada anak-anak kami. Sehingga mau tak mau kami harus bisa mencarikan sekolahan untuk anak-anak kami setidaknya yang mendekati visi misi keluarga kami.

Namun, mengingat nantinya kemungkinan akan ada halangan rintangan seperti jika sewaktu-waktu kami harus berpindah kota karena tuntutan pekerjaan suami, maka mau tak mau saya pun harus menyiapkan diri kalau sewaktu-waktu kami tidak bisa menemukan sekolah yang sesuai atau bahkan mendekati visi dan misi keluarga kami, maka bisa jadi kami membuka peluang untuk memberikan home schooling untuk anak-anak kami.

Nantinya, kami juga ingin memberikan ruang kepada diri kami dan anak-anak kami, untuk bisa mengeksplore jati diri kami masing-masing. Jika diibaratkan pada sebuah desain rumah, maka mungkin bisa dibilang kami memberikan ruang kepada anak-anak untuk bisa ikut andil mendesain ruang kamar pribadi masing-masing.

Seperti saat ini, dimana suami saya memberikan kebebasan kepada saya untuk mengeksplore hobi menulis saya. Sebagai gambaran, saya dulunya termasuk yang tidak menyadari kegemaran menulis saya ini, bahkan dulu saya termasuk yang tidak pede menulis. Namun, suami yang mendukung saya untuk terus mengeksplore hobi menulis saya, salah satunya dengan memfasilitasi kuota internet di rumah. Sehingga saya bebas berekspresi menulis di blog milik saya, tentunya dengan mempertibangkan batasan-batasan apa yang boleh saya tulis, dan apa yang tidak boleh saya tulis. Dari sinilah saya juga ingin nantinya, anak-anak saya bisa mengeksplore kegemarannya dan menemukan bakat serta passionnya.

Hal lainnya, yang kami sepakati untuk keluarga kami, yaitu kami dituntut harus bisa dengan cepat menyesuaikan keadaan dengan lingkungan sekitar. Menyesuaikan bukan berarti harus terbawa arus, tapi lebih ke bisa bertahan dimanapun kami berada.

Jadi jika disimpulkan mungkin bisa dibilang desain pembelajaran keluarga kami bersifat
  • Harus dilandasi dengan pondasi agama yang kuat.
  • Didasarkan dengan moto utama keluarga kami yang selalu mengedepankan kejujuran.
  • Learning by doing, bisa dipelajari sembari berproses.
  • Fleksibel, bisa menyesuaikan keadaan.
  • Menyenangkan, sistemnya tidak harus kaku, sehingga bisa dibuat menyenangkan.
  • Pro aktif, bisa memberikan pilihan-pilihan yang tentunya harus sesuai nilai agama dan norma berlaku. Serta bisa mengajarkan anak-anak mandiri menemukan jati diri dan potensinya.
  • Reaktif, bisa memberikan respon atau bereaksi saat melihat ada hal yang perlu dipelajari dari lingkungan sekitar.
  • Saling support, yaitu melibatkan seluruh elemen anggota keluarga kecil kami, karena semua memiliki peran yang sama-sama penting.
Bisa dibilang (mungkin) desain pembelajaran keluarga kami tidak terlalu muluk-muluk atau tidak se istimewa desain keluarga lain. Seperti lagunya coklat "pelan-pelan saja", bertahap belajar untuk terus belajar agar menjadi lebih baik dari hari kehari. Harapan kami, desain pembelajaran keluarga kami, kami buat sesederhana mungkin, tetapi bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam keluarga kami.
***Artikel ini ditulis, terinspirasi dari tugas NHW#5 yang diberikan dikelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang sedang diikuti oleh saya sebagai penulis blog sundulerparents ini. Sehingga tidak menutup kemungkinan tulisan di halaman ini bisa dirubah sewaktu-waktu mengikuti NHW minggu berikutnya

Untuk masing-masing tugas NHW bisa dilihat di artikel berikut :

2 comments:

  1. Thanks for share mba,
    aku jadi banyak belajar dari tulisan ini, setiap keluarga mungkin bakalan memiliki pola belajar yg beda2 ya... Tapi yg jelas agama harus yang pertama ^^

    ReplyDelete