Monday, February 20, 2017

Berita Penusukan Mantan Kekasih, Menjadi Perenungan Kami Mendidik Anak Sesuai Fitrah

Pagi ini, saat membuka salah satu media sosial, dan sedikit tercengang kemudian merenung ketika membaca salah satu time line berita tentang penusukan remaja (perempuan) yang dilakukan oleh kekasih (laki-lakinya) di sebuah mall besar di Surabaya yang dilanjutkan dengan aksi usaha bunuh diri. What???

Naudzubillahimindzalik


Kemudian saya berguman dalam hati, "Edan nih remaja!".

Ya Allah, jujur sebagai orang tua yang memiliki dua balita perempuan saya jadi miris membaca berita tersebut. Saya nggak bisa bayangkan bagaimana perasaan orang tua remaja (perempuan) tersebut mendapati anak yang sudah dilahirkan, dididik dan dibesarkannya dengan susah payah mendapat perlakuan kekerasan dari seorang remaja (laki-laki), yang bahkan secara agama pun masih belum punya hak apa-apa atas remaja (perempuan) tersebut.

Entahlah, semacam ada perasaan tidak terima juga membaca berita tersebut ...
Ya Allah, Lindungilah anak-anak perempuan kami dari laki-laki jahat, alay, dan labil. (Amin).

Serupa dengan doa dari salah seorang sahabat saya yang memiliki anak laki-laki,
Ya Allah lindungilah anak (laki-laki) kami dari perbuatan keji.

Saya tak habis pikir apa yang ada dibenak lelaki tersebut. Mungkin dia merasa berhak melukai pasangannya, atau bahkan dia berpikir berhak "membunuh" kekasihnya karena tak rela kekasihnya di ambil orang? Hai men, jangan lupa "Sebelum janur melengkung, semua masih punya kesempatan yang sama untuk melamar anak gadis tersebut".

Terus kamu ngerasa keren gitu bisa nusuk pacarmu? Keren gitu bisa ikut bunuh diri? Lah, kamu kira abis episode tusuk-tusukan kalian akan bisa happy ending gitu di alam sana???

Astaghfirullah, la terus ini masih pacaran lo men?!
Kalian belum melewati tahapan pernikahan kemudian hamil dan istri kalian melahirkan. Dimana di awal-awal bulan kelahiran bayi kalian nanti akan ada episode babyblues dari pasangan kalian, yang dengan keadaan tersebut bahkan kalian pun kalau nggak kuat bisa ikut babyblues.

Wah ... wah ... wah ... belajar lagi gih sana jadi calon pasangan yang di idam-idamkan untuk para perempuan di dunia!

Dan ternyata setelah saya baca-baca lagi beritanya, malah seharusnya kedua remaja tersebut statusnya sudah jadi "mantan".
Astaghfirullah ...
Lebih kebangetan lagi berarti ceritanya ...

Terus saya jadi ingat masa remaja saya. Saat itu ada seorang teman SMA saya yang mengalami KDRT, eh KDHP kali ya. Kan kalau KDRT singkatan dari kekerasan dalam rumah tangga, lah itu nikah aja belum kok. Jadi saya pakai istilah saya sendiri saja KDHP, yang saya artikan kekerasan dalam hubungan pacaran. Ada ya ternyata ?

Ada lo ...

Jadi ceritanya waktu itu saya ingat sekali, beberapa teman saya heboh karena ada seorang cowok ingusan yang mencari teman saya tersebut (sebut saja fay). Nah usut punya usut si cowok ingusan ini pacarnya si fay. Fay sendiri suka menghindar, karena ternyata fay selama ini ingin mengakhiri hubungannya dengan si cowok tadi tapi nggak bisa. Alasannya si cowok ini suka marah-marah nggak jelas dan berujung dengan KDHP jika si fay minta putus.

Aduh nggak tau gimana ceritanya, akhirnya hal tersebut terungkap setelah si fay berani cerita dengan banyak temannya, terutama beberapa teman laki-lakinya. Sehingga mereka pun sepakat mau beramai-ramai membantu fay "menghajar" si lelaki kalau dia berani macam-macam melakukan kekerasan terhadap si fay.

Saya sendiri juga tidak tahu jelas alasan apa yang membuat si fay takut bertindak bahkan menurut saya cenderung pasrah saat dibelenggu oleh hubungan possesive lelakinya.

Saya tidak mau berpikiran yang macam-macam ...

Tapi ibu saya sendiri dulu saat saya remaja, selalu berpesan kepada saya untuk selalu menjaga diri saya. Ibu saya dengan tegas selalu berpesan, agar saya tidak menjadi perempuan murahan dengan mau memberikan cinta saya 100% seandainya saya punya pacar. Jadi, cinta saja nggak boleh diberikan semua apalagi yang lainnya! Kata ibu saya cinta saya hanya boleh diberikan untuk lelaki yang menjadi suami saya.

Seperti pesan ibu saya, biasanya kebanyakan perempuan yang susah dan takut putus sama pacarnya karena si perempuan mendapat ancaman dari pihak laki-lakinya. Biasanya kebanyakan diancam akan disebar luaskan kelemahannya. Misalnya, akan disebarkan berita kalau si perempuan sudah di apa-apakan. Amit-amit naudzubillahimindzalik. Sehingga si perempuan tadi akan ada perasaan takut ketahuan orang tua lah, takut nggak laku lah, takut dianggap perempuan murahan lah, dsb.

Janji-janji cinta yang dulunya terasa romantis tiba-tiba berubah menjadi seperti pesan mengerikan.

Kamu kalau ninggalin aku, aku sebarin lo kalau kamu sudah aku apa-apain 😤😓

atau

Kalau kamu putusin aku, mending aku bunuh diri aja 😑😒

Menanggapi berita dan cerita tersebut sebenarnya juga membuat saya banyak berpikir.

Saya jadi setuju dengan beberapa ilmu parenting yang pernah saya baca akhir-akhir ini.

Salah satunya sebagai orang tua kita memiliki kesadaran bahwa rumah merupakan madrasah utama anak, ibu sebagai gurunya, ayah sebagai kepala sekolahnya. Karena rumah adalah madrasah utama maka sebagai orang tua kita harus bisa memfilter apa-apa yang diterima, dilihat, dan didengar oleh anak-anak kita mulai dari rumah.

Lalu saya kaitkan dengan ilmu parenting yang saya dapat tentang mendidik anak sesuai fitrahnya berdasar hati nurani.

Dimana klasifikasi mengenai fitrah individu (manusia) ada 8 (Referensi sumber : Tanya Jawab Matrikulasi Institut Ibu Profesional minggu ke-4)

1. Fitrah Keimanan (Ilahiyah)
Bahwa setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensi fitrah keimanan, setiap kita bersaksi bahwa Allah sebagai Rabb (khaliqon, roziqon, malikan). Tidak ada anak yg tidak cinta pada Tuhan dan kebenaran kecuali disimpangkan dan dikubur oleh pendidikan yg salah dan gegabah. Ini meliputi moral, spiritual, keagamaan, dst. Contoh : beragama, bertuhan, memiliki harga diri, rasa malu, berakhlak baik,menegakkan kebenaran.

Sehingga sebagai orang tua kita dituntut untuk bisa mengenalkan Tuhan kepada anak sedini mungkin. Kita juga diharuskan mengajarkan batasan-batasan mengenai hal yang halal dan haram. Wajib bagi kita untuk menanamkan moral yang baik kepada anak-anak kita sejak dini.

Untuk saya saat ini misalnya, saya sedang berusaha tidak membiasakan anak-anak saya mandi didepan umum, sekalipun mereka masih balita. Meski orang tua dan mertua saya menganggap saya lebay, tapi saya dan suami memiliki prinsip bahwa mereka harus kami ajarkan tentang rasa malu sejak dini. Anak-anak merupakan kertas putih, dimana kita sebagai orang tua memiliki peran penting dalam setiap coretan kertas putih tersebut.

2. Fitrah Belajar dan Bernalar
Bahwa setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat yg sejati. Tidak ada anak yg tidak suka belajar kecuali fitrahnya telah terkubur atau tersimpangkan.
Contoh: menimbuhkan fitrah ini adalah dg melakukan ragam kegiatan indoor ataupun outdoor, tidak membatasi anak dslam mengexplore berbagai macam kegiatan atau suatu objek, memfasilitasi minat dan bakat anak,dll.

3. Fitrah Bakat
Bahwa setiap anak adalah unik, mereka masing-masing memiliki sifat atau potensi unik produktif yg merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban.
Contoh: memberikan berbagai alternatif kegiatan kepada anak yg bertujuan menggali potensi dan bakatnya. Jika sudah terlihat maka fokuskan anak untuk mengasah kemampuannya pd bidang tsb.

4. Fitrah sesuai perkembangan usianya
Dimana secara umum terdiri dari beberapa tahapan yaitu
0-2 tahun (usia sebelum aqil baligh)
2-6 tahun (pra latih)
7-10 tahun (pre aqil baligh 1)
11-14 tahun (pre aqil baligh 2)
> 15 tahun (post aqil baligh atau usia sesudah aqil baligh).

5. Fitrah cinta dan seksusalitas
Usia 0-9 tahun
Dekatkan dengan orang tua yang bergender sama. Misal anak perempuan dengan ibunya, tujuannya agar anak perempuan lebih menyadari fitrah nya sebagai perempuan sehingga mereka bisa menentukan sikap layaknya seorang perempuan.

Usia 9-14 tahun
Sebaliknya saat usia 9-14 tahun dekatkan anak perempuan dengan ayahnya. Tujuannya agar anak perempuan memiliki gambaran sosok laki-laki yang patut dijadikan pendampingnya kelak. Saya jadi ingat istilah "Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya".
Selain itu dengan adanya ikatan (bonding) yang kuat juga bisa menghindarkan anak perempuan dari pelecehan seksual.

Sebaliknya untuk anak laki-laki
Saat usia 0-9 tahun dekatkan anak laki-laki dengan ayahnya, dan ketika usia 9-14 tahun dekatkan dengan ibunya. Hal ini bertujuan agar anak laki-laki bisa menghargai dan menghormati pasangannya kelak. Dimana seorang anak laki-laki yang dekat dengan ibunya akan jarang sekali menyakiti fisik dan jiwa istrinya.

Selain itu tujuan anak usia 0-9 tahun sebaiknya dan sebisa mungkin didekatkan pada sosok sosok orang tua yang sesuai gendernya, adalah agar anak mempelajari lebih detail mengenai dirinya dan kodratnya.

Sebaliknya "switch" kedekatan anak sesuai gender orang tua di usia 9-14, adalah agar anak mengetahui ada perbedaan gender. Sehingga jangan sampai ada anak yg tidak mengenali jati diri atau kodratnya. Menghindari adanya fenomena banci dan sejenisnya. Kemudian agar anak tahu hak dan kewajiban dr gender mereka. Bahwa perempuan berfungsi apa dlm keluarga, dan laki-laki berfungsi apa dalam keluarga.

6. Fitrah Estetika dan Bahasa
Bahwa setiap anak memiliki selera keindahan termasuk kesenian, keharmonisan, kesusasteraan,dst. Setiap anak sudah dikaruniai kemampuan berbahasa, kemudian diaktualisasi oleh bahasa Ibu oleh kedua orangtuanya.
Contoh: mengajari bahasa ibu di usia dini, mengasah jiwa seninya agar semakin halus dalam bakatnya,dll.

Terutama untuk fitrah bahasa, maka saya dan suami sepakat selalu menggunakan bahasa yang baik dan halus didepan anak-anak kami. Alasannya anak merupakan peniru ulung.

7. Fitrah Individual dan Sosial
Bahwa setiap manusia dilahirkan sebagai individu, sekaligus juga sosial atau ketergantungan pada sekitarnya. Manusia memerlukan interaksi sosial dg kehidupan sekitarnya. Sosialitas akan tumbuh baik sejak usia 7 tahun, jika individualitas tumbuh utuh pd usia di bawah 7 tahun. Di bawah 7 tahun anak belum punya tanggung jawab moral dan sosial.

Contoh: dengan mengajarkan anak konsep kepemilikan individu dan bersama, ajari anak norma-norma yg berlaku dalam kehidupan sosial, libatkan anak dalam kegiatan sosial kemasyarakatan utk mengasah empatinya,dll.

8. Fitrah Fisik dan Indera
Bahwa setiap anak lahir dg membawa fisik yg suka bergerak aktif dan panca indera yg suka berinteraksi dengan bumi dan kehidupan. Setiap anak suka kesehatan dan asupan yang sehat, bersih, dan baik. Setiap indera juga suka menerima input yg membahagiakan dan menenangkan.
Contoh: melatih semua gerak halus dan motorik anak, memberikan makanan yg sehat jauh dr pengawet dan sejenisnya, membiasakan pola hidup sehat,dll.

Dengan mempelajari 8 fitrah individu tersebut, maka jika saya dan suami berhasil mengaplikasikannya kepada anak-anak kami, maka saya yakin anak-anak bisa terhindar dari bahaya cerita masa remaja yang mengerikan tadi.

Adanya landasan keimanan yang kuat, anak-anak akan lebih bisa menjaga "diri", mereka juga akan bisa belajar bernalar baik buruk segala tindakan yang akan dilakukannya, sehingga mereka bisa menemukan potensi bakatnya dan tidak akan menyia-nyiakannya hanya demi kisah cinta yang sia-sia di tahapan perkembangan usianya nanti. Selain itu mereka juga akan bisa menentukan calon pasangan pendamping hidup yang baik untuk mereka, dan selalu menjaga lisannya dengan berusaha berbahasa menggunakan bahasa yang baik saat bersosialisasi dan berinteraksi menggunakan semua inderanya dengan lingkungannya demi masa depan generasinya yang lebih baik.

Ayah Menjadi Cinta Pertama Untuk Anak Perempuan

Oh ya untuk poin nomer 4 (fitrah sesuai perkembangan usia) dan poin nomer 5 (fitrah cinta seksualitas), saya mendapat penjelasan spesifik dari mbak Evi (salah satu fasilitator di kelas matrikulasi IIP), jika dihubungkan dengan teori yang mengatakan bahwa ayah adalah cinta pertama anak perempuannya.

Usia 0-2 tahun dekat dengan ibu, dengan tujuan untuk menguatkan perlekatan karena menyusui sesuai yang disarankan ASI selama 2 tahun.
Usia 3-6 tahun dekat dengan ayah dan ibunya.
Usia 7-10 tahun anak laki dekat dengan ayah, anak perempuan dekat dengan ibu.
Usia 10-14 tahun anak perempuan dekat dengan ayah, anak laki-laki dekat dengan ibunya.

Karena Kebaikan ASI, maka sebaiknya ASI diberikan setidaknya selama 2 tahun (Sumber Gambar : AIMI)

Menurut mbak Evi, semua prosesnya memang dimulai ketika anak berusia balita, karena kedekatan anak harus dibangun sejak awal. Namun, untuk "titik tekannya" dimulai pada usia 10-14 tahun, karena pada usia tersebut merupakan masa-masa anak melewati masa pre aqil baliq.

Disini saya sedikit memflash back diri saya sendiri, dimana ketika usia tersebut saya ingat betul dulu ada istilah ABG (Anak Baru Gede). Dimana saat itu, di sekitar rentang tersebut saya dan (mungkin) beberapa teman seusia saya sedang mulai mencari jati diri.

Oleh sebab itu saya jadi setuju dengan penjelasan dari mbak Evi, yang menurut saya, dimana ketika rentang masa pencarian jati diri tersebut jika kita sebagai ABG tidak memiliki figur lawan jenis yang bisa kita jadikan sebagai panutan/acuan, maka bisa jadi kita akan mudah terbawa arus. Nantinya, aih-alih anak perempuan tidak dekat dengan ayahnya, maka mereka akan merasa nyaman ketika ada teman lawan jenis yang menawarkan kenyamanan. Begitu juga sebaliknya bisa jadi jika anak laki-laki tidak dekat dengan ibunya di usia ABG nya, maka nantinya mereka akan mengalami kebingungan bersikap ketika harus memposisikan teman yang berbeda gender.

Pada akhirnya dari kejadian-kejadian tersebut, saya memiliki pandangan bahwa memang tidak seharusnya proses pacaran itu diperlukan.

Alih-alih pacaran untuk pendekatan dan saling mengenal, toh pada akhirnya nanti saat menikah, kami sebagai pasangan harus saling mengenal lagi. Yang dulunya selalu tampil cantik, tiba-tiba harus bau bawang didapur, atau yang dulunya kelihatan ganteng tiba-tiba tidurnya ngorok-ngorok.

Pesan buat anak-anakku,

Wes nak nggak usah pacaran aja ya! Dibilang nggak keren sama-sama teman-teman karena nggak punya pacar juga nggak papa kok. Nanti pacarannya setelah menikah aja pasti lebih keren. Banyak cara biar bisa jadi keren kok.

Terus, besok kalau ada yang jahat sama kamu apalagi sampai pakai acara kekerasan bilang sama mamam yayah ya! Mamam sama yayah aja sampai bela-belain jungkir balik buat ikut seminar pelatihan ini itu demi bisa belajar mengelolah emosi agar tidak semena-semena melakukan tindakan kekerasan kepada kalian kok. Enak aja, orang lain mau semena-mena sama kalian.

Yuk nak, mulai sekarang belajar untuk saling terbuka sama kami orang tua kalian. Harapan kami, nantinya ketika kalian menghadapi kendala atau rintangan, sebagai orang tua kami bisa membantu menemani mencarikan solusi bersama.

 
***Tulisan ini ditulis oleh seorang ibu biasa, tidak istimewa, dan masih merasa belum punya sesuatu yang bisa bisa dibanggakan karena masih bukan apa-apa tetapi terus berusaha dan sedang berproses untuk belajar menjadi lebih baik demi suami dan anak-anaknya.

12 comments:

  1. Langsung aku bookmark nih mak postingannya, mau suruh suami baca jugaaa. kebetulan anak aku cewek cowok. Jadi untuk kedekatan ke orangtuanya mesti sama rata ya berartiii. Heheee. Itu pesen paling akhir wes pesen khas ibu-ibu bangeeeet. Hihihiii. Tapi namanya anak ABG susah kadang kalo dikasih tau ttg jangan pacaran dulu yaaa. Huhuhuuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak sesuai fitrah perkembangan usia dan cinta

      Delete
  2. Remaja-remaja alay korban sinetron, mungkin dia merasa salah satu pemerannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, makanya disini saya dan suami jadi koreksi diri tentang peran kami nantinya sebagai orang tua. Semoga anak-anak kita terlindung dari hal-hal negatif.

      Delete
  3. serem banget berita anak remaja perempuan ditusuk sama mantannya sendiri..jaman sekarang udah serem ya mbak. Dulu ibu saya termasuk yang paling keras soal berteman terutama sama anak laki2 karena yaitu takut terjebak dengan pacar yg suka main kekerasan atau yg pergaulannya bebas. Dulu kesel juga karena dibatasin waktu main ke luar rumah, sekarang saya malah bersyukur krn Ibu saya keras..setidaknya saya terhindar dari laki2 ga jelas di luar sana. Memang keluarga harus jadi tempat perlindungan anak ya mbak.

    www.blueskyandme.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah saya juga nggak tau alasan ibu saya dulu kenapa keras sama saya, tapi sekarang saya mulai tahu alasannya. Semoga tulisan ini kelak bisa menjadi pengingat kami dalam mendidik dan memantau tumbuh kembang anak2 kami. amin

      Delete
  4. God, gila sih aku shock baca ini. stress kali ya mantan ditusuk. kebanyakan input yg gag bener itu anak2 jaman sekarang dari internet maupun tvnya. ditambah gag ada pengawasan ortu. thank you mbak for sharing this.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, aku sempat terperangah sampai kubaca bolak balik beritanya. Ngeri amat bayanginnya

      Delete
  5. Jamanku dulu cinta monyet tu menyenangkan, malu2 kucing dsb. Jaman skrng ngeriiiiiii :(
    TFS Mak remindernya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, jaman sekarang udah semakin nggilani. Semoga anak-anak kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin

      Delete
  6. Remaja2 kayak gitu rata2 kosong mba hatinya. Ga dapat dari orang tua jadinya cari di luar. Memang peran orang tua yang paling signifikan untuk memberi rasa berharga pada diri anak2 supaya ga "jual murah". Mba sangat diberkati punya ibu yang selalu mengingatkan tentang nilai2 hubungan lawan jenis. Sayangnya ga semua anak seberuntung itu. Semoga bisa jadi pengingat ya mba buat kita semua orang tua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, terutama pengingat kita sebagai orang tua ya mbak

      Delete