Friday, February 3, 2017

Berproses Menjadi Ibu Profesional Bagi Keluarga #Belajar Menjadi Lebih Baik

Menjadi ibu profesional dalam keluarga agar menjadi kebanggaan suami dan anak-anak, tentu menjadi impian saya sejak lama. Namun, tak dipungkiri ada banyak kekurangan yang saya miliki. Sehingga saya harus terus belajar memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Untuk menjadi seorang ibu profesional dalam keluarga, saya mengibaratkan sedang menempuh pendidikan di Universitas kehidupan dimana saya akan mengambil sebuah fakultas atau jurusan menjadi ibu sekaligus istri yang baik bagi keluarga. Bagi saya, Ibu dan istri yang baik disini bukan hanya sekedar ibu yang bisa diandalkan oleh anak-anak juga suami untuk bisa mengerjakan semua tugas rumah, namun juga sabar, sholehah, kreatif, bisa menempatkan diri, membanggakan, dan teladan.

Ibu Profesional Seperti Apa Yang Di Harapkan Oleh Keluarga

Untuk bisa mencapai harapan tersebut, tentu saya harus memiliki indikator terhadap pencapaian yang sudah saya capai dari waktu ke-waktu, agar saya tahu sudah sampai dimana usaha saya menjadi ibu yang baik untuk anak-anak dan istri yang membanggakan bagi suami saya.

Indikator saya dalam mencapai keberhasilan menjadi ibu dan istri yang baik yaitu, bisa bangun pagi setidaknya pukul 04.30. Sebenarnya ini berhubungan dengan harapan dan resolusi saya di tahun 2017, yaitu salah satunya memperbaiki ibadah menjadi lebih baik. Terutama untuk shalat subuh, dimana tak dipungkiri ada kalanya saya sering bangun kesiangan karena kelelahan menjalani rutinitas saya sehari sebelumnya. Dimana terkadang saya harus tidur terlalu larut, karena menunggu anak-anak tertidur pulas lebih dulu agar saya bisa menuangkan semua ide pikiran menjadi sebuah tulisan. Yah, dengan menulis saya bisa melepas stres.

Sayangnya hal tersebut menjadi semacam efek domino. Saat saya bosan dengan rutinitas harian, saya berusaha melepaskan beban di pikiran dengan menulis. Untuk menulis saya harus menunggu anak-anak tertidur. Anak-anak tidur terlalu malam, saya pun menulis semakin larut. Hal inilah yang membuat jam bangun saya semakin siang.

Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki hal tersebut?
Setelah berdiskusi dengan suami, kami sepakat agar saya merubah jam menulis saya menjadi dini hari. Sehingga saat anak-anak tidur saya bisa ikut tidur mengistirahatkan diri saya lebih awal di malam hari. Dengan harapan ke-esokan paginya saya bisa bangun lebih pagi, misalnya pukul 3 dini hari untuk mengawali hari dengan shalat tahajjud kemudian menulis sembari menunggu adzan Shubuh.

Apakah akan semudah itu?
Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut memang sudah mudah dilakukan karena sudah terbiasa. Meski terasa berat, namun saya yakin bisa menjalaninya. Hal ini mengingat rutinitas saya dibulan puasa (Ramadhan), dimana saat itu selama satu bulan berturut-turut saya memang lebih gampang bangun jam 3 pagi hari, karena berusaha tidur tidak terlalu larut.

Saya menargetkan diri saya harus sudah tidur selambat-lambatnya pukul 10.30 malam hari, dan dalam waktu satu bulan ini sudah harus bisa berubah. Sebenarnya beberapa hari ini saya sudah mulai  mencobanya. Namun, karena beberapa hal membuat saya harus mengulangi dari awal lagi. Yah, menjadi lebih baik itu memang berat, selagi masih gagal maka saya akan terus berusaha lagi lagi dan lagi.

Selain itu dengan bangun pagi, tak dipungkiri saya merasa pikiran saya juga bisa menjadi fresh. Dengan pikiran menjadi fresh, saya berharap tidak mudah tersulut emosi dan merasa lebih ringan menghadapi rutinitas harian. Ya mungkin jika dibayangkan, kalau saya dalam kondisi fresh, saya tak akan mempermasalahkan rumah saya yang lengket amburadul dimana-mana.

Namun, memang ada sedikit kendala, yaitu saya akan lebih cepat mengantuk pada pukul 8 atau 9 pagi hari. Beberapa kali saya mencari cara mengalihkan rasa kantuk saya yaitu dengan melakukan aktivitas blog walking (mengunjungi beberapa blog milik teman-teman), hal tersebut ternyata cukup membantu menahan rasa kantuk saya.

Jika dilihat indikator dari sudut pandang saya pribadi keberhasilan saya menjadi ibu profesional dalam keluarga mungkin akan berbeda dengan indikator dari sudut pandang anak-anak saya. Sehingga beberapa waktu lalu saya mencoba mengorek-korek sedikit pertanyaan dari si kakak (anak pertama saya) yang berusia 3,5 tahun.

Saya sendiri berpendapat, salah satu indikator keberhasilan saya menjadi ibu profesional dalam keluarga adalah anak-anak saya merasa bahagia dan tanpa beban saat bersama saya. Sehingga saya pun mencoba mengajukan pertanyaan kepada kakak, "Hal apa yang membuatmu bahagia saat melihat mamam (ibu)?".

Sempat ragu-ragu ketika akan menjawab, hingga akhirnya terucap sebuah jawaban, "Ketawa". Sembari tersenyum dan memeluk saya, si kakak berkata "Kakak sayang mamam, kakak suka lihat mamam ketawa". Ah, meleleh saya mendengar jawabannya. Mungkin selama ini tanpa sadar saya terlalu sering menunjukkan muka atau aura suram kepadanya, sehingga bahkan untuk menjawab hal tersebut kakak masih sedikit ragu-ragu.

Baiklah dari situ saya akan berusaha memberikan senyuman lebar kepada kakak sebanyak mungkin. Yah, meski kadang akan terasa seperti orang gila karena saya harus tertawa lebar kepada si kakak ketika saya sedang marah dengan suatu hal, namun tak ada salahnya saya mencoba. Toh, dulu saya paling tidak suka melihat ibu saya dengan "aura" muramnya kepada saya, saat beliau marah dengan hal (orang) lain. Intinya jika saya marah dengan yang lain, saya tak boleh menunjukkan kemarahan saya kepada kakak yang tak ikut bersalah dalam hal tersebut.

Lalu saya sempat menanyakan hal apalagi yang disukai oleh kakak dan tak disukai oleh kakak terhadap saya. Ternyata dari jawabannya, si kakak tidak suka jika saya terlalu sering memegang gadget (handphone). Sedangkan untuk membaca buku dan mengetik didepan laptop dia tidak mempermasalahkannya.

Tak dipungkiri, sebagai seorang blogger saya sering menulis blog dan melakukan blog walking menggunakan gadget. Selain itu saya juga mengikuti beberapa komunitas dan kelas online melalu gadget (baca : grup whatsapp). Mau tak mau hal tersebut membuat saya seakan-akan tak terpisahkan dari dunia gadget. Sehingga untuk kedepannya saya akan berusaha mengurangi waktu saya menggunakan gadget.

Sebenarnya beberapa hari ini saya sudah mulai mencoba mengurangi frekuensi penggunaan gadget saya, setelah hampir seminggu penuh yang lalu saya disibukkan dengan beberapa deadline tugas sebagai koordinator salah satu kelas online, ditambah deadline tulisan dan PR dari kelas online. Yah, minggu lalu saya merasa keluar dari zona nyaman karena baru pertama kalinya menerima tugas tersebut. Sehingga saya dihadapkan pada kondisi merasa egois mengambil banyak tugas, namun pada akhirnya anak saya justru kurang saya perhatikan. Saya sempat meminta maaf kepada mereka dan berjanji kedepannya saya akan lebih bisa mengatur jadwal saya dalam mengambil beberapa kegiatan. Dengan alasan tersebut maka di awal minggu ini saya meminta izin kepada salah satu mentor kelas online inggris saya bahwa saya tidak bisa terlalu full mengikuti kelas dalam minggu ini. Yah, saya ingin menebus waktu kebersamaan dengan anak-anak saya seminggu ini.

Sayangnya hal tersebut berimbas membuat nilai Domain Authority (DA) blog saya sedikit turun. Sedih? Tentu, baru beberapa hari lalu saya bersemangat mendaftarkan blog agar bisa menerima Job Review, karena melihat nila DA saya sudah masuk syarat dan ketentuan yang diajukan untuk bisa menerima Job Review. Namun, melihat kebahagiaan anak-anak saya, kesedihan saya akan turunnya nilai DA tak berlarut-larut terlalu lama. Yah, saya mengingatkan diri saya bahwa memang seminggu ini saya berniat mengurangi aktivitas online saya demi anak-anak. Jadi wajar saja jika nilai DA saya. Nilai DA bisa diusahakan dilain hari, tapi kebahagiaan masa kecil anak saya lebih utama.

Meski demikian, saya menyadari sepertinya saya harus memberlakukan jadwal pemakaian gadget dalam sehari. Misal pagi hari saya akan membuka gadget dengan durasi 15-30 menit setelah anak-anak selesai makan dan suami berangkat kekantor. Lalu saya akan membuka gadget lagi pukul 10.30 s/d 11.00. Siang hari saat anak-anak tidur mungkin sesekali saya bisa meluangkan waktu untuk sharing dengan beberapa teman di komunitas. Pukul 5.00 saat jam santai anak-anak melihat TV saya bisa mengecek handphone saya selama 30 menit sembari menanti adzan maghrib. Lalu setelah shalat isya' saat suami sudah tiba dirumah saya bisa mengikuti kelas online yang diadakan di whatsapp. Selama sebulan kedepan saya akan mencoba mereview kembali durasi tersebut, jika dirasa masih membuat kakak tidak suka maka saya harus berusaha menerapkan jadwal baru.

Hal lainnya yang diinginkan oleh si kakak yaitu, kakak ingin lebih sering bermain menggunting dan mewarna bersama saya. Selain itu kakak juga merasa bahagia jika sedang jalan-jalan bersama saya. Mungkin alasannya simpel, karena ketika berada diluar rumah saya cenderung tidak memperhatikan handphone saya. Sehingga saya bisa benar-benar fokus menghabiskan waktu bersama anak-anak.

Untuk permintaan adik kepada saya, saya anggap serupa dengan permintaan kakak, dengan alasan adik pun beberapa kali saat melihat saya memegang gadget, dia akan langsung memeluk erat tangan saya sehingga saya tidak bisa bergerak untuk sekedar melihat layar handphone. Baiklah mulai besok, saya akan berusaha mengurangi penggunaan gadget sesuai jadwal yang saya rencanakan agar saya bisa lebih banyak bermain bersama kakak-adik. 

Berbeda lagi dengan indikator istri profesional menurut suami saya. Jika kakak meminta saya banyak tertawa, maka suami saya meminta saya untuk tidak cengeng. Awalnya saya sedikit bingung dengan permintaan tersebut, karena saya tidak merasa cengeng selama ini. Ternyata setelah saya korek-korek lebih dalam, suami ingin agar saya tidak menjadi penakut.

Penakut yang bagaimana ini?
Ternyata suami ingin saya lebih pede lagi jika berhadapan dengan orang lain. Yah, tak dipungkiri selama ini saya merasa tidak pede salah satunya karena faktor badan saya yang melar kemana-mana. Sebagai gambaran saya dulu sering dibully hanya karena faktor ukuran badan. Selain itu saya juga merasa tidak pede berhadapan dengan orang lain, karena saya merasa hanya ibu rumah tangga biasa. Dimana saya sering tidak pede karena tidak ada yang bisa saya banggakan dari status ibu rumah tangga tersebut.

Menurut suami saya harus lebih pede. Untuk itu saya harus merasa memantaskan diri menjadi istrinya. Agar saya bisa merasa memantaskan diri, maka suami berkenan untuk mensupport kegiatan positif menulis saya.

Hal lainnya, seperti kesepakatan kami selama ini dimana kami memutuskan menjalani rumah tangga kami tanpa bantuan asisten, biasanya di pagi hari kami membagi beberapa tugas pekerjaan rumah. Ini juga sebenarnya karena saya merasa tidak pede bisa menyelesaikan tugas tepat waktu tanpa diiringi rewelnya anak-anak.

Namun, sayangnya kegiatan kami masing-masing sehari sebelumnya cukup membuat kami sering bangun kesiangan. Sehingga mau tak mau membuat saya semakin panik dan heboh dipagi hari, yang berujung suami akhirnya ikut turun tangan membantu saya menyelesaikan sebagian tugas saya sebelum anak-anak rewel bergantian lapar, dsb.

Tak dipungkuru adakalanya hal tersebut cukup mengganggu jadwal kerja suami saya. Sehingga suami meminta agar ketika dia terlambat bangun pagi, saya bisa lebih mandiri mengerjakan semua tugas saya di pagi hari. Untuk yang satu ini saya mengajukan sedikit keberatan.

Kenapa saya keberatan?
Karena selama ini saya perhatikan, mau bangun pagi, siang atau siang banget suami saya berangkat kerjanya ya tetap mepet-mepet jam. Sehingga adakalanya jujur saya sedikit kesal dan justru dengan sengaja membebankan sedikit kehebohan rutinitas pagi saya kepadanya. Tujuannya sebenarnya sepele, agar suami saya sadar bahwa kami dikejar waktu, sehingga dia akan lebih membuka diri untuk bisa bangun lebih pagi dari saya. Hehehe yang ini mungkin saya sedikit curang ya...

Okelah sehingga saya pun sedikit melakukan negosiasi dengannya. Saya bersedia tidak membagi kehebohan rutinitas pagi hari saya kepadanya, dengan syarat dan ketentuan berlaku, yaitu saya ingin dia bisa bangun lebih pagi dari saya dan membantu saya untuk bisa ikut bangun pagi. Hehehe... yah untuk yang satu ini kami akui, saat ini kami termasuk pasangan pelor yang hobinya tidur.

Suami sempat protes kepada saya, kenapa dia yang harus bangun pagi duluan? Saya lemparkan jawaban klise, karena kamu suamiku, kamu imamku, dan kamu teladanku. Kalau kamu ingin seorang istri yang profesional maka kamu pun harus menjadi suami yang profesional untukku dan ayah yang teladan untuk anak-anakmu. Deal!

Yah, setelah kami sepakat, maka mulai besok kami akan berjuang bangun lebih pagi bersama-sama. Kami harus bekerja sama untuk bisa saling memperbaiki diri. Kami siap menyongsong hari esok yang lebih baik. Menjadi baik itu pilihan. Selama kita ada niat untuk memperbaiki diri, maka Insya Allah selalu ada jalan untuk menjadi lebih baik dari hari kehari.

Rencana Jadwal Harian
Mari nyalakan weker,
dan katakan pada diri sendiri,
"Besok aku mau bangun pagi, karena banyak deadline menanti!!!". 


***Artikel ini ditulis, terinspirasi dari tugas NHW#2 yang diberikan dikelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang sedang diikuti oleh saya sebagai penulis blog sundulerparents ini. 

2 comments:

  1. Paling enak nulis itu emang dini hari mak. Tenang banget dan berasa lebih seger dibandingan tengah malem. Hehee. Semangat maaaaaaak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, tapi kadang pagi hari harus bisa mengalahkan rasa kantuk yang sangat kuat...hahaha...

      Delete