Monday, February 27, 2017

Ijinkan Saya Menyampaikan Suara Hati Saya Tentang (Buku) Pendidikan Seks Usia DIni #Sharing With Friends

Bismillahirahmanirrahim...
Jujur sebelum menulis tulisan ini saya banyak berpikir efek jangka panjang dari apa yang akan saya tuangkan disini. Sehingga bahkan untuk memulai menulis pun saya merinding dan banyak-banyak berdoa, semoga teman-teman tidak salah tangkap dengan apa yang saya tuliskan nantinya. Pasti sudah banyak yang tahu tentang buku anak-anak yang sempat heboh beberapa waktu lalu sampai ditarik karena dianggap vulgar. Banyak komentar yang dianggap membully dan menyudutkan, karena hanya membaca sekilas tentang isi buku tersebut.


Lalu saya membaca klarifikasi pembelaan dimana disitu dijelaskan intinya mereka menyadari bahwa masyarakat kita memang masih belum banyak terbuka tentang pendidikan seks usia dini. Disini saya jadi sedih sebenarnya, karena saya dan suami selalu berusaha mau belajar demi kebaikan anak-anak kami. Termasuk tentang perlu tidaknya kami memberikan pendidikan seks untuk usia dini, agar anak-anak kami bisa melindungi dari bahaya atau ancaman perbuatan yang tidak menyenangkan dari luar maupun lingkungan sekitar.

Hingga beberapa waktu lalu saya sharing dengan mbak Anggie Izzaty salah seorang sahabat saya yang dulunya punya background pengajar. Saya pun mendapat informasi bahwa sebenarnya ada buku lain dengan judul serupa dimana isinya menurut mbak Anggie lebih bagus dan pantas dibaca bersama anak-anak sehingga saya disarankan segera berburu buku tersebut karena dikuatirkan ikut ditarik juga. Menurut mbak anggie buku yang dimaksud tersebut saat pembuatannya sudah atas pendampingan KPAI dan psikolog, sehingga isi bukunya juga tak perlu dikuatirkan lagi. Bahkan menurutnya buku tersebut sudah 7 kali cetak.

Buku Yang Direkomendasikan Oleh Sahabat Saya Mbak Anggie
Saat hari gajian (suami) tiba, saya pun buru-buru menggeret suami ke salah satu toko buku terbesar di kota kami. Sempat mencari dibeberapa titik tapi saya tidak menemukannya, sehingga saya pun memutuskan bertanya kepada para penjaganya. Saya dibantu mengecek stok yang ada di komputer mereka, disana tertulis stok masih ada. Ternyata setelah dibantu mencari mereka pun tak menemukan, sehingga mereka sempat ijin kepada saya untuk mencari ditempat lain.

Hampir setengah jam lebih saya menunggu tanpa kepastian hingga akhirnya saya malah menemukan buku lain yang sempat diklaim sudah ditarik mulai desember 2016. Saya pun meminta izin kepada suami untuk boleh membeli buku tersebut. Sebenarnya suami tidak setuju di awal, tapi saya meyakinkan kalau kita tidak boleh melihat sesuatu itu hanya setengah-setengah. Maksudnya rasanya kok nggak adil kalau saya belum tau keseluruhan isi bukunya, tapi saya langsung menyimpulkan yang nggak-nggak. Saya pun bersepakat dengan suami, jika setelah saya membaca buku tersebut saya merasa buku tersebut tidak pantas dibaca oleh anak-anak saya, maka saya harus segera "mengamankannya". Saya pun setuju.

Setelah mendapat buku tersebut saya pun penasaran dengan status buku yang saya cari tapi nggak ketemu-ketemu itu. Hingga akhirnya saya menanyakan kepada petugas lainnya, dan saya mendapat pencerahan. Bahwa buku yang saya cari tersebut beberapa waktu lalu juga ikut ditarik. Saya pun sempat komplain karena kecewa, "Lo mas apa nggak keliru? Bukannya yang ini yang ditarik?"(sembari saya menyodorkan buku yang lagi heboh akhir ini). Mas nya pun sempat terkejut, dan setuju, "iya bu itu juga ditarik, tapi tempo hari tersisa dua belum ketemu". Masnya sempat kuatir sepertinya, tapi saya pastikan bahwa saya tidak akan menyalah gunakan buku tersebut, sebagai orang tua saya harus terus mau belajar dan membuka wawasan tentang pendidikan dan perkembangan anak-anak saya. Saya perlu mengoreksi diri apakah benar kami termasuk orang tua yang belum siap mendidik anak-anak kami dengan pendidikan tentang seks di usia dini.

Selain buku tersebut, saya juga menemukan sebuah buku parenting yang membahas tentang seluk beluk pendidikan seks sejak usia dini berjudul berjudul A-Z Pendidikan usia dini yang di tulis oleh dr. H. Boyke Dian Nugraha, SPOG, MARS dan dr. Sonia Wibisono. Berbeda dengan buku sebelumnya, buku ini memang dikhususkan untuk kami orang tua agar bisa mendampingi anak-anak dengan benar dalam memberikan informasi tentang pendidikan seks.

Menurut Saya Buku Ini Rekomended
Sesampainya dirumah, saya menyimpannya terlebih dahulu. Keesokan paginya saya coba membacanya. Seperti biasa saya tidak ingin berat sebelah dalam menerima informasi yang tersampaikan sehingga saya harus membaca dengan mempertimbangkan berbagai sudut pandang berbeda. Seperti pesan beberapa teman, terkadang bahasa tertulis itu tak sama dengan saat kita berbicara langsung dengan lawan bicara kita.

Saya sudah membaca seluruh isi buku tersebut. Sebagai orang tua yang memiliki dua balita yang kritis dengan pertanyaan-pertanyaan, serta memiliki daya ingat yang kuat tentang apa yang diperhatikan, dilihat dan didengarnya, jujur sebagai orang tua saya kuatir dengan keberadaan buku tersebut. Mohon maaf dalam konteks ini saya tidak berniat membully sedikitpun, tapi ijinkan saya menyuarakan isi hati saya yang sedang was-was kuatir.

Disatu sisi saya sebagai orang yang punya mimpi menjadi penulis melihat bahwa dari setiap kalimat yang ditulis penulis tersebut sebenarnya mungkin benar-benar dipilih dengan bahasa yang paling sopan, tapi disisi lain sebagai orang tua saya tetap kuatir jika buku tersebut dibaca oleh anak-anak saya yang memiliki karakter seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya.

Dengan penjabaran nasehat sang ibu kepada si anak dalam buku tersebut yang menurut saya kurang begitu komplit, justru bisa membuat anak dengan tipe karakter seperti anak saya melemparkan pertanyaan pada dirinya sendiri dan mungkin bisa menjadi boomerang. Misalnya hanya dengan nasehat, tangan kotor nanti kena infeksi, maka untuk tipe karakter anak kritis bisa menimbulkan pertanyaan lanjutan, "Berarti kalau tanganku nggak kotor nggak apa-apa dong ya". Beruntung jika pertanyaan tersebut langsung diajukan kepada orang tua, tapi bagaimana jika pertanyaan tersebut hanya sebatas dilemparkan kepada dirinya dan diasumsikan sendiri jawabannya?

Saya jadi ingat ketika si kakak kami larang makan snack dengan peringatan tidak boleh untuk usia dibawah 5 tahun. Setelah kami jelaskan alasannya, beruntung si kakak mengajukan pertanyaan, "Berarti nanti kalau yayah kerja, kakak boleh ya maem jajan itu? Kan yayah nggak tahu?". JENG JENG JENG, kami pun harus segera menambahkan informasi tambahan kepada kakak, agar kakak tidak makan makanan tersebut sekalipun kami tidak tahu.

Begitu juga dengan dari sisi daya ingat. Anak saya termasuk yang mudah mengingat apa yang dilihatnya. Seperti beberapa waktu lalu, jujur saat awal-awal memiliki anak, saya dan suami ingin mengambil langkah parenting bahwa anak-anak harus tahu bahwa kami orang tuanya pasangan romantis. Layaknya pasangan papa mama muda, ketika suami berangkat kerja kami pun cium pipi kanan pipi kiri dahi hidung janggut de el el. Nah, ternyata adegan tersebut ditiru oleh si kakak. Saat ayahnya akan berangkat kerja maka dia juga melakukan semua step yang saya lakukan. Fatalnya, saat salah seorang teman saya main ke rumah saya bersama anak laki-lakinya, maka saat akan pulang si kakak hampir saja melakukan semua step kepada anak teman saya yang sudah dianggap temannya tersebut. Haiyaaaaaaa ... saya pun panik, dan segera mencegahnya. Beruntung sempat saya cegah, kalau nggak saya cegah, kuatirnya saat mereka sama-sama dewasa mereka akan merasa malu mengingat kejadian masa kecilnya. Selain itu toh saya ingin mengajarkan batasan-batasan muhrim untuk bekal anak-anak saya, agar bisa melindungi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Memang benar adanya, buku tersebut ditulis dengan niat baik sebagai langkah pencegahan agar anak-anak bisa melindungi diri. Namun, bagi anak-anak yang mungkin bahkan belum pernah melakukannya, bisa jadi justru hal-hal yang tidak sepantasnya tersebut justru dijadikan start awal mencontoh. Amit-amit naudzubillahimindzalik.

Begitu juga disampul belakang buku, yang menurut saya justru menimbulkan rasa penasaran anak-anak tentang permainan apa yang mengasyikkan itu? Dari situ saya justru mengkhawatirkan bagi anak-anak dengan rasa penasaran tinggi ingin mencoba permainan yang digambarkan mengasyikkan tadi.

Sebenarnya buku tersebut juga menjadi bahan koreksi saya dan suami, dimana kami menyadari berarti sekuat apapun kami menutup akses anak-anak dari info negatif dari luar, maka tetap bisa ada celah jika kami tidak waspada. Salah satunya jika kami tidak mau aware ikut memeriksa buku yang akan dibaca oleh anak-anak kami. Tapi, apa lantas kami bisa memeriksa setiap buku yang akan dibaca oleh anak-anak kami?

Saya hanya membayangkan, jika buku tersebut berada di sebuah taman baca milik perseorangan yang saya yakin niat sang pemilik taman baca hanya ingin memberi fasilitas membaca kepada lingkungan sekitar, atau bisa jadi buku tersebut berada di tempat baca lainnya. Mau tak mau buku tersebut mungkin akan dibaca tanpa pengawasan dari orang tua. Saya jadi ingat jaman saya remaja dulu, kita bebas mau menyewa buku atau VCD apapun ditempat persewaan buku atau kaset, yang tentunya kadang rate usianya tidak sesuai dengan usia pembacanya.

Sehingga mau tak mau, saya menyadari kami sebagai orang tua harus membekali diri dengan ilmu yang benar dalam mendidik dang membimbing anak-anak kami. Saya pun kemudian membaca buku yang berjudul A-Z Pendidikan usia dini tadi yang memang ditujukan kepada kami sebagai orang tua. Di awal-awal halaman buku saya langsung menemukan halaman tentang cara membaca buku tersebut. Bagi saya buku ini benar-benar keren sampai memperhatikan hal sedetail itu.

Saya pun mulai membaca isi bukunya. Tidak sevulgar yang dibayangkan, justru dalam buku berjudul A-Z Pendidikan usia dini (dengan tulisan huruf besar, Adik bayi datang dari mana?) tersebut saya sebagai pembaca benar-benar merasa mendapat wawasan dan dibimbing agar saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kelewat ajaib dari bibir mungil anak-anak. Tak hanya berisi tulisan saja, tetapi buku tersebut juga berisi ilustrasi gambar dan halaman untuk anak yang bisa menjadi media untuk menjelaskan kepada anak, agar anak lebih mudah memahami maksud yang ingin orang tua sampaikan dengan tepat. Dari buku tersebut saya jadi tahu mana-mana yang sebenarnya telah salah kami lakukan dalam memberi informasi kepada anak-anak, sehingga kami bisa segera memperbaikinya.

Terlepas dari dua buku tersebut, saya masih penasaran dengan buku yang disarankan oleh sahabat saya yang ditulis oleh Watiek Ideo, yang menurut mbak anggie buku tersebut benar-benar recommended untuk dimiliki. Sayangnya karena saya nggak nemu dengan judul yang dimaksud, jadi saya beli buku mbak Watiek Ideo dengan judul lain, yaitu cerita anak pemberani. Isinya pun tak kalah keren menurut saya, karena berhubungan dengan cerita keseharian anak-anak. Baiklah mari kita berburu dan terus berusaha mengupgrade ilmu kita.

Menurut Saya Buku Ini Cocok Untuk Si Adik
Oh iya, sebenarnya dari kejadian yang saya tuliskan tersebut saya jadi banyak belajar dan mengambil hikmah. Mengingat saya punya mimpi menjadi seorang penulis, maka saya tidak boleh mengabaikan tanggung jawab tulisan yang sudah saya tuliskan. Saya jadi ingat nasehat salah satu teman blogger yang mengingatkan saya agar selalu memperhitungkan apa yang akan saya tulis.

Ini mungkin jika digambarkan hampir seperti ungkapan nasehat yang pernah diberikan mbak anggie kepada saya tentang suatu kejadian yang mungkin sudah dimaafkan tapi belum tentu dilupakan.
"FORGIVEN BUT NOT FORGOTTEN"
Sebuah kalimat yang sederhana tapi memiliki makna yang sangat dalam.

Dari situ saya benar-benar menyadari bahwa saya masih harus banyak belajar. Jujur sebenarnya saya sempat ingin membatalkan niat hati menuliskan suara hati saya, tapi kemudian saya mendapat support dari sahabat saya mbak anggie, dimana menurutnya jangan pernah takut menyuarakan kebenaran. Dimana bisa jadi diluar sana banyak yang memiliki kekhawatiran sama. Saya pun sempat sharing dengan suami, apakah pantas saya menuliskannya. Jangan-jangan saya nanti dianggap berniat cari sensasi atau membully buku yang sempat heboh tersebut. Tapi atas berbagai pertimbangan saya pun memberanikan menulis, bukan dengan tujuan untuk memojokkan apalagi ingin menjatuhkan kreatifitas penulis buku tersebut. Namun, justru saya ingin memberikan sudut pandang saya sebagai orang tua dengan anak-anak yang kritis. Kiranya mungkin akan ada yang menganggap saya lebay karena bisa jadi anaknya tidak masalah membaca buku tersebut, saya memaklumi. Saya menyadari bahwa tiap anak memiliki karakter yang unik. Sehingga kita pun tidak bisa menyama ratakan cara kita menyampaikan informasi kepada anak-anak kita.

Bisa jadi metode penyampaian A cocok saat diberikan kepada si C tetapi belum tentu cocok diberikan kepada si D. Satu yang saya pahami saat ini, anak saya termasuk tipe anak yang kritis dengan banyak pertanyaan sehingga saya harus belajar mengimbangi menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Mau tak mau saya juga harus belajar lebih berhati-hati dalam menjawab pertanyaannya mereka agar tidak menjadi jawaban yang absurd untuk dijelaskan lebih lanjut ketika mereka terus bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan lebih detail.

Nasehat tambahan mbak anggie kepada saya, Niat dan cara itu harus sejalan. Niat baik, jalan harus baik. Disini lagi-lagi saya belajar, jika memang saya ingin menyampaikan sesuatu hal, maka tak cukup hanya bermodal niat baik, setidaknya saya harus menimbang-nimbang cara penyampaiannya, serta efek yang mungkin akan timbul kedepannya. Singkat kata saya menyadari menulis itu memiliki beban, salah satunya beban menanggung pesan moral yang akan kita sampaikan kepada pembaca kita. Seperti saat menulis tulisan ini, lagi-lagi saya hanya berharap tidak dianggap sebagai tokoh antagonis yang tega menjatuhkan niat baik seseorang, tapi saya hanya ingin menyuarakan kekuatiran saya di era yang semakin maju ini.

PR untuk saya, belajar, belajar, dan terus belajar. 😍😘

Keterangan Tambahan :
Berdasarkan pengertian yang ada pada buku berjudul A-Z Pendidikan usia dini, Seks berarti perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan atau bisa juga disebut sebagai jenis kelamin. Hal-hal yang berkaitan dengan jenis kelamin disebut seksualitas, misalnya yang berkaitan dengan psikologis, sosial, biologis, dan kultural. Agar tidak salah maka pendidikan seks sebaiknya dikenalkan secara bertahap sesuai dengan perkembangan usianya. Sehingga menurut kami, meskipun beberapa mengatakan seks bukan hal yang tabu untuk dipelajari sejak dini, tapi kami tetap harus berhati-hati dalam penyampaiannya agar apa yang kita harapkan bisa tersampaikan secara benar.

7 comments:

  1. saya setuju mba. kalau buku tsb masih beredar, sangat dikhawatirkan anak2 mendptkannya di luaran misal perpus yg kita, orgtuanya tdk tahu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, sebenarnya justru itu yang menjadi kekhawatiran kami sebagai orang tua, jadi bukan lantaran karna kami belum siap memberikan pendidikan seks sejak usia dini untuk anak.

      Tapi dari kejadian tersebut saya dan suami jadi sadar bahwa mungkin masih banyak bahaya serupa di luar yang mengancam anak-anak kita, sehingga mau tak mau itu menjadi koreksi kami untuk mau terus belajar

      Delete
  2. Blum baca bukunya mbak...blum bisa komentar banyak. Hanya screen shot saja dr web lain, ada kalimat yg bila dibaca saya agak merinding, bagaimana ya kalo dipraktekkan anak, apakah anak segtu bisa menerima dg baik...saya jadi deg2 ser...tapi hanya sekilas tak berani berkomentar banyak..heee...

    ReplyDelete
  3. Semoga Baik Orangtua, Guru dan Pemerintah lebih selektif dan Pro Aktif dalam melakukan pengawasan dan Pembinaan terhadap Anak, disatu sisi kita harpkan anak terus berkembang postifif tetapi ancaman juga bisa muncul dari berbagai sudut.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  4. Membantu sekali mbak blognya nambah2 wawasan saya juga tentang sex education, maklum calon mamah baru heheh..

    ReplyDelete
  5. Setuju banget, duh abis ada kasus ini aku malah lebih aware sama pendidikan seks usia dini mbak untuk kedua anak aku.. Malah pengen cari-cari bukunya dulu dan cara yang tepat menyampaikannya.. Soalnya ngeri ya mbak jaman sekarang, dengan akses internet yang tak terbatas.. Huhuu. Mari sama-sama semangat belajar mbaaa :D

    ReplyDelete
  6. Artikelnya bagus Mbak Vety, memang jadi orang tua jaman sekarang harus serba update apalagi tentang pendidikan seks pada anak. Kalau salah penyampaian bisa-bisa pemikiran anak juga jadi mengarah jauh dari yg kita harapkan. Saya inget banget dulu jaman saya kecil, hal ini jarang di bicarakan melalui keluarga, alhasil saya tahu pendidikan seks dari teman dekat saya (wanita). Untungnya teman saya itu memang orang tuanya dengan baik memberikan bekal pendidikan seks jadi dia jg bisa menyampaikan dgn baik wawasan yang ia dapat.

    Saya setuju sebagai penulis memang pasti ada beban moral tersendiri dalam menyampaikan sesuatu lewat tulisan.

    "FORGIVEN BUT NOT FORGOTTEN"

    suka quotes yang ini mbak :)

    ReplyDelete