Wednesday, February 22, 2017

Ketika Gadget Merenggut Privasi Kita

Perkembangan jaman di era modern ini, terkadang membuat kita sangat terlena, dan tak menyadari bahwa ada banyak hal yang sudah terenggut dari kita. Jujur saat mulai menulis ini saya lagi-lagi merenung dan hampir meneteskan air mata. Alasannya sepele, tak lain tak bukan karena akhir-akhir ini saya mulai menyadari ada banyak hal yang sebenarnya bisa dibilang menjadi kemajuan di era kita, tapi bisa menyebabkan kemunduran bagi keluarga kami jika tak benar-benar saya sadari sejak awal. Seperti halnya peran gadget dalam kehidupan sehari-hari.



Tak dipungkiri dengan kehadiran tehnologi gadget di tengah kita saat ini, terutama saya juga merasa banyak terbantu. Mulai dari mudahnya mencari informasi diluar sana, hingga peran gadget dalam mendekatkan kita dengan kerabat atau saudara kita yang mungkin jauh dari kita.

Entah sudah berapa banyak, grup whatsapp yang saya ikuti, hingga akhirnya justru semua grup tersebut merenggut banyak waktu saya. Alih-alih saya aktif dibanyak grup, justru membuat saya lupa dengan rutinitas harian saya. Sebaliknya, ketika saya mulai menyibukkan diri dengan aktivitas harian saya, beberapa teman di banyak group tersebut akan menanyakan kabar, kemana saja saya selama ini? Beberapa group bahkan tak segan-segan menyematkan peraturan akan mendepak member bagi member yang tidak aktif, karena dikuatirkan hanya sebagai stalking.

Serba salah memang...

Pernah suatu ketika suami bercerita kepada saya, tentang pengalaman seorang remaja SMA yang (kalau tidak salah) memutuskan menjauhi medsos selama 10 hari, hasilnya si remaja merasa hidupnya lebih bermakna.

Lalu bagaimana dengan kami?

Saya sempat mengajukan ke suami untuk mencoba menjauhi medsos yang bersarti sedikit menjauhi gadget secara bertahap, mungkin bisa dicoba dari 2 hari kemudian bertingkat 4 hari, 6 hari hingga mungkin akhirnya 10 hari.

Belum juga dicoba, suami sudah keberatan. Alasannya simple, karena hal tersebut akan menyulitkan rekan kerja maupun klien kantornya untuk bisa menghubunginya. Saya nggak bisa protes sih ya, karena dulu memang awalnya suami tidak mau menggunakan whatsapp, dengan alasan toh masih ada sms. Faktanya seiring waktu, jika suami tak mau mengikuti perkembangan jaman, suami bisa ikut tergerus dengan arus. Ah pengen nangis lagi saya nulisnya ...

Senada dengan saya, di handphone suami juga entah ada berapa banyak grup whatsapp yang isinya hampir semua membahas tentang pekerjaan kantor. Ditambah grup kompleks (tetangga) dan alumni sekolah. Tidak ada peraturan pasti jam berapa chat bisa dimulai, dan harus berhenti.

Jam berapapun chat bebas bersaut-sautan di grup...

Sejauh itu saya belum pernah merasa terganggu, harapannya kami masih bisa mengabaikan chat yang bersaut-sautan tersebut saat berada di rumah.

Faktanya terkadang, ketika ada kerabat, teman yang butuh dengan kami dan mencari kami di grup entah jam berapapun itu, biasanya akan ada teman lainnya yang menyarankan, "Japri saja mas/mbak! Kali aja belum tidur!". Kalau di japri nggak bisa langsung telepon saja. Begitu kira-kira yang sering kami alami saat ini.

No, saya tidak menyalahkan teman-teman semua, karena saya sendiri dan suami adakalanya berada di posisi itu. Ketika kami butuh menghubungi seseorang, padahal seharusnya bisa ditunda sebentar menunggu waktu malam berlalu sejenak.

Lalu, kalau sudah tahu jika kita menghubungi di jam tersebut bisa mengganggu privasi orang, kenapa masih kita lakukan? Lagi-lagi ada saja alasannya, nanti kalau ditunda-tunda keburu lupa. Selain alasan tersebut tanpa disadari karena kita merasa mudahnya akses yang kita miliki membuat kita mengabaikan privasi yang dimiliki orang lain.

Saya sebenarnya sangat terinpirasi dengan 3 fasilitator yang ada di kelas online Matrikulasi Institut Ibu Profesional.
Dimana seringkali saya mendapat kalimat, "Oke sudah satu jam saya menemani teman-teman disini, sekarang waktunya saya undur diri".
Awal-awal saya merasa aneh mendapati hal tersebut. Ditambah adanya ketentuan di grup tentang Gadget Free Day On Sunday (semoga saya tidak salah dengan istilah tersebut yang sering disingkat dengan GFOs).

Dimana hal yang mungkin dianggap sepele untuk sebagian orang, menjadi sangat bermakna bagi saya utamanya. Yah, dengan diberlakukannya durasi time berapa lama kita bisa ngobrol di chat setidaknya kita bisa mengontrol waktu kita agar tak terlalu over time saat menggunakan gadget, yang mungkin justru bisa berakhir merenggut privasi kita dengan keluarga kita.

Begitu juga dengan adanya GFOs, juga menurut saya itu merupakan salah satu langkah kita untuk menghargai privasi orang lain, yang mungkin ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga, setelah seminggu penuh disibukkan dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran.
Ternyata saya juga tidak hanya menemui hal tersebut di satu grup yang saya ikuti. Ada juga grup lain, dimana disana juga diberlakukan jam berdiskusi.

Ya, dari situ pagi ini saya mulai merenung, dan berusaha membiasakan diri untuk tidak melakukan aktivitas chat (terutama di grup) pada saat jam istirahat diatas jam aktif.

Sebenarnya untuk aktivitas medsos di whatsapp ini masih lebih lumayan, daripada saat saya dulu aktif di medsos BBM, dimana saat itu jika chat japri (jalur pribadi) tak langsung kita respon, maka saya akan mendapat serangan PING!!!

Hahaha ... saya jadi ingin mentertawakan diri sendiri, karena dulunya ketika menjadi pengguna BBM saya termasuk salah satu yang hobi melayangkan serangan PING!!! saat saya tak langsung mendapat respon dari lawan chat saya. Lalu mungkin saya semacam kuwalat ya, karena saat hamil si kakak, tiba-tiba saja saya merasa mual mendapati PING!!! di pesan BBM saya. Semacam saya mendapat "beban" karena harus segera menjawab saat itu juga, padahal saat itu mungkin saya sedang ingin istirahat. Sejak saat itu saya langsung menjual BB saya. Dianggap sombong dan aneh? Sudah pasti, bayangkan saya yang biasanya hobi ngerumpi tiba-tiba menghilang menjual BB saat hamil.

Tapi ya itulah tadi kita tak bisa memaksa asumsi-asumsi orang terhadap kita.
Sebenarnya pun beberapa waktu lalu saya sempat mengajukan proposal kepada suami untuk minta dibelikan hp jadul yang hanya bisa digunakan untuk SMS dan telepon saja.
Tujuannya simpel, agar ketika saya ingin mengurangi durasi waktu saya berselancar di dunia medsos, baik teman atau kerabat yang memang benar-benar emergency butuh menghubungi saya, bisa langsung menghubungi melalui jalur sms atau telepon.

Tak dipungkiri saya dulu sempat merasa beberapa teman yang telah berhasil hamil dan memiliki buah hati terlebih dahulu dari saya berubah menjadi sombong karena jadi jarang nimbrung di beberapa grup medsos. Saya pun sempat berjanji pada diri sendiri tidak akan berubah "sikap" dengan menjauhi medsos ketika sudah memiliki anak.

Faktanya, kami memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga amanah yang sudah diberikan Allah SWT di tengah keluarga kecil kami. Menjadi kewajiban kami untuk lebih memuliakan amanah-amanah tersebut, agar kelak kami juga dimuliakan oleh mereka.

Sering kali tanpa sadar, saat anak-anak saya butuh perhatian di saat yang sama saya malah sibuk dengan gadget dengan alasan, "Sebentar ya nak, ini ada yang penting". Belum lagi, jika ada pekerjaan yang dikejar deadline lalu anak-anak bergelayut manja, tiba-tiba tanpa sadar kami mengeluarkan kalimat, "Haduh, bentar toh nakkkkkkk ... Nah kan jadi nggak selesai-selesai nih!!!". Aduh saya nulisnya sambil miris mbrabak mili, karena saya masih sering melakukan hal tersebut. Nggak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya hati anak-anak saya mendapati kami tidak ingin diganggu padahal mereka sedang ingin "bermanja-manja dengan kami".

Waktu terus berjalan, anak-anak pun akan tumbuh setiap harinya. Saya tak ingin kehilangan momen-momen penting melihat tumbuh kembang anak-anak kami. Disinilah kami baru menyadari, jika kami tak pintar-pintar membagi waktu maka tanpa kami sadari peran gadget bisa merenggut privasi bersama keluarga kita.

Salah Satu Run Down Harian Saya, Agar Bisa Membagi Waktu

Saya pun masih harus terus berusaha dan belajar ... Salah satunya dengan berusaha menentukan durasi time "boleh kencan" dengan gadget, itupun harus seizin anak-anak dan suami tentunya. Selain itu mungkin saya mulai harus belajar menghormati privasi orang lain dengan tidak melakukan chat di jam-jam istirahat orang lain, kecuali mungkin sudah dengan perjanjian sebelumnya, dan tentunya tetap ada batas waktu juga.

Begitu juga sebaliknya, mungkin saya juga akan memberlakukan Gadget Free Day bagi keluarga kecil kami. Lo, la terus apa kabarnya status harus siaga on call kerjaan??? Yah kan statusnya on call, jadi kalaupun emergency jalurnya ya by call. 😅

Tenang, selama handphone saya ada ditempatnya, jalur by sms atau call masih bisa masuk kok, kecuali mungkin kalau tiba-tiba handphone kami disembunyikan anak-anak, entah di kulkas atau di kotak mainannya sampai batas waktu yang tidak kami ketahui dan membuat baterai habis, anggap saja itu sebagai bonus Gadget Free Day bagi keluarga kami. 😂😅

No comments:

Post a Comment