Saturday, February 18, 2017

Kita Boleh Punya Mimpi Untuk Jadi Lebih Baik #BerprosesJadiLebihBaik

Saat menulis ini, saya sedang menghadiri sebuah acara farewell party seorang Manager yang akan berpindah tugas karena akan dilantik menjadi seorang General Manager (GM) sebuah perusahaan besar dan ternama di Indonesia. Disitu saya tersenyum sembari bermimpi, "Andai suatu hari suami ada di posisi tersebut" (Amin).



Mimpi nggak dilarang kan? Dengan mimpi kita jadi mempunyai semangat untuk terus berusaha lebih baik.

video

Yah, si bapak GM yang gantengnya ngalah-ngalahin hedi yunus vocalisnya kahitna, berdampingan dengan bu GM yang nampak elegan mempesona. Disitu saya jadi mempelajari suatu hal, dibalik suami sukses ada istri hebat. Kemudian saya juga mengambil sebuah pelajaran, bahwa mulai sekarang saya harus belajar mensupport suami salah satunya dengan berusaha memantaskan diri menjadi pendamping hidup suami saya. Sehingga ketika suami nantinya ada diposisi tersebut atau posisi apapun yang lebih tinggi, saya juga bisa membanggakan untuk suami (bukan hanya suami yang membanggakan untuk saya).

Saya membayangkan jika hanya suami yang melejit berada di puncak, maka dia mungkin akan sangat berat menarik saya untuk ikut berada di puncak. Sebaliknya jika saya juga ikut berusaha dari sekarang, maka kami bisa melangkah bergandengan tangan untuk mencapai puncak.

Ya, saya ingin membangun sebuah simbiosis mutualisme dalam hubungan (relation ship) saya dengan suami.

Untuk bisa berada di posisi itu, maka salah satunya saya harus bisa menggapai mimpi saya menjadi ibu baik yang profesional.

Sebagai ibu baik yang profesional berarti saya juga harus bisa memantaskan menjadi seorang ibu yang teladan untuk anak-anak saya, salah satunya dengan mulai belajar mengelolah emosi saya.

Saya ingin belajar manajemen emosi, sehingga nantinya pun ada yang mencoba memancing emosi, saya tidak akan mudah meledak-ledak, seperti yang selalu dilakukan suami saya yang menurut saya memiliki kesabaran yang luar biasa.

Salah satu cara saya mengelolah emosi saya, dengan mulai berusaha mengabaikan orang-orang yang berkata kurang mengenakkan atau lebih tepatnya suka nyindir bin nyinyir sama saya. Selain itu saya juga mulai berusaha tidak ikut terbawa arus status-status medsos yang bisa membawa aura kurang baik.

Saya juga mulai belajar mengendalikan jari-jari saya saat bermedsos. Terutama jika saya marah, sebisa mungkin saya tidak akan marah-marah membabi buta di medsos. Perlu diperhitungkan juga efek baik buruknya juga efek jangka panjangnya.

Bisa bayangkan, kalau seandainya istri seorang pimpinan yang seharusnya digambarkan dengan role mode yang elegan anggun tiba-tiba marah-marah membabi buta memaki sana sini seperti seorang yang tak memiliki etika? #noted : ini reminder untuk diri saya sendiri!!!

Pencitraan pura-pura baik dong? Bukan pencitraan menurut saya, kalau pencitraan menurut saya efeknya akan sebentar, karena diluar sana bisa saja orang melihat kita adem ayem atau bahagia, tapi hati kita seperti di neraka. Kalau seperti itu sih sama juga bohong!

Kalau saya maunya mengelolah emosi ya benar-benar dikelolah. Marah boleh tapi yang elegan dan beretika. Ceileeeehhhhh bahasanyaaaaaaa...

Marah yang elegan dan beretika itu yang bagaimana?
Kalau menurut saya marah yang elegan dan beretika yaitu saat kita bisa mengelolah emosi ketika sedak meledak-ledak dan bisa meluapkan rasa emosi kita di waktu dan tempat serta sasaran tepat.

Salah Satu Workshop Yang Ingin Saya Ikuti
Untuk Berproses Menjadi Lebih Baik

Bisa nggak ya? Ah ya belajar dulu mulai sekarang ...

Ah muluk nih mimpinya ... Wong apa-apa masih belajar gitu kok!

Loh, justru dengan mimpi itu saya mulai punya gambaran step-step usaha apa saja yang bisa saya lakukan untuk melangkah lebih hebat menjadi ibu baik yang profesional.

Seperti ucapan semangat, "See you on the top!", yang selalu diberikan oleh mbak Ilva salah satu fasilitator di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional.

Lalu setelah acara selesai farewell party, ketika saya sudah sangat lelah, ternyata suami minta izin untuk rapat terlebih dahulu dengan beberapa rekan kantornya. Eaaaaaa ... Maunya sih ngambeg bilang capek, tapi terus ingat, kan saya harus berproses jadi lebih baik.

Saya pun mengingatkan bahwa dibalik suami sukses ada istri yang hebat!

Ah bagi saya, memang suami saya yang satu itu benar-benar workaholik. Semua pekerjaan kalau bisa dihandelnya mungkin bakal dikerjakan semua. Oke jadi hayuk, aku ikutin deh kemana kamu melangkah. So see you on the next level ya suamiku 😘

Terus Saya Jadi Inget Sepatu Yang diBelikan Suami
Ternyata Ibu Rumah Tangga Juga Wajib Punya Sepatu 😍😘

5 comments:

  1. Nggak cumak sepatu mbak
    Wajib punya pisan baju batik dan atau baju kondangan, tas cantik plus fasih make up..
    Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iku aku ga iso make up ya opo? Ga popo lah yang penting bisa memaksimalkan inner beauty >,<

      Delete
  2. Duh mbak...mak jleb bacanya...hiii...masih suka meledak...masih banyak belajar suabarrrr...tulisannya menginspirasi...matur nuwun diingatkan...hihiihii..(sek tak mlayu isin karo awake dewe)...hhhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... mbak frida lo... saya juga masih harus banyak belajar

      Delete
  3. "Mimpi nggak dilarang kan?"
    Betul!! Harus tetap semangat menggapai cita-cita!!!

    ReplyDelete