Wednesday, February 15, 2017

Koreksi Diri Untuk Menjadi Ibu Profesional #Berproses Menjadi Lebih Baik

Setelah beberapa minggu saya mencoba berproses menjadi lebih baik, maka tidak ada salahnya saya harus mulai mengoreksi kembali tahapan-tahapan dan rencana-rencana yang sudah saya buat. Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya tentang fakultas atau jurusan di universitas kehidupan yang ingin saya pilih  adalah jurusan pendidikan menjadi ibu sekaligus istri yang baik bagi keluarga. Dimana ibu yang baik disini memiliki makna yang luas bukan hanya sekedar ibu yang bisa diandalkan oleh anak-anak juga suami untuk bisa mengerjakan semua tugas rumah, tapi juga sabar, sholehah, kreatif, bisa menempatkan diri, membanggakan, dan teladan. Untuk memulai proses menjadi ibu/istri yang baik tadi saya juga mulai menyusun beberapa jadwal rencana harian yang harus konsisten saya kerjakan, sebagai bentuk indikator keberhasilan saya.

Rencana Harian Saya Untuk Mendapat Indikator Keberhasilan Proses Saya Menjadi Ibu dan Istri yang Baik


Tak dipungkiri meski terkesan mudah di awal ternyata untuk melakukannya ada banyak kendala yang saya hadapi. Salah satunya usaha saya untuk bisa tepat waktu tidur malam agar bisa bangun lebih pagi dan memulai hari dengan lebih awal. Faktanya setelah saya berhasil mengalahkan diri untuk bisa bangun lebih pagi, ternyata lagi-lagi saya harus berjuang mulai dari nol lagi untuk bisa bangun lebih pagi, karena perubahan rutinitas sesaat yang kami alami ketika kami menghabiskan waktu liburan keluarga. Kelelahan kami dengan kehebohan liburan keluarga kami, membuat saya sedikit memberikan kelonggaran kepada diri saya. Sayangnya hal tersebut membuat saya "ketagihan" untuk merasakan "kelonggaran" tersebut.

Dari 100% usaha yang saya lakukan untuk berproses menjadi ibu baik yang lebih profesional, mungkin baru sekitar 10-20% indikator yang sudah berhasil saya lakukan. Prosentase yang kecil mungkin jika dilihat secara angka, tapi bagi saya hal ini bisa dibilang sebuah indikator keberhasilan diri saya sendiri sehingga membuat saya terus ingin berusaha menjadi ibu yang lebih baik lagi bagi anak-anak dan suami.

Satu hal yang membuat saya tak mau menyerah, adalah ketika saya mendengar perbincangan antara kakak adik. Seperti biasa saya mencoba untuk mengendalikan emosi saya agara tidak mudah meledak. Diluar perkiraan saya, saya mendengar kakak memanggil sang adik untuk diajak bermain bersama saya dengan kalimat, "Ayo dek sini ... Main sama-sama ... Mamam udah nggak marah tuh dek ... Ayo ...". Saya pun sedikit terkejut mendengar obrolan sang kakak, sembari mencoba melongokkan kepala mengintip mereka. Sang kakak menyadari sedang saya intip langsung bertanya sembari tertawa lebar, "Iya kan mam, mamam nggak lagi marah kan?". Seketika itu juga hati saya meleleh sembari tersenyum lebar mengatakan, "Iya mamam nggak marah kok".

Dengan alasan tersebut saya akan berusaha mengalahkan diri sendiri untuk terus berproses menjadi ibu baik yang lebih profesional. Tahapan setelah menentukan indikator keberhasilan dalam keluarga, maka saya juga mulai berusaha menggali dan menemukan potensi yang sebenarnya saya miliki. Agar saya tidak lagi merasa menjadi seorang yang useless sehingga saya lebih bisa memantaskan diri menjadi seorang ibu sekaligus istri yang membanggakan bagi keluarga kecil kami.

Seperti yang dikatakan oleh orang-orang sekitar saya, salah satunya saya memiliki potensi menulis. Meski di awal saya masih merasa kurang pede, tapi suami bersedia mensupport potensi saya dengan mengizinkan saya memberi keleluasaan saya untuk menulis. Selain itu suami juga mengizinkan saya untuk mencari informasi tentang pelatihan kepenulisan agar saya bisa mewujudkan cita-cita saya menjadi seorang penulis profesional. Suami juga selalu mensupport saya untuk tidak pernah menyerah dan terus melakukan hobi menulis yang saya senangi dengan alasan karena kita tak pernah tau akan sampai dimana hobi menulis saya itu membawa kami.
Berkat Support Suami, Salah Satu Tulisan Saya Lolos Seleksi Naskah Antologi Pertama Yang Diadakan Oleh Penulis Kenamaan Dwi Suwiknyo

Mungkin memang saat ini saya bukan apa-apa, tapi saya mempunyai mimpi agar kelak tulisan-tulisan saya bisa menginspirasi bagi para pembaca dan berguna bagi masyarakat luas. Seperti mimpi orang tua kepada saya yang selalu disematkan kepada nama saya, bahwa nama saya memiliki arti "rahmat yang berfaedah". Dulu orang tua saya bermimpi dengan menjadikan saya seorang apoteker saya bisa berguna bagi masyarakat luas. Sayangnya atas pilihan saya mengabdikan diri saya sepenuhnya kepada keluarga kecil saya membuat mimpi yang digadang-gadangkan oleh orang tua saya kepada saya menjadi pupus. Meski demikian saya yakin bahwa saya bisa tetap menjadi rahmat yang berfaedah (bermanfaat) dengan cara lain. Salah satunya misal dengan menjadi penulis. Seperti quote yang sering dituliskan oleh salah seorang penulis (Dwi Suwiknyo), Menulislah meski hanya 1 buku seumur hidupmu.

Dengan menjadi penulis saya tak perlu meninggalkan kewajiban saya untuk mempersiapkan anak-anak saya untuk menjadi generasi seperti yang kami harapkan sesuai visi misi keluarga kami. Visi misi keluarga kami ini nantinya tidak hanya berdasarkan keinginan saya saja, atau suami saja, tapi kami berharap anak-anak juga ikut andil didalamnya, agar kami menjadi keluarga yang berhasil baik dikehidupan dunia maupun di akhirat. Seperti permintaan suami, agar saya memantau secara langsung tumbuh kembang anak-anak saya di periode emasnya.

Untuk bisa mencapai goal visi misi keluarga tersebut, maka kami (terutama saya) harus belajar untuk bisa mengelolah emosi saya. Apakah berarti saya tak boleh marah sama sekali? Saya pribadi merasa mengelolah emosi bukan berarti saya tidak boleh marah sama sekali. Mungkin saya akan mengijinkan diri saya marah, tapi dengan catatan saya harus bisa menempatkan diri kapan dan dimana waktu yang tepat saya boleh marah. Marah yang bagaimana yang dibolehkan maksudnya? Marah jika hal-hal yang secara prinsip kewajiban misalnya dilanggar. Ehm ... bukan marah mungkin ya lebih tepatnya tapi tegas. Saya tidak akan mentoleransi jika anak-anak dan suami melakukan hal yang jelas-jelas dilarang oleh agama. Sebaliknya saya juga akan mengijinkan anak-anak dan suami menegur atau mengingatkan saya jika saya melakukan kesalahan diluar visi misi keluarga kecil kami.

Selain  itu saya juga harus belajar memperdalam ilmu agama bersama suami untuk bisa memberikan pondasi bekal agama yang kuat untuk anak-anak kami mulai dari dalam keluarga. Tak hanya sampai disitu, salah satu hal yang sejak dulu sering saya hindari, akhir-akhir ini saya mulai mau mempelajarinya, yaitu ilmu memasak.

Belajar Memasak Makanan Favorit Suami

Meski masih jauh dari standart chef keluarga, tapi saya akan terus belajar memperbaiki masakan saya. Tak dipungkiri saya dulu merasa tak perlu belajar memasak, karena sudah banyak jasa catering yang ada disekitar saya. Faktanya anak-anak saya justru lebih lahap dan bahagia ketika saya mulai memasak. Mereka juga lebih menghargai usaha saya dalam menghasilkan masakan yang lebih enak dari hari ke hari. Beberapa kali saya perhatikan, si kakak tetap diam dan lahap memakan setiap masakan saya meski rasanya mungkin tak sesuai dengan harapannya. Namun, saat si kakak merasa masakan saya sesuai seleranya, maka dia akan memberikan komentar, "Mamam hebat, masakan mamam enakkkkkk!!! Besok masakin seperti ini lagi ya mam!". Biasanya jika tidak ada komentar dari kakak, maka untuk mengoreksi apakah makanan saya sudah sesuai akan saya tanyakan langsung kepada si kakak. Seperti biasa kakak pun akan memberikan komentar, "Nggak enak mam!". Dari situ saya akan berusaha membuat masakan yang lebih enak lagi untuk keluarga saya.


Masih Terus Belajar Membuat Bakpao Favorit Kakak
Masih banyak sekali ilmu yang harus saya kuasai untuk memantaskan diri menjadi ibu sekaligus istri baik yang lebih profesional. Seperti manajemen keuangan, manajemen waktu, ilmu parenting terutama untuk menghadapi keseharian anak-anak kami agar kedepannya tidak ada rasa cemburu diantara mereka. Harapan kami, mereka akan selalu menjadi saudara yang kompak sampai kapanpun. Untuk bisa mendapat semua ilmu tersebut, maka saya harus bisa mulai meluangkan waktu untuk sering membaca buku, maupun menggali informasi dari internet, dan sharing bersama suami, serta dengan beberapa komunitas parenting yang saya ikuti.

Usaha saya lainnya untuk bisa memperdalam ilmu-ilmu tersebut, salah satunya saat ini saya mengikuti kelas matrikulasi (online) yang sedang diadakan oleh institut ibu profesional. Disana nantinya ada tahapan-tahapan materi yang mewakili ilmu yang ingin saya perdalam, yaitu :
  • Tahapan Bunda Sayang, dimana saya berharap akan mendapatkan ilmu untuk membangun peradaban dari dalam rumah, dan mendidik anak dengan berbasis fitrah dan hati nurani. Sehingga kedepannya harapan saya juga bisa membuka wawasan kepada anak-anak perempuan saya dan diri saya sendiri untuk selalu mensyukuri dan bangga terlahir menjadi perempuan, yang mungkin selama ini masih sering dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat.
  • Tahapan Bunda Cekatan, dimana saya berharap mendapat ilmu tentang bagaimana saya menjadi manajer bagi keluarga.
  • Tahapan Bunda Produktif, dimana saya berharap mendapat ilmu tentang bagaimana saya agar menjadi ibu yang selalu produktif (tidak bermalas-malasan), sehingga saya bisa menemukan visi misi hidup saya dan keluarga.
  • Tahapan Bunda Shalehah, dimana saya berharap mendapat ilmu tentang bagaimana saya menjadi ibu yang bisa memberikan keteladanan tentang "keshalehan" kepada anak-anak kami.
Untuk bisa mencapai semua ilmu tersebut saya berusaha untuk mengikuti setiap tahapan dan proses yang ada. Target saya yang utama saat ini dalam waktu satu sampai dua tahun ini saya harus bisa mengalahkan diri saya untuk lebih bisa mengelolah emosi saya, harapannya agar tidak ada jarak antara saya dengan anak-anak, sehingga saya lebih bisa dan mudah mendidik anak-anak dengan hati nurani. Dengan menyelesaikan PR mengalahkan diri sendiri, saya merasa kedepannya saya akan lebih mudah untuk bisa menyerap ilmu-ilmu lainnya.

Di tahun kedua dengan pribadi yang lebih sabar saya berharap mulai bisa profesional dalam membagi waktu, sehingga saya bisa memenejeri setiap kegiatan keluarga kecil kami. Saya juga berharap di tahun ke dua proses saya menjadi ibu baik yang lebih profesional ini saya ingin menjadi pribadi yang tidak mudah panik. 

Bisa dibilang saya sebenarnya sering panik saat menghadapi kehebohan anak-anak ketika suami sibuk dengan pekerjaannya. Dulunya saya kuatir mereka akan rewel, jika harus saya tinggal mengerjakan ini itu, sehingga saya sering dihadapkan dengan kondisi panik. Namun, seiring waktu saya harus terus belajar dan mengingatkan diri sendiri bahwa saya harus bisa menjadi ibu yang membanggakan bagi keluarga kecil saya. Mulai dari situlah saya belajar mengalahkan rasa panik saya.

Saya masih ingat salah satu nasehat dari salah satu mentor di kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional, (mohon maaf saya lupa siapa yang memberi nasehat saat itu) dimana saya menangkap nasehatnya bahwa selama tidak ada kecacatan pada kita, maka kita harus bisa melakukan pekerjaan rumah tangga yang menjadi tugas utama kita sebagai ibu. Hal tersebutlah yang terus menerus saya ingatkan pada diri sendiri, bahwa saya harus berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi lagi dan lagi. Saya sedang belajar untuk tidak "terlalu manja". Selama saya masih sehat, maka saya "memaksa" diri saya untuk "tidak malas". Jikapun suami berbaik hati menawarkan membantu saya di beberapa job harian saya, maka saya anggap hal tersebut sebagai bonus dan bentuk rasa sayangnya kepada saya. Saya akan benar-benar berterimakasih atas tawaran tersebut, karena adakalanya saya masih sedikit keteteran.

Tapi seperti janji saya kepada suami di surat cinta yang pernah saya tulis untuknya di hari ulang tahunnya bahwa saya masih terus belajar memperbaiki diri, maka atas kesabarannya menghadapi saya selama ini, saya berharap bisa memantaskan diri menjadi ibu profesional yang selalu membanggakan menjadi pendamping hidupnya.

Ditahun ke tiga, saya berharap keluarga kecil kami sudah bisa benar-benar kompak menemukan visi misi yang sejalan. Harapan lainnya kami sudah menemukan potensi spesifik anak-anak kami, sehingga kami lebih bisa membantu mendampingi serta mengarahkan mereka dalam menentukan cita-cita masa depannya. 

Selambat-lambatnya ditahun ke lima, saya harus bisa membuktikan kepada lingkungan sekitar saya bahwa apa yang saya usahakan untuk keluarga kecil saya selama ini tak ada yang sia-sia. Saya ingin bisa bercerita kepada semua orang bahwa pilihan saya untuk menjadi ibu rumah tangga demi keluarga saya merupakan pilihan yang tepat bagi keluarga kecil kami.

Bagi saya menjadi seorang ibu harus terus mau membuka diri serta mengkoreksi diri untuk terus belajar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.


***Artikel ini ditulis, terinspirasi dari tugas NHW#4 yang diberikan dikelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional yang sedang diikuti oleh saya sebagai penulis blog sundulerparents ini.

1 comment:

  1. Terima kasih buat sharing-nya, mbak. Jadi inspirasi buat saya yang masih berjuang menjadi ibu. Well written :)

    ReplyDelete