Sunday, February 26, 2017

Main Sama-Sama atau Bersama-Sama Main? #Sharing With Friends

Selama ini, suami dan saya ingin agar anak-anak memiliki rasa berbagi yang kuat satu sama lain. Sehingga jika ingin membelikan sesuatu seperti mainan atau buku, kami membelikan satu agar bisa dipakai sama-sama. Faktanya dalam keseharian mereka jadi sering bertengkar dan berebut satu sama lain. Lebih parah lagi, saya hanya memberi solusi dengan menasehati mereka agar mau berbagi saat itu juga.

Main Sama-Sama atau Bersama-Sama Main?

Baru-baru ini saya mendapat ilmu (parenting) baru dari mbak Pitaka Anggritti atau mbak Gritti biasa saya memanggilnya, yang memiliki background psikologi.

Saya baru tahu untuk usia (balita) anak-anak kami, lumrahnya memang masih dalam fase usia egosentris. Sehingga jika saya hanya memberikan satu mainan untuk berdua, justru bisa memicu rebutan atau pertengkaran diantara mereka.

Menurut mbak Gritti, sikap nggak mau meminjamkan mainan termasuk salah satu gejala egosentrisme anak usia 2-6 tahun.

Nanti ketika mulai usia 7 tahun ortu bisa mulai menanamkan adab, karena sata itu anak masuk dalam tahap berpikir yang sudah setingkat lebih tinggi di operasional konkrit.

Berarti seandainya saya melihat anak-anak balita saya sedang berebut mainan apa sebaiknya saya biarkan saja mereka, sekalipun mereka tabok-tabokan?

Sedikit kejam memang kedengarannya. Tapi menurut penjelasannya justru ketika ortu bisa membiarkan anak menyelesaikan sendiri masalahnya, dari situ anak akan mudah menumbuhkan resolusi konflik sendiri. Malah nanti bakal empati, menyesal karena suda mukul saudaranya, dan meminta maaf karena sudah menyakiti, tanpa harus dipaksa ortu untuk minta maaf.

Kalaupun kita gemas ingin anak-anak saling sayang dan minta maaf saat berantem, dekati masing-masing anak secara terpisah, ajak diskusi, "Menurut kakak, tadi adek kesakitan nggak ya, pas kakak ngebales mukul?"

Bangun empatinya dengan bercerita tentang pentingnya saling sayang. "Kakak ingat nggak, pas kakak nggak punya teman, siapa yang nemenin? Kayanya adek deh".

Sebaiknya kita jangan langsung mengatakan kalimat yg bisa membuatnya tersinggung seperti, "Kak kasian adek tuh. Km ngalah dong".

Kesalahan yang seringkali dilakukan orangtua adalah mengatakan kalimat: "Kak, ngalah dong, kamu kan sudah besar. Adek kan masih kecil!" Padahal kakaknya masih masuk masa egosentrism, dan belum punya pemahaman apa saja peran sebagai kakak terhadap adik.

Kalimat seperti itu justru yang mudah memicu sibling rivalry di kemudian hari. Sehingga anak merasa ortu pilih kasih.

Saya pun mendapat tambahan penjelasan dari mbak Ilva (salah satu fasilitator IIP SBM2), tentang sedikit catatan dari hasil workshop Aqil Baligh dengan Ust. Adriano Rusfi, bahwa ketika anak berada di usia 0-7 tahun maka seharusnya kita menguatkan ego pribadi anak.

Saat usia 7-14 tahun baru kenalkan dan kuatkan ego sosial.

Mengapa?

Karena (ternyata) menurut penelitian orang-orang Indonesia merupakan orang yang gampang terpengaruh dan mudah untuk dihipnosis.

Alasannya ketika masa kecil anak lebih dahulu diajarkan berbagi ketimbang mempertahankan hak miliknya sendiri.

Akibatnya anak jadi berego rendah dan mudah terpengaruh, tidak memiliki jati diri, tidak berani PD untuk tampil beda, tidak berani berkata *TIDAK*.

Oke fix, dari sharing tersebut saya menyadari kini waktunya saya harus mengoreksi diri.

Jangan sampai alih-alih ingin menanamkan rasa saling menyayangi dan saling berbagi, justru hal tersebut tanpa kami sadari bisa menjadi boomerang untuk kami.

Saya sendiri lalu menyadari dengan hanya memberi satu mainan untuk berdua jangan-jangan kami akan membuat anak-anak merasa kami pelit. Sehingga dikuatirkan anak-anak akan mudah terhasut oleh bujuk rayu dari luar yang mungkin bisa jadi justru berniat kurang baik terhadap anak-anak.

Saya bayangkan ketika ada yang berusaha menghasut dengan berkata, "Yuk, adek ikut om/tante saja, om/tante punya banyak mainan lo, bisa buat adek semua. Om/tante baik kan, nggak kayak mama papa nya adek yang pelit, masak beliin mainan hanya satu!", jangan-jangan hasutan tersebut langsung ditelan mentah-mentah, karena dianggap benar! Amit-amit naudzubillahimindzalik.

Request Kakak Gambar Ana, Untuk Adik Gambar Elsa
Bahkan Gambar Botol pun Bisa Menjadi Celah Untuk Rebutan

Mungkin seharusnya saya tetap memberikan mainan masing-masing kepada anak-anak, agar nanti konsepnya bersama-sama main.

Seandainya pun mungkin budget kami lagi mepet, dan memang mengharuskan saya hanya bisa membelikan satu mainan untuk berdua, maka saya bisa menjelaskan diawal alasannya. Sehingga nantinya harapan kami anak-anak lebih bisa memahami, "Oh, mamam yayah membelikan satu mainan, karena mereka sedang belum ada duit, bukan karena pelit. Nanti ketika mereka ada rejeki lebih pasti mereka mau membelikan kami masing-masing mainan".

Ditambahkan juga oleh mbak Gritti untuk konsep bermainnya ...

Nantinya biarkan anak-anak yang memutuskan, mau main sama-sama (1 mainan dipakai bersama/barengan) atau bersama-sama main (1 mainan 1 anak).

Bersama-Sama Main Dengan Mainannya Masing-Masing

Jika ada anak yang nggak mau mengalah memberi mainannya, biarkan juga. Biar mereka mengembangkan egosentrisme mereka dan belajar mempertahankan kepemilikan. Mengajarkan konsep berbagi bisa dilakukan di lain waktu (bukan tepat saat si anak sedang pelit).

Mengajarkan konsep-konsep berbagi bisa melalui cerita-cerita teladan di waktu anak sedang punya mood baik, misal saat mendongeng sebelum tidur.

Kemudian saya jadi merenung dan menyadari, beberapa waktu lalu karena lelah, terkadang saya memang membiarkan anak-anak berteriak berebut. Justru ketika saya membiarkan mereka berebut, kehebohan tersebut akan mereda dengan sendirinya.

Jadi kesimpulannya, jika ada kakak adik bertengkar memperebutkan mainan, buku atau apapun, maka kami sebagai orang tua sebaiknya membiarkan mereka menyeselesaikan dengan cara mereka sendiri. Sembari tetap diawasi tentunya, agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan keduanya.

Selama tidak melibatkan benda-benda tajam, benda berbahaya lainnya maka sebaiknya biarkan mereka "mengeksplore" cara mereka mempertahankan diri. Pastikan semua aman terkendali. Jikapun sudah mengarah ke arah berbahaya, maka mungkin sudah saatnya harus dipisahkan.😂😅

Tulisan ini terinspirasi dari sharing (chat) di grup WA IIP SBM2

No comments:

Post a Comment