Friday, February 17, 2017

Saat Saya Terkunci di Dapur Karena Rasa Penasaran Kakak

Beberapa waktu lalu sebenarnya saya pernah mendapat cerita dari beberapa teman yang memiliki pengalaman terkunci di ruang lain karena keisengan anak-anaknya. Berulang kali saya ingin mengamankan kunci pintu antara dapur dan ruang tengah, tapi saya malah sering lupa. Hingga akhirnya saya benar-benar (tanpa sengaja) terkunci didapur, sedangkan dua balita saya berada di ruang tengah. Panik? Bingung?


Saat itu baru saja saya pulang dari dokter mengantar si adik periksa karena suhu badannya yang tinggi. Sesampainya dirumah seperti biasa saya biarkan anak-anak bermain di kamar. Waktu itu saya buru-buru akan mengisi botol air minum si kakak. Seperti biasanya saya langsung refleks menutup pintu yang terhubung antara dapur dengan ruang tengah.

Alasannya karena rasa penasaran si adik yang masih merangkak sering memaksa ikut masuk dapur, padahal kondisi lantai dapur saat itu sedang benar-benar kotor.

Saya sempat mendengar bunyi kunci pintu diutak atik si kakak, baru saja saya mengingatkan kakak untuk berhenti memainkan kunci pintu tiba-tiba sudah terdengar bunyi "klik" yang artinya pintu terkunci.

Tanpa pikir panjang saya pun panik segera mengetuk-ngetuk pintu untuk minta dibukakan si kakak. Sayangnya si kakak juga ikut panik dan hanya bisa menangis saja. Saya semakin panik mengingat si adik saat itu badannya sedang panas tinggi. Si adik pun saat itu juga ikut menangis menyadari kepanikan kami.

Saking paniknya saya, tanpa berpikir panjang dan membuang gengsi langsung berteriak-teriak minta tolong di lubang celah-celah dapur yang kebetulan menghadap jalanan. Sayangnya jalanan kompleks saya yang biasanya ramai hari itu benar-benar sepi.

Lebih malang lagi, rumah ujung yang biasanya jadi tongkrongan anak kos juga lagi sepi. Ya Allah saya benar-benar kebingungan sekali. Dengan tetap berusaha berteriak meminta tolong semakin kencang saya berharap semoga setidaknya ada tetangga saya lainnya yang mendengar.

Bersyukur tak lama setelah itu ada emak-emak yang berjalan menuju kearah rumah saya sembari seperti kebingungan mencari sumber suara teriakan (saya). Sehingga saya meminta bantuan untuk dipanggilkan tetangga lainnya yang mumpuni untuk bisa lompat dari pagar dan menjebol pintu kasa depan agar bisa membukakan pintu dapur saya.

Antara panik ingin nangis dan sedikit geli sebenarnya menyadari kebodohan saya saat itu. 

Alhamdulillah si emak tersebut berinisiatif memanggil tetangga lainnya yang mengajak seorang tukang untuk melompati pagar dan membantu menjebol pintu.

Sebenarnya saat itu mungkin saya bisa meminta tetangga saya untuk mencarikan tukang kunci agar tidak perlu menjebol pintu depan. Tapi saya memikirkan waktu yang dibutuhkan untuk segera menemukan tukang kunci setidaknya paling cepat 15 menit (itu kalo beruntung). Kalo masih harus muter-muter ya bisa 30 menit lebih nyarinya.

Saya nggak mau ambil resiko mengingat  si adik sedang panas tinggi.

Pintu Kasa Yang Akhirnya Di Rusak Demi Kebaikan Bersama
Setelah pada akhirnya pintu dirusak, tetangga membantu saya membukakan pintu dapur dari ruang tengah. Bersyukur sekali rasanya saya saat itu.

Saya juga berterimakasih kepada tetangga saya yang sudah mau bersusah payah membantu membukakan saya yang terkunci di dapur.

Beberapa waktu setelah kejadian tersebut sepertinya si kakak sempat trauma, jika saya berinisiatif mengajari kakak untuk belajar memutar membuka kunci pintu si kakak tidak mau sembari berkata "Nanti pintunya rusak lagi". Meski saya beri pengertian berulang kali ternyata malah justru membuat si kakak histeris takut pintunya rusak lagi.

Bersyukur beberapa bulan setelah itu kakak sudah mulai tidak takut/panik apalagi sampai histeris jika saya mengajarkan kakak buka tutup pintu.

Sejak itu saya berusaha untuk mengamankan kunci pintu jika memang saya terpaksa harus ke dapur tanpa mau membawa anak-anak. Apalagi sebentar lagi giliran si adik yang mengalami fase penasarannya.

Oh ya setelah kejadian itu saya sempat menangis curhat ke suami karena saking takutnya waktu itu kalo-kalo saya nggak bisa berbuat apa-apa gimana nasib adik yang sedang sakit. Eh...la kok sama suami malah diketawain -_-

The moral of the story sebenarnya, jangan pernah abaikan fase tumbuh kembang balita kita terutama saat fase penasarannya. Disaat saya mengira mereka belum bisa memutar anak kunci pintu, justru mereka malah bisa mengunci saya didapur 😅

Dari kejadian tersebut salah seorang sahabat juga mengingatkan kepada saya untuk tak meninggalkan anak-anak didalam mobil dalam keadaan mesin hidup meskipun pintu atau kaca jendela terbuka. Berdasarkan ceritanya, putra sulungnya berhasil membuatnya panik ketika tiba-tiba mengutak-atik pintu mobil hingga terkunci dan semua jendela tertutup dari dalam.

Kalau saya mungkin sudah histeris menghadapi hal tersebut 😫

4 comments:

  1. Haloo mbak Rachmaa..ampunn serem bgt sampe kekunci di dapur apalagi yang paling kecil lg demam tinggi..sama sih pasti saya panik sambil teriak nangis2..untung ada tetangga yang denger ya mbak. Pantesan mama saya selalu blng hrs awasin ponakan kalo kakak saya lg sendiri di rumah..takutnya kejadian kayak begini kali yaa..syukurlah semuanya selamat dan pintu bisa dijebol

    ReplyDelete
  2. Almaaaas gemeees..
    Kudu waspada bin siaga tingkat tinggi yo mbak..
    *membayangkan wajah almas pas nge klik kunci tanpa bersalah hehehehe

    ReplyDelete